Candi Hutan: Cerita Horor Fantasi
Candi Hutan: Cerita Horor Fantasi
Cerita horor fantasi merupakan genre naratif yang memadukan elemen-elemen ngeri dengan unsur-unsur fantasi. Bisa melibatkan alam gaib, makhluk mitologis, atau kejadian supranatural yang seringkali melibatkan interaksi manusia dengan dunia mistis. Pergulatan antara elemen horor dan fantasi menciptakan atmosfer yang seharusnya menegangkan.
Siapa sangka, cerita horor fantasi hari ini akan jadi cerpen terakhir di tahun 2026 yang tayang di blog Nurwahidah Bi.
Semoga saja, di tahun 2026 kita semua bisa hidup lebih baik daripada tahun 2025. Ini dia cerita horor fantasi; Candi Hutan. Selamat membaca.
***
[Cerita Horor Fantasi] Di bawah rembulan yang menghujani atap-atap rumah penuh sepi. Tepat di tengah hutan yang lebat, sebuah candi muncul sebagai penjaga rahasia zaman.
Bentuknya menjulang, menjelma sebagai peninggalan masa lalu nan memukau. Pahatan relief yang halus menghiasi dinding-dinding, mengisahkan kisah-kisah yang memudar seiring berjalannya waktu.
Aura mistis melingkupi candi, menciptakan suasana penuh misteri, sekaligus ketenangan. Udara di sekitarnya terasa dingin, seolah-olah ditemani oleh roh-roh leluhur yang tak pernah meninggalkan tempat ini. Bila pagi menyambut, cahaya matahari akan tembus melalui dedaunan rimbun, mencipta permainan bayangan yang menambah kesan magis pada setiap sudut candi.
Angin sepoi-sepoi hutan membisikkan rahasia yang terkunci di dalam dinding-dinding. Hujan gerimis kadang-kadang turun dengan lembut, memberikan nuansa kesakralan pada tempat ini.
Mitos-mitos kuno melingkupi candi seperti kabut yang mengambang di antara pepohonan. Legenda mengisahkan tentang penjaga gaib yang melindungi setiap pengunjung yang datang dengan niatan tulus.
***
Lelaki berkemeja putih menginterupsi kalimat panjangku. "Detailnya terlalu indah, butuh berapa lama buat semua ini bisa diperbaiki dan jadi seindah sekarang?"
"10 tahun, kurang lebih selama itu. Saya baru bekerja selama sebulan di tempat ini, jadi hanya itu yang saya tahu," ucapku sembari menunjuk candi di hadapan. "Mari ke sisi kiri bangunan candi," ajakku.
Para pengunjung tampak sesekali memerhatikan pamflet di tangan sambil mengangguk-angguk.
"Seperti yang dilihat, detail candi yang terungkap di bagian luar ini begitu tajam. Arsitekturnya megah mencerminkan kejayaan masa lampau. Sementara itu, relief-relief yang terukir seolah membawa kita semua pada perjalanan visual ke dalam sejarah yang terlupakan."
"Wah, cantik sekali!" seru wanita paruh baya.
"Keberadaan candi ini bukan lagi hanya sebagai batu-batu kering yang berserakan, tetapi sebagai saksi bisu dari masa silam yang terus hidup dalam keanggunannya." Aku masih menjelaskan dengan sopan dan akurat sesuai materi yang kupelajari.
Akan tetapi, orang-orang di hadapanku hanya fokus berfoto-foto dan sibuk dengan pamfletnya sampai tur selesai.
***
[Cerita Horor Fantasi] Aku duduk di pos peristirahatan usai tur mengelilingi candi hutan selesai. Hari ini hanya ada satu tim pengunjung yang berisi delapan orang saja, jadinya tidak terlalu melelahkan. Kecuali bagi beberapa orang yang tidak mau mendengarkan intsruksiku.
Hari sudah sore, burung-burung beterbangan lepas di atas pepohonan. Suara kicauannya menjadi pertanda bahwa aku harus segera keluar dari hutan.
Dua rekanku dan tiga penjaga pos sudah keluar hutan jam empat tadi, hanya aku yang tersisa sebab harus mengatur beberapa pamflet dan sampah yang dibuang sembarangan oleh para pengunjung.
Baca juga: KUTUKAN BUAH PERSIK | CERPEN FANTASI PETUALANGAN
Cerpen lainnya: CERITA FIKSI ILMIAH: PERMINTAAN TERAKHIR
Aku meninggalkan pos sambil memikirkan pekerjaan melelahkan di mana harus banyak bicara ini, sementara aku lebih suka diam. Jika saja bukan karena di PHK secara tiba-tiba di tengah utang KPR yang belum lunas. Aku takkan mau bekerja di pedalaman seperti ini.
Aku berjalan kembali ke asrama pekerja. Di tengah keheningan hutan, aku melewati candi-candi kecil yang menjadi jendela waktu dan membawaku menyusuri jejak peradaban.
Langkah kaki ini secara tiba-tiba terhenti di depan bangunan asing. Sudah sebulan melewati tempat ini, tapi ini kali pertama aku melihat candi yang tampak sangat indah.
Ini menciptakan pengalaman spiritual dan estetika yang tak terlupakan bagiku. Ada getaran aneh yang membuatku ingin menikmatinya sejenak. Aku pun duduk di batang pohon tumbang dan menikmati kilauan cahaya senja yang terlukiskan di dinding-dinding candi.
***
[Cerita Horor Fantasi] Di tengah hutan hujan, masih terdapat beberapa candi kuno yang misterius. Walaupun telah berabad-abad usianya, tetap saja candi-candi tersebut masih memancarkan aura yang sangat kuat.
Setelah puas menatap candi yang kurasa jarang kuperhatikan saat lewat di tempat ini. Kakiku mendadak lemas, bahkan ranselku tiba-tiba dipenuhi sulur, padahal duduk di situ belum dua belas menit.
Saat sibuk membersihkan sulur di ransel, samar-samar aku mendengar suara bisikan. Aku memusatkan telinga untuk mendengar suara-suara itu.
"Datanglah!" Suara bisikan itu terasa geli di telinga. Kepalaku terasa membesar, rasanya rongga-rongga syaraf menciptakan ruang aneh di kepala.
Mendadak aroma tajam serangga-serangga busuk menyengat hidung. Kakiku yang tadinya lemas mendadak tegang dan melangkah sendiri menuju candi. Aku tidak bisa menahannya, kaki terasa sangat berat, seolah terhipnotis.
Dengan lambat, aku melangkah menuju tangga candi. Bunyi gemuruh dan suara benda-benda berat bergesekan membuat jantungku tak baik-baik saja.
Di hadapanku, tiba-tiba ada pintu batu besar yang terbuka dengan sendirinya. Aku teringat, bahwa candi ini tidak ada dalam daftar objek wisata sejarah. Aku memaksa untuk melangkah mundur dan memperhatikan bagian dalam yang kelihatan sangat gelap.
"Masuklah!" Suara itu membuatku kaget dan merinding.
Tetapi, kaki ini mendadak bergerak sendiri, tujuannya seolah menuju ke dalam candi. Aku berpegangan pada patung tanpa kepala setinggi satu meteran, tapi kalah oleh kakiku sendiri yang terasa geli untuk bisa melangkah maju.
Ketika aku hendak memasuki candi dengan terpaksa, aku bisa merasakan suatu kehadiran makhluk yang menyeramkan.
Tiba-tiba, dari bagian atas candi, aku melihat seekor kucing hitam yang ancang-ancang untuk melompat ke arahku.
Dalam hitungan detik, kucing itu melompat dan membuatku terjatuh. Kucing itu tampak sangat terkejut dan ketakutan, bulunya sempat meremang lalu dia lari ke dalam candi yang gelap sambil sesekali melirikku dengan mata hijaunya yang menyala. Seolah memintaku untuk mengikutinya.
Tanpa basa-basi, kaki segera mengikuti kucing tersebut. Kucing itu membawaku ke sebuah ruangan gelap. Tiba-tiba, satu obor di dinding candi menyala dengan sendirinya. Aroma asap pekat membuatku batuk, lolosan cahaya sore yang remang-remang dari pintu masuk masih membantuku untuk melihat jalanan.
Aku mengambil obor dan mencari kucing hitam tadi. Aku terus berjalan dan menemukan ruangan aneh. Di dalam ruangan ini ada sebuah ukiran misterius.
Saat aku mengamati lebih dekat ukiran tersebut, tiba-tiba bayangan besar muncul di dinding dan begitu aku berbalik dengan cepat. Kucing hitam yang tadinya menghilang, berdiri di sebelah makhluk mengerikan. Bulunya hitam lebat, ada empat tangan dan dua kaki. Suaranya mengerang seperti anjing gila, di sekitarnya ada tetesan lendir yang keluar dari tangan dan telinga.
Aku mundur dan menabrak dinding, kucing itu mengeong dan makhluk besar itu seolah mematuhi meongan si kucing dan menyerangku dengan gigi dan kuku tajamnya.
Sebisa mungkin aku melawan. Aku berusaha kabur dan meninggalkan candi, tetapi makhluk itu terus mengejarku.
***
Beruntung, pintu candi masih terbuka. Aku sempat berpikir bahwa pintu akan menutup dengan sendirinya seperti di film-film dan cerita horor fantasi.
Syukurlah, aku semakin dekat dengan pintu. Ya, semakin dekat. Aku terus berlari seperti orang kesetanan, dengan teriakan ketakutan.
Akan tetapi, kenapa aku tidak sampai-sampai ke pintu candi? Apa ini? Mengapa aku seolah lari di tempat?
Aku berhenti dan mengatur napas, sesekali menengok ke belakang dengan napas terengah-engah. Aku merasa masih diikuti di belakang. Aku berjalan pelan menuju pintu yang terbuka itu.
Aku mulai menangis, menjadi cengeng seperti bocah lima tahun. 30 tahun hidupku apa akan dihabiskan dengan terjebak selamanya di tempat seperti ini?
Aku harus keluar!
"Tolong!" teriakku ke arah pintu yang sangat dekat, tapi sulit di gapai.
Namun, nihil. Kakiku mendadak kram, ada sengatan listrik aneh di sepanjang tubuh. Apa aku akan mati di sini?
"Meooong!" Suara kucing itu kini berada di belakangku.
"Ampun!" seruku memohon. Kucing itu berjalan melewati tubuh ini dan menuju ke pintu masuk.
"Berjanjilah!" ucap suara yang entah keluar darimana.
"Ya, aku berjanji!" jawabku kebingungan.
"Kau akan mengabdi dan menjaga candi hutan. Jangan biarkan siapapun memasuki candi ini."
"Iya, iya! Apa?" Aku terhenyak. Apa maksudnya?
"Kau memasuki candi ini sebagai pelatihan. Kalau kau bisa bertahan sampai purnama muncul hari ini. Kau akan selamat."
Aku menatap tubuh kucing yang bergerak pelan setiap kali suara itu muncul.
"Kamu yang bicara? Kucing?"
Deg.
Kucing itu menoleh dengan cepat, mata hijaunya menyala-nyala dan aku hampir terkencing.
Kucing itu pergi begitu saja, sementara aku terdiam di depan pintu masuk dan melihatnya dari kejauhan. Samar-samar, langit dan suasana di luar semakin gelap. Itu artinya bulan sudah akan naik ke langit malam. Aku hanya butuh bertahan sampai malam tiba.
***
"Adil! Bangun!" Napas ini terasa sesak begitu terbangun di tengah tanah lapang karena suara yang terus memanggil namaku. "Adil, kamu nggak apa-apa?" tanya lelaki yang kulupa siapa namanya.
"Iya, Pak?"
"Kamu nggak apa-apa?" tanyanya lagi. Ah, dia bosku.
"Saya nggak tahu, saya ...." Aku bingung harus menjelaskan.
"Bantu Adil, malamnya pasti sangat panjang!" seru Pak Bos tertawa.
"Loh, ke mana candi di sini?" tanyaku saat dipapah oleh dua rekan.
"Kamu selamat, jadi candinya hilang. Untung kamu selamat," jawab Arifin; teman seasramaku.
"Kamu kencing di celana nggak sih?" tambah rekan lainnya. Aku hanya terheran-heran.
Mungkin Anda sukai: ISABELLA DAN PENYIHIR KATA | DONGENG GRATIS
Cerita fantasi: DAFTAR CERPEN DONGENG FANTASI KAK BI
[Cerita Horor Fantasi] Aku pun dibawa kembali ke pos. Hari yang masih kelabu dan tanpa biasan cahaya, kupikir masih malam. Ternyata kata mereka itu jam 5 lewat. Ya, jam 5 pagi.
Aku diberi minum oleh teman-teman lelaki yang sedari tadi menertawaiku.
"Bagaimana semalam?"
"Apa yang terjadi, Pak?" tanyaku pada Pak Bos yang tadi membangunkanku bersama dua rekan lainnya.
"Semalam purnama dan kamu harus bertemu dengan penjaga candi. Syukurlah, mereka beri kamu kesempatan untuk bisa bekerja di sini."
"Maksudnya?"
"Kami juga melalui hal yang sama, Adil. Nggak perlu takut. Nggak akan ada hal seperti itu lagi," ucap Arifin.
Saat itulah mereka menjelaskan bahwa, setiap ada pekerja baru yang berurusan dengan candi hutan. Maka harus ditraining selama sebulan, sebelum akhirnya bertemu dengan penjaga hutan.
Anehnya, dari cerita mereka semua. Hanya aku yang bertemu sosok kucing. Mereka semua mengaku selain bertemu makhluk berbulu mereka juga bertemu sosok hantu wanita, algojo berpedang, harimau, bahkan buaya putih sebagai penjaga makhluk berbulu.
Ya, hanya aku yang bertemu kucing hitam dan jadi bahan olokan mereka. Silakan diolok dan diejek, asalkan aku selamat. Sebab kata mereka, yang gagal melewati malam purnama di candi gaib akan berakhir naas. Entah sakit, cacat bahkan mati.
Hiiih.
***
TAMAT
Gorontalo, 30 Desember 2023
Terima kasih sudah membaca cerita horor fantasi kali ini, semoga cerita horor fantasi ini bisa menghibur ya.
Ayo komen di bawah, selama tahun 2025 ini kamu sudah baca apa aja? Sharing sama aku yuk, hitung-hitung kaleidoskop eheheh....
Komentar
Posting Komentar