Langsung ke konten utama

Terbaru

True Beauty (2020): Review Drakor tentang Kecantikan

True Beauty (2020): Review Drakor tentang Kecantikan Sebelum aku bahas drakor tentang kecantikan, aku mau tanya dulu. Apa Pengembara suka baca webtoon? Bagaimana perasaanmu saat webtoon yang pernah dibaca dijadikan drama Korea? Aku? Senang banget sih. *** Info Drama  Judul: True Beauty , The Secret of Angel, Goddess Advent Sutradara: Kim Sang Hyub Penulis Naskah: Lee Shi Eun, Yaongyi (webcomic) Genre: Comedy, Romance, Youth, Drama Pemain: Moon Ga Young, Cha Eun Woo, Hwang In Yeop, Park Yoo Na, Jang Hye Jin, Park Ho San, Lim Se Mi Tag: Adapted From A Webtoon, Smart Male Lead, Makeover, Insecurity, Popular Male Lead, Nice Female Lead, Beauty, High School, Beauty Standards, Hidden Identity  Tayang: tvN Rilis: 9 Desember 2020 - 4 Februari 2021 Durasi: 1 jam 15 menit Episode: 16 Tipe: Drama Negara: Korea Selatan  Bahasa: Korea Rating Usia: 15+ *** Sinopsis True Beauty: Seorang siswi SMA berusia 18 tahun bernama Lim Ju Kyung (Moon Ga Young) sering di-bully karena dianggap tidak...

Sekali Lagi: Cerpen Drama Nurwahidah Bi

Sekali Lagi: Cerpen Drama Nurwahidah Bi


[Cerpen Drama Nurwahidah Bi] Tiba-tiba saja, tubuh ini terasa menggigil, seakan-akan ada udara dingin yang merayapi tiap jengkal tubuh. Dengan berat, aku membuka mata perlahan dan memandang langit-langit kamar yang entah kenapa jadi terasa asing. 

Kukedipkan berkali-kali mata ini sampai mengingat sesuatu. Kamar dengan meja belajar di dekat jendela dua pintu, lemari di tengah antara dua single bed dan di sebelahnya juga ada meja rias. 

Aku langsung terduduk, ada sesuatu yang ganjil, dan kini sudah menyadarinya. Dalam diam hanya memperhatikan cahaya matahari yang sedang menyelinap masuk melalui celah tirai.  

Badan yang terasa berat ini segera bangkit dari tempat tidur, kaki menyentuh lantai semen halus berwarna abu-kehitaman. Aroma samar nasi goreng putih menguar dari dapur, sarapan kesukaanku.

Usai membuka pintu, langkah terhenti di depan cermin besar yang menggantung di dinding depan kamar. Wajah yang terpantul di sana adalah aku, tapi bukan aku yang sekarang. Rambutku lebih pendek, dengan poni menjuntai, seperti gaya yang kugunakan bertahun-tahun lalu.  

"Ini ... mimpi ya?" bisikku, tapi udara terasa begitu nyata.  

Aku menatap ruang keluarga yang terlalu akrab. Dinding-dinding penuh foto masa kecilku, juga ada poster-poster yang telah lama terlupakan. Setiap langkah membawa kepingan kenangan yang menyesakkan.  

"Lia, kamu sudah bangun?" Suara itu... suara yang hangat dan penuh perhatian.

Aku berbalik. Ibu, tubuhnya kurus tapi lincah, dengan senyuman yang membuat mata ini panas seketika. Aku belum melihat senyuman itu lagi selama beberapa bulan terakhir.  

"Ibu ...." Suaraku serak, hampir tak mau keluar.  

Ibu menatapku aneh. "Kamu kenapa? Jangan bengong, mandi sana! Terus, sarapan dulu sebelum berangkat sekolah."  

Sekolah? Tenggorokanku tercekat. Aku langsung berlari ke jendela ruang tamu. Di luar, aku melihat jalanan lama yang penuh kenangan, bahkan pohon besar yang dulu jadi tempat berteduh masih berdiri kokoh. Dunia yang sudah kutinggalkan kini kembali di depanku.  

Sepertinya, aku terlempar ke masa lalu.  


***


Di sekolah, semuanya terasa seperti mimpi buruk yang terlalu nyata. Suara tawa teman-teman, bisikan-bisikan di belakangku, dan tatapan mereka yang menusuk. Aku tahu apa yang akan terjadi. Aku tahu bagaimana setiap hari di masa ini selalu berakhir dengan isak tangis di kamar.  

Aku duduk di bangku kelas yang dingin, mendengar suara guru mengajar tanpa benar-benar mendengarkan. Kepalaku penuh dengan kenangan menyakitkan. Bagaimana aku selalu merasa tidak cukup baik? Bagaimana aku menyalahkan diriku sendiri atas semua hal yang tidak bisa dikendalikan.  

"Lia, kamu kenapa?" Suara lembut itu membuyarkan lamunan.


Baca juga: CERPEN DRAMA-MISTERI: OBROLAN TERAKHIR

Cerpen drama lainnya: CERPEN DRAMA: KUDA KAKEK DAN KENANGAN


[Cerpen Drama Nurwahidah Bi] Aku mendongak dan melihat wajah yang begitu nyata, tapi tidak benar-benar akrab. Rena, satu-satunya teman terbaikku dulu, sebelum semuanya berubah. Matanya yang cerah menatap dengan cemas, penuh perhatian.  

Aku ingin memeluk Rena, memberitahunya betapa aku merindukan kehadirannya. Betapa aku ingin memohon maaf, atas apa yang terjadi kepadanya dan ibu. Namun, yang keluar dari bibirku hanya, "Aku ... baik-baik saja kok."  

Rena tersenyum kecil. "Kalau ada apa-apa, bilang ke aku ya."  

Senyum itu menusuk hatiku. Aku tahu bagaimana hubungan ini akan berakhir. Aku tahu bahwa aku akan kehilangan dia kelak.  


***


Hari itu berlalu seperti potongan-potongan mimpi buruk yang tak kunjung usai. Entah kenapa setelah berhari-hari, aku masih di sini. Seolah ini adalah permainan yang memaksaku untuk memulai stage tertentu agar bisa naik ke level tertentu.

Saat malam tiba, aku duduk di tepi ranjang, menatap bayangan di cermin.  

"Kenapa aku masih di sini?" bisikku pada diri sendiri. "Atau jangan-jangan, ini yang nyata? Dan semua kedewasaan yang sudah aku lewatilah yang mimpi?"

Air mata mengalir tanpa henti. Aku ingat betapa aku pernah berharap bisa menghilang dari dunia ini. Betapa aku merasa tidak ada tempat di sini.

Namun kini, karena kembali ke masa lalu, aku jadi menyadari sesuatu. Aku tidak ingin mengulang semuanya. Aku tidak ingin menyerah lagi.  

Aku menggenggam tangan di depan dada, mencoba menenangkan napas yang tersengal. Jika ini adalah kesempatan yang datang sekali lagi, maka aku akan coba mengubahnya. Aku tidak tahu apakah aku bisa memperbaiki segalanya, tapi aku akan mencoba.  

Aku harus menyelamatkan diriku sendiri, agar ibu dan Rena selamat.


Keesokan harinya, aku membuka mata dengan semangat yang berbeda. Aku tahu bahwa hari-hari yang akan datang tetap akan sulit, tapi kali ini, aku tidak akan lari.  

Aku bangkit, mengenakan seragam sekolah, dan melangkah keluar dari kamar dengan keyakinan baru. Puas-puas kumenatap ibu, andai saja tak ada yang berubah kelak, aku sudah memuaskan mata ini akan keberadaan ibu.


***


[Cerpen Drama Nurwahidah Bi] Matahari pagi menyambut dengan hangat dan penuh harapan. Ah, beginikah rasanya menyambut perang? Mungkin aku tidak bisa mengubah semua hal buruk yang pernah terjadi, tapi aku bisa mengubah caraku menghadapi mereka. Dan mungkin, itu lebih dari cukup.

Tepat hari ini, fitnahan Rena yang membuat hubungan kami renggang akan dimulai. Jika aku tidak salah, 11 Oktober 2006, 2 hari sebelum ulang tahunku yang ke 16 akan ada kejadian yang membuatku semakin di-bully.

Aku harus mencegahnya, tak boleh ada pertikaian yang terjadi hari ini. Tak boleh ada kesempatan untuk aku dan Rena bertengkar, lalu berbaikan kembali setelah lulus kuliah dan jadi akrab. Aku ingin tetap akrab dengannya dari hari ini.

Aku datang paling pagi dan menunggu di dalam kelas, begitu Rena datang bersama dua temannya, dia kelihatan bingung saat menyapaku.

Aku langsung bergabung dengannya, mengikutinya sepanjang jam. Pokoknya aku menempel padanya seperti kutu, takkan kubiarkan dia sendiri dan punya waktu menjebakku dengan meletakkan kalung emasnya di tas sama seperti apa yang ada dalam ingatanku. 

Alhasil, semua normal, aku merasa semua baik-baik saja. Rena masih memakai kalungnya. Bahkan setelah ulang tahunku berlalu, kami masih baik-baik saja. Aku pun dihujat dari yang tak punya teman, berubah menjadi penjilat Rena.

Ah, tidak apa-apa. Kalau memang bersama Rena kejadian dalam ingatan takkan terjadi. Kenapa tidak? Biar saja aku jadi penjilat, ini kesempatan kedua yang takkan kusia-siakan.


***


Pagi ini, aku terbangun dengan perasaan aneh. Perut agak berat seperti kekenyangan, padahal semalam rasanya tidak makan berat. Begitu melewati cermin, aku terdiam saat melihat perempuan sebesar beruang madu di cermin.

Ya, itu aku? Tapi, kenapa? Kenapa aku berubah segendut ini? Aku ....

Seketika, berbagai kilasan balik muncul di kepala. Setelah mempererat pertemanan dengan Rena, alih-alih menghindarinya. Aku menjadi temannya yang paling dekat, sama seperti yang pernah terjadi sebelum kesempatan kedua datang.

Jika sebelumnya pertemananku dan Rena berkembang setelah kuliah dan Rena meninggal karena menolong aku dan ibu dari kebakaran. Sehingga membuatku berduka. Maka di yang datang sekali lagi pertemanan kami datang lebih cepat, saat masih SMA.

Akan tetapi, aku menjadi kacung Rena. Menerima semua bekas Rena, entah barang atau makanan. Sehingga tanpa sadar, badanku jadi segemuk ini.

Ketika kulihat ponsel dan memperlihatkan panggilan masuk, kulihat ada nama Rena yang kuberi emotikon marah. Apa ini? Kenapa jadi begini?

Aku senang melihat Rena masih hidup, panggilan teleponnya sangat menyenangkan tapi juga menyebalkan.

Usai bicara di telepon dengan Rena, aku menyadari bahwa perasaan yang muncul beriringan dengan ingatan terbaru tentang Rena, rupanya sejalan dengan kebencian. 

Aneh, aku pun kebingungan karena ingatan tentang ibu juga jai aneh. Bergegaslah keluar kamar dan mencari keberadaan ibu. Tapi, tidak ada siapa-siapa di rumah. 

Kenapa aku tinggal sendiri? Badanku saja berubah, Rena pun masih baik-baik saja. Bagaimana dengan ibu? Bukankah seharusnya ibu selamat seperti yang terjadi pada Rena?

Tanggal di ponsel juga sudah lewat dari tanggal kebakaran itu. Di mana ibuku? 

Aku segera mengirimkan pesan lagi kepada Rena dan menanyakan keberadaan ibu. Akan tetapi, balasan Rena membuatku semakin tidak percaya.

"Kamu ngawur ya? Masih ngigo? Ibu kamu kan sudah meninggal sejak kamu SMA, beberapa minggu setelah ulang tahun yang ke 17. Waktu kamu tiba-tiba pingsan saat naik motor dan kalian kecelakaan. Kok lupa?"


Astaga! Tidak.

Tuhan, beri aku kesempatan sekali lagi. Aku ingin semua kembali seperti semula, aku tidak ingin kehilangan ibu secepat itu. 

Tolong.


TAMAT 

Gorontalo, 22 Desember 2024


***


Note: Cerpen drama ini ditulis saat aku sakit, mungkin isinya terkesan aneh sih ya. Randomlah ini ehehe, terima kasih sudah baca cerpen drama kali ini ya.

Komentar

Popular