Terbaru
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Twelve (2025): Review Drakor Fantasi yang Biasa Aja
Twelve (2025): Review Drakor Fantasi yang Biasa Aja
Dengan deretan nama besar seperti Ma Dong Seok, Park Hyung Sik, dan Seo In Guk, drama Korea Twelve yang katanya mahal ini, seharusnya menjadi salah satu tontonan paling menjanjikan tahun 2025.
Premisnya pun terdengar ambisius, yaitu perang kosmik antara malaikat dan iblis, terinspirasi dari dua belas zodiak, lengkap dengan mitologi, takdir, dan konflik besar yang menentukan nasib dunia.
Sayangnya, yang aku dapatkan bukanlah epos fantasi megah, melainkan drama yang terasa kosong, berisik, dan membuang-buang potensi dari awal hingga akhir. Twelve bukan hanya gagal memenuhi ekspektasiku, ini bahkan seolah membuang-buang kesempatan memakai nama besar para aktornya.
***
Info Drama
Judul: Twelve
Genre: Action, Adventure, Fantasy, Supernatural
Jumlah Episode: 8
Sutradara: Kang Dae Gyu
Penulis Naskah: Ma Dong Seok, Kim Bong Han
Pemain: Ma Dong Seok, Park Hyung Sik, Seo In Guk, Sung Dong Il, Lee Joo Bin, Go Kyu Pil, Kang Mi Na, Ahn Ji Hye, Regina Lei, Kim Chan Hyung (Special Guest: Na In Woo, Ba Yoo Ram, Han Ye Ji, Han Jae In)
Tayang: 23 Agustus 2025 - 14 September 2025
Durasi: 45 menit
Rating Usia: 15+
***
Sinopsis Drama Korea Twelve:
Zaman dahulu kala, 12 penjaga zodiak (shio) bertarung melawan roh jahat untuk melindungi ras manusia. Berkat mereka yang mengorbankan diri, roh jahat berhasil dikurung dalam gerbang neraka. Kedamaian pun bertumbuh.
Seiring waktu, Tae San yang merupakan perwujudan zodiak Harimau, bersama para penjaga zodiak lainnya yang pernah menyelamatkan dunia hidup di dunia manusia. Kemenangan itu membuat mereka kehilangan kekuatan dan kini hidup sebagai manusia biasa, mulai dari mengelola pinjaman uang, makan bersama, dan menjalani hidup yang jauh dari kata heroik.
Ketika kekuatan jahat mulai bangkit kembali, para penjaga zodiak dipaksa bersatu lagi untuk menghadapi ancaman kebangkitan roh jahat Ogwi dan Haetae.
***
Rating 6/10 aja untuk drama ini, itu pun berdasarkan akting para aktornya. Juga untuk beberapa adegan aksi dan bonus ending yang lebih baik daripada keseluruhan dramanya itu sendiri.
Baca juga: LOVE LIKE THE GALAXY (2022): REVIEW DRACHIN ZHAO LUSI DAN WU LEI
Review lainnya: AEMA (2025): POTRET GELAP INDUSTRI FILM KOREA ERA 80-AN
Review Drama Korea Twelve:
1. Premis Besar, Eksekusi Nol
Ide tentang dua belas zodiak atau lebih cocok disebut shio sih. sebagai penjaga semesta sebenarnya sangat teramat menjanjikan. Tapi, menurutku Twelve malah melakukan kesalahan fatal sejak awal. Dia bahkan tidak menjelaskan dunianya sendiri dengan jelas, seolah-olah memintaku sebagai penonton untuk bikin worl building sendiri.
Hingga beberapa episode berjalan, aku masih bertanya-tanya. Kenapa cuma ada delapan zodiak? Ke mana empat lainnya? Ketika ketahuan ke mana ke empat lainnya eh penjelasannya cuma lewat dialog sekilas yang gampang terlewat.
Alih-alih membangun mitologi secara bertahap dan kokoh, drama ini mengasumsikan penonton sudah “tahu sendiri” dunia itu, kan aneh.
2. Cerita yang Jalan di Tempat
Selama enam episode, hampir tidak ada perkembangan berarti. Para karakter seringnya berlari, makan, berdiri di atap dengan mata merah, lalu … diulangi lagi.
Konflik utama berjalan stagnan. Dunia seolah sedang terancam, tapi nggak ada rasa genting. Para villain berhasil mengambil alih kota sementara para “pahlawan” sibuk mengurusi trauma pribadi tanpa arah yang jelas.
Masalahnya, karena tidak semua zodiak hadir, aku bahkan nggak tahu peran dan status beberapa karakter sebagai zodiak apa, beneran bikin ceritanya terasa jalan di tempat. Sebelum akhirnya agak diselamatkan oleh ending dramanya.
3. Hal Paling Menyebalkan
Karakter Taesan ini plin-plan banget, sok benci manusia karena dikhianati tapi 'miara' manusia. Bahkan saat kekuatannya kembali, dia masih butuh waktu lama buat menghancurkan si villain. Padahal langsung saja bikin api biru, udah, kelar.
Terus si villain ini nggak jelas banget motifnya apa. Abadi? Kejayaan? Apaan intinya. Sudahlah menyerap kekuatan si Mirr dan mengambil batu-batuan jiwa, terlihat sangat overpower eh kenapa kena api biru langsung hilang?
Lalu, Mirr. Sumpah ini cewek gunanya apaan? Dari awal si kegelapan; Haetae dan antek-anteknya ini mengejar Mirr karena kekuatannya, ingat, kekuatan. Tapi, nih cewek lemah banget, kena banting dikit langsung pingsan. Beban. Karakter yang sangat tidak lovely. Chemistry dengan Ogwi juga nol besar.
Eh, tiba-tiba ada 'zombie', absurd banget. Walaupun sebenarnya adegan berantem cukup asik untuk diikuti sih.
4. Fokus Berlebihan pada Satu Tokoh
Meski berjudul Twelve, cerita nyaris sepenuhnya berputar di sekitar Tae San, apa karena yang ikut menulis skenario adalah Ma Dong Seok kali ya?
Zodiak lain beneran terasa cuma figuran. Ini terasa dari penjelasan 12 malaikat yang masih kurang lengkap, aku bahkan sampai sekarang nggak tahu Mirr itu apaan? Naga 'kah? Aku cuma tahu tokoh dan karakter beberapa berdasarkan namanya saja.
Kangji (dari kata kkang aji) si anjing, Wonseung (ini bahasa Koreanya kera) si kera, Yang Mi si domba, Do Ni (mungkin dari donkatsu?) si babi, Mal Sook (Mal itu bahasa Korea kuda) si kuda, kalau Taesan digambarin di bajunya, sama si tabib itu yang ular. Sisanya siapa woyyy??? Aku nggak hapal shio.
Alih-alih ensemble cast yang solid ala-ala Avengers, kita malahan dikasih kumpulan karakter yang biasa hidup di drama masing-masing, eh malah dipaksa berada di satu frame yang sama.
5. Romance yang Dipaksakan dan Tidak Perlu
Salah satu dosa terbesar Twelve adalah memaksakan romansa. Hubungan antara Ogwi dan Mirr dimaksudkan sebagai inti emosional cerita, tapi screentime mereka tuh minim, chemistry nihil, dan dampaknya nol.
Alih-alih membuat aku peduli, romansa ini justru menciptakan jarak emosional. Ini contoh klasik romance sebagai checklist aja, bukan kebutuhan cerita.
5. Catatan Kecil Drama Twelve
* Untuk CGI, beberapa part penuh asap dan filter aneh jadi mengganggu. Bahkan beberapa visualisasi status zodiak atau shio kurang jelas gambarnya. Alih-alih epik, visualnya terasa maaf nih, agak murahan dan melelahkan mata.
*Akting yang terjebak naskah buruk. Bayangin aja, Seo In Guk nyaris tidak diberi ruang berarti, Park Hyung Sik tampil singkat dan karakternya tidak begitu berkesan, Ma Dong Seok pun tidak mampu menyelamatkan cerita.
Bukan karena mereka tidak mampu, tapi karena memang naskahnya tidak memberi apa pun untuk diperjuangkan. Separuh cast terlihat datar, separuh lainnya overacting. Hmm, tidak ada keseimbangan.
* Hal yang cukup baik dari drama ini ada di beberapa part CGI-nya juga meskipun filter dan efek asal agak mengganggu. Story line masih cukup baik jug, meskipun agak nyeret-nyeret ya, tapi masih bagus dikit lah. Mungkin lebih ke temanya sih, ini tuh fresh baget kalau eksekusinya bagus.
Malah, mulai terasa seru dan aku pengin nonton justru di 30 menit terakhir episode terakhirnya. Nah loh? Iya, karena mereka semua udah pada ngumpul, berdua belas itu. Makanya menurutku harus ada season 2 untuk bahas ke 12 shio, dan si Mirr nggak usah dikasih script. Capek banget sama si beban.
***
Twelve adalah contoh sempurna bagaimana ide besar bisa runtuh total karena naskah lemah, pengarahan tersesat, dan keputusan kreatif yang buruk. Drama ini tidak hanya gagal menjadi epik fantasi, tapi juga gagal menjadi hiburan dasar bagiku.
Kalau Pengembara tertarik hanya karena aktor favorit ada di sini. Bisa coba untuk menonton dan sharing ke aku gimana pendapatmu?
Tapi, kalau kamu menghargai waktu, lewati aja Twelve. Ini tipe drama yang nggak apa-apa kalau nggak ditonton, tapi juga bukan yang terbaik setelah ditonton.
Sebuah pengingat pahit bahwa nama besar dan bujet mahal tidak akan pernah bisa menggantikan cerita yang dieksekusi dengan baik.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Popular
Review Serial Televisi Korea Selatan: A Korean Odyssey (2017) – Hwayuki
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Ini 13 Rekomendasi Drama Korea Kerajaan Part 2
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Bitch x Rich 1 dan 2 (2023-2025): Review Drakor Siswa Elit
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya

Komentar
Posting Komentar