Review Berantai: Wednesday S1 vs S2, Siapa Juaranya?
Review Berantai: Wednesday S1 vs S2, Siapa Juaranya?
Jangan heran aku bahas Wednesday lagi, setelah bikin ulasan dua season sebelumnya. Soalnya, dunia televisi digital memang sempat gempar sewaktu Netflix merilis Wednesday pada tahun 2022.
Kolaborasi antara visi estetika Tim Burton dan karakter ikonik Addams Family menciptakan badai budaya pop yang susah terelakkan. Namun, sebagaimana pepatah mengatakan bahwa mempertahankan lebih sulit daripada mendapatkan, season 2 hadir dengan beban ekspektasi.
Sayangnya, setelah baca beberapa ulasan lain di internet aku menemukan bahwa bagi banyak penggemar setia, transisi dari season pertama ke season kedua terasa seperti jatuh dari tebing curam.
Artikel ini aku bikin untuk membedah secara mendalam mengapa season 1 lebih disukai, sementara season 2 dapat banyak kritikan.
Aku sendiri sudah bahas season 1 dan season 2, kamu bisa baca dengan klik di sini dan di sini ya ....
***
Season 1: Keajaiban Visi Tim Burton
Season pertama Wednesday berhasil karena satu alasan utama yaitu fokus. Meskipun Tim Burton tidak menyutradarai setiap episode, jejak artistiknya terasa di setiap sudut Nevermore Academy sebagai produser. Estetika gotik yang kental, palet warna yang kontras antara hitam-putihnya Wednesday dan warna-warninya Enid, serta narasi misteri yang rapi beneran bikin aku terpikat sejak episode pertama.
Pada season ini, kita diperkenalkan pada reka ulang karakter Wednesday Addams yang brilian. Dia adalah sosok yang cerdas, dingin, namun memiliki kompas moral yang unik. Hubungannya dengan teman sekamarnya, Enid Sinclair, menjadi jantung emosional yang nggak terduga. Penulisan naskahnya terasa matang, dengan pengembangan karakter yang berjalan organik seiring terungkapnya misteri monster Hyde.
Season 2: Kekacauan Narasi yang Terburu-buru
Kontras dengan kesuksesan tersebut, aku agak kaget saat tahu banyak yang bilang kalau season 2 ini jelek, bahkan ada yang bilang Wednesday 2 itu sampah, ini yang bilang sebagian penonton kecewa. Walau aku kurang setuju sih, nggak segitu jeleknya kok ckckck....
Well, meskipun ada jeda tiga tahun antara kedua season tersebut, hasil aku akuin memang terasa terburu-buru. Seolah-olah para penulis naskah belum benar-benar siap ketika Netflix menuntut kelanjutan cerita demi mengejar momentum kesuksesan.
Lebih lucu lagi, bahkan pemeran Pugsley keburu tumbuh besar dan bikin ketidaksesuaian, di mana latar yang hanya berjeda season panas bikin dia tumbuh besar eheheh....
Baca juga: BERKENALAN DENGAN DEWA-DEWI K-POP GEN 3, BAG.1
Artikel lainnya: A KILLER PARADOX (2024): REVIEW DRAKOR SERU
1. Plot yang Hilang di Tengah Keramaian
Salah satu kritik untuk season 2 adalah narasinya yang jujur agak terasa berantakan. Terlalu banyak sub-plot, terlalu banyak karakter baru, dan terlalu banyak elemen yang tidak ada hubungannya dengan inti cerita. Aku merasa hingga episode keempat, "tidak ada hal signifikan yang benar-benar terjadi", ya cuma sekadar menikmati sinematografi dan humor.
Alurnya terasa seperti kumpulan sketsa yang dipaksakan bersatu tanpa benang merah yang kuat.
2. Wednesday dan Sindrom "Mary Sue"
Waktu season satu, Wednesday jadi detektif remaja yang rentan tapi tangguh banget. Di season kedua, Wednesday terasa mulai mendekati pola "Mary Sue" karakter yang terlalu sempurna, paling pintar, paling kuat, dan selalu benar tanpa usaha yang berarti.
Ironisnya, meski dia digambarkan sangat hebat, dia sering kali masuk ke dalam masalah tanpa rencana yang jelas.
Karakternya pun terasa nggak berkembang. Kalau di season pertama emosionalnya terasa segar, di season kedua hal ini mulai terasa membosankan karena tidak ada lapisan baru yang dibuka.
3. Enid Sinclair yang Terpinggirkan
Enid, yang merupakan salah satu karakter favoritku di season satu, eh malah hampir tidak memiliki plot yang berarti di season kedua. Meskipun dia dikasih pacar baru dan penggerak Wednesday untuk melakukan sesuatu karena penglihatan soal kematian Enid. Tapi, berasa lemah banget penampilannya. Mungkin karena fokus memperkenalkan Agnes dan membangun cerita si Bianca, Zombie Slurp dan neneknya Wednesday.
Baru di episode-episode akhir Enid mulai terasa naik panggung lagi. Tapi, ya itu dia rasanya hanya mengulang tema yang sama dengan season pertama, tentang persahabatan dan penerimaan diri, malah nasib Enid ke ngegantung. Well, tidak ada sesuatu yang baru bagi manusia serigala favoritku ini, selain adegan bertukar jiwa itu. Padahal di season satu aku suka banget dinamika Wednesday dan Enid.
4. Formula Netflix yang Melelahkan
Dalam eksekusi kedua season, Netflix sedang terjebak dalam formula yang sama. Pola yang digunakan dalam, Winx Saga kayak diterapkan kembali ke Wednesday, yaitu sekolah sihir yang estetik, kekuatan supernatural, dan protagonis remaja yang sinis.
Aku sempat bertanya-tanya, kenapa nggak bikin serial orisinal saja jika akhirnya semangat asli Addams Family harus dikorbankan?
Padahal di season pertama vibes-nya masih sangat The Addams Family versi animasi yang creepy dan lucu dengan dark jokes-nya. Eh, Wednesday season kedua terasa seperti mencoba menjadi segalanya untuk semua orang, namun akhirnya kehilangan jiwanya sendiri.
Nevermore Academy kini hanya menjadi latar belakang cantik yang jarang dijelajahi, di mana para siswanya tampaknya tidak pernah benar-benar belajar dan hanya jadi "pajangan" di latar belakang.
***
Secara keseluruhan, perbandingan antara kedua season ini adalah tentang bagaimana kesuksesan besar malah bisa menjadi bumerang. Meskipun bagiku tetap saja menghibur untuk season satu dan dua, walau ada banyak catatan. Kenapa? Ya, karena memvisualisasikan kembali Addams family, keluarga aneh dari masa kecil anak-anak 90-an.
Season satu adalah pengenalan yang cerdas, bergaya, dan penuh karakter terhadap dunia Wednesday. Sementara season dua adalah tumpukan penjahat dan alur cerita setengah matang yang kurang memuaskanku.
Kalau nggak ada perubahan di season mendatang, Wednesday berisiko diingat hanya sebagai tren sesaat yang gagal mempertahankan api kreativitasnya loh. Semoga season tiga nanti bisa balikin mood menonton di season dua atau kalau bisa lebih keren dan seru lagi.
Menjawab pertanyaan di judul, tentang siapa pemenangnya. Ya, bagiku tentu saja season 1 karena terasa lebih fresh aja sih.
Sekian review berantai kali ini, meskipun aku udah bikin versi review berantai sebagai perbandingan, aku juga bikin review per season ya. Kalau ada waktu aku mau bikin review versi animasinya juga sih eheheh....
Terima kasih sudah mampir.

Komentar
Posting Komentar