Selamat Ulang Tahun: Cerpen Kak Bi
Selamat Ulang Tahun: Cerpen Kak Bi
[Cerpen Kak Bi] Senja melingkupi kompleks perumahan kecil yang rindang. Rumah-rumah dengan taman kecil di depan tampak damai. Bersamaan dengan itu, nyanyian selamat ulang tahun terdengar dari salah satu rumah.
Di rumah seberangnya, tepat di balik pintu, terdapat kisah yang rumit. Tak ada nyanyian selamat ulang tahun, yang ada hanya Mira, gadis kecil itu mengintip dari jendela rumah. Berharap hari ulang tahunnya bisa dirayakan juga.
"Neng Mira, bibi pulang dulu ya. 15 menit lagi mama kamu sampai. Jangan keluar rumah ya."
"Iya, Bi!" Gadis itu mengangguk patuh.
Setelah ditinggalkan oleh bibi pengasuh, Mira duduk di sofa ruang tamu dengan boneka kesayangannya. Pemberian ayah yang kini hidup terpisah.
***
Mia dan suaminya, Tora, resmi bercerai beberapa bulan lalu dan keduanya sepakat usai didesak Mia untuk tetap menjaga kebahagiaan Mira. Kesepakatan tersebut mencakup jadwal waktu bertemu Mira. Setiap akhir pekan, Mira akan tinggal bersama Tora. Sementara waktu sisanya dihabiskan bersama Mia.
Suara sepeda motor di depan rumah membuat Mira bergegas membuka pintu. Ibunya; Mia turun dengan wajah semringah ketika disambut oleh putri kecilnya.
"Kamu nggak diajak bibi Noyi ke pesta ulang tahunnya Riska?"
"Nggak, aku nggak mau pergi. Maunya sama mama aja." Mira menempel pada Mia.
"Besok kan sabtu, malam ini mama antar ke rumah papa ya." Mia teringat jadwal pertemuan Tora dan Mira.
Mendengar itu, Mira mendadak senang. "Hore, ke rumah papa!" teriaknya lari ke dalam rumah.
Sesuai janji, Mia pun membawa Mira ke rumah Tora, serta meminta Tora untuk menjaga Mira dengan baik, sebab beberapa kali pulang dari rumah Tora, Mira selalu sakit.
***
Senin pagi, Mia menjemput Mira dan langsung menuju sekolah.
Di sekolah, Mira mendadak mual dan wali kelasnya membawa Mira ke klinik terdekat dan langsung menghubungi Mia. Mia pun segera izin bekerja demi memeriksa putri kecilnya.
Sesampainya di klinik, Mia mendapati Mira masih pucat. Mira pun pulang ke rumah Mia dengan wajah lesu dan tubuh yang lemah. Sayang, ini bukan pertama kalinya. Mira selalu saja sakit setiap kali pulang dari rumah ayahnya dan jujur, ini janggal.
Meski sudah selalu seperti ini, Mira tidak pernah mau cerita apa yang terjadi di rumah Tora. Mia selalu mencoba mencari tahu penyebabnya, tetapi Mira hanya berkata bahwa dia baik-baik saja di rumah ayahnya.
Mia yang dipenuhi kekhawatiran memutuskan untuk menelepon Tora dan membahas masalah ini lagi. "Mas, apa yang sebenarnya terjadi di rumahmu sih? Kok Mira selalu sakit tiap kali pulang dari sana?" tanya Mia dengan lembut.
"Aku nggak tahu. Mungkin dia kelelahan main. Dia kan selalu begitu setiap kali ke sini." Jawaban Tora membuat Mia tidak puas.
"Minggu depan Mira nggak akan ke rumah kamu dulu. Kamu nggak bisa jaga anak!" keluh Mia.
"Eh, sebentar lagi kan ulang tahun dia. Perjanjian kita ulang tahun dia dibikin di rumahku!"
"Mira sakit, Mas. Pokoknya, sebelum kamu jelasin apa yang terjadi di sana. Aku nggak akan izinkan Mira ke sana lagi!"
"Kok gitu! Aku nggak tahu dia kenapa."
"Dia? Dia! Dia terus! Mira! Nama anak kamu itu Mira." Mia mematikan panggilan telepon.
"Mama?" Suara kecil Mira membuat Mia menyeka air mata yang mengintip di ujung matanya.
"Kamu mau makan apa? Biar mama bikinin!"
"Aku mau makan bubur ayam!" jawab Mira tersenyum dengan mata berbentuk sabit.
Baca juga: TANGAN ANAK MANJA: CERPEN KAK BI
Cerpen lainnya: DI BAWAH POHON BERINGIN: CERPEN DRAMA KAK BI
[Cerpen Kak Bi] Bubur ayam sudah jadi, Mira makan dengan lahap. Mia pun mengambil kesempatan ini untuk bicara soal apa yang terjadi kemarin dan minggu-minggu sebelumnya.
"Mira, kamu boleh kok cerita ke mama, kenapa kamu selalu sakit kalau pulang dari rumah papa?" tanya Mia dengan lembut.
Mira terdiam sejenak, diletakkannya sendok dan menatap Mia sebelum akhirnya mengakui sesuatu.
"Papa, tante dan nenek sering marah-marah ke aku dan kadang-kadang menghina mama." Suara Mira bergetar, kakinya mendadak rapat. Kepalanya pun tertunduk.
"Hah?" Mia merasa hatinya hancur kala mendengar itu.
"Aku tetap ke rumah papa, karena nggak mau mama dihina-hina sama nenek dan tante."
"Kamu nggak dipukul kan?" Mia berdiri dan bergegas memeriksa tubuh putri kecilnya. Mira menggeleng dan menggenggam ujung lengan baju Mia.
"Aku .... Jarang dikasih makan, Ma. Kata tante aku terlalu mirip mama. Katanya aku bukan anak papa." Lemas sudah kaki Mia mendengar hal itu. "Tapi, papa bilang ulang tahun aku nanti, papa bakal ajak aku jalan-jalan. Berdua aja, nggak ada nenek dan tante kok!"
"Iya. Kamu boleh pergi sama papa kalau udah sembuh. Mama nggak mau kamu sakit kalau ke sana. Ulang tahun kamu kita bikin di sini dulu, biar papamu yang ke sini!" jelas Mia pelan.
***
Dua hari kemudian, Tora datang ke rumah Mia dengan rasa kesal karena Mia memaksanya untuk datang ke rumah di mana dirinya punya kenangan yang terlalu kuat dengan sang mantan istri.
"Aku nggak pernah pukul dia, dari masih teleponan kenapa nuduh yang aneh-aneh terus sih." Tora menanggapi tuduhan-tuduhan Mia.
"Ini bukan masalah mukul memukul, Mas. Tapi, kamu terlalu lancang di hadapan anak sekecil itu."
"Aku lancang apa ke dia?"
"Apa yang kamu bicarakan ke Mira? Kamu bicara buruk soal aku ke Mira? Mamamu juga? Adikmu juga? Kalian bilang apa ke Mira sampai dia tertekan dan sering sakit?"
"Nggak ada!"
"Terus Mira bohong, gitu? Kalau menurut kamu Mira bohong. Stop bertemu Mira!"
"Kamu terlalu emosi, apaan sih! Namanya juga orang tua, mungkin dia bikin mama dan adikku kesal. Namanya anak nakal!"
"Kamu nggak tahu ya, kalau Mira itu anak lembut dan baik? Nakal darimana?"
"Itu—"
"Apa jangan-jangan, kamu nggak pernah ada di rumah setiap kali Mira datang?"
"Aku sibuk!" Jawaban yang sama selama bertahun-tahun itu membuat Mia jengah.
"Pergi kamu! Nggak perlu ingat-ingat lagi ulang tahun Mira. Dia anak aku! Bahkan nenek sama tantenya aja nggak bisa jaga dia. Buat apa dia ke sana!" Amarah Mia membuncah, sambil menarik Tora dari kursi.
Tiba-tiba, Tora menyarankan agar mereka berdua bersama-sama menghadiri sesi konseling untuk mencari solusi yang terbaik untuk Mira, sekaligus membuktikan kalau Mira tertekan atau tidak saat berada di rumahnya. Mia kehabisan sabar dan memaki Tora, serta mengusirnya. Melihat ayahnya diusir Mira menangis di kamar.
***
[Cerpen Kak Bi] Hari ulang tahun Mira tiba. Semalam, dengan berat hati, Mia menyetujui saran Tora. Sebab sejak kejadian hari itu Mira tidak mau bicara dengannya dan sering marah-marah.
Mia berencana menjadikan ulang tahun Mira sebagai kesempatan di mana Mira bisa jalan-jalan bersama ayah dan ibu. Tora setuju dan langsung menjemput keduanya.
Begitu Tora tiba, Mira langsung tersenyum dan menyambut sang ayah. Tapi, ada yang aneh. Di mata Mia, Mira tidak seperti biasanya.
"Kita ke rumah papa dulu ya, mau ambil sesuatu!" tawar Tora.
"Nggak mau!" Mira merengek.
"Iya, iya. Kita ke dokter dulu, terus jalan-jalan deh!" sela Mia menenangkan.
"Oh iya, papa belum ucapin selamat ulang tahun ya?" Tora basa-basi.
"Iya!"
"Selamat ulang tahun yang ke delapan, Sayang!" ucap Tora hendak mencium Mira, tapi gadis kecil itu bergegas masuk ke mobil.
Ketiganya langsung pergi menuju klinik kenalan Tora, mereka bersama-sama mengikuti konseling untuk memahami perasaan Mira. Sesuai dengan saran konselor, mereka berencana membuat jadwal bersama untuk Mira yang lebih terstruktur.
Apalagi dengan usia Mira yang bukan anak balita, dan sudah bisa membaca dengan jelas situasi yang terjadi antara ayah dan ibunya, membuat Tora dan Mia harus lebih berhati-hati demi kesehatan mentalnya.
Konseling selesai, Mira mulai menampakkan kebosanan. Ini hari ulang tahunnya, tapi lebih tampak seperti hari yang sibuk bagi ayah dan ibunya. Mira mendadak gelisah saat ponsel Tora yang sengaja dipinjamkan agar Mira tidak bosan, menampilkan nama yang membuatnya kesal.
Mira mengangkat panggilan telepon itu, wanita muda di seberang akhirnya bicara. "Mas, kapan kamu pulang? Pinkan udah nungguin dari tadi! Ulang tahun Mira udah selesai belum sih?" Tak ada balasan terkecuali tatapan kesal Mira ke ponsel di tangannya. "Mas! Mas? Jawab mas!"
"Kamu ngapain angkat telepon papa!" Tora merampas ponsel dengan kasar. "Kan cuma main game, kenapa angkat telepon?"
"Mas!" seru Mia kaget.
"Dari Tante Sara!" Mira berdiri dan berlari ke pelukan ibunya.
"Aku angkat telepon dulu dan tolong kamu tegur dia biar nggak sembarangan angkat telepon orang lain." Tora pergi ke luar, meninggalkan Mia yang terkejut dengan reaksinya.
"Orang lain? Konseling barusan apa gunanya?" gumam Mia menggenggam erat tangan Mira.
"Mama! Itu ada Tante Pinkan." Mira melapor dengan wajah cemberut.
"Siapa?"
"Pacar baru papa, dijodohkan sama nenek dan Tante Sara."
"Kita pergi! Papa kamu nggak akan berubah! Ayo!"
"Iya, Ma!" Mira mengikuti Mia mereka melewati Tora yang sedang asyik teleponan di tempat parkir. Mia dan Mira menuju jalan raya dan memutuskan naik taksi.
***
[Cerpen Kak Bi] Di perjalanan, Mira murung dan Mia bisa merasakan keresahan sang putri. Ini hari ulang tahunnya, haruskah Tora menghancurkan semuanya?
"Kamu mau hadiah apa hari ini?" tanya Mia memecah hening.
"Nggak ada, Ma!"
"Anak-anak kelas 3 lainnya, waktu ulang tahun dirayakan di sekolah, nggak?"
"Nggak!" jawab Mia cuek.
"Kamu mau ke mall?"
"Nggak mau!" sungutnya.
"Ke pantai?" Mia masih berusaha mencairkan suasana hati sang putri dan Mira tiba-tiba menatap Mia, lama sekali sampai akhirnya dia mengangguk.
***
Mia dan Mira akhirnya sampai di pantai, jika diingat-ingat ini kali kedua bagi Mira pergi ke pantai. Kenangan bahagia bersama ayah dan ibu saat pertama kali ke pantai kurang begitu terekam di memorinya, sebab Mira pergi ke pantai saat masih berusia empat tahunan.
Mira langsung berlari ke tepi pantai, dilepaskannya alas kaki dan berteriak ke arah lautan lepas. "Aku ... benci papa!"
Mendengar itu, Mia tidak bisa menahan rasa sakit di hatinya. Seberapa besar usaha Mia agar Mira bisa tetap dekat dengan Tora walau mereka sudah berpisah, tidak bisa membuat Tora berubah. Kini, Mira malah sudah membenci ayahnya. Sejak awal, Mia telah memulai hubungan yang salah.
"Aku anak papa! Tapi, papa ...." Mira terhenti. "Papa jahat!"
"Mira!" panggil Mia dengan lembut.
"Mama ... aku boleh nggak harus pergi ke rumah papa lagi? Aku capek pura-pura senang!"
"Maafkan mama ya!" Mia bersimpuh memeluk Mira. "Kamu boleh lakukan apapun yang kamu mau. Kalau kamu bahagia, mama akan sangat bahagia. Maaf, mama pikir dengan membuat kami pergi ke sana, kamu akan senang karena masih bisa bertemu papa."
"Nggak, Ma! Papa sering pergi sama Tante Pinkan. Papa ... papa jahat." Mira melepaskan pelukan Mia dan menunduk.
"Maaf, mama sudah merusak hari bahagia kamu. Harusnya kita pergi berdua aja ya!" Mia tertawa miris, dengan air mata membanjiri wajah.
Mira tiba-tiba memeluk Mia erat-erat. "Aku cuma butuh mama, aku nggak butuh yang lain. Kita berdua aja, nggak apa-apa kok!"
"Maafkan mama dan selamat ulang tahun ya, Sayang."
***
Keduanya duduk di tepian pantai, menikmati pemandangan tanpa memedulikan tatapan orang-orang yang sedari tadi memperhatikan ibu dan anak dengan tangisan keras itu.
Mira berdiri dan menggandeng tangan Mia, gadis kecil itu menarik Mia agar Mia mengikutinya, sementara itu, panggilan telepon dari Tora mereka abaikan begitu saja. Keduanya menyusuri pantai berpasir putih, sambil menyanyikan lagu ulang tahun bersama-sama.
"Selamat hari ibu, Ma!" ujar Mira tiba-tiba.
"Hah? Hari ibu? Ini belum hari ibu, masih sebulan lagi." Mia bingung.
"Bukannya tahun lalu mama bilang, hari ulang tahunku itu adalah hari waktu mama menjadi ibu. Selamat hari ibu, Ma!"
Mia tersenyum dan mencium kepala Mira yang sedang memeluk pinggangnya. Keduanya lanjut berfoto-foto dan menikmati waktu di pantai, hanya berdua saja.
***
TAMAT
Gorontalo, 22 Desember 2023
Terima kasih sudah membaca cerpen Selamat Ulang Tahun, selamat hari ibu untuk para ibu di seluruh dunia. Setiap hari adalah hari bagi para Ibu, jangan lupa bahagiakan ibumu ya~~

Komentar
Posting Komentar