Langsung ke konten utama

Terbaru

The Art of Sarah (2026): Seni Memanipulasi dari Shin Hye Sun | Hot Topic

The Art of Sarah (2026): Seni Memanipulasi dari Shin Hye Sun | Hot Topic Drama 8 episode ini dibuka dengan satu pertanyaan sederhana tapi mengganggu yaitu siapa sebenarnya Sarah Kim? Mayat perempuan tanpa identitas ditemukan di selokan. Wajahnya dirusak. Di sampingnya ada tas Hermès. Identitas korban nggak jelas. Tapi nama Sarah Kim langsung menyeruak ke permukaan, katanya dia CEO misterius dari brand tas Boudoir yang tiba-tiba naik daun dan menjadi simbol kemewahan.  Yuk temani aku mengulas drama ini bersama-sama. *** Info Drama Judul: The Art of Sarah  Genre: Thriller, Mystery, Psychological, Crime Jumlah Episode: 8 Sutradara: Kim Jin Min Penulis Naskah: Chu Song Yeon Pemain: Shin Hye Sun, Lee Jun Hyuk, Kim Jae Won, Jung Da Bin, Bae Jong Uk, Park Bo Kyung Tayang: 13 Februari 2026, Netflix  Durasi: 44 menit Rating Usia: 15+ *** Sinopsis Drakor The Art of Sarah: Kisah tentang Sarah Kim, seorang wanita yang rela melakukan apa saja demi mewujudkan ambisinya hidup dalam keme...

Komplotan dan Salah Pegang: Cerpen Komedi

Komplotan dan Salah Pegang: Cerpen Komedi



Hai, Pengembara. Hari ini ada cerpen komedi untuk menghibur hati yang galau.

Ngomong-ngomong soal cerpen, rupanya cerpen komedi ini dulu aku tulis bertepatan jadi penanda bahwa setahun sudah aku bergabung menjadi Mitra Opinia saat itu. 


Wah, sayang banget Opinia sudah menghilang dan tidak ada lagi platform kece yang mewadahi tulisan recehku. Okelah, tidak usah lama-lama, ini dia dua cerpen komedi yang garing untuk dibaca saat bersantai.


***


1. Cerpen Komedi: Komplotan

Aku baru saja pulang dari kantor, badan lelah ini seolah meminta segera diantarkan ke kamar kos. Dalam perjalanan pulang aku terus mencoba fokus, sambil sesekali merindukan masakan nenek yang biasa tersaji setelah pulang kerja.

Sayangnya, setelah dimutasi ke luar kota, aku jadi tak bisa menikmati masakan rumahan dan selalu merasa bosan kalau pulang bekerja.

Sesampainya di parkiran kos, aku segera memarkirkan motor dan berjalan gontai hendak menuju kamar kos di lantai tiga.

"Meow!" Seekor kucing berwarna putih-hitam menahan perhatianku. Dia duduk di bawah motor penghuni kos yang lain.

Kebetulan, aku selalu membawa makanan kucing di dalam tas. Memang disediakan untuk situasi seperti ini. Hanya saja, selama dua bulan di sini, aku belum pernah sekalipun melihat kucing di sekitar bangunan indekos.

Tumben sekali ada kucing di sini, mungkin karena sudah larut malam, makanya mereka yang biasa sembunyi mendadak keluar. Segera kuberi makan kucing itu, anehnya, badanku terasa agak ringan setelah berbagi dengan makhluk berbulu. Kutinggalkan kucing itu dengan senyuman. 

Malam ini, aku istirahatkan badan agar bisa kembali bekerja esok hari.


***


Sama seperti biasa, rutinitas yang sama. Bedanya hari ini aku mampir ke kos usai salat Jumat di masjid, karena harus mengambil sesuatu.

Ketika memarkirkan motor, kulihat kucing semalam ada di depan semak-semak tempat biasa aku memarkirkan motor. Bedanya, dia berdua, bersama kucing berwarna putih yang badannya lebih kecil.

Kuabaikan sejenak, karena buru-buru. Setelah dari kamar kos, aku turun menuju parkiran. Kedua kucing itu, kini ada naik di jok motor. Mereka langsung turun ketika diusir. Karena kasihan, kuberi saja mereka makanan dan ditinggal pergi kembali ke kantor.


Sepulang bekerja, lagi-lagi aku melihat seekor kucing di tempat biasanya aku memarkirkan motor. Sepertinya dia sudah tahu kebiasaanku, tapi ini si kucing putih yang ada tadi pagi. Kucing putih-hitam entah pergi kemana.

Sebelum naik ke kamar, kutinggalkan makan kucing untuk kucing putih.

Dalam perjalanan menuju kamar, sesekali kuintip kucing putih itu. Tanpa terasa aku tiba di depan kamar dan bertemu dengan sesuatu yang membuat terheran-heran.

Si kucing putih-hitam sudah ada di depan kamarku dengan seekor kucing oren. Mengeong ramai meminta makan, ya, kuberi makan saja biar mereka cepat pergi.

Begitu masuk ke dalam kamar, aku mendadak bingung. Bagaimana dia bisa tahu kamarku ya?

Ah, sudahlah. Tidur saja.


***


Pagi ini aku dibuat terdiam, rasanya seperti sedang ditodong oleh komplotan kucing. Di depan kamarku, kini ada 3 ekor kucing. Kucing putih-hitam dan dua kucing putih. Sementara itu, saat kutengok ke arah parkiran. Di sana, tepat di sekitar motorku juga sudah ada empat kucing oren.

Ternyata, rumor diantara para kucing sudah beredar. Aku terperangkap masuk ke dalam komplotan perampok berbendera tulang ikan. 

Aku harus bagaimana? Aku bisa kena omel bukan karena bawa wanita ke kamar kos, tapi karena bawa kucing ke area indekos. Kalau ketahuan bapak kos bagaimana ini?

Hadeuh. Ini sih bukan hanya dikasih hati minta jantung, tapi dikasih makan minta adopsi. Mana satu komplotan pula.


TAMAT 

Gorontalo, 1 Agustus 2024


Baca juga: DOA YANG DIKABULKAN | CERPEN KOMEDI

Cerpen komedi lainnya: DUA CERPEN KOMEDI: MANIS BANGET MULUTKU DAN BELUM JAM SATU


2. Cerpen Komedi: Salah Pegang


Hari minggu selalu disambut dengan antusiasme warga kota yang ingin berolahraga atau sekadar jalan-jalan santai di acara Car Free Day atau biasa disebut CFD. 

Kali ini, aku memutuskan untuk mengajak adik lelakiku yang baru saja pulang dari luar kota untuk menikmati suasana pagi yang segar di CFD. 

Kami berjalan menyusuri jalanan yang penuh dengan orang-orang, sepeda, dan aneka stand makanan. Aku selalu suka dengan suasana CFD, di mana semua orang tampak bahagia, berolahraga, atau sekadar bersantai. Sementara aku, berburu jajanan.

Ketika sampai di salah satu stand kue yang menarik, aku langsung terpikat dengan kue-kue cantik yang dipajang. Tanpa berpikir panjang, aku mulai memilih kue sambil terus berbicara dengan adik di sebelahku.

“Kamu mau ini juga, nggak?” tanyaku sambil menggenggam lengannya dan mengarahkan pandangan ke kue yang menarik perhatian.

Tapi, aku merasa lengan yang dipegang memang terasa sedikit berbeda. Sampai akhirnya, aku mendengar suara asing di sebelah.

“Eh, mbak .... Eh, siapa ini?” Suara seorang pria terdengar bingung.

Aku terkejut dan dengan cepat mengalihkan pandangan ke lengan yang sedang kugenggam. Alangkah terkejutnya aku ketika mendapati bahwa yang sedari tadi kupegang dan diseret ke sana kemari adalah lengan laki-laki lain! 

Matanya menatapku dengan bingung, sementara di sampingnya ada perempuan yang tampak kesal sambil menarik lengan lainnya.

“Oh, maaf, maaf, Mas! Saya kira adik saya,” kataku dengan wajah merah padam, juga ikutan bingung.

"Kalau sadar, lepasin dong!" ujar perempuan itu menepis tanganku dari lengan laki-laki yang kugandeng.

Aku malu, sangat malu sampai lupa untuk melepas genggaman tangan dari lengan berotot itu. "Pantas saja beda," gumamku melirik sekeliling.

“Tidak apa-apa, Mbak,” kata laki-laki itu sambil tersenyum kikuk dan pergi diseret perempuan yang kemungkinan pacar atau istrinya.

Adikku yang ternyata pergi melihat-lihat stand, datang menghampiri dengan tawa tertahan. "Nih, pegang lenganku kuat-kuat ya biar tidak salah pegang lagi," ucapnya tertawa puas. "Mau beli topi, nggak? Buat nutupin malu!"

"Tutup mulutmu, Kisanak!" Aku mencubitnya sambil menahan malu.


TAMAT 

Gorontalo, 1 Agustus 2024


***

Sekian cerpen komedi hari ini, jika tidak lucu, tolong diambil hikmahnya saja. Terima kasih sudah menyempatkan waktu untuk membaca cerpen receh ini. Ayo komentar dan share kalau suka cerpen ini.

Komentar

Popular