Broken Strings: Review E-book Memoar Aurelie Moeremans
Broken Strings adalah buku digital alias E-book yang sempat menggemparkan sosial media dan jagat hiburan Indonesia di awal Januari 2026.
Aku sendiri sudah tahu e-book ini sejak akhir Oktober 2025, tapi memilih menunda membaca karena beberapa hal. Barulah di awal Januari tahun 2026 ini, aku akhirnya datang ke Broken Strings. Bukan sebagai penggemar Aurelie Moeremans, melainkan sebagai pembaca yang digerakkan oleh rasa penasaran.
Buku ini viral bukan karena sensasi, tetapi karena luka yang akhirnya bersuara. Membacanya terasa seperti memasuki ruangan gelap yang lama terkunci—menyesakkan, menggetarkan, sekaligus perlu untuk diungkapkan.
Broken Strings bukan sekadar memoar; ini adalah kesaksian, peringatan, kehidupan dan di saat yang sama sebuah upaya penyembuhan.
Ini adalah buku yang membuatku berhenti berkali-kali, menarik napas, dan bertanya bagaimana mungkin seorang anak dibiarkan sendirian dalam situasi sekejam ini?
***
1. Identitas Buku
Judul: Broken Strings
Penulis: Aurelie Moeremans
Editor: Aurelie Moeremans
Cover: Aurelie Moeremans
Genre: Non-fiksi, Memoar
Penerbit: diterbitkan secara independen/digital pada 10 Oktober 2025
Tebal: 220 halaman
ISBN: tidak ada (mungkin kalau sudah dilirik penerbit besar nantinya, bisa dapat ISBN)
2. Tentang Penulis
Aurélie Moeremans adalah aktris kelahiran Belgia 8 Agustus 1993, yang tumbuh di bawah sorotan publik sejak usia remaja.
Dalam Broken Strings, dia tampil bukan sebagai figur selebritas, melainkan sebagai perempuan yang menengok kembali masa lalunya dengan jujur, tanpa memperhalus luka. Namun juga tanpa mengeksploitasi diri sendiri.
Yang paling terasa dari Aurelie sebagai penulis adalah keberaniannya. Dia tidak menulis untuk mencari simpati, melainkan untuk mengatakan kebenaran yang terlalu lama diabaikan. Buku ini lahir setelah proses terapi dan refleksi panjang, menjadikannya bukan sekadar curhat, tetapi narasi yang sadar, terstruktur, dan reflektif.
***
3. Blurb (versiku)
Apa yang bisa dilakukan seorang anak baik?
Diam. Patuh. Bertahan.
Di usia 15 tahun, Aurelie memasuki hubungan yang cukup kompleks dengan pria yang jauh lebih tua. Perlahan, cinta itu berubah menjadi kendali, manipulasi, dan kekerasan. Terperangkap dalam permainan psikologis yang mematikan, dia belajar bahwa keluar dari hubungan beracun jauh lebih sulit daripada masuk ke dalamnya.
Broken Strings adalah kisah tentang kehilangan masa remaja yang semestinya, keberanian untuk berkata tidak, dan perjalanan panjang menuju sebuah kebebasan.
4. Isi Resensi
Hah, perlu menarik napas panjang dan memberi waktu yang cukup jauh bagiku untuk menulis review e-book ini.
Bagiku, membaca Broken Strings seperti berjalan di atas kaca pecah. Ya, setiap langkahnya menyakitkan, tetapi kamu tahu kamu harus terus maju. Makanya aku menghabiskan buku ini selama 3 jam lebih dan menjadi buku pertama setebal 200-an halaman yang aku selesaikan kurang dari 8 jam.
Sebenarnya, buku ini bukan jenis bacaan yang bisa dilahap cepat. Buku ini menuntut jeda, napas panjang, dan kesiapan mental. Meski Aurelie sudah memberi trigger warning, tetap saja tidak ada cara untuk benar-benar siap menghadapi bobot emosional yang dibawanya.
Secara naratif, Broken Strings tidak ditulis seperti memoar yang rapi, kronologis, dan terstruktur ala penerbit besar. Sebaliknya, bentuknya terasa personal banget, nyaris intim sih, seolah kita sedang membaca buku harian yang ditulis ulang bertahun-tahun kemudian oleh versi dirinya yang lebih dewasa.
Perpindahan adegan memang sering terasa melompat-lompat, tetapi justru di situ terasa jujurnya. Alur trauma tidak tersusun rapi, ingatan tidak datang berurutan. Cara Aurelie menarasikan kisahnya mencerminkan cara pikiran korban bekerja, fragmentaris, penuh kilas balik, dan sarat emosi.
Semacam, ah aku ingat ini, ah aku ingat bagian itu, yang semuanya dituturkan kembali berdasarkan ingatan tersebut.
Kekuatan terbesar buku ini terletak pada sudut pandang korban yang murni. Aurelie tidak mencoba menggurui, menghakimi, atau membungkus ceritanya dengan bahasa akademis tentang kekerasan. Bahkan mungkin, dia cukup gamblang walau aku yakin Aurelie sudah memperhalus beberapa bagian supaya memang jadi cukup nyaman untuk dibaca.
Aurelie menulis seperti seseorang yang akhirnya berani bilang, “Ini loh yang terjadi padaku.” Nada suaranya tidak melodramatis, tetapi justru datar dan di situlah entah kenapa jadi terasa horornya. Kekejaman yang dia ceritakan tidak dibesar-besarkan, dia biarkan berdiri apa adanya, dan itu jauh lebih mengganggu daripada sensasi murah dan lebay ala novel platform.
Isu child grooming menjadi inti buku ini. Bobby digambarkan bukan sebagai penjahat karikatural, melainkan sebagai predator yang cerdas, karismatik, dan manipulatif. Dia masuk perlahan ke hidup Aurelie, hadir terus-menerus, memberi perhatian berlebihan, membuatnya merasa istimewa, lalu perlahan mengambil alih kendali. Pola love bombing, gaslighting, dan isolasi digambarkan dengan detail yang mengerikan tetapi realistis.
Yang paling menyakitkan untuk dibaca adalah bagaimana Aurelie sebagai remaja 15 tahun sebenarnya sering merasakan ada yang salah dalam hubungannya. Ada naluri yang berteriak “ini tuh nggak benar”, tetapi naluri itu dikalahkan oleh manipulasi emosional, ancaman, dan rasa takut kehilangan yang berlebihan.
Di sinilah buku ini sangat kuat secara psikologis, dia benar-benar memperlihatkan dari sisi terdalam bahwa korban itu tidak “bodoh” atau “lemah”, melainkan memang terperangkap dalam dinamika kekuasaan yang sangat timpang. Ibaratnya tuh, kamu tidak di penjara tapi dikekang. Badanmu bisa kemana saja, tapi kakimu diikat oleh rantai tak terlihat.
Dari buku ini aku menyadari bahwa ada kegagalan sistem perlindungan anak dan masyarakat. Adegan ketika lembaga perlindungan anak justru menyerahkan Aurelie kembali kepada Bobby sangat menghantam kepalaku. Sebagai pembaca, aku merasa marah banget, kenapa orang dewasa di sekitarnya sangat menggampangkan ucapan seseorang yang bukan anggota keluarga? bagaimana mungkin orang dewasa yang seharusnya melindungi malah mengabaikan tanda bahaya yang sebenarnya udah sebegitu jelas loh?
Hal lain yang sangat menarik adalah soal pola asuh. Orang tua Bobby digambarkan sebagai pihak yang memanjakan dan membenarkan segala tindakannya, menciptakan rasa berhak yang berbahaya. Di sisi lain, Aurelie tumbuh dengan dorongan untuk menjadi “anak baik”, dia seolah melatih dirinya sendiri untuk menjadi penurut, tidak merepotkan, dan bertanggung jawab bahkan di usia yang terlalu muda.
Well, bukankah kita anak 90-an memang punya mindset seperti ini? Entah dulu atau sekarang?
Pertemuan dua pola asuh inilah yang menurutku, menjadi salah satu akar tragedi dalam buku ini. Di mana moral si pelaku benar-benar dipertanyakan? Remaja dan anak di bawah umur harus bagaimana untuk terhindar dari pelaku grooming dengan niatan berbahaya? Yang memang tujuannya untuk menguasai, menciptakan dan membentuk, serta mengatur agar sesuai apa yang diimajinasikan si pelaku.
Dari sisi literasi, Aurelie menulis dengan kekuatan deskripsi pancaindra yang tajam. Aku bisa “mendengar” nada suara Bobby, “merasakan” ketegangan di tubuhnya Aurelie, dan “melihat” suasana mencekam di rumah tempat dia tinggal, bahkan aku bisa membayangkan suara rantai di celana Bobby. Hal ini bikin aku dan pembaca lainnya benar-benar serasa berada di dalam kepalanya, ikut merasakan kebingungan, ketakutan, sekaligus kerinduan akan cinta yang sebenarnya. Ditambah, sebagai pembaca aku merasa marah, sedih dan kecewa.
Namun, yang membuat buku ini bukan sekadar kisah kelam adalah momen penyembuhan yang muncul pelan-pelan. Di bab-bab akhir, nada buku berubah loh, tidak lagi sekadar tentang penderitaan, tetapi tentang kesadaran, keberanian, dan akhirnya kebebasan.
Pada akhirnya, Broken Strings bekerja di tiga level sekaligus yaitu sebagai kesaksian pribadi, sebagai kritik sosial terhadap grooming dan victim blaming dan sebagai teks yang tidak langsung merangkul 'kami' atau 'mereka' para korban yang pernah merasakan grooming atau child grooming atau bahkan pelecehan seksual.
5. Kelebihan
1. Jujur dan tanpa romantisasi. Kekerasan tidak dipoles, tetapi juga tidak dieksploitasi.
2. Kuat secara emosional, aku yakin yang membaca bisa ikut merasakan ketakutan, kebingungan, dan akhirnya kelegaan.
3. Gaya bertutur alami yang terasa personal, dekat, dan autentik.
4. Penting secara sosial, karena pada akhirnya membuka diskusi tentang child grooming, kekerasan dalam relasi, pelecehan seksual dan victim blaming.
5. Terapeutik sekaligus edukatif dan membantu korban lain merasa tidak sendirian.
6. E-book ini gratis, bisa dibaca langsung lewat profil pribadi Instagram Aurelie Moeremans.
6. Kekurangan
1. Kesalahan bahasa dan terjemahan, di mana ada beberapa kalimat terasa janggal. Spasi dan format juga nggak rapi. Perpindahan adegan kadang terasa meloncat. Intinya, kurang penyuntingan profesional aja. Tapi, Aurelie sudah menekankan bahwa memoarnya ini diproduksi oleh dirinya sendiri. Bahkan menerjemahkan dari Inggris ke Indonesia pun secara mandiri, the real self editing.
Bagiku, ini sama sekali bukan masalah ya. Saat membacanya, aku fokus ke narasi ehehe....
2. Beberapa bagian dan adegan terlalu berat untuk remaja di bawah 17 tahun. Butuh bimbingan orang dewasa jika dibaca oleh remaja di bawah 17 tahun. Supaya tidak memicu efek trauma.
***
Broken Strings sebenarnya bukan buku yang nyaman dan memang tidak dimaksudkan untuk itu. Ini adalah memoar yang menyayat, berani, dan perlu.
Buku ini meninggalkan berbagai perasaan kuat, mulai dari kemarahan terhadap pelaku, empati mendalam kepada korban, dan harapan bahwa keberanian berbicara bisa menyelamatkan orang lain.
Kalau aku bisa kasih rating, aku kasih rating 4 hati untuk e-book ini.
Terima kasih sudah membaca ulasan panjang ini. Terima kasih untuk Aurelie yang bersedia membagikan kisah hidupmu untuk kami konsumsi, terus bahagia untukmu dan sukses untuk kemungkinan peluncuran versi fisik buku ini.
Berkat memoar ini, aku jadi yakin bahwa apa yang menimpaku dulu, memang kesalahan orang dewasa yang bejat itu dan aku bersyukur anggota keluargaku berani pasang badan untuk melindungiku, sehingga meskipun merasa trauma, aku merasa tidak begitu sendiri, terlebih setelah membaca Broken Strings.
"Buku ini untuk siapa pun yang pernah hidup dalam diam, untuk siapa pun yang memikul beban yang bukan miliknya.
Jika kamu masih di dalamnya, aku ingin kamu tahu bahwa
kebingunganmu masuk akal.
Apa yang kamu alami bukan salahmu. Bertahan setiap hari saja sudah bukti kekuatan.
Jika kamu sudah lepas tapi masih merasakan gema dari masa lalu, jika kamu pernah dibuat percaya bahwa kekacauan itu salahmu, ketahuilah kamu tidak pernah salah karena bertahan.
Tidak ada kata-kata yang cukup untuk menggambarkan
harga yang harus dibayar, dan tidak ada akhir yang cukup adil untuk menebusnya. Tapi ceritamu penting karena itu nyata,karena kamu menjalaninya, karena kamu masih di sini.
Dunia mungkin tidak selalu mengerti, tapi kebenaran tetap
bersamamu, dan itu sudah cukup.
Penyembuhan itu nyata, meski perlahan.
Hidup dalam kebenaranmu sendiri, tanpa malu, tanpa penyesalan, adalah bentuk kebebasan tertinggi."
(Broken Strings - Aurelie Moeremans)
Apakah Pengembara pernah membaca buku yang mengubah cara pandang terhadap masa lalu? Atau mungkin kalian punya rekomendasi memoar lain yang membicarakan tentang ketangguhan perempuan? Mari berbagi di kolom komentar ya....
Note:
Aku mengulas buku ini murni dari segi pembaca, bukan sebagai ahli apapun. Aku tidak menjelaskan adegan-adegan yang kurasa luar biasa jahat, karena aku memang tidak sanggup mengulang baca adegan tersebut, itu membuka luka lama di kepalaku. Bahkan butuh waktu sebulan bagiku untuk bisa menyelesaikan tulisan ini, setelah membaca e-booknya.
Semoga di masa depan, kita semua, aku, kamu dan mereka bisa lebih sadar diri bahwa korban grooming, kekerasan seksual hingga kekerasan dalam rumah tangga adalah korban apapun alasan si pelaku. Kecuali si jambret yang kecelakaan saat dikejar, itu lain cerita.
Komentar
Posting Komentar