Langsung ke konten utama

Terbaru

Di Bawah Pohon Beringin: Cerpen Drama Kak Bi

Di Bawah Pohon Beringin: Cerpen Drama Kak Bi [Cerpen Drama Kak Bi] Di bawah pohon beringin yang rindang, di sela-sela akar yang menjuntai, seorang gadis duduk sendirian menikmati sebatang rokok yang sedang dia hisap begitu nikmat. Gadis dengan tahi lalat di pipinya itu agak berlinang air mata, teringat segala masalah yang menerpa kehidupan.  Saat segala gundah menerpa, dia selalu memilih duduk di bawah pohon ketika ingin berpikir sendirian.  Siang itu, di tengah teriknya matahari. Bayangan pohon beringin menjadi peneduh kala dirinya melemparkan puntung rokok yang telah habis ke sembarang arah. Soal sampahnya, pasti dia jugalah yang akan membersihkan. Dari kejauhan, di depan sana seorang lelaki jangkung berwajah pucat sesekali melirik ke halaman berpohon beringin itu. Gadis itu meliriknya juga dalam diam, lelaki jangkung pun berjalan mendekat. "Melisa?" sapanya duduk di sebelah sang gadis. "Ibumu semalam kenapa?" Usai menyapa gadis itu, mereka pun mulai berbicara. L...

Firasat | Cerpen Misteri Kak Bi

Firasat | Cerpen Misteri Kak Bi


Cerpen misteri kali ini, tidak horor sih seharusnya. Memang cuma memberikan sebuah misteri tipis terhadap firasat manusia yang biasa jadi pertanda akan sesuatu hal. Selamat membaca cerpen misteri Kak Bi, Firasat.


***


[Cerpen Misteri] Aku membuka pintu kamar dengan hati yang sedikit berat. Sudah seminggu sejak ayah pergi ke luar kota, meninggalkanku sendirian di rumah. Setelah keluar kamar, aku memperhatikan ruang tamu yang remang-remang. Jika bukan karena rasa haus yang menggelitik aku takkan beranjak dari tempat tidur tengah malam begini.

Akan tetapi, aku menahan diri, memaksa menuju dapur yang sengaja kunyalakan lampunya walau agak takut. Begitu tiba di depan dispenser aku merasakan sesuatu seolah ada di belakang.


"Apa aku harus menoleh? Jangan!"

"Bagaimana kalau itu orang jahat?"


Aku semakin haus saat dipenuhi pikiran-pikiran kalut itu dan mempercepat mengisi gelas dengan air, meminumnya sambil berdiri karena ingin cepat-cepat kembali ke kamar.

Begitu berbalik, kakiku tertahan. Napas ini semakin cepat, aku jadi teringat sesuatu.

"Aku bawa botol air minum aja!" gumamku sambil tertawa kecil, ingin mencairkan suasana tegang antara aku dan malam yang hening. Akan tetapi, nihil. Aku tetap merinding dan firasatku tidak enak.


Sesampainya di kamar, aku bisa mendengar bunyi-bunyian mencurigakan dari luar. Seperti langkah kaki berat di yang mondar-mandir di ruang tamu dan keluarga, suara singkapan lembaran-lembaran buku, hingga batuk yang membuatku merinding.

Aku hanya menyelimuti diri dengan selimut, sambil mengirimkan pesan kepada ayah. Bahwa aku takut ditinggal sendirian di rumah.

Ah, padahal aku bukan anak kecil. Usia 25 tahun seharusnya tak setakut ini, tapi entah kenapa sudah dua malam ini benar-benar terasa menakutkan.


***


Pagi ini, aku terbangun dengan perasaan aneh di dalam hati, mataku sangat berat karena semalam begadang. Sebuah ketakutan tiba-tiba memenuhi pikiran ini, dan aku tidak tahu bagaimana cara mengatasi perasaan itu.

Aku membuka gorden biru yang menutupi jendela kamar dan mendapati bahwa cuaca hari ini sangat cerah. Sinar matahari masuk ke dalam kamar, menerangi setiap sudut ruangan. Aku menarik napas panjang, pagi benar-benar sudah datang. Aku merasa agak lega , walau perasaan cemas masih terus menghantui.

Aku segera bersiap ke kantor, ingin menghilangkan rasa cemas dan ketidaknyamanan yang muncul ini. Sebelum berangkat, kuperiksa ruang-ruang yang menghasilkan suara semalam. Semuanya sama, tak ada yang berubah kecuali rasa gelisah yang tetap bersarang di dada hingga perut.

Setibanya di kantor, aku memutuskan untuk memulai hari dengan bekerja tanpa memikirkan atau merindukan ayah. Aku membuka tas dan mengambil USB, lalu memasukkannya ke dalam komputer. Setelah menyalakan komputer, aku sempat menunggu beberapa saat untuk memuat programnya.

Akan tetapi, pikiranku jadi kemana-mana. Tiba-tiba, jadi teringat mendiang ibu dan ya mendadak saja kepala ini terasa pusing parah. Tapi, coba ditahan karena aku yakin semua ini hanya perasaanku saja.

"Kamu kenapa?" tanya Liliana rekan kerja di meja sebelah.

"Nggak apa-apa. Kenapa?"

"Kamu kelihatan pucat banget, lagi sakit ya, Rahma?" tanyanya yang berbuah gelengan kepala dariku.


***


[Cerpen Misteri] Aku segera melanjutkan pekerjaan dan semakin lama, semakin menyadari bahwa diri ini tidak bisa fokus. Aku berdiri dan pergi ke pantry untuk mengambil segelas air. Usai menegak air minum, dan menghilangkan rasa cemas yang mencuri fokus. 

Namun, saat aku mencoba mengembalikan gelas ke atas meja, aku tersandung tali yang terlilit di kaki kursi. Lutut menghantam lantai dengan keras dan rasanya sakit sekali. Bahkan sampai membuat beberapa pegawai lain datang menghampiri.


***


Aku kembali ke meja kerja, sesekali menatap ponsel. 


"Apa ini karena sudah tiga hari ayah tidak menelepon?"

"Apa aku khawatir?"


Semua pikiran itu menyala di kepala, menyerang fokusku sehingga semakin lama tak sadar hanya sekadar memandangi ponsel.

"Rahma!" Suara itu pada akhirnya menyadarkanku. "Kamu mau ke dokter, nggak?"

"Nggak, Li! Aku nggak apa-apa kok!" sahutku sekadarnya.

"Ada masalah apa di rumah?"

"Nggak ada apa-apa kok, aku cuma kepikiran ayahku. Dia udah seminggu pergi ke luar kota dan udah tiga hari nggak hubungin aku. Firasatku jadi nggak enak," jelasku tersenyum tak ikhlas.

"Ya, udah. Kamu istirahat dulu, nanti aku bantu minta izin ke bos deh."


Mendengar itu, aku pun setuju, tapi baru beberapa langkah meninggalkan meja kerja ponsel di tangan ini langsung berbunyi. Aku segera mengangkat telepon dan mendapatkan berita yang tidak pernah terduga sebelumnya.

Firasatku terbayarkan sudah. Pikiran mendadak melayang-layang ke masa lalu, mengingat saat-saat ketika bersama ayah. Semua kenangan itu membuat perasaanku semakin buruk. Air mata tumpah tak tertahan, beriringan dengan tersungkurnya tubuh ini ke lantai.


***


"Apa ini dengan ibu Rahma? Putri bapak Dani? Bapak Dani sekarang berada di rumah sakit, kami butuh keluarganya untuk mengambil jenazah korban kecelakaan beruntung dua hari lalu."

Kalimat panjang itu, menjadi jawaban akan firasatku. Membuat rasa lemas membuncah dan jadi tak tahu harus berbuat apa. Firasat ini muncul lagi rupanya, hal yang sama pernah menimpaku 10 tahun yang lalu. Saat mendapatkan firasat atas kepergian ibu.


***


TAMAT

Gorontalo, 20 Februari 2024


Cerpen misteri yang satu ini, terinspirasi dari firasat yang menimpa aku sendiri sesaat sebelum kedua orang tuaku meninggal. Tapi, ini fiksi ya.... Inspirasinya doang yang dari situ.

Oh ya, terima kasih sudah membaca cerpen misteri ini. Semoga Pengembara suka cerita sederhana ini. Selamat membaca, jangan lupa kunjungi Linktree untuk informasi lainnya tentang Kak Bi. 


Cerpen misteri lainnya:





Komentar

Popular