Buku dan Pustakawan: Cerita Fiksi Nurwahidah Bi
Buku dan Pustakawan: Cerita Fiksi Nurwahidah Bi
[Cerita Fiksi Nurwahidah Bi] Wanita dengan rok plisket putih dan kemeja oversize abu-abu bernama Kirana, tengah duduk di sudut perpustakaan kota dengan gelisah. Tatapannya melayang ke langit-langit, mencoba mengingat kembali keseluruhan sinopsis cerita fiksi yang pernah dia baca.
Namun, semua yang tersisa hanya bayangan tanpa judul. Kemarin, saat bertemu teman lama yang hobi membaca, Kirana teringat beberapa bagian cerita dari sebuah buku, itulah yang membuatnya ingin kembali meminjam buku tersebut.
Sesekali, dia menghela napas frustrasi. Di seberang meja, seorang pustakawan yang ramah melihat Kirana. Pustakawan itu hapal betul tentang Kirana, meskipun baru bekerja selama beberapa bulan. Selama bekerja di sini, tak pernah sekalipun dia tidak melihat Kirana setiap minggu.
Pustakawan muda dengan kumis tipis dan mata cerah itu mendekat dan bertanya, "Ada yang bisa saya bantu, Mbak Kirana?"
Kirana tersentak dan tersenyum sopan, "Maaf, Mas. Saya lagi berusaha mengingat judul cerita yang pernah saya baca di sini, tapi sepertinya saya lupa judul dan keseluruhan sinopsisnya."
Pustakawan itu tersenyum penuh pengertian. "Hmm, ceritakan sinopsisnya seingat, Mbak Kirana aja, mungkin saya bisa bantu cariin."
Kirana pun bercerita tentang sinopsis buku yang sedang dicarinya. "Saya lupa kalau itu novel atau kumcer, pokoknya buku itu membahas soal cewek jomlo yang mengejar-mengejar cowok. Tapi, cowok itu udah punya pacar, malah nikah kalau nggak salah."
"Hmm, sepertinya cerita kayak gitu lumayan banyak deh!" ujarnya lembut. Tanpa sadar Kirana tersenyum sembari menatap lelaki di hadapannya itu.
"Ah!" Kirana teringat sesuatu. "Si cewek punya sahabat yang sering numpang makan di rumahnya. Terus ada anak nakal gitu. Haduh, apa ya?"
Pustakawan itu memejamkan sebentar matanya, memikirkan cerita tersebut. "Oh, sepertinya saya tahu novel yang mbak maksud. Judulnya 'Ups, Terciduk' , karya siapa itu? Pokoknya yang sampulnya warna pink 'kan?"
"Hmm, iya! Itu!"
"Kalau itu sudah saya baca juga, memang ceritanya unik dan aneh sih."
Kirana berseri-seri, "Ya, betul banget! Terima kasih banyak ya, Mas! Saya benar-benar ingin baca buku itu lagi."
"Sebentar ya, saya cek dulu, Mbak!" Pustakawan itu berjalan ke balik meja besar dan mulai memeriksa komputernya.
Wajah yang tadinya dipenuhi senyuman, mendadak loyo. Melihat itu, Kirana sudah bisa menebak.
"Bukunya udah dipinjam orang ya, Mas?" tebak Kirana mendekat.
"Iya, nih. Ada tiga buku dan tiga-tiganya sedang dipinjam orang. Tapi, besok sih jadwal satu buku dibalikin. Mbak, bisa balik besok kalau mau?"
"Iya, deh. Saya balik besok ya, semoga udah ada bukunya." Kirana bernada agak kecewa.
"Mbak mau baca buku dari penulis yang sama?" Pustakawan itu menatap Kirana.
"Oh, boleh ...!"
"Sebentar ya, Mbak." Pustakawan itu bergerak ke salah satu lorong rak buku dan kembali dengan satu buku bersampul unik. "Ini, Mbak. Tapi, genrenya horor."
"Hmm, nggak apa-apa deh. Kalau kurang suka, besok saya bisa balikin buku ini, sekalian jemput buku yang dibalikin besok."
"Iya, Mbak."
"Ngomong-ngomong, kok tahu nama saya?"
"Hmm .... Anu, itu ...." Pustakawan mendadak kebingungan. "Mbak kan rajin ke sini, Mbak nggak ingat muka saya ya?"
"Maaf!" Kirana tersenyum sembari menggeleng. Saat bersama buku, dunia Kirana terfokus pada kepalanya sendiri. Dunia di sekitar hanya sekadar angin lalu baginya.
Baca juga: SEKALI LAGI: CERPEN DRAMA NURWAHIDAH BI
Cerpen lainnya: KOMPLOTAN DAN SALAH PEGANG: CERPEN KOMEDI
[Cerita Fiksi Nurwahidah Bi] Malam harinya, Kirana duduk di kursi sofa dengan buku rekomendasi pustakawan di tangannya. Dalam cahaya lampu lembut, dia membuka halaman pertama dan membenamkan diri dalam kisah yang tak terlupakan.
Cerita membawa Kirana ke dunia yang penuh misteri dan ketegangan. Dia ikut merasakan keanehan di perumahan Aristokrat, para tamu yang mulai merasakan hal-hal mengerikan membuat Kirana semakin terhanyut di dalam alur cerita. Setiap halaman membawanya lebih dekat dengan karakter utama, membuatnya merasakan ketegangan, dan kepedihan yang mereka alami.
Saat cerita mencapai bagian alasan mengapa dan kenapa? Kirana merasa detak jantungnya berdegup lebih cepat. Dia bersimpati dengan perjuangan Bu Irina, tapi juga merasakan amarah dan kesedihan.
Hingga larut malam, Kirana masih terpaku pada halaman buku itu. Sebuah cerita yang membawanya pada perjalanan emosional yang mendalam, mengajarkan arti persahabatan, pengampunan, keegoisan, bahkan cinta.
Ketika dia menutup buku itu, Kirana tersenyum puas. Dia tidak hanya menemukan judul seru sebagai pengganti buku yang dicarinya, tetapi juga menemukan kembali kegembiraan dalam membaca.
Kirana mengembus napas puas, rasa letihnya terobati. Segala rasa yang tertinggal dalam kesibukan ketika hari kemarin, menjadi terlupakan saat buku ada di sini. Dengan mata agak lelah, Kirana mendadak terbayang wajah pustakawan yang membantunya hari ini.
"Sepertinya aku harus belajar memperhatikan sekitar. Masnya ganteng!" ujar Kirana tidak bisa menahan senyuman padahal baru saja membaca cerita horor.
***
Kirana berdiri di depan perpustakaan kota, dari luar dia memperhatikan lelaki berkemeja biru muda. Rambut rapi dengan sebuah name tag dan wajah serius memandang komputer di depannya.
Kirana melangkah masuk dan bergegas ke meja sang pustakawan. Keduanya saling bertatap untuk sesaat, Kirana merasakan darah mendadak naik ke pipinya. Kirana berdehem beberapa kali, lehernya mendadak haus.
"Mbak Kirana? Selamat pagi!" sapanya tersenyum.
"Pagi, Mas. Mau anterin buku, sekalian tanya buku yang kemarin "
"Yah, mbak kepagian nih. Bukunya belum diantar." Pustakawan mengulurkan tangan saat melihat Kirana memegang buku yang dipinjamkan kemarin.
"Oh ya?" Kirana memberikan buku itu dengan ekspresi kecewa.
"Bukunya nggak seru ya? Beneran dibalikin."
"Udah selesai dibaca!"
"Hah?" Pustakawan kaget dan tersenyum menatap Kirana yang masih tidak fokus. "Hebat ya!"
Kirana hanya tersenyum dan berjalan menuju rak buku, menjauhi meja tempat pustakawan berada.
Pustakawan mengikuti Kirana, dari belakang memperhatikan kemana langkah Kirana akan berakhir. Tanpa suara, Kirana berjalan menuju rak berisi buku horor. Lama memperhatikan buku-buku, dia mengambil beberapa buku dan berbalik.
Pustakawan kaget, begitu pun Kirana.
"Ah, mbak mau nungguin bukunya datang ya?" tanya pustakawan salah tingkah.
Kirana terdiam sejenak, lalu menatap pustakawan yang sedang menghindari tatapannya. "Bisa minta nomor hapenya?"
"Hah?" Pustakawan mendadak batuk mendengar ucapan Kirana.
"Ah, buat saya telepon kalau bukunya sudah datang. Bisa kan?"
"Bisa!" Lelaki itu bergegas mengajak Kirana ke mejanya. Diambilnya stick note dan menuliskan nomor serta nama di sana. Kemudian diberikan pada Kirana.
"Saga ...," ucap Kirana lembut.
"Iya, Mbak."
"Hmm, apa perlu saya tinggalin nomor saya juga?"
"Boleh banget!" ucapnya segera menyodorkan sticky note ke arah Kirana.
Kirana tertawa sambil menuliskan nomornya. Lalu pergi begitu saja, meninggalkan aroma lembut yang membuat Saga terpaku menatap punggungnya yang semakin menjauh.
***
[Cerita Fiksi Nurwahidah Bi] Kirana sibuk mengatur beberapa buku yang baru dibelinya di Gramedia, buku yang tidak ditemukannya di perpustakaan sengaja dia beli agar bisa dikoleksi.
Sebuah panggilan telepon dari karyawan di tailor shop-nya, membuat Kirana kecewa. Sejak semalam dia menunggu telepon Saga. Tidak enak hati jika menelepon lebih dulu, padahal Kirana yang meminta nomor lebih dulu.
Karena menjadi kutu buku selama bertahun-tahun membuat Kirana terlalu masuk pada hobinya sehingga susah keluar untuk menghadapi debaran yang muncul saat menatap nama Saga di selembar kertas kecil yang agak lusuh karena digenggam oleh tangannya yang selalu berkeringat.
Beberapa saat usai teleponan dengan karyawannya, gadis 28 tahun yang mewarisi bisnis dunia jahit dari sang ibu itu mendadak kegirangan karena nama yang muncul di layar ponsel. Diangkatnya panggilan telepon dengan sok anggun.
"Ya, halo ...."
"Mbak Kirana, ini saya, Saga."
"Iya, Mas. Bukunya sudah ada?" tanya Kirana dibarengi gerakan memukul kepalanya sendiri.
"Sudah, Mbak. Mau diambil besok?"
"Ya! Saya ke sana besok."
"Iya, Mbak. Selamat malam." Ucapan Saga diikuti ucapan yang sama dari Kirana. Panggilan telepon berakhir begitu saja.
Akan tetapi, debaran di dadanya belum berakhir. Kirana mendadak tidak bisa menahan senyuman.
***
Saga menatap pintu masuk perpustakaan, sejak tadi menunggu Kirana yang sempat sms-an dan bilang sudah di jalan. Sesekali, Saga merapikan kemeja hitamnya dengan gelisah.
Pintu perpustakaan dibuka, gadis berbaju kuning cerah dengan rok hitam melangkah masuk. Dengan langkah cepat bergerak menuju Saga. Saga keluar dari mejanya dan menyambut kedatangan Kirana.
"Mbak Kirana!"
"Hmm, bukunya udah ada kan?"
"Aman!" ujarnya menyerahkan buku. "Mau langsung pergi ya?"
"Nggak, saya mau baca di sini dulu. Masnya silakan bekerja!" Kiran menuju meja di sudut ruangan dan mulai membuka bukunya dengan santai. Saga memperhatikan daei kejauhan.
Saat perpustakaan tidak terlalu ramai, Kirana masih duduk di sini. Sesekali melirik Saga, ya, Kirana punya hobi baru. Melirik dan menatap Saga dari kejauhan, demi memuaskan debaran di dadanya.
Kirana tidak pernah tahu, jatuh cinta sama-sama membuat jantung berdebar kencang seolah membaca buku-buku yang menegangkan. Rasanya manis, seperti romansa komedi yang sering dibacanya. Kirana mendadak merasa seperti seorang detektif yang harus berhati-hati di depan terduga.
"Mbak Kirana?" panggil Saga sang pustakawan.
"Ya?"
"Mbak, mau makan malam sama saya, nggak?" tanya Saga satu napas.
"Boleh!" jawab Kirana sibuk menjaga ekspresi.
"Ada buku seru yang harus mbak baca!" Saga tertawa, Kirana pun menyambutnya.
Mereka berdua tidak bisa menyembunyikan ketertarikan satu sama lain. Buku akan menjadi cara keduanya untuk berkomunikasi.
***
TAMAT
Gorontalo, 28 November 2023
Cerpen Nurwahidah Bi lainnya:
- ADA APA DENGANKU?: CERPEN HOROR KAK BI
- PETIR ARCANA: CERPEN NURWAHIDAH BI
- CANDI HUTAN: CERITA HOROR FANTASI
Komentar
Posting Komentar