Terbaru

Hampir Saja: Cerpen Komedi Kak Bi

Hampir Saja: Cerpen Komedi Kak Bi



Ini cerpen komedi lama buatanku, uanh di-posting di Opinia. Entahlah masih lucu atau tidak. Selamat membaca ya, Pengembara.


***


[Cerpen Komedi] Sudah dua hari ini, istriku bersikap aneh. Setiap diajak ngobrol, jawabannya singkat. Lebih singkat dari jawaban mbak-mbak yang lagi teleponan di lampu merah. Beneran singkat, sampai aku bertanya-tanya.

Apa hal yang sudah kulakukan? Kesalahan apa lagi kali ini? Apa aku mengambil baju dengan cara brutal dari dalam lemari? Apa aku berjalan dengan kaki basah dan tetesan air di lantai sepanjang menuju kamar? Apa salahku?


***


Kutatap wajah bidadariku yang senyum enggan, marah pun enggan. Semalam kutebak-tebak buah manggis, bisa jadi dia sedang sariawan, makanya malas bicara. Sehingga diri ini tidak banyak tanya.

"Setelah makan, piringnya dicuci!" serunya mendorong kursi makan dan bergerak ke tempat cuci piring.

Loh? Loh? Apalagi ini yang salah?

Aku dengan cepat menyelesaikan makan, aneh saja makanan belum habis tapi sudah disuruh cuci piring. Ini benar-benar ada yang tidak beres.

Saat aku melangkah mendekati tempat cuci piring, istriku lewat begitu saja dengan desahan napas yang terdengar berbahaya. Cepat-cepat kucuci piring, dan menyusulnya ke ruang nonton.

Dia sibuk melipat pakaian sambil menonton. Weekend kami selalu begini, dia sibuk dengan segala urusan tapi dilakukan dengan santai tanpa terburu-buru, karena anak kami setiap sabtu selalu minta ke rumah neneknya.

Aku duduk di sofa, menatap punggung istri yang matanya fokus ke tv, tapi juga tangannya sangat profesional melipat pakaian.

"Mau aku bantu lipat bajunya?" tawarku hati-hati.

"Hmm!" jawabnya dingin. Wah, mode kulkas dua pintu nih.

Aku segera turun ke karpet dan mulai mengambil pakaian. Perlahan melipatnya tanpa suara.

Ponselku tiba-tiba berdering, disusul sebuah desahan dari istriku yang kembali menarik perhatian. Wajahnya terlihat kesal ketika menunjuk ke arah hapeku yang tergeletak di atas meja dengan wajahnya.

Aku segera mengambil hape dan mengangkat telepon dari teman, kami ngobrol lama sampai aku lupa bahwa sedari tadi baru melipat satu baju saat menawarkan diri untuk membantunya.

Aku kembali ke ruang nonton dan istriku sudah sibuk mengangkat pakaian ke kamar, aku ikut membantu tapi dia cemberut terus.

"Kamu lagi datang bulan ya?" tanyaku tak tahan.

Sset!

Matanya mendadak melotot, keningnya berjabat seolah siap bertempur. Seketika langkah kakinya berbunyi di lantai, persis kudanya pak kusir. Daripada diusir, aku pun melipir.


***


"Kamu nggak jemput, Ria, Pa?" tanyanya membuka obrolan kami petang ini. Aku menatapnya sejenak dan hanya menjawab iya, sambil main hape.

"Hape terus!" ucapnya berdiri di depanku. Aku bisa melihat kaki kanannya disentak ke lantai.

"Maaf, Ma... Papa jemput sekarang!"

"Papa ngapain sih di hape terus? Ada selingkuhan ya?" tuduhnya.

"Nggak ada, Ma. Kan kamu kamu wanita terindah di rumah ini."

"Di rumah ini?"

"Hah?"

"Di rumah aja? Di luar banyak yang lebih indah!" ucapnya merengek.

"Eh! Bukan gitu, Ma!" Waduh salah ngomong.

"Udah, sana jemput Ria! Aku malas ngobrol sama kamu!" Dia berbalik arah menuju ruang tamu.

"Ma!" Aku berdiri mengejarnya, kupeluk ratu rumahku ini dari belakang. "Kamu kenapa sih?" bujukku.

"Iih!" Dilepaskannya pelukanku. "Masa nggak tahu!"

"Astaga, aku nggak tahu loh! Beneran!" Istriku diam sejenak, aku bisa melihat banyak kata-kata yang tertahan di mulutnya. "Cerita ya, biar papa tahu salahnya di mana!" Aku menatapnya.

Istriku balik menatap tajam, dduh, rasanya kecantikan bidadari rumahku ini tumbuh jadi berkali-kali lipat. Aku luluh, sampai kaki gemetar.

"Foto siapa di hape papa?" tanyanya mendadak murung.

Aku melirik ke arah hape yang dimaksud dan hanya bisa mengerutkan kening. "Foto mama dan Ria," jawabku hati-hati.

"Bukan wallpaper!"

"Terus apa?" tanyaku sambil mengingat-ingat.

"Kenapa di hape papa ada foto-foto perempuan? Di galeri," katanya dengan nada yang cukup tajam.

Aku sedikit bingung. "Foto perempuan? Bukannya cuma ada foto kita berdua waktu liburan kemarin ya? Sama keluarga."

Istriku memasang ekspresi kesal. "Ish! Jangan pura-pura deh! Mama lihat banyak foto perempuan asing di situ dan sepertinya papa menyembunyikan sesuatu!"

"Astaga, Ma! Istriku tercinta yang mulutnya seksi kalau lagi ngambek. Itu foto kerjaan, Sayangku!"

"Kerjaan apa yang nyimpen foto-foto cewek cantik?"

Sesaat aku berpikir, lalu menyadari apa yang terjadi. Aku tersenyum dalam hati. Oh, ini keisengan yang kulakukan untuk grup sosmed. 

"Kerjaan, iseng doang sih. Kamunya terlalu pencemburu, papa kan bukan Reza Rahadian yang harus dijagain banget, Sayang." Aku mencubit pipinya.

"Dduh! Mending diselingkuhi Reza Rahadian, daripada diselingkuhi papa. Rugi!" ucapnya melotot.

"Sebentar!" seruku sambil membuka galeri di hape.

Sesekali, kuintip dia yang sedang menyimak setiap gerakanku dengan tatapan tajam. Sambil meyakinkan dirinya bahwa foto-foto itu bukan sesuatu yang berbahaya atau jahat, aku pun memeriksa beberapa foto. Aku mengernyitkan dahi, seolah benar-benar terkejut.

"Wah, parah. Mama lihat foto-foto ini!" Aku menunjukkan foto gadis-gadis yang dikumpulkan dari grup sosmed.

"Iya, itu! Siapa mereka?"

"Oh, ini!" ucapku sambil menunjuk layar hape. "Ini aku nggak kenal!"

"Hah?"

"Papa gabung grup edit foto. Ini tuh orang-orang yang minta di-editin fotonya. Bukan selingkuhan, banyak banget ini kalau jadi selingkuhan. Kebanyakan!"

Istriku masih terlihat ragu. "Yang bener? Kok cantik-cantik? Minta di-edit apa? Papa edit yang aneh-aneh ya?"

Aku menggaruk kepala, mencoba menemukan alasan yang masuk akal. "Nggak aneh-aneh, Sayang? Bentar, papa kasih lihat ke mama hasilnya."

Kuajak dia duduk dan kuperlihatkan hasil editing foto yang absurd kepadanya, seketika pundaknya yang tadi setinggi telinga mendadak turun. Ya, emosinya mereda.

Istriku tampak berpikir sejenak, lalu matanya berbinar-binar. "Jadi, papa cuma editin foto mereka ya?"

Aku tersenyum lebar. "Iya, hobi aja. Iseng-iseng kalau lagi istirahat di kantor."

Wajah istriku berubah dari marah menjadi tertarik. "Boleh lihat hasil editan yang lain?"

Aku langsung bersorak dalam hati. "Iya, dong! Tapi ingat ya, ini cuma hobi. Papa bisa ajarin mama kalau mau."

Istriku setuju, dan aku pun membuka beberapa folder untuknya. Aku memberikan sedikit penjelasan tentang teknik edit foto, mencoba membuat semuanya terdengar seprofesional mungkin, walau ini cuma hobi abal-abal.

"Oke, mama percaya. Tapi, hapus semua foto cewek-cewek itu!"

"Iya, Ma!"

"Dan mulai sekarang, berhenti editin foto cewek!"

"Terus edit foto apa dong?" tanyaku.

"Foto bapak-bapak kek!" ucapnya pergi ke kamar. "Oh, ya! Jemput Ria!" serunya dari depan pintu kamar.

Hampir saja duniaku berantakan. Aku segera membuka grup edit foto dan mengirimkan komentar di sebuah postingan foto.

"Aku belum bisa edit foto mbaknya nih, dilarang istriku. Biar yang lain saja ya, Mbak!" 

Aku mengembus napas lega. Untung saja cuma dilarang edit foto cewek, kalau dilarang pegang hape, kan parah?


Baca juga: CERPEN HUMOR KAK BI: NODA

Cerpen lainnya: DOA YANG DIKABULKAN | CERPEN KOMEDI


"Pa!" Panggilannya membuatku buru-buru ambil kunci motor.

"Iya, ini berangkat!"

"Jangan lupa beliin pembalut ya!" ucapnya membuatku kesal.

Tuh, kan ... betul. Lagi datang bulan, untung saja aku berhasil meredam macan dalam diri istriku.


TAMAT

Gorontalo, 17 November 2023

Komentar

Popular