Langsung ke konten utama

Terbaru

Review Perfect Scenario: Skenario Musuh Bebuyutan ala Kezia Evi Wiadji

Review Perfect Scenario: Skenario Musuh Bebuyutan ala Kezia Evi Wiadji Benci jadi cinta mungkin adalah formula paling klasik dan klise dalam jagat fiksi remaja. Namun, seperti resep masakan yang sama di tangan koki yang berbeda, cerita Teenlit bisa tetap terasa segar jika diolah dengan bumbu konflik yang tepat.  Inilah yang aku temukan dalam novel Perfect Scenario karya Kak Kezia Evi Wiadji. Meskipun awalnya aku terpikat karena sampulnya yang manis, ternyata isi di dalamnya menawarkan dinamika hubungan yang lebih kompleks dari sekadar cinta monyet. *** 1. Identitas Buku Judul: Perfect Scenario Penulis: Kezia Evi Wiadji Cover: Orkha Creative Genre: Romance - Teenlit Penerbit: Gramedia Pustaka Utama Tebal: 280 halaman Terbit: September 2015 2. Tentang Pengarang Akrab disapa Evi. Selain bekerja sebagai karyawati di sebuah bank swasta di Jakarta, dia mencoba terjun ke dunia tulis-menulis sejak tahun 2011. Dari tangannya telah hadir beberapa buku, baik fiksi maupun nonfiksi. Melalui ber...

Gaun di Etalase: Cerpen Ibu dan Anak

Gaun di Etalase: Cerpen Ibu dan Anak


Ini adalah cerpen romantis Ibu dan anak perempuannya yang berjuang bersama penuh cinta dan tantangan. Selamat membaca cerpen romantis ibu dan anak: Gaun di Etalase.


***


[Cerpen Ibu dan Anak] Langkahku terhenti di depan sebuah butik pakaian pengantin yang megah. Cahaya lampu menghiasi etalase, menyorot beberapa gaun putih yang menjulang anggun di dalamnya. 

Salah satu gaun berhiaskan renda-renda halus, manik-manik yang memantulkan kilauan lembut, dan ekor panjangnya terlihat lebih menarik di mataku, seperti jejak bintang di malam gelap.  

Aku memandang gaun itu dalam diam. Sekilas, aku bisa membayangkan sedang memakainya. Berdiri di depan cermin besar, tersenyum canggung, mungkin sambil sesekali merapikan bagian pinggang yang terasa agak ketat. Tapi, sebelum sempat membayangkan lebih jauh, kakiku justru mundur beberapa langkah. 

Ada perasaan yang tiba-tiba menyeruak, takut.


Entah kenapa, hatiku mendadak dirundung kekhawatiran? Bayangan masa depan yang seharusnya indah, kini terasa begitu asing. Bukan soal gaun atau pesta, tapi bayangan tentang kehilangan. Apakah aku sudah kembali siap? Apakah aku mampu melangkah ke kehidupan baru dengan segala ketidakpastiannya?  

Gaun itu seperti sebuah mimpi yang berpendar di antara keraguan. Aku ingin memeluknya, tapi bayangan cermin yang memantulkan diriku sendiri jadi terasa begitu jauh, seolah ada jarak tak terlihat antara aku dan kebahagiaan.

Aku mengurungkan segala niatan yang timbul dan memilih pulang. 


***


[Cerpen Ibu dan Anak] Hari ini pulang agak telat, setelah meeting di luar kantor aku dan teman-teman sempat makan-makan dulu, mendadak jadi lajang yang tak punya tanggungan.

Sebagai ibu tunggal, aku memilih cepat pulang dan kini berakhir di depan pintu kamar putri kecilku, Ye Na. Setelah dijaga pengasuh seharian, aku yakin dia marah karena aku sering telat pulang akhir-akhir ini. Namun, apa boleh buat? Aku bekerja demi masa depan Ye Na.


Baca juga: Sosok Bertudung

Cerpen lainnya: Bersepeda di Malam Hari


Beberapa hari berlalu, kebetulan Ye Na sedang sakit. Aku meminta cuti di kantor dan mengantar Ye Na ke dokter anak. Sosok dokter kesukaan Ye Na, yang berkali-kali dia pinta untuk jadi ayahnya.

Akan tetapi, aku dan Dokter Park hanya sebatas kenalan, tak ada percikan asmara meskipun sudah saling kenal selama 5 tahun. Ya, memang sesekali aku bisa merasakan kode-kode aneh dari Dokter Park. 

Turun dari bus, aku dan Ye Na berjalan bersama sambil bergandengan tangan. Kebetulan kami melewati butik pengantin yang kusambangi tempo hari.

Ye Na tiba-tiba berhenti, lalu menunjuk sebuah gaun pengantin sambil berkata dengan mata berbinar, "Ibu, aku ingin memakai baju seperti itu kalau sudah besar."

Saat mendengar itu, aku menelan ludah, berusaha menyembunyikan rasa haru yang meluap. "Hmm, Ye Na-ya... Kamu harus sembuh agar bisa memakai gaun cantik. Semoga ibu juga sehat-sehat ya, supaya bisa melihatmu pakai gaun pengantin seperti itu nanti," jawabku, dengan suara yang hampir bergetar, sembari berjongkok untuk merangkulnya.

Pikiran itu membuatku tersadar. Mungkin, rasa takut yang datang tempo hari bukan tentang diriku sendiri. Tapi tentang waktu yang terus berjalan, tentang perubahan yang tak bisa kuhentikan. 

Suatu saat, aku tahu, Ye Na akan tumbuh dewasa. Dia akan menjadi gadis dewasa yang berdiri di depan cermin dengan gaun pengantin seperti yang dia impikan. Dan aku? Aku hanya bisa berharap, masih di sana untuk menggenggam tangannya, memastikan dia tidak merasa takut sepertiku sekarang.  


Aku menatap gaun itu sekali lagi, mencoba meredakan debaran di dada. Kemudian, aku tersenyum kecil. "Tidak apa-apa," bisikku pada diri sendiri. "Ye Na akan bertemu pria yang lebih baik dari mantan suamimu itu."  

Aku menghela napas dalam-dalam, berusaha menghapus bayangan masa lalu yang tiba-tiba menghantui. Mantan suamiku memang telah pergi, tapi ketakutan yang ditinggalkannya tetap membekas.

"Hah?" sahut Ye Na tiba-tiba menatap dengan polos.

"Ibu sedang membayangkan Ye Na memakainya ketika sudah dewasa." Aku tersenyum sembari mengelus kepalanya yang sudah tidak panas lagi.

"Tapi, Ibu ...."

"Ya?"

"Apa ibu tidak ingin memakainya juga? Dengan Pak Dokter?" ucapnya membuatku tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Ye Na.

"Kamu ini ...."

"Ye Na ingin melihat ibu memakai gaun putih, di rumah kita sudah tidak ada foto ibu dan gaun seperti itu." Ye Na menunduk sembari menunjuk gaun di etalase.

"Kamu saja yang pakai, ibu tidak cocok!" seruku melangkah, menarik tangan kecil bocah yang sebentar lagi berusia 6 tahun itu meninggalkan depan butik.

Dalam setiap langkahnya, diri ini hanya ingin menjadi ibu yang baik untuk Ye Na, menghidupkan kisah romantis ibu dan anak yang penuh kasih. Apa gunanya aku memakai kembali gaun pengantin, bila aku tak bisa beri yang terbaik untuk Ye Na?


***


[Cerpen Ibu dan Anak] Dalam hatiku, ada doa agar suatu hari nanti, Ye Na benar-benar bisa mewujudkan impiannya, dan aku cukup kuat untuk mendampingi setiap langkah gadis kecil ini. Gaun pengantin di etalase itu, meski hanya kain, kini menjadi simbol keberanianku untuk bertahan demi Ye Na. 

Keberanian untuk melangkah maju, meskipun jalan di depan penuh dengan ketidakpastian. Setidaknya, aku siap memerangi dunia, demi putriku, Ye Na.


TAMAT 

Gorontalo, 1 Februari 2025 (Ide sejak 27 Januari 2025)


Mungkin Anda sukai: Buku dan Pustakawan

Komentar

Popular