Di Bawah Pohon Beringin: Cerpen Drama Kak Bi
Di Bawah Pohon Beringin: Cerpen Drama Kak Bi
[Cerpen Drama Kak Bi] Di bawah pohon beringin yang rindang, di sela-sela akar yang menjuntai, seorang gadis duduk sendirian menikmati sebatang rokok yang sedang dia hisap begitu nikmat. Gadis dengan tahi lalat di pipinya itu agak berlinang air mata, teringat segala masalah yang menerpa kehidupan.
Saat segala gundah menerpa, dia selalu memilih duduk di bawah pohon ketika ingin berpikir sendirian.
Siang itu, di tengah teriknya matahari. Bayangan pohon beringin menjadi peneduh kala dirinya melemparkan puntung rokok yang telah habis ke sembarang arah. Soal sampahnya, pasti dia jugalah yang akan membersihkan.
Dari kejauhan, di depan sana seorang lelaki jangkung berwajah pucat sesekali melirik ke halaman berpohon beringin itu. Gadis itu meliriknya juga dalam diam, lelaki jangkung pun berjalan mendekat.
"Melisa?" sapanya duduk di sebelah sang gadis. "Ibumu semalam kenapa?"
Usai menyapa gadis itu, mereka pun mulai berbicara. Lelaki itu sangat sopan dan ramah, tumpahlah segala sedih dan kesal yang bersarang di hati sang gadis. Mereka pun mulai berbicara tentang segala hal.
Melisa nama gadis itu, si lelaki jangkung semalam mendengar pertengkaran dari dalam rumah Melisa. Sebab rumah mereka hanya dipisahkan jalanan kampung kecil yang tidak jauh satu sama lain. Ocehan tetangga tentang membandingkan anak bisa didengar semudah menyetel radio.
Semalam, ibu Melisa meminta gadis itu untuk pergi dari rumah. Sebab Melisa menolak keinginan ibunya untuk menikah lagi. Padahal sudah 10 tahun Melisa ditinggal bapaknya, dan selama itu pula ibunya memilih tidak menikah lagi.
Entah siapa yang menghasut ibu untuk bersedia dijodohkan dengan Pak Gadung, orang kaya di ujung komplek? Ini membuat amarah Melisa membuncah, dan menolak mentah-mentah permintaan sang ibu. Sebab, Melisa tak ingin ibunya jadi istri kelima padahal usianya tak muda lagi.
Usai mencurahkan seluruh isi hati kepada lelaki jangkung, rasanya hati dan tubuh Melisa menjadi ringan. Ini bukan pertama kalinya lelaki jangkung menemani Melisa.
***
[Cerpen Drama Kak Bi] Bulan bertautan satu sama lain, tanpa berakhir segala kebencian yang bertumbuh. Lama kelamaan, Melisa mulai jatuh cinta pada lelaki jangkung. Ada sisi yang diharapkan dari sosok lelaki jangkung, pertemanan mereka memang tidak dekat. Saat berada di bawah pohon beringin, Melisa menjadi apa adanya di hadapan lelaki jangkung.
Namun, masalahnya adalah bahwa Melisa tahu orang tua lelaki jangkung tidak akan pernah merestui hubungan mereka. Keluarga berantakan, miskin, tak cantik dan tak berpendidikan. Orang tua mana yang mau menyerahkan anak lelaki satu-satunya pada gadis seperti itu?
Baca juga: Lentera Lantai 13
Cerpen drama lainnya: NODA
Pernah sekali waktu saat sedang utang kerupuk di warung. Ibu si jangkung mencemooh, katanya Melisa akan jadi perawan tua karena belum menikah.
"Syukurlah anak-anak gadisku punya sekolah dan dapat jodoh orang berada. Tinggal si bungsu nih, semoga nggak dapat perempuan seperti kamu." Ibu si jangkung mengajak ibu-ibu komplek ngerumpi tepat di hadapan Melisa.
Siapa orang sial yang akan mendapatkan gadis tak berpendidikan yang setiap hari kerjanya hanya bertengkar dengan ibu dan selalu kedapatan merokok kalau punya uang dari hasil cuci-mencuci di rumah tetangga? Siapa?
Sejak hari itu, Melisa mematahkan rasa yang bertumbuh. Akan tetapi, lelaki jangkung seolah datang membawa tangkai yang baru dan memupuk perasaan Melisa agar segera berbunga cantik.
Meski begitu, Melisa tetap bertahan dalam hubungan tanpa status. Si jangkung juga tak pernah mengungkapkan isi hatinya. Tapi, jauh di lubuk hati terdalam. Andaikan suatu saat lelaki jangkung berkata menyukai Melisa.
Dengan tegas dia akan menolaknya. Dia merasa bahwa lelaki jangkung bukan orang yang tepat untuknya. Melisa tidak ingin menghabiskan sisa hidupnya merenung di bawah pohon beringin nanti. Sebab si jangkung adalah bom waktu berjalan.
***
[Cerpen Drama Kak Bi] Hari ini, lelaki jangkung tak datang. Padahal sudah lima puntung rokok tergelatak di tanah tepat di hadapan Melisa. Biasanya baru dua atau tiga puntung rokok lelaki jangkung akan menghentikan Melisa merokok. Membuangnya dan menasihati agar jangan merokok di atas makam ayahnya yang tak jauh dari pohon beringin.
Melisa mengedarkan pandangan ke arah jalanan yang ramai, tadi pagi si jangkung masih ada saat Melisa menyapu halaman rumah hingga makam sang ayah yang sengaja dikuburkan di sekitar pohon beringin kesayangan, sesuai wasiat terakhirnya.
Sebuah tangisan pecah. Di masjid, tiba-tiba diumumkan sebuah nama yang menyusul usai ucapan Innalilahi wa innailaihi rojiun. Terpukul ulu hati Melisa, terduduk dia di depan makam sang ayah dengan tatapan kosong.
"Sepertinya ...." Melisa bicara dengan suara pelan. "Mulai hari ini hanya ada Meli yang menemani bapak. Dia sudah pergi, dengan penyakit bawaannya itu. Penyakit yang hanya diberitahukan kepada Meli."
Melisa berdiri dan berjalan menuju rumah itu, ketiga kakak perempuan si jangkung yang sudah cukup berumur terduduk di teras. Rupanya mereka menunggu ambulans yang akan mengantarkan si jangkung.
Melisa terpaku dalam bisu, ibu dan bapak tirinya juga datang ke rumah si jangkung. Melihat itu, Melisa hendak pergi.
"Meli? Melisa!" panggil salah satu kakak si jangkung. Melisa berhenti dan menatap kakak si jangkung. "Ini ada sesuatu yang diberikan Doni untukmu."
***
Di bawah pohon beringin, aku menulis surat ini dalam hening sore. Hari ini kau menghadiri pernikahan ibumu dengan terpaksa. Rasanya sunyi melihat rumahmu kosong. Semoga Pak Gadung memperlakukan ibumu dengan baik.
Melisa, saat membaca surat ini aku pasti sedang sekarat. Menanti sel-sel kanker menghancurkan limpa dan sekitarnya. Tenang saja, saat menulis ini aku sudah beritahu ibuku tentang keadaanku.
Di bawah pohon beringin, kita membuka luka satu sama lain dan memampangkan dengan gamblang. Seolah-olah tanpa sekat dan tanpa penghakiman. Berhentilah merokok, kau bisa kena kanker mulut dan sebangsanya.
Maaf, tidak bisa menemani segala gundahmu di bawah pohon beringin. Sampaikan salamku pada makan bapakmu, jikalau aku bertemu bapakmu, akan kupastikan memintanya mendatangi mimpimu dan melarangmu merokok.
Melisa, kau sahabat terbaik yang mengisi relung hatiku selama 35 tahun ini. Saranku, jual-lah sesuatu di depan rumahmu. Jangan hanya duduk merokok di bawah pohon beringin seperti saat ini.
***
Melisa menutup matanya dengan tangan kiri dan menatap ranting-ranting yang jauh di kepalanya.
Selamat tinggal, teman lama. Batin Melisa menangis. Diremasnya surat pemberian kakak si jangkung. Sebuah surat yang diberikan dengan terburu-buru sesaat sebelum si jangkung dibawa ke rumah sakit.
Sebuah surat, yang seharusnya bisa mengubah hidup Melisa.
***
TAMAT
Gorontalo, 7 Februari 2024

Komentar
Posting Komentar