Terbaru

Review Bridgerton Season 3 (2024): Kisah Friends to Lovers Lady Whistledown

Review Bridgerton Season 3 (2024): Kisah Friends to Lovers Lady Whistledown 

Poster.Bridgerton.Season.3.jpg


Dearest gentle reader ... setelah dua season penuh drama, gairah, dan hubungan penuh tarik-ulur, akhirnya Season 3 dari Bridgerton membawa kisah Penelope Featherington dan Colin Bridgerton alias Polin Couple.

Dan jujur saja, season ini terasa berbeda. Bukan lagi soal cinta full ego seperti Daphne dan Simon, atau hubungan full tensi seperti Anthony dan Kate. Season 3 justru terasa lebih lembut, lebih awkward, dan lebih insecure.

Ada sesuatu yang sangat manis melihat Penelope akhirnya mendapatkan kebahagiaan setelah bertahun-tahun diremehkan keluarga, masyarakat, bahkan tanpa sadar Colin juga remehin dia. 

Melihat senyum tulus di wajahnya setelah sekian lama menyembunyikan rasa sakit terasa memuaskan.

Meski begitu, Season 3 juga ternyata jadi salah satu season paling kontroversial di fandom series ini. Ada yang menganggap ini season terbaik karena chemistry Polin yang menggemaskan, tapi nggak sedikit juga yang merasa kalau kisah mereka justru kurang fokus karena terlalu banyak subplot.

Dan sejujurnya? Aku bisa memahami kedua sisi itu, yuk masuk ke ulasannya aja.


***


Info Series

Judul: Bridgerton 3

Genre: Drama, Romance, History

Jumlah Episode: 8 (4 Part 1 dan 4 Part 2)

Season: 3 dari 4

Dibuat Oleh: Chris Van Dusen, berdasarkan Bridgerton oleh Julia Quinn

Rumah Produksi: Shondaland

Pemain: Nicola Coughlan, Luke Newton, Claudia Jessie, Hannah Dodd, Adjoa Andoh, Ruby Barker, Ruth Gemmel, Luke Thompson, Golda Rosheuvel

Tayang: Part 1: 16 Mei 2024, Part 2: 13 Juni 2024, Netflix 

Durasi: 57-72 menit

Rating Usia: 18+


***


Sinopsis Series Bridgerton Season 3:

Season 3 berfokus pada kisah Penelope Featherington yang memutuskan untuk mencari suami setelah mendengar Colin berkata bahwa dia tidak akan pernah mendekatinya secara romantis.

Di balik kepribadiannya yang pemalu, Penelope sebenarnya menyimpan rahasia besar sebagai Lady Whistledown, penulis gosip anonim paling berpengaruh di kalangan bangsawan.

Sementara itu, Colin kembali dari perjalanannya dengan kepribadian baru yang lebih percaya diri dan penuh pesona. Dia kemudian menawarkan bantuan kepada Penelope agar lebih percaya diri mencari pasangan.

Namun semakin dekat mereka, Colin mulai menyadari bahwa perasaannya terhadap Penelope ternyata lebih dari sekadar persahabatan.

Di tengah kisah cinta mereka, berbagai konflik lain juga muncul, mulai dari hubungan Penelope dan Eloise, debutnya Francesca Bridgerton, hingga rahasia Lady Whistledown.


***


Rating 8.5/10 untuk season 3 yang tetap berhasil mempertahankan pesona khas Bridgerton yang romantis, penuh drama, visual mewah, dan chemistry yang kuat.

Tapi, kuakui dibanding season sebelumnya, season ini terasa kurang fokus karena terlalu banyak subplot yang mengambil screentime pasangan utama. 

Meski begitu, hubungan Penelope dan Colin tetap menjadi inti emosional yang kuat dan bikin season ini jadi season dengan couple yang jadi kesukaanku melampaui couple di season 1 dan 2. Ya, setidaknya sampai aku belum menonton season 4 di awal tahun 2026 ini eheheh....


Baca juga: AS YOU STOOD BY (2025): REVIEW DRAKOR KORBAN KDRT YANG BIKIN GILA

Review lainnya: REVIEW FILM ANIME TENTANG PENJELAJAH WAKTU: MIRAI (2018)


Review Lengkap Bridgerton Season 3:

1. Friends-to-Lovers yang Akhirnya Jadi Sorotan

Kalau ada trope romance yang nggak pernah gagal dibuat menarik, jawabannya mungkin adalah friends-to-lovers dan Season 3 membuktikan itu.

Hubungan Penelope dan Colin sebenarnya sudah dibangun sejak season pertama, aku nunggguin banget perkembangan hubungan mereka (sekali lagi kuingatkan aku bukan pembaca novelnya ya). Karena itulah ketika akhirnya hubungan mereka berkembang menjadi cinta, semuanya terasa lebih emosional.

Yang bikin kisah mereka menarik bukan sekadar romansa, tapi fakta bahwa hubungan mereka dimulai dari persahabatan panjang, saling membela, saling melindungi dan saling rindu eyyaak.

Mereka saling mengenal begitu lama sampai perubahan kecil dalam cara mereka memandang satu sama lain terasa sangat berarti.

Tatapan Colin mulai berubah. Penelope mulai berhenti menyembunyikan perasaannya. Dan chemistry mereka berkembang perlahan tanpa terasa dipaksakan. Asyik banget couple ini tuh.


2. Penelope: Karakter Paling Bersinar di Season Ini

Season ini benar-benar milik Penelope. Seharusnya sih, sebelum dihancurkan sama banyak sub plot bertebaran itu.

Selama dua season sebelumnya, dia terus diremehkan. Keluarganya sering mengabaikan Pen, masyarakat menganggapnya nggak menarik, dan Colin bahkan pernah tanpa sadar melukai perasaannya.

Karena itu, melihat Penelope perlahan menemukan rasa percaya dirinya terasa sangat memuaskan bagiku.

Tema self-acceptance dalam season ini juga cukup kuat. Penelope belajar menerima dirinya sendiri, bukan hanya sebagai perempuan biasa, tetapi juga sebagai Lady Whistledown.

Dan penampilan Nicola Coughlan benar-benar luar biasa, dia mampu bikin Penelope terasa rapuh sekaligus kuat dalam waktu bersamaan. Bahkan ketika season ini terlalu sibuk dengan subplot lain, karisma Nicola tetap berhasil mencuri perhatian.

Foto.Bridgerton.Season.3.Part1.jpg


3. Colin yang Kontroversial Tapi Masih Menarik

Aku baru tahu, setelah baca-baca ulasan di sosmed, ternyata reaksi penonton ke Colin cukup terbagi. Ada yang suka perkembangan karakternya, tapi banyak juga yang merasa penulisannya kurang konsisten.

Untuk aku sendiri, justru suka dia di season ini eheheh. Soalnya, di season sebelumnya, Colin dikenal sebagai sosok manis dan hangat. Namun di Season 3, dia tiba-tiba berubah menjadi pria yang lebih 'all out' seperti tipikal male lead Bridgerton lainnya.

Meskipun perubahan ini terlalu mendadak dan bikin kita-kita kehilangan pesona asli Colin. Tapi di sisi lain, justru insecurity Colin terasa cukup manusiawi kok di sini. Dia nggak mungkin hidup di bawah bayang-bayang saudara-saudaranya yang dianggap lebih sukses dan lebih punya tujuan. Makanya aku maklum kalau kepribadiannya berubah.

Apalagi waktu ketahuan kalau Penelope ternyata adalah Lady Whistledown, rasa minder Colin semakin terlihat jelas dan justru konflik emosional inilah yang bikin hubungan mereka terasa realistis.


4. Chemistry Polin yang Gemas dan Intens

Nggak akan bosan aku bahas Polin Couple ini. Soalnya, salah satu kekuatan terbesar season ini jelas chemistry antara Nicola Coughlan dan Luke Newton.

Mereka punya chemistry yang bukan cuma seksi, tapi juga nyaman. Ada banyak momen (di luar adegan panas) yang bikin aku otomatis senyum sendiri karena interaksi mereka terasa manis dan awkward secara bersamaan.

Mau bahas scene kereta? Ya… pantas saja jadi viral. Tapi aku nggak mau bahas itu wkwkwk, jangan deh, soalnya ini bikin season 3 juga terasa lebih berani dibanding sebelumnya. Apalagi aku masih bayi, bayi 32 tahun.

Foto.Bridgerton.Season.3.Part2.jpg


5. Terlalu Banyak Subplot

Sayangnya, inilah masalah terbesar Season 3. Sialan banget lah, sama sub plotnya yang bikin ratingku untuk season ini masih nggak bisa melampaui season pertamanya.

Untuk season yang seharusnya fokus pada Penelope dan Colin, screentime mereka justru kurang loh.

Drama ini terlalu sibuk membangun ceritanya Francesca, Benedict, Eloise, bahkan subplot pasangan pemilik bar itu, keluarga apa tuh namanya, yang bagiku nggak penting-penting amat. Akibatnya, perkembangan hubungan Polin kadang terasa terpotong-potong.

Padahal kata orang yang baca novelnya, hubungan Penelope dengan keluarga Bridgerton jauh lebih dekat dan hangat. Banyak momen penting yang sayangnya nggak dimasukkan ke versi series. Kan aku jadi pengin baca novelnya juga gara-gara ini huhu.


6. Feminisme, Self-Worth, dan Identitas

Meski tetap absurd dengan dunia gosip bangsawannya, Bridgerton Season 3 ternyata punya tema yang cukup menarik.

Season ini banyak membahas tentang penerimaan diri, perempuan yang ingin memiliki suara, rasa insecure dan bagaimana menjadi pasangan yang suportif.

Penelope bukan karakter perempuan sempurna, tapi justru itu yang bikin dia terasa nyata. Dia cerdas, insecure, kadang egois, tapi juga penuh kasih sayang dan hubungan Polin couple terasa sehat karena mereka akhirnya belajar mendukung satu sama lain, bukan sekadar saling menyelamatkan.

Foto.Bridgerton.Season.3.Part3.jpg


7. Visual dan Musik Tetap Jadi Andalan

Kalau ada satu hal yang bagiku konsisten terus dan bagus dari Bridgerton, jawabannya adalah visual. Kostumnya tetap cantik dan mewah, visualnya tetap memanjakan mata.

Musiknya juga tetap khas Bridgerton banget, kombinasi musik klasik dan cover lagu modern yang bikin adegan romantis terasa semakin memorable.

Dan tentu saja… rambut Queen Charlotte tetap ikonik seperti biasa. Eheheh kayaknya aku baru mention beliau di ulasan season ini ya eheheh.


***


Kelebihan dan Kekurangan Bridgerton Season 3:

- Kelebihan: 

1. Chemistry Polin sangat kuat dan natural

2. Trope friends-to-lovers dieksekusi dengan sangat manis

3. Penelope menjadi karakter yang sangat berkembang dan tokoh terbaik di season ini

4. Visual dan kostum tetap memukau

5. Banyak momen romantis yang memorable


- Kekurangan:

1. Terlalu banyak subplot

2. Screentime pasangan utama terasa kurang

3. Konfliknya kadang terasa terlalu ringan dibanding potensinya

4. Beberapa side story kurang menarik


***


Mungkin season 3 dari Bridgerton ini bukan season paling sempurna bagiku, tetapi tetap punya daya tarik yang susah dicuekin sih.

Ini adalah season tentang dua orang insecure yang akhirnya belajar menerima diri sendiri dan saling mencintai dengan tulus dan mungkin itulah alasan aku tetap menyukai season-nya Polin ini. Bukan karena hubungan mereka paling dramatis, tapi karena mereka yang terasa paling manusiawi.

Meski terlalu penuh dengan subplot dan kadang kehilangan fokus, Season 3 tetap berhasil memberikan cerita romantis manis, gemas, emosional, dan sangat menyenangkan untuk diikuti.

Dan jujur saja… sulit untuk tidak nyengir sendiri melihat perjalanan Penelope dan Colin dari awal bestie-an dan akhirnya sampai ke titik ini.

Terima kasih sudah mampir, sore nanti aku bakal update ulasan Bridgerton season 4 yang bikin aku berbunga-bunga selama menontonnya.

Btw, aku sudah bikin ulasan season 1 dan season 2 ya, baca di sini: REVIEW SERIES BRIDGERTON (2020): ROMANSA DAN SKANDAL REGENCY ERA dan REVIEW BRIDGERTON SEASON 2 (2022): KISAH CINTA BARU KELUARGA BRIDGERTON




Komentar

Popular