Langsung ke konten utama

Terbaru

Review Dancing on the Grave (2023), Dokumenter Cinta Terlarang Berujung Maut

Review Dancing on the Grave (2023), Dokumenter Cinta Terlarang Berujung Maut Ada yang sudah baca ulasan dokumenter dari kasus di India The Burari Family ?  Kali ini Kak Bi bawakan serial dokumenter dari India lagi. Dalam kesempatan kali ini, kita akan bahas bersama-sama dokumenter kejahatan yang Kak Bi temukan di Prime Video.

The Little Mermaid (2018): Review Film Fantasi

The Little Mermaid (2018): Review Film Fantasi



⚠️ SPOILER ALERT⚠️

The Little Mermaid yang ini bukan sebuah film duyung ala Disney. Kita akan kenalan dengan duyung yang berbeda dari duyung versi Ariel si rambut merah dan inilah gunanya review film kali ini. (Iih ngomong apaan sih?)

Ya udah, simak review film The Little Mermaid versi adaptasi dari bukunya ini dan bagikan pendapatmu juga ya ....


***


Info Film

Judul: The Little Mermaid

Sutradara: Blake Harris, Chris Bouchard

Penulis: Blake Harris (Naskah), Hans Christian Andersen (Book)

Genre: Fantasi, Petualangan, Drama

Pemain: William Moseley, Poppy Drayton, Loreto Peralta

Rilis: 17 Agustus 2018

Durasi: 1 jam 34 menit

Negara: Amerika Serikat

Rating Usia: 13+


***


Sinopsis Film The Little Mermaid (2018):

Di suatu kota kecil di Mississippi, seorang reporter muda bernama Cam (William Moseley) dan keponakannya, Elle (Loreto Peralta), menemukan makhluk cantik yang mereka yakini sebagai putri duyung sejati. 

Cam ditugaskan oleh bosnya untuk menyelidiki Locke, seorang pria di sirkus yang mengklaim punya air penyembuhan dari putri duyung. Elle, yang menderita penyakit yang tidak diketahui penyebabnya dan belum ada obatnya, membuat Cam berharap bahwa air ajaib dari sirkus dapat menyembuhkan Elle.

Di sirkus tersebut, mereka justru bertemu dengan Elizabeth (Poppy Drayton), seorang putri duyung yang terperangkap dalam tangki kaca. Elizabeth mengungkapkan bahwa dia akan memiliki kaki saat air laut surut dan dipaksa oleh Locke untuk tetap di sirkus karena jiwanya telah disegel oleh Locke. 

Pada suatu waktu, Elle diculik oleh Locke. Cam, bersama Thora, seorang peramal dengan kekuatan magis, dan Ulysses, seorang pemain sirkus yang tangguh, berusaha untuk menyelamatkan Elle dan membebaskan Elizabeth.


***


Review Film The Little Mermaid: Rating 7.8 dari 10 untuk live action dari cerita Hans Christian Andersen ini. Sebuah film fantasi petualangan yang cukup bagus dan punya ending manis. Apalagi ada William Moseley, aah mengingatkan masa-masa kepincut Peter Pevensie dari film Narnia.

Aku suka bagaiman cara Cam menuliskan cerita tentang kebenaran Elizabeth dan kejahatan Locke. Pada akhirnya, kisah ini diceritakan oleh seseorang kepada cucu-cucunya, mengungkapkan bahwa legenda putri duyung itu memang nyata adanya.

Tapi, bagaimana kalau kita bahas lebih dalam tentang kelebihan dan kekurangan dari film yang diulas kali ini.


Review film lainnya: THE TALE OF NOKDU (2019): REVIEW DRAKOR SEJARAH

Mungkin Anda sukai: LARA CROFT: TOMB RAIDER (2001): REVIEW FILM LAWAS YUK!


Review Film The Little Mermaid (2018): Kelebihan Film

1. Sebuah film dengan kisah yang manis menjadikan fokus utama film pada hubungan antara Cam dan Elle, yang memberikan kekuatan emosional pada cerita. Hubungan antara paman dan keponakan yang penuh kasih sayang ini menampilkan pengorbanan dan cinta keluarga yang tulus. Menjadikan film ini cocok ditonton bersama keluarga, apalagi tema utama film ini adalah perjuangan untuk membebaskan yang tertindas dan menegakkan kebenaran. Benar-benar tipikal film akhir pekan.


2. Kostum dan propertinya yang cantik. Meskipun merupakan film beranggaran rendah, kostum dan properti yang ditampilkan dalam film ini cukup mengesankan kok. Apalagi mereka berhasil menciptakan suasana sirkus yang otentik, penampilan putri duyung yang seolah-olah menggambarkan keberadaan putri duyung dari versi original ceritanya, serta kostum-kostum orang pada zaman tersebut. Semuanya aku suka.


3. Film ini berhasil diproduksi tanpa banyak unsur kekerasan, bahasa kasar, atau hal-hal tidak pantas, sehingga menjadikannya aman untuk ditonton bersama anak-anak. Keberadaan Elizabeth sebagai putri duyung yang terperangkap membawa unsur magis dan misteri yang memikat bagi anak-anak. Eh, aku juga terpikat ehehe ....


4. Pesan moral yang ingin disampaikan film ini lumayan sampai kepadaku sebagai penonton. Mulai dari pesan tentang kejujuran, cinta keluarga, dan pentingnya mengikuti kata hati. Film ini menawarkan premis yang menarik, walau eksekusinya memang kurang memuaskan.


5. Musik dan lagunya wajib masuk playlist sih, rasanya seperti di bawah ke dunia bawah air dan dunia fantasi. Oh ya lagu yang dinyanyikan Elizabeth di sirkus waktu air laut lagi surut dan kakinya muncul tuh, entah musik dan liriknya terasa enak banget di aku. Bikin merinding dan kasihan juga, jadi pengin anterin Elizabeth pulang ke lautan huhu....


Round in circles, pointless wandering

And the crowd lines up again

Give a smile, girl. You make them happy

Bring your parents, bring a friend


Silly that a main attraction

would long so much for love

I guess that's just the way it goes

But I'm holding on

I know a day will come

when I can be myself again

And i hope someone will love me

When this story ends ....


***


Review Film The Little Mermaid: Kekurangan Film

1. Jalan ceritanya lambat banget gaesss ... bikin ngantuk banget seandainya kamu bukan penyuka fantasi. Beberapa adegan terasa lambat dan bikin kurang bersemangat, terutama bagi kamu yang mencari adegan aksi, ini bukan untuk kamu ya. Ditambah lagi, dialog-dialognya beneran kayak keluar dari buku. Untuk ini, aku terbagi jadi dua. Ada suka dan tidak suka. 

Sukanya ya ceritanya jadi unik dan original aja ....

Tidak sukanya adalah, kaku. Yep, beberapa dialog kaku banget. Untung ayang Moseley ganteng *eh.


2. Karakter antagonisnya klise. Si Locke, pemilik sirkus ini digambarkan dengan cara yang terlalu stereotipikal alias umum sebagai penjahat, tanpa banyak kedalaman karakter pula. Mana aktingnya terasa B aja di mataku.


3. Kurangnya pengembangan karakter dan akting sebagian pemain yang terasa aneh. Beberapa karakter, seperti Thora dan Ulysses, kurang mendapatkan pengembangan yang memadai sehingga terasa datar. Adegan fight-nya tidak intens sama sekali. Padahal ini kalau ditingkatkan lagi bisa menjaring penonton usia dewasa juga. Sayang, selain berbudget rendah, film ini sepertinya memang diperuntukkan bagi anak-anak.


***


Meskipun ada beberapa kelemahan, film ini berhasil menciptakan dunia yang penuh keajaiban dan cinta. Bagi yang mencari petualangan tenang dan menginspirasi, film ini layak untuk ditonton. Ya, kalau kamu sabar melewati alur yang lambat itu~~

Pokoknya, ini film yang tenang, kalau nonton sendirian bakal ketiduran. Karena lagu-lagunya seperti playlist tidurku, ini dalam artian lagunya enak ya bukan jelek. Intinya, ini film yang manis, bersih, penuh cinta dan pengorbanan antara Cam, Elle dan Elizabeth.

Sst! Jangan berekspektasi ketinggian saat menonton film ini; karena film ini sama sekali bukan Disney, dan ini bukan remake dari princess Ariel. Ini adalah film anak-anak yang dibuat berdasarkan cerita aslinya. Tapi, dari segi casting pemeran, film ini menang banyak kalau dibandingkan versi Live Action Little Mermaid-nya Disney kemarin yang jauh dari ekspektasiku. Karena apa? Karena bisa nostalgia genre fantasi bersama Peter Pevensie eh William Moseley.

Terima kasih sudah membaca review film kali ini, review film ini bersifat personal ... mood saat menonton, tipe genre yang ditonton dan performa film mempengaruhi ulasan yang kubuat. Mohon maaf bila ada salah-salah kata.

Komentar

Popular