Terbaru

Ajin Kembali di Enigma Black Stage (2025): Review Series Thailand

Ajin Kembali di Enigma Black Stage (2025): Review Series Thailand

Enigma Black Stage Ajin-Plengpin
Enigma Black Stage Ajin-Plengpin


Pengembara, apa kamu juga tim yang menunggu series Thailand Enigma? Akhirnya di tahun 2025 kemarin series ini update season duanya yang berjudul, Enigma Black Stage. Seru banget woyy.

Berawal dari kesuksesan Enigma Season 1 yang datang dengan cerita yang rapat, atmosfer horor yang terkontrol, dan simbolisme gelap yang bekerja perlahan tapi menghantui banget. 

Dengan memadukan sihir hitam, tekanan sosial, dan ruang tertutup seperti sekolah, season pertama terasa beneran solid, misterius, dan efektif.

Season 2 bukan tanpa nilai loh. Ini berani, berbeda, dan ambisius. Yuk, temenin aku bahas ini.


***


Info Drama

Judul: Enigma Black Stage

Genre: Mystery, Horror, Drama, Supernatural

Jumlah Episode: 5

Sutradara: O Patha Thongpan, Nat Thachai Komolphet

Penulis Naskah: O Patha Thongpan, Mook Jarinee Thanomyat

Pemain: Win Metawin, Jarinporn Joonkiat, Prariyapit Yu, Thishar Thurachon, Tipnaree Weerawatnodom

Tayang: 26 Juli 2025 - 23 Agustus 2025

Durasi: 53 menit

Rating Usia: 15+


***


Sinopsis lengkap Enigma Black Stage:

Setelah peristiwa kelam di sekolah pada Season satu, Ajin melanjutkan perjalanannya untuk memburu Enigma, entitas sihir hitam yang memanfaatkan manusia.

Kali ini, Ajin terlibat dalam sebuah kompetisi dunia hiburan, di mana para aktris bersaing untuk mendapatkan peran utama dalam sebuah proyek film sutradara ternama. Hadiah utama bukan hanya ketenaran, tetapi juga kesempatan mengenakan gaun legendaris yang diciptakan oleh kakek sang sutradara, sebuah benda dengan sejarah gelap dan kutukan mematikan.

Ajin memilih membimbing Plengpin dan menjadikannya salah satu peserta kompetisi, tanpa menyadari bahwa mereka tengah masuk ke permainan yang jauh lebih kejam, politis, dan berbahaya dibandingkan sebelumnya.

Kompetisi ini adalah remake dari pementasan sandiwara 'The Bloom and a Thousand Bees'.


***


Rating 8/10 untuk Enigma. Sebua series Thailand yang memperlihatkan ilmu hitam dan ambisi industri hiburan. 

Bagiku, menonton season kedua Enigma atau Enigma Black Stage ini terasa seperti melihat sebuah eksperimen berani. Setelah ditunggu-tunggu selama dua tahunan, akhirnya season duanya tayang 2025 kemarin.

Aku merasa season ini tuh agak beda dibandingkan season pertama. Kisah tentang perburuan peran utama dalam pementasan The Bloom and a Thousand Bees, serta misteri gaun terkutuk milik kakek sang sutradara kasih atmosfer yang lebih gelap dan dewasa. 

Ada kepuasan tersendiri melihat bagaimana Enigma dan sihir hitam menyusup ke dalam sistem yang penuh tekanan, entah itu di sekolah seperti season satunya, dunia akting sepanjang season dua, maupun politik di ending season dua. 


Baca juga: [SPOOKTOBER] REVIEW HOROR THAILAND: TAKE ME HOME (2016)

Review lainnya: REVIEW FILM HOROR THAILAND TERBAIK 2004: SHUTTER


Review Series Thailand Enigma Black Stage:

Sebagai penggemar berat, aku nggak bisa bohong kalau daya tarik utama musim ini tetap ada pada sosok Ajin. Melihat Win kembali memerankan Ajin adalah sebuah pengalaman yang mendebarkan dan asik banget. Mulai dari penampilan, dialognya, hingga aksi laganya terasa sempurna di mataku. 

Namun, aku juga merasakan adanya pergeseran fokus yang cukup drastis. Kalau di season pertama memiliki lapisan misteri yang kental tentang entitas Enigma itu sendiri, disertai teror gitu. Di season kedua ini terasa lebih seperti studi karakter tentang Ajin dan sejarah gaun yang mistis. 

Hal ini jujur saja bikin aku jadi sedikit bingung dalam menghubungkan benang merah antara semesta sekolah di season pertama dengan dunia hiburan yang dewasa di season kedua ini.

Season ini tuh rasanya kayak sebuah buku yang bab-bab terbaiknya cuma dijadikan referensi alih-alih ditunjukkan langsung ke penonton. Aku merasa narasi yang mereka bangun terbentur dengan durasi yang terlalu singkat dan anggaran yang mungkin terbatas untuk menceritakan skala cerita yang luas banget. Mengingat visual series ini tuh terasa lebih bagus dibandingkan season satu.

Terlepas dari hal-hal yang dirasa kurang terhadap pergeseran cerita. Aku harus mengakui bahwa secara produksi season ini berada satu tingkat di atas season sebelumnya. Sinematografi, desain set, dan koreografinya benar-benar memanjakan mata, menciptakan vibes yang lebih gelap dan intens. 

Akting para pemainnya, terutama para aktris yang memperebutkan peran utama, patut diacungi jempol karena mereka berhasil menghidupkan karakter yang penuh tuntutan emosional. Bagiku, chemistry antara Ajin dan Plengpin surprisingly jauh lebih menarik dan kuat dibandingkan, mungkin karena kali ini mereka berhadapan sebagai sesama orang dewasa dengan motivasi yang lebih kompleks dan rumit ehehe.

Meski aku merasa bagian akhir dan plot twist-nya dieksekusi dengan sedikit terburu-buru, aku tetap merasa puas dengan premis yang ditinggalkan untuk menyambut musim ketiga kok. 

Ada rasa penasaran tentang bagaimana perjalanan Ajin selanjutnya dalam memburu Enigma. Bagiku, horor yang tidak sempurna sekalipun tetap jauh lebih baik daripada tidak terasa horor sama sekali, apalagi yang berani mencoba menjadi berbeda di tengah arus tontonan yang semakin seragam belakangan ini. 


***


Terlalu Banyak Cerita, tapi Hanya Sedikit Ruang Bernapas

Membahas secara mendalam salah satu poin yang kukatakan di atas, Season satu unggul lewat penceritaan yang ketat, sementara season dua justru loncat-loncat dari satu ide ke ide lain hanya dalam 5 episode aja, entah itu reality show, kritik industri hiburan, kapitalisme, ketenaran, patriarki, sihir hitam, trauma personal, sampai mitologi benda terkutuk.

Sayangnya, nggak adak ada satu pun yang benar-benar digali dengan tuntas. Saat ada kejadian fatal terjadi, alih-alih berhenti dan mempertanyakan sistem atau menyelesaikan dengan rinci, cerita malah dengan cepat menyapu semuanya dengan dalih “the show must go on”.

Alih-alih menjadi horor yang membangun ketegangan lewat suasana, season dua sering terasa seperti presentasi ide-ide besar yang nggak diberi waktu untuk hidup. Bandingkan dengan Season satu, di mana bunyi, cahaya, properti, dan keheningan berbicara lebih keras daripada dialog. Kenapa? Karena season dua ini memang membangun horor lewat latar belakang kisah, bukan dari suasananya seperti di season satu.



Kelebihan dan Kekurangan Enigma Black Stage:

Kelebihan:

1. Konsep berani dan berbeda dari horor pada umumnya, karena ikut memadukan seni tari, seni musik dan seni theater.

2. Ide tentang sihir hitam dalam sistem zaman modern, sangat cocok

3. Chemistry Ajin dan Plengpin lebih kuat dibanding Season 1, mengingat usai keduanya yang sudah legal.

4. Beberapa twist akhir sangat mengejutkan. Mantap.

5. Tetap menawarkan horor sosial yang jarang diangkat.

6. Lebih panjang satu episode dibandingkan season sebelumnya.


Kekurangan

1. Terlalu banyak alur cerita dalam durasi singkat.

2. Kritik sosial terasa tempelan dan klise.

3. Atmosfer horor sempat melemah karena narasi meloncat-loncat. Ditambah ada beberapa adegan yang memang membosankan.

4. Karakter pendukung kurang dikembangkan.

5. Koneksi dengan Season 1 terasa nggak utuh. Ini kalau ditonton langsung season ini kayaknya masih bisa langsung ngerti kok.


***

Well, meskipun eksekusinya terkadang masih terasa sedikit kaku, aku sangat mengapresiasi keberaniannya untuk mengangkat isu dan kritik kapitalisme juga, walau sayangnya elemen-elemen ini seringkali terasa hanya ditempelkan tanpa sempat dieksplorasi lebih dalam.

Enigma Season 2  menawarkan ide-ide besar, keberanian dalam pilihan tema yang menurutku cerdas, dan keberbedaannya patut banget diapresiasi.

Bagi Pengembara yang suka horor, misteri dan hal-hal klenik. Ini tontonan yang pas buat kamu ya. Oh ya, aku ada ulas season satunya di sini ya.

Jadi, terima kasih sudah membaca ulasan Enigma Black Stage, silakan komen pendapatmu soal series ini ya.

Komentar

Popular