Aema (2025): Potret Gelap Industri Film Korea Era 80-an
Aema (2025): Potret Gelap Industri Film Korea Era 80-an
Bagaimana rasanya menjadi perempuan di industri film Korea Selatan era 1980-an, saat tubuh perempuan diperlakukan sebagai komoditas dan suara mereka nyaris tak pernah dihitung?
Entah bagaimana sebenarnya komoditas film-film di seluruh dunia di tahun segitu? Aku sendiri mendengar dari generasi orang tua, bahwa zaman mereka muda dan kecil di Indonesia ada yang namanya aktris bom sex. Sangat huwow sekali.
Well, Aema hadir sebagai drama berlatar sejarah yang berani mengangkat kisah eksploitasi perempuan di balik layar industri hiburan, terlebih lagi di Korea Selatan, drama ini terinspirasi dari fenomena film erotis legendaris Madame Aema (1982).
Dengan balutan visual retro nan mencolok dan tema yang sangat sensitif, drama ini menjanjikan kritik tajam terhadap patriarki, sensor perfilm-an negara, dan kekuasaan laki-laki. Tapi, apakah Aema benar-benar berani sampai ke akar masalahnya? Yah, aku akan coba ulas aja deh.
Eh, sebelum itu, aku mau ucapaun Happy New Year 2026 ya~~
***
Info Drama
Judul: Aema
Genre: Comedy, Drama
Jumlah Episode: 6
Sutradara dan Penulis Naskah: Lee Hae Young
Pemain: Lee Ha Nee, Bang Hyo Rin, Jin Sun Kyu, Cho Hyun Chul, Woo Ji Hyeon
Tayang: 22 Agustus 2025, Netflix
Durasi: 58 menit
Rating Usia: 18+ (mengandung kekerasan, ketelanjangan, adegan dewasa dan kata-kata kasar)
***
Sinopsis Drama Korea Aema:
Aema berlatar di Korea Selatan awal 1980-an, pada masa pemerintahan otoriter Chun Doo Hwan dengan kebijakan 3S (Sports, Screen, Sex) sebuah strategi negara untuk mengalihkan perhatian publik lewat hiburan, termasuk film erotis yang dikontrol ketat sensor.
Drama ini mengikuti proses produksi film erotis skala besar pertama Korea yang fenomenal, Madame Aema, dan berfokus pada dua perempuan dari latar berbeda. Jung Hee Ran, aktris senior terkenal yang terjebak citra simbol seks dan ingin keluar dari lingkaran eksploitasi perempuan. Ada Shin Ju Ae, penari klub malam sekaligus aktris pendatang baru yang penuh ambisi dan masih naif terhadap kerasnya industri film.
Keduanya harus berhadapan dengan produser manipulatif, sutradara munafik, sensor pemerintah, dan sistem industri yang memperlakukan perempuan sebagai alat pemuas hasrat dan kekuasaan.
***
Rating 6.5/10, untuk drama yang komedinya nyampe di aku, tapi adegan 18+++ sangat bikin sakit mataku.
Baca juga: https://nurwahidahbi.blogspot.com/2025/10/spooktober-somebody-2022-review-drakor.html
Review lainnya: https://nurwahidahbi.blogspot.com/2025/07/review-film-horor-barat-terbaik-witch.html
Review Drama Korea Aema:
1. Potret Eksploitasi Perempuan yang Menjadi Inti Cerita
Kekuatan utama Aema terletak pada keberaniannya menyoroti eksploitasi perempuan di industri film. Mulai dari pemaksaan adegan erotis, pelecehan terselubung, hingga “jamuan” untuk pejabat demi meloloskan sensor.
Drama ini menunjukkan bahwa untuk bertahan, perempuan dipaksa mengorbankan martabat.
Pun merangkumkan pesan utama drama ini, tentang bertahan hidup di sistem patriarkal sering kali berarti menjadi keras dan sinis.
Tapi, beneran deh aku miris sekaligus sedih banget. Dunia entertainment itu tidak semeriah dan cemerlang di layar kaca, di baliknya ada harga diri, keringat bahkan darah yang dipertaruhkan.
2. Dua Perempuan, Dua Jalan, Satu Sistem yang Sama Kejam
Relasi antara Hee Ran dan Ju Ae adalah jantung emosional drama ini.
Hee Ran yang diperankan Lee Ha Nee adalah perempuan yang sudah “selamat”, tapi penuh luka dan rasa malu. Dia sinis, keras, dan seolah kejam, padahal itu adalah mekanisme bertahan hidupnya.
Sementara, Ju Ae adalah perempuan muda yang percaya mimpi, rela menuruti semua permintaan produser demi keluar dari kemiskinan.
Konflik mereka bukan karena saling membenci, melainkan karena perbedaan pengalaman. Saat Ju Ae akhirnya dipaksa menghadapi realitas terutama dalam adegan jamuan pejabat negara, fantasi tentang dunia hiburan di matanya runtuh total.
Hubungan mereka perlahan berubah menjadi solidaritas perempuan, bahkan diberi sentuhan saling melindungi yang halus.
Bagiku, Lee Ha Nee tampil luar biasa sebagai Jung Hee Ran. Karakternya kompleks dan percaya diri di luar, hancur di dalam. Setiap tatapan dan gesturnya menunjukkan kemarahan yang terpendam terhadap sistem.
Nah, Bang Hyo Rin, sebagai rookie yang memerankan Ju Ae yang juga seorang rookie, tampil meyakinkan. Iya, aku beneran baru lihat dia di drama ini. Perubahan ekspresi dari polos, ambisius, ke traumanya terasa natural dan menyakitkan untuk ditonton.
Sayangnya, semua karakter laki-laki, entah produser sampai sutradara lebih sering digambarkan sebagai karikatur satu dimensi yang misoginis, korup, dan oportunis. Ini membuat konflik terasa kurang tajam secara psikologis.
3. Visual Retro yang Memukau, Tapi Menipu
Secara visual, Aema sangat menonjol. Kostum, tata rias, warna, dan set menangkap atmosfer 80-an dengan detail mencolok dan hampir teatrikal, bahkan terkadang terasa agak lebay eheheh.
Namun, di balik warna-warna cerah itu, tersembunyi dunia yang gelap, sebuah kontras yang sebenarnya cerdas. Sayangnya, beberapa adegan terasa lebih sibuk bikin tokohnya tampil stylish daripada menggali trauma para tokoh.
***
Kritik Terbesar
Inilah masalah utama Aema, niatnya besar, tapi eksekusinya dduh.
* Adegan seksual terasa dipaksakan dan berlebihan. Aku jadi sering skip adegan itu gegara nggak nyaman pas nonton😓
* Kritik industri berhenti di level permukaan dan malah kasih lihat perspektif penulis dan sutradara yang terasa masih male-centric, ironis untuk drama tentang eksploitasi perempuan.
* Konflik besar diselesaikan dengan cepat di akhir, meninggalkan banyak pertanyaan tanpa jawaban dan beneran terlalu B aja. Mungkin ceritanya agak dangkal untuk tema seberat ini.
* Komedinya kurang berasa, 50-50 lah .... Beberapa bahkan ada yang bikin aku tidak bisa ketawa.
Kelebihan Drama Aema
Meskipun ada kritik di atas, drama ini masih ada kelebihannya kok.
1. Tema eksploitasi perempuan yang jarang diangkat di drakor. Sungguh, aku sedih banget melihat bagaimana perempuan diperlakukan seperti barang di masa-masa seperti itu.
2. Akting Lee Ha Nee dan Bang Hyo Rin yang sangat kuat. Saat aku melihat Bang Hyo Rin, jadi teringat Kim Min Ha saat awal kemunculannya di Pachinko loh. Apalagi pas berkuda, keren sih aktingnya. Juga yang jadi penulis atau sutradaranya, siapa itu namanya aku lupa eheheh itu juga aktingnya dapat banget.
3. Pesan solidaritas perempuan terasa cukup jelas dengan dialog-dialognya yang ikonik dan menyengat.
***
Aema bukan drama untuk semua orang. Tapi kalau kamu tertarik pada isu eksploitasi perempuan, sejarah industri film, dan cerita tentang perempuan yang saling melindungi di tengah sistem busuk, Aema masih layak ditonton. Meskipun ini bukan tipe dan jenis tontonan kesukaanku sih. Aku nggak bakal rewatch ini eheheh.
But, please. Nontonnya hati-hati ya, jangan dekat-dekat anak di bawah umur.
Akhir kata, ah ciye pakai akhir kata segala. Well, Aema mungkin bukan masterpiece, tapi dia jadi membuka percakapan penting tentang kekuasaan, tubuh perempuan, dan industri hiburan. Ya, percakapan yang masih relevan hingga hari ini.
Terima kasih sudah membaca review pertama di awal tahun 2026 ini. Jangan lupa bookmark blog Kak Bi untuk review drama dan film lainnya ya. Terima kasih sudah mendukung~~

Komentar
Posting Komentar