Janji Tak Bertuan: Cerpen Cinta Pertama
Janji Tak Bertuan: Cerpen Cinta Pertama
Kali ini giliran cerpen cinta pertama dulu ya, genre horor minggir sebentar eheheh. Sesekali nulis yang 'katanya' romantis.
***
[Cerpen Cinta Pertama] Di sebuah kota kecil di pinggir pantai yang damai. Alex sedang datang ke rumah ayahnya saat liburan musim panas.
Bosan dengan keadaan rumah yang dipenuhi adik-adik tirinya, Alex memutuskan untuk pergi ke taman kota. Alex sibuk menggambar karena tidak tahu harus berbuat apa, rasanya ingin kembali ke rumah ibunya.
Tidak jauh dari sana, Emma yang sedang liburan musim panas ke rumah neneknya tengah asyik berjalan-jalan dengan anjing kesayangan. Anjing Emma memang sangat bersemangat, dia tiba-tiba berlari dan melompat ke atas kertas gambar Alex, mengotorinya dengan jejak kaki.
Alex, yang baru saja menyelesaikan gambar, marah besar pada anjing itu. Emma, yang akhirnya sampai saat berusaha mengejar anjingnya, tidak tahu apa yang harus dilakukan. Dia tersenyum malu-malu pada Alex dan meminta maaf.
"Kau bisa mengajari anjingmu biar sopan, tidak?"
"Kalau dia bisa diajari, dia pasti yang sedang duduk menggambar di sini," jawab Emma sambil membersihkan kaki anjingnya.
Meskipun masih kesal, Alex tertawa mendengar jawaban Emma. "Siapa namamu?"
"Kau orang baru ya?" Emma balik bertanya.
"Ya, siapa namamu?" Alex memaksa.
"Emma!" ucapnya tersenyum kilat lalu beralih ke arah anjing kecilnya.
"Namaku—" Alex terhenti sebab anjing Emma kembali berlari dan Emma menghilang begitu saja dari pandangannya.
***
[Cerpen Cinta Pertama] Tidak berapa lama kemudian, mereka bertemu lagi di toko es krim. Alex masuk dengan terburu-buru karena kedua adik tirinya merengek minta es krim dan tanpa sengaja menabrak pintu, membuat seluruh es krim tumpah di lantai.
Emma, yang berdiri di dekatnya, tertawa keras. Alex merasa malu saat menyadari ada Emma di tempat ini, tetapi Emma menawarkan untuk membelikannya es krim baru.
***
Semenjak hari itu, mereka menghabiskan liburan musim panas bersama-sama. Alex, anak kota yang menyukai seni terlibat dengan sikap lucu dan konyol dari Emma. Pernah sekali, keduanya terlibat dalam perburuan harta karun palsu di bukit ujung kota, bahkan mereka sempat berlomba-lomba balap sepeda di sepanjang pantai. Anak remaja itu seolah lupa usia saat sedang berduaan.
Baca juga: CERPEN ROMANTIS: DUA CINCIN
Cerpen lainnya: MENANTI DENGAN HATI: CERPEN DRAMA ROMANTIS
Saat musim panas berakhir, Alex dan Emma telah jatuh cinta. Benih-benih cinta mereka sudah bermula dari pertemuan konyol dan dipupuk oleh petualangan penuh tawa.
Sayang sekali, Alex dan Emma harus kembali pulang. Mereka berjanji untuk bertemu di belakang toko es krim saat liburan berikutnya.
***
[Cerpen Cinta Pertama] Dua tahun berlalu, Alex memendam kekecewaan saat Emma tak pernah datang ke tempat mereka berjanji akan bertemu. Alex baru saja masuk perguruan tinggi. Dia sengaja kuliah di kota ini dengan pengharapan bisa bertemu cinta pertamanya, tapi Emma tak pernah datang.
Hanya surat yang dititipkan Emma pada ayah Alex setahun lalu yang menjadi penghiburan Alex. Alex tidak pernah pergi ke rumah Emma, dia tidak tahu siapa nenek dan kakek Emma. Emma adalah gadis misterius di matanya, hanya selembar foto yang pernah diambil di pinggir pantai lah yang menjadi kenang-kenangan.
***
Tiga tahun setelah Alex duduk di perguruan tinggi, dia tidak lagi pergi ke belakang toko es krim. Alex kini punya pacar, seorang gadis berambut pirang yang sangat cuek dan membuat Alex tidak pernah nyaman saat bersamanya.
Hari ini, Alex sengaja pergi dari pesta ulang tahun sang pacar. Mereka bertengkar karena Alex tidak diperkenalkan sebagai kekasih melainkan teman kepada anggota keluarganya, Alex sangat kecewa.
Dia duduk di pantai sambil menatap langit malam, saat seekor anjing yang tidak asing lewat di hadapannya.
"Emma?" gumam Alex memperhatikan anjing yang mengingatkan pada Emma.
Alex mengedarkan pandangannya, mencari sosok yang mungkin sedang mengejar anjing. Benar saja, dari kejauhan, gadis bergaun putih berlari mendekatinya.
Gadis itu menggendong bayi dan cuek saja saat melewati Alex, dia juga dengan cepat berhasil menangkap sang anjing walau sibuk membawa bayi. Lalu, gadis itu menoleh ke arah Alex karena merasa sedang diperhatikan.
"Kau mengenalku?" tanya gadis itu kepada Alex. Alex tertegun, senyuman yang mirip Emma membuat hatinya teriris.
"Kau, Emma?" tebak Alex, sebab cahaya malam tak seterang siang.
"Bukan, aku Emily. Kau mengenal kakakku?" ucapnya menatap Alex.
"Emma baik-baik saja?" tanya Alex mendekatinya.
"Kau teman kakakku ya?" Emily balik bertanya.
"Aku pikir kau Emma."
"Ya, aku dan dia memang mirip." Dia tersenyum. Karena kini melihat dari dekat, Alex bisa melihat bahwa keduanya memang mirip.
"Ini anakmu?"
"Ini anak kakakku," jawabnya cemberut.
"Emma sudah menikah?"
"Ya!" Jawaban singkat itu membuat jantung Alex terhenti sejenak. Alex mengatur napas dan menyadari bahwa Emily sudah berjalan lebih dulu.
Alex mengejarnya dan mengambil tali si anjing, mereka berjalan bersama menuju rumah yang selalu membuat Alex penasaran.
***
Suasana rumah ramai, Alex dipersilakan masuk oleh Emily ke dalam. Jantung Alex berdebar-debar saat mendengar suara tawa dari ruang keluarga.
Apa akhirnya aku akan bertemu Emma? Batin Alex menggebu-gebu.
Deg.
Alex terhenti saat lelaki yang duduk di kursi roda sedang menatap foto di ruang keluarga. Beberapa anggota keluarga mengobrol ringan. Emily memperkenalkan Alex sambil memberikan bayi yang dipeluknya pada seorang wanita.
"Ini teman Emma, ah siapa namamu tadi?" tanya Emily.
"Alex."
"Ah, kau Alex rupanya!" Wanita dengan wajah mirip Emma, tapi lebih tua mendekati Alex. "Aku mendengar banyak hal tentangmu dari Emma."
"Emma ada di mana?" Pertanyaan Alex membuat lelaki di kursi roda beralih kepada Alex.
"Istriku ada di kamarnya," ucapnya membuat Alex tersenyum kaku. "Kau ingin melihatnya?"
"Tidak apa-apa jika aku melihatnya?" Alex tidak bisa menyembunyikan rasa bersemangat bisa bertemu sang cinta pertama.
"Emily, antarkan dia pada kakakmu!"
"Ikut aku!" ajak Emily menuju kamar di ujung sana.
Apa ini? Suasana apa ini? Kenapa rasanya aku gelisah? Pikir Alex mengikut Emily.
Mereka tiba di kamar dan begitu pintu dibuka, seorang wanita terbaring lemah di tempat tidur.
"Apa yang terjadi padanya?" tanya Alex duduk di pinggiran ranjang.
"Setelah melahirkan, dia tidak bisa bangun lagi. Dokter bilang operasi sesarnya tidak berjalan lancar. Tapi, beberapa hari lalu dia tiba-tiba bicara dan menyebut nama kota ini."
Alex menyentuh wajah Emma yang terbaring lemah, "Kemana Emma selama ini?"
"Dia menderita sebuah penyakit di kepala, selama beberapa tahun dirawat di rumah sakit dan lelaki di luar itu adalah suaminya."
Alex menatap Emily yang mulai tidak nyaman bercerita.
"Laki-laki itu seorang perawat yang menjaga kakakku di rumah sakit. Mereka menikah selama beberapa tahun dan setahun lalu mengalami kecelakaan, kakakku dioperasi untuk menyelamatkan bayinya. Sedangkan suaminya kehilangan kedua kaki. Beruntung, bayi mereka selamat."
Hati Alex hancur, dia tidak bisa berbuat apa-apa saat mengetahui kemungkinan alasan gadis periang itu tak pernah menemuinya adalah penyakit.
Alex hanya bisa mendoakan agar Emma segera sembuh, Alex rela melepaskan janji temu mereka asalkan Emma bisa kembali normal dan bisa hidup bersama anaknya.
Emma, gadis periang sang cinta pertama. Alex menggenggam tangan Emma dan berbisik, "Janji temu kita tidak perlu kau tepati. Sudah kuanggap lunas."
TAMAT.
Gorontalo, 1 November 2023
Komentar
Posting Komentar