Review Berantai Spesial Valentine 2026: Ayat-ayat Cinta
Review Berantai Spesial Valentine 2026: Ayat-ayat Cinta
Halo, pengembara. Kali ini aku mau review film Indonesia. Tapi, film ini aku masukin ke review berantai ya dan bakal jadi artikel panjang.
Sesuai judul artikel, aku mau review film romansa religi yang fenomenal banget. Ayat-ayat Cinta. Ada yang pernah nonton ayat-ayat cinta? Atau jangan-jangan kamu belum lahir saat film religi romantis ini tayang di tahun 2008 silam?
Film ini sudah pernah aku bahas di channel YouTube-ku, buat yang mau dengar dan nonton versi video, bisa banget mampir ke Channel Nurwahidah Bi.
Langsung saja masuk ke pembahasan review berantai Ayat-ayat Cinta 1 dan 2 ya~~
***
1. AYAT-AYAT CINTA (2008)
Film ini rame banget dulu saat aku SMP, sampai-sampai belum nonton filmnya tapi udah hapal OST-nya. Tapi, seingatku, nggak butuh waktu lama untuk bisa nonton film ini di tv. Sepertinya momen lebaran 2008 atau 2009 film ini udah bisa dinikmati di tv nasional.
Judul: Ayat-ayat Cinta
Sutradara: Hanung Bramantyo, Iqbal Rais
Penulis: Salman Aristo, Gina S. Noer, adaptasi dari novel Habiburrahman El Shirazy
Genre: Drama, Romantis
Pemain: Fedi Nuril, Rianti Cartwright, Carissa Putri, Melanie Putria, Zaskia Adya Mecca
Rilis: 28 Februari 2008
Durasi: 120 Menit
Negara: Indonesia
Rating Usia: 17+
***
Sinopsis Film Indonesia Ayat-ayat Cinta:
Fahri, mahasiswa Indonesia di Al-Azhar, hidup tenang dengan prinsip Islam yang kuat. Kehidupannya berubah saat beberapa perempuan jatuh cinta padanya.
Ada Maria, gadis Nasrani yang lembut; Nurul, santriwati pemalu; Noura, korban kekerasan yang salah paham padanya; dan Aisyah, gadis keturunan Turki-Mesir yang akhirnya menjadi istrinya. Namun, ujian berat datang saat Fahri difitnah dan harus menghadapi penjara serta ujian keimanan dan cinta sejati.
***
Review Film Ayat-ayat Cinta:
Nonton Ayat-Ayat Cinta itu rasanya kayak masuk ke dunia yang serba ideal tapi juga penuh drama yang bikin dahiku mengkerut, kalai dipikir-pikir sekarang eheheh.
Sosok Fahri digambarkan sebagai lelaki yang terlalu sempurna untuk jadi nyata. Dia alim, pintar, dan sopan banget sampai-sampai semua cewek yang dia temui langsung jatuh hati. Aku pribadi merasa karakter Fahri ini agak lambat kalau urusan peka sama perasaan perempuan, tapi ya memang itu daya tariknya sebagai "lelaki suci" di tengah godaan empat perempuan dengan latar belakang yang beda-beda.
Pada zamannya, visual film ini jempolan banget, apalagi akting Rianti Cartwright sebagai Aisha yang bisa menampilkan emosi kuat cuma lewat sorotan mata di balik cadarnya. Meskipun aslinya syuting di India dan Semarang, atmosfer Mesir-nya tetap ada dan terasa eksotis.
Aku suka gimana sutradara Hanung Bramantyo berani menampilkan sisi Islam yang moderat dan universal, bahkan isu-isu sensitif kayak poligami pun dibahas dengan pendekatan yang bikin kita mikir soal keikhlasan dan pengorbanan, bukan cuma soal nafsu semata, uhuk.
Tapi, kalau mau jujur dari sudut pandang penonton dewasa, alur ceritanya kadang terasa terlalu melodrama dan agak "aman" khas film religi era itu. Ada bagian yang terasa terburu-buru, terutama pas konflik hukum mulai masuk dan urusan perasaan jadi makin ribet. Banyak momen yang bikin aku mikir, "Masa sih secepat itu?" atau "Kenapa pilihannya begitu?", "Kok dulu aku nggak ngeh ya?".
Tapi ya balik lagi, ini film fiksi yang memang tujuannya buat ngasih pesan moral tentang gimana teguhnya iman seseorang saat diuji habis-habisan oleh nasib.
Kelebihan Ayat-ayat Cinta :
Buat aku, dulu ini tipe film yang asik buat ditonton ulang bareng keluarga sambil diskusi ringan tentang hidup, tanpa harus merasa digurui secara berlebihan. Kelebihannya aku jabarin di bawah ya:
- Alur cerita mengalir dengan konflik emosional yang kuat.
- Musik latar dan OST-nya sangat legenda dan membekas, terutama “Ayat-Ayat Cinta” oleh Rossa.
- Visual Mesir yang eksotis memberi nuansa khas.
- Akting semua pemain, terutama Fedi Nuril, Rianti Cartwright dan Carissa Putri menyatu dengan peran.
- Ending film yang hampir sempurna dan sangat membekas
Kekurangan Ayat-ayat Cinta:
Serame-ramenya film ini, bahkan sebelum aku nonton, hanya berdasarkan cerita teman-teman yang udah nonton, Fahri mendadak jadi contoh lelaki impian. Tapi, setelah beberapa tahun kemudian aku menemukan kekurangan dalam film ini.
Dimulai dari pengembangan karakter dan tokoh beberapa perempuan terasa sekadar pemanis aja. Dan ya, karakter Fahri coba ditampilkan sangat manusiawi dan penuh nilai agama. Awalnya ini jadi idaman anak remaja 2008 kan ya, tapi setelah dewasa dan menonton ulang, aku sadar kalau Fahri tidak sepenuhnya manusiawi. Sepertinya ini hanya soal persepsi usia saat menonton.
Waktu remaja, kita memang lagi gampang berbunga saat melihat sosok lelaki pemeran utama dalam film atau sinetron, tapi seiring berjalannya waktu, kedewasaan membuat kita bisa menilai aspek-aspek lainnya kok eheheh.
Kekurangan film ini, aku rincikan di bawah ya:
- Pengembangan karakter perempuan agak timpang, beberapa terasa sekadar pemanis.
- Pacing menjelang akhir agak cepat.
- Beberapa konflik terselesaikan terlalu mudah.
- Karakter Fahri coba ditampilkan sangat manusiawi dan penuh nilai agama. Awalnya ini jadi impian anak remaja 2008, tapi setelah dewasa dan menonton ulang, aku sadar kalau Fahri tidak sepenuhnya manusiawi.
***
Aku kasih rating 8/10 untuk film Indonesia yang jadi film kenangan ini. Meski sudah lebih dari satu dekade berlalu, film ini tetap jadi ikon film religi romantis yang sulit tergantikan dan tentunya jadi salah satu film religi romantis Indonesia terlaris sepanjang masa.
Baca juga: REVIEW ABADI NAN JAYA (2025) | FILM ZOMBIE INDONESIA DI NETFLIX
Review berantai lainnya: REVIEW BERANTAI: 200 POUNDS BEAUTY VERSI KOREA SELATAN (2006) VS. INDONESIA (2023)
2. AYAT-AYAT CINTA 2 (2017)
Di tahun 2017, ternyata Fahri datang lagi dengan kisah cinta yang baru. Film religi romantis ini perlahan, jadi agak aneh karena dibuatkan part 2 nya. Ehm, kita bahas dulu sinopsisnya ya.
Judul: Ayat-ayat Cinta
Sutradara: Guntur Soeharjanto
Penulis: Ifan Ismail, Alim Sudio, adaptasi dari novel Habiburrahman El Shirazy
Genre: Drama, Romantis
Pemain: Fedi Nuril, Tatjana Saphira, Chelsea Islan, Dewi Sandra, Pandji Pragiwaksono, Arie Untung, Mathias Muchus, Millane Fernandez, Nino Fernandez
Rilis: 21 Desember 2017
Durasi: 125 Menit
Negara: Indonesia
Rating Usia: 14+
***
Sinopsis Ayat-ayat Cinta 2:
Fahri kini tinggal di Edinburgh dan berstatus duda karena Aisyah menghilang dalam misi kemanusiaan di Palestina. Hidupnya dikelilingi oleh berbagai tekanan: tetangganya Keira yang membenci Islam, Hulya yang menawarkan cinta baru, dan Sabina, wanita bercadar misterius yang dekat dengannya.
Di tengah gelombang Islamofobia dan tekanan batin, Fahri mencoba tetap berdiri sebagai representasi Islam yang damai dan bijaksana.
Review Ayat-ayat Cinta 2:
Sejujurnya, menonton Ayat-Ayat Cinta 2 itu pengalaman yang bikin aku garuk-garuk kepala sepanjang film. Alih-alih merasa terharu seperti film pertamanya, aku malah merasa ceritanya terlalu dipaksakan banget dan kehilangan arah karena kebanyakan subplot.
Sosok Fahri di sini sudah bukan lagi sekadar mahasiswa pintar, tapi berubah jadi semacam manusia setengah dewa yang terlalu sempurna di Edinburgh, sampai-sampai rasanya susah buat aku berempati sama konfliknya yang terasa nggak masuk akal.
Aku merasa masalah terbesar film ini ada di naskahnya yang super berantakan dan klise. Bayangkan saja, durasi dua jam yang seharusnya bisa dipadatkan jadi 20 menit itu terasa seperti ditarik ulur tanpa tujuan yang jelas. Banyak adegan yang niatnya mau menunjukkan kebaikan hati Fahri dalam menyebarkan citra Islam, tapi jatuhnya malah terasa seperti sedang pamer kebaikan demi validasi orang lain. Bukannya menyentuh, aku justru merasa beberapa karakter tambahannya juga cukup mengganggu dan eksekusi plot twist-nya benar-benar B aja.
Dari sisi visual, aku harus akui kalau sinematografinya memang cantik banget. Ya, setidaknya modal syuting di luar negerinya nggak sia-sia untuk memanjakan mata eheheh.
Tapi, visual yang oke nggak bisa menyelamatkan akting yang terasa lebay dan kaku di beberapa bagian. Aku sempat merasa film ini lebih cocok jadi sitkom daripada drama religi romantis, karena banyak momen yang niatnya serius tapi malah bikin aku pengin tertawa saking anehnya hubungan antar karakternya.
Intinya, buat aku film ini adalah salah satu contoh nyata di mana sekuel gagal menjaga marwah karya aslinya karena terlalu ambisius tapi minim esensi.
Rasanya sayang saja anggaran besar yang dipakai untuk produksi luar negeri tidak dibarengi dengan skenario kuat.
Kelebihan Ayat-ayat Cinta 2:
Kelebihan film ini memang ada di visualnya, karena digarap 10 tahun kemudian, film ini kasih nuansa yang lebih fresh dibandingkan film sebelumnya.
- Sinematografi indah dan sinyal kuat dari lokasi Eropa yang kontras dengan kisah sebelumnya.
- Tema lebih luas dan modern: Islam di mata Barat, toleransi, dan trauma masa lalu.
- Beberapa momen reflektif masih cukup menyentuh.
Kekurangan Ayat-ayat Cinta 2:
Sayangnya, film kedua sama sekali tidak menarik perhatianku. Menurutku, kisah cinta Fahri dan Aisyah, sudah lebih dari cukup. Aku sendiri tidak pernah baca novelnya dan tidak tahu bagaimana nasib Fahri di sana. Hanya saja, film kedua ini terlalu memaksakan hubungan Fahri-Hulya dan plot twist-nya sangat mengecewakan.
Beberapa kekurangan lainnya:
- Terlalu banyak subplot, fokus cerita jadi terpecah.
- Hubungan Fahri-Hulya terasa dipaksakan, kurang chemistry.
- Beberapa karakter kurang dieksplor, seperti Keira dan Sabina. Fahri bahkan tampil lebih kompleks dan sudah matang secara emosi, tapi sikap bingung-nya malah bertambah parah di sini.
- Dialognya cenderung berat dan terkadang terdengar terlalu “menggurui”.
***
Rating 5.8/10 untuk film kedua yang mencoba menjangkau tema lebih luas, tapi malah kehilangan keintiman dan kesederhanaan yang membuat film pertamanya begitu kuat.
Mungkin Anda sukai: JOKO ANWAR'S NIGHTMARES AND DAYDREAMS (2024): SERIES NETFLIX INDONESIA
Artikel lainnya: GAMPANG CUAN (2023) | REVIEW FILM VINO G. BASTIAN, ANYA GERALDINE DAN MERIAM BELLINA
Perbandingan Ayat-ayat Cinta 1 dan 2:
Tapi, memang sih, kebanyakan film terkenal yang tiba-tiba dibuat sekuel, prekuel atau part-part lainnya tidak akan se-wah film pertamanya. Apalagi kalau film pertama berakhir dengan ending yang bagus dan tepat.
Nah, biasanya bakal aneh tuh. Terkecuali memang film yang di ending film pertama sudah dikasi kode bakal ada film kedua atau berseri, ini lain cerita dan biasanya akan lebih ditunggu-tunggu oleh penggemarnya, meskipun tentu saja dengan ekspektasi yang sangat tinggi.
Film pertama Ayat-ayat Cinta berhasil menjadi pionir drama religi yang menyentuh dengan konflik poligami yang masih terasa manusiawi dan membumi, sekuelnya justru terasa kehilangan arah.
Di film pertama, aku masih bisa merasakan kedalaman emosi dan dilema karakter Fahri sebagai mahasiswa biasa di Mesir yang terjebak situasi pelik. Namun di Ayat-Ayat Cinta 2, sosok Fahri berubah menjadi karakter yang terlalu sempurna atau "superhero religi" di Edinburgh, sehingga sisi emosional yang dulu begitu kuat kini luntur sudah.
Perbedaan yang paling mencolok bagiku ada pada kualitas naskah dan eksekusi konfliknya. Film pertama memiliki fokus yang jelas tentang cinta, iman, dan pengorbanan dengan alur yang terjaga rapi. Sebaliknya, film kedua terasa ambisius dengan memasukkan terlalu banyak subplot dan karakter tambahan yang justru mengaburkan inti cerita.
Eh, ada lagi kesan yang kutangkap yaitu soal warna dan tone filmnya. Film pertama tone-nya kekuningan sementara film kedua keabu-abuan.
***
Sekian review film Indonesia spesial Valentine 2026, Ayat-ayat cinta. Kalau kamu anak 90-an dan punya kenangan soal film ini, coba cerita di kolom komentar ya. Soalnya film ini muncul di zaman remajanya anak 90-an. Buat yang belum menonton kamu bisa cek platform menonton online ya. Dan ceritakan pengalaman setelah menonton keduanya.



Komentar
Posting Komentar