Review Bridgerton Season 4 (2026): Munculnya Cinderella Era Regency
Review Bridgerton Season 4 (2026): Munculnya Cinderella Era Regency
Dearest gentle reader ... akhirnya, setelah penantian panjang, Bridgerton Season 4 hadir membawakan kisah Benedict Bridgerton dan jujur saja, season ini terasa sangat berbeda dibanding season-season sebelumnya.
Kalau Season 1 penuh gairah dan drama sosial, Season 2 dipenuhi tension musuh-jadi-cinta, sementara Season 3 lebih fokus pada romansa persahabatan, maka Season 4 terasa seperti dongeng klasik yang dibungkus dengan emosi nan hangat.
Ayo, temenin aku mengulas series Bridgerton Season 4 ini ya....
***
Info Series
Judul: Bridgerton 4
Genre: Drama, Romance, History
Jumlah Episode: 8 (4 Part 1 dan 4 Part 2)
Season: 4 dari 4
Dibuat Oleh: Chris Van Dusen, berdasarkan Bridgerton oleh Julia Quinn
Rumah Produksi: Shondaland
Pemain: Luke Thompson, Yerin Ha, Nicola Coughlan, Luke Newton, Claudia Jessie, Hannah Dodd, Adjoa Andoh, Ruby Barker, Ruth Gemmel, Golda Rosheuvel
Tayang: Part 1: 29 Januari 2026, Part 2: 26 Februari 2026, Netflix
Durasi: 57-72 menit
Rating Usia: 18+
***
Sinopsis Series Bridgerton Season 4:
Season 4 berfokus pada Benedict Bridgerton, anak kedua keluarga Bridgerton yang selama ini dikenal bebas, santai, dan tidak terlalu memikirkan masa depannya.
Semua berubah ketika dia bertemu seorang wanita misterius bertopeng perak di pesta topeng milik Violet Bridgerton.
Wanita itu adalah Sophie Baek. Di balik penampilannya yang elegan malam itu, Sophie sebenarnya hanyalah seorang pelayan yang hidup di bawah tekanan Lady Araminta dan keluarganya.
Pertemuan singkat mereka berkembang menjadi hubungan yang rumit. Benedict kemudian tanpa sengaja bertemu Sophie Baek dan jatuh cinta, tetapi status sosial menjadi penghalang terbesar di antara mereka.
Di tengah tekanan keluarga bangsawan dan aturan sosial Regency, Benedict dan Sophie harus menentukan apakah cinta mereka cukup kuat untuk melawan dunia?
***
Rating 9/10 untuk season ini. Bagiku season ini mungkin bukan season paling rapi dari sisi struktur cerita, tapi secara emosional justru menjadi salah satu yang paling kuat.
Romansa Benedict dan Sophie terasa sangat tulus dan klasik seperti dongeng Cinderella, tetapi dibungkus dengan isu sosial yang lebih ribet.
Baca juga: DRAKOR KERAJAAN PART 3, 13 REKOMENDASI UNTUKMU LAGI
Review lainnya: REVIEW FILM TOMB RAIDER (2018): REVIEW KAK BI
Review Series Bridgerton Season 4:
1. Benophie: Romansa Cinderella di Keluarga Bridgerton
Huh, tarik napas dulu... aaaahhh kyut sekali couple ini gaeees.
Well, hubungan Benedict dan Sophie terasa seperti inti romantis klasik yang sudah kunantikan. Mereka bukan pasangan dengan chemistry penuh perang ego kayak Anthony dan Kate. Bukan juga pasangan awkward friends-to-lovers kayak Colin dan Penelope.
Benedict dan Sophie ini anehnya terasa lembut dan bikin senyam-senyum. Tatapan mereka, cara Benedict memanggil, “Sophie… Sophie… Sophie…”, sampai adegan dansa mereka berdua yang punya nuansa fairytale banget.
Yang bikin hubungan Benophie menarik adalah fakta kalau season ini tuh beneran membahas perbedaan kelas sosial secara serius.
Sophie bukan bangsawan yang ternyata kaya raya, dia cuma anak dari pelayan yang jadi gundik bangsawan dan punya sejenis mahar yang ditinggalkan 'ayahnya' tapi dikorupsi sama emak tirinya. Dia benar-benar hidup sebagai pelayan dan memahami seberapa berbahayanya punya hubungan dengan pria aristokrat.
Dan jujur saja, bagian ini bikin Season 4 terasa lebih dewasa dibanding season sebelumnya. Season ini bukan cuma soal cinta Benedict dan Sophie. Tapi juga tentang keluarga, kelas sosial, perempuan, kehilangan, dan bagaimana setiap karakter akhirnya mendapatkan bagian mereka masing-masing.
Memang ada beberapa bagian yang terasa terlalu ramai karena banyak subplot, tapi secara emosional dan cerita, aku nggak kehilangan momentum Benophie dan ini mungkin jadi season yang paling menyentuh hatiku eheheh.
2. Sophie Baek: Heroine Paling Kuat Secara Emosional
Yerin Ha cantik banget, manis dan berhasil membuat Sophie menjadi karakter yang sangat mudah disukai.
Sophie bukan tipe heroine yang selalu kuat secara fisik atau vokal banget, tapi dia punya daya tahan emosional luar biasa. Dia bertahan hidup dalam sistem sosial yang terus merendahkannya dan tahu kalau cintanya ke Benedict bisa menghancurkan hidup mereka berdua.
Dan karena itu, tarik-ulur yang dilakukan Sophie sebenarnya masuk akal banget meskipun kadang bikin frustrasi.
Sophie memang terlalu sering menjauh lalu mendekat lagi. Tapi kalau dilihat dari posisinya sebagai pelayan di era Regency, ketakutannya sangat realistis banget.
Bayangin aja, jatuh cinta sama bangsawan, terus si bangsawan juga cinta tapi malah diajak jadi gundik. Dia kesal dan nggak mau bikin kesalahan yang sama dengan ibunya, tapi dia beneran cinta. Makanya dia sendiri bingung dan tarik ulur itu pun terjadi. Paham 'kan?
3. Benedict Akhirnya Punya Arah
Selama beberapa season sebelumnya, Benedict ini sering banget terasa cuma seperti karakter pelengkap aja. Dia tokoh dengan karakter yang super bebas, artistik, dan sering terjebak subplot romantis tanpa arah jelas, bahkan sempat menyimpang.
Tetapi Season 4 akhirnya kasih perkembangan karakter besar untuk Benedict dan untuk pertama kalinya, dia benar-benar dipaksa memilih antara kenyamanan hidup bangsawan atau memperjuangkan seseorang yang dicintainya.
Dan Luke Thompson berhasil membawakan sisi frustrasi, lembut, sekaligus romantis Benedict dengan sangat baik. Jadi ngefans banget sama Luke gegara season ini.
4. Season yang Paling Terasa Kekeluargaan
Salah satu kekuatan terbesar Season 4 adalah nuansa keluarganya. Untuk pertama kalinya setelah Season 1 dan 2, keluarga Bridgerton beneran terasa kompak lagi.
Mereka hadir untuk Francesca saat berduka. Eloise mulai berkembang menjadi kakak yang lebih dewasa. Hyacinth mulai memahami kenyataan pahit kehidupan. Anthony yang tersik-sak-sok dengan keadaan keluarga Bridgerton pas pulang ke rumah. Dan Violet? Ah… Mama Violet benar-benar menjadi jantung emosional season ini.
Cara Mama Violet membela Sophie bahkan mungkin aja itu bisa menghancurkan reputasi keluarganya, jadi salah satu momen terbaik dari season ini.
Oh ya, plot tentang Francesca juga jadi bagian paling emosional dari season ini. Aku beneran ikut berduka saat melihat adegan berdukanya Francesca yang terasa sangat manusiawi. Meskipun dibikin jengkel sama sepupu lakinya, siapa tuh namanya malas banget wkwkwk.
Ya, rasa kehilangan, kebingungan, sampai kemarahannya pada Violet benar-benar menghancurkan hati. Dialog soal Violet yang punya “8 kepingan Edmund”, sementara Francesca nggak punya apa pun dari John terasa sangat menyakitkan huhuhu. Sayang banget nggak muncul Daphne.
5. Kritik Sosial yang Lebih Terasa
Season ini juga menarik kalau dibahas dari sudut pandang kritik sosial. Bridgerton memang selalu membahas status sosial kan, tapi Season 4 terasa jauh lebih frontal.
Ada pembahasan tentang beban perempuan untuk tampil menarik demi menikah, ketimpangan hubungan majikan dan pelayan (iya, gaes seru banget subplot rebutan pelayan itu eheheh), kekuasaan sosial Ratu Charlotte terhadap Lady Danbury sampai reputasi perempuan dalam masyarakat Regency tuh seperti apa.
Ditambah, Lady Whistledown sendiri terasa seperti simbol algoritma sosial pada era itu. Satu tulisan bisa menghancurkan reputasi seseorang dalam semalam dan season ini cukup pintar menunjukkan bagaimana gosip sebenarnya adalah bentuk dari kekuasaan sosial.
6. Visual dan Atmosfer Masih Jadi Kekuatan Utama
Seperti biasa, Bridgerton tetap luar biasa secara visual. Episode pesta topeng di awal season benar-benar megah. Kostum Sophie terutama gaun silver-nya cantik dan ikonik banget, vibes Cinderella banget deh.
Atmosfer season ini juga lebih hangat dan lembut dibanding season sebelumnya. Tone warnanya tuh agak biru-biru dan ada oranye lembut gitu eheheh, nuansa dongengnya benar-benar terasa.
***
Kelebihan dan Kekurangan Series Bridgerton Season 4:
- Kelebihan:
1. Chemistry Benedict dan Sophie sangat kuat
2. Sophie jadi karakter kesukaanku setelah sebelumnya suka sama Penelope kan
3. Chemistry dan nuansa keluarga Bridgerton terasa sangat hangat, keluarga cemara banget
4. Tema kelas sosial dan feminisme lebih terasa
5. Visual dan kostum tetap memukau
6. Banyak karakter mendapatkan bagian memuaskan, bahkan karakter keluarga Mondrich yang kurasa nggak berguna itu ternyata berguna di season ini wkwkwk.
7. Part 2 jauh lebih emosional dan kuat dibandingkan part 1, apalagi adanya teka-teki Lady Whistledown yang baru.
- Kekurangan:
1. Terlalu banyak subplot dalam 8 episode doang
2. Fokus romansa utama kadang terpecah, tapi masih bisa diikuti kalai fokus nonton
3. Beberapa konflik memang terasa agak berulang
4. Anthony terlalu lama menghilang dari keluarga
5. Karma Araminta dan Rosamund terasa kurang memuaskan bagiku.
6. Seperti biasa, adegan dewasanya bukan bagian yang bakal aku jadikan kelebihan wkwkwk
***
Bridgerton Season 4 mungkin bukan season paling sempurna, tetapi season ini berhasil mengambil hatiku.
Romansa Benedict dan Sophie membawa kembali nuansa fairytale klasik yang manis dan hangat, sementara subplot keluarganya bikin season ini terasa seru. Soalnya kan udah pada ngumpul tuh anak, cucu, menantunya Mama Violet walau tanpa Daphne ekhm.
Buatku pribadi, ini salah satu season Bridgerton yang paling membekas ya, soalnya chemistry Yerin dan Luke tumpah-tumpah banget dan sekarang… rasanya masih susah move on dari Benophie.
Oke, sekian review series Bridgerton Season 4, aku udah review 3 season sebelumnya. Baca di sini ya: REVIEW BRIDGERTON SEASON 3 (2024): KISAH FRIENDS TO LOVERS LADY WHISTLEDOWN
Besok aku bakal update Prequel Bridgerton juga dari Queen Charlotte: A Bridgerton Story dan artikel rekapan season 1-4 berjudul Mengenal Dunia Bridgerton ya, stay tuned di blog aku ya!!!









Komentar
Posting Komentar