Flourished Peony dan In the Name of Blossom (2025): Review Drachin
Flourished Peony dan In the Name of Blossom (2025): Review Drachin
Drama Flourished Peony yang season duanya muncul dengan judul In the Name of Blossom ini, aku tonton awal tahun lalu. Drama ini berlatar Dinasti Tang yang indah, sinematografinya memukau, serta chemistry kuat antara dua karakter utama, bikin drama ini berhasil menjadi salah satu karya paling berkelas dalam genre historical romance.
Namun, apakah semuanya sempurna? Nggak juga. Terutama saat memasuki season keduanya. Eh, gimana? Yuk, baca ulasan selengkapnya di bawah ini!
***
Info Drama
Judul: Flourished Peony (Season 1), In the Name of Blossom (Season 2)
Sutradara: Ding Zi Guang
Penulis Naskah: Zhang Yuan Ang, Jia Bin Bin
Genre: Historical, Business, Romance, Drama
Pemain: Yang Zi, Li Xian, Wei Zhe Ming, Zhang Ya Qin, Guan Yue, Xu Ling Yue, Tu Song Yan
Rilis: 7 Januari 2025 - 22 Januari 2025 (S1), 30 Juni 2025 - 13 Juli 2025 (S2)
Episode: 32 (S1) + 24 (S2), Hunan TV, Mango TV
Durasi: 45 menit
Rating Usia: 14+
***
Sinopsis Drama China Flourished Peony:
Drama ini mengikuti perjalanan He Weifang yang pada akhirnya lebih akrab dipanggil Mudan, seorang putri pedagang dengan bakat luar biasa dalam membudidayakan bunga peony. Bunga simbol kemewahan dan keindahan di masa itu pada era dinasti Tang.
Hidupnya jauh dari bahagia. Dia terjebak dalam pernikahan tanpa cinta, dieksploitasi oleh keluarga suaminya, dan dipandang rendah oleh lingkungan sosial.
Segalanya mulai berubah ketika dia bertemu dengan Jiang Changyang, seorang pejabat yang cerdas, santai, dan penuh misteri. Berbeda dari pria kebanyakan, Changyang tidak mencoba menyelamatkan Mudan, melainkan memberinya ruang untuk berdiri sendiri.
Dari situlah, perjalanan Mudan dimulai, dari seorang perempuan yang terkungkung menjadi pengusaha wanita mandiri yang berani melawan norma sosial, sambil membangun hubungan emosional yang perlahan tumbuh menjadi cinta dengan Jiang Changyang.
Sementara, season keduanya, In the Name of Blossom melanjutkan kisah ini dengan konflik yang lebih luas. Ada politik, pengkhianatan, serta ujian terhadap hubungan dan prinsip yang telah dibangun sebelumnya.
***
Rating 8.5/10 untuk keseluruhan drama, tapi kalau untuk dibagi per season. Kayaknya, tipis-tipis aku lebih suka season 1 sih ehehe. Season 1 rating 8.9/10 dan Season 2 7.5/10.
Baca juga: REVIEW FEUD (2025): DRAMA CHINA BAI LU DAN ZENG SHUN XI
Review lainnya: PURSUIT OF JADE: REVIEW DRAMA CHINA VIRAL TAHUN 2026
Review Drama China Flourished Peony dan In the Name of Blossom:
1. Cerita dan Karakter Mudan yang Mendalam
Aku nggak menyangka kalau bakal lanjut nonton ini sampai selesai saat mengintip episode awalnya di aplikasi Vidio tahun lalu. Soalnya, selain Go Go Squid, aku memang nggak ngikutin drama Yang Zi lain.
Makanya, nggak ada ekspektasi saat nonton ini. Beneran pure gegara bingung mau nonton apa, eh, ini ada Drachin yang baru tamat, so aku nonton aja deh (meskipun dibikin kesal karena pas tamat ternyata malaj ada season dua, pantes saja ceritanya menggantung. Dan saat itu, aku harus menunggu season duanya). Ternyata, drama ini beneran menarik dan yang bikin drama ini berbeda adalah pendekatannya yang nggak hitam-putih.
Alih-alih hanya menampilkan perempuan kuat vs dunia jahat, drama ini memperlihatkan bahwa sistem sosial mengekang semua orang, bukan cuma perempuan. Bahkan karakter berkuasa pun nggak benar-benar bebas, sebab setiap pilihan punya konsekuensi emosional dan sosial.
Perjalanan Mudan yang terasa organik dan realistis, serta mengingatkanku ke background cerita Jo Yi di drakor Royal Inspector and Joy, soal perempuan yang memperjuangkan diri supaya bisa bercerai dan bebas dari suaminya.
Bedanya, Mudan nggak langsung menjadi wanita kuat dan hebat, tapi berkembang lewat pengalaman, kesalahan, dan keberanian mengambil risiko.
Namun, ada satu hal yang cukup terasa sih. Beberapa bagian cerita menggunakan plot armor, di mana Mudan sering banget lolos dari konsekuensi besar. Tapi, ya itu dia sih, Mudan terlalu banyak cobaannya eheheh.
Secara karakter Mudan alias si He Weifang ini karakter yang luar biasa kuat. Bukan karena dia sempurna, tapi karena dia punya kelemahan yang nyata kayak terlalu percaya diri, kadang gegabah dan sulit memahami perspektif orang lain
Ini bikin dia jadi manusiawi banget.
Sementara, Jiang Changyang di mataku adalah salah satu male lead terbaik dalam genre begini. Dia bukan pahlawan penyelamat, melainkan menghargai perempuan, nggak memaksakan kehendak dan mendukung tanpa mendominasi Mudan.
Relasi mereka berdua juga terasa sehat, dewasa, dan jarang ditemukan dalam drama sejenis.
2. Chemistry yang Slow Burn tapi Memikat
Aku kurang suka drama yang romance-nya terlalu slow burn atau juga terlalu cepat. Aku suka tuh tipe yang cintanya seimbang atau malah romansa tipis-tipis.
Hubungan antara Mudan dan Changyang ini adalah tipe slow burn yang dilakukan dengan benar. Nggak terburu-buru, nggak dramatis berlebihan, nggak lama banget juga, tapi justru dibangun dari kepercayaan, dipenuhi momen kecil yang bermakna dan beneran terasa dewasa plus manis.
Gini loh, kalau orang dewasa lagi cinta. Nggak lovey dovey banget, tapi hangat, tulus dan penuh chemistry yang sulit dijelaskan.
Namun, di season duanya … ini mulai jadi masalah. Karena hubungan yang udah dibangun lama justru terasa diulang-ulang dengan konflik klise seperti miskomunikasi dan pengorbanan sepihak. Untungnya, ini nggak lama, karena mereka dewasa banget, cara menyelesaikan masalahnya tentu lebih rapi.
3. Visual, Sinematografi, dan Produksi Kelas Atas
Aku pikir, drama kostum sejarah nggak bakal sevisual Xianxia, Wuxia atau Xuanhuan. Ternyata, secara visual, drama ini benar-benar bagus eheheh. Kostumnya detail dan elegan, set yang hidup dan atmosferik, serta tone warna yang lembut agak pinkish dan peach gitu. Artistik sekali sih.
Setiap frame rasanya kayak lukisan. Kayaknya, ini drama budgetnya lumayan mahal sih wkwkwk. Bahkan make-up dinasti Tang yang dipakai Yang Zi, aku suka banget loh. Meskipun awalnya rada nggak nyaman, tapi lama-lama bagus juga eheheh.
4. Season 2: Ketika Cerita Kehilangan Arah
Kalau season 1 terasa solid, jujur season 2 justru mulai goyah.
Beberapa masalah mulai muncul, dari kecepatannya yang lambat dan berulang. Konflik hubungan yang dipaksakan dan fokus terlalu berat pada satu karakter aja, yaitu si Mudan. Tapi mengingat judulnya sih, ya emang ini drama adalah dramanya Mudan.
Banyak subplot terasa nggak berkembang dengan maksimal, bahkan ada beberapa klimaks terasa kurang emosional.
***
Kelebihan dan Kekurangan Drama Flourished Peony dan In the Name of Blossom
- Kelebihan:
1. Cerita perempuan yang realistis dan mendalam, bukan sekadar pamer cerita kekuatan kosong, beneran dikasih lihat cara biar perempuan bisa survive di dunia ini.
2. Karakter kompleks dan manusiawi, terutama Mudan, Changyang dan si mantan suami tukang paksa dan agak gila yang diperankan Wei Zhe Ming; Liu Chang
3. Chemistry kuat dan dewasa, salah satu yang terbaik di genre ini.
4. Sinematografi dan kostum luar biasa indah
5. Pesan sosial kuat tentang para perempuan, kebebasan, dan identitas. Pokoknya ini bisa kelihatan dari teman-temannya Mudan, si pendiri toko bunga sama Mudan, sampai si tabib perempuan yang dilarang bapaknya jadi tabib.
6. Akting luar biasa terutama dari Yang Zi dan Li Xian.
- Kekurangan:
1. Plot armor pada karakter utama bikin konflik jadi kurang terasa berat
2. Beberapa antagonis menjadi klise di ending
3. Season 2 nggak sebagus season 1, tapi bukan yang tipe jelek juga. Beneran cuma melanjutkan nasib Mudan dari season 1 aja.
4. Karakter pendukung kurang dimanfaatkan di season 2
5. Beberapa klimaks terasa kurang emosional dan nggak maksimal.
***
Flourished Peony adalah drama yang berhasil melakukan sesuatu yang jarang, bikin cerita tentang perempuan terasa kuat, realistis, dan penuh makna tanpa harus berisik.
Season pertama adalah mahakarya kecil yang indah, emosional, dan berkelas. Tapi season kedua, meskipun tetap layak ditonton, terasa seperti langkah mundur dalam penulisan ceritanya. Bukan karena konsepnya buruk, tapi karena eksekusinya kurang fokus aja sih. Sebaiknya sih, alih-alih season dua harusnya langsung dibikin tandas saja 40 episode dalam satu season eheheh.
Meski begitu, drama ini tetap meninggalkan kesan mendalam untukku.
Kalau Pengembara mencari drama kostum historical dengan karakter perempuan kuat tapi realistis, romance yang dewasa dan hangat, visual yang indah dan cerita yang punya makna. Nah, Flourished Peony wajib masuk watchlist kamu kok.
Tapi balik ke selera ya, aku aja sempat pikir ini drama bakal membosankan. Eh, ternyata malah seru-seru aja tuh. Lucunya sampe, kesalnya sampe, manisnya sampe, sedihnya sampe, aku pun jadi bucin sama Li Xian lagi. Well, ini adalah tipe drama yang… harus dirasakan perlahan-lahan.
Terima kasih sudah mampir ya~~
Eits, aku mau intermezzo dikit ya, aku mau promosikan novel online yang baru tayang di Quarterfull yang dulunya Mofic. Judulnya Cut the Cake, Choose Him, ini genrenya romantis komedi, dulunya berjudul Oops, Terciduk.
Oh ya, karena aku suka mangga, kamu bisa banget dukung aku biar semangat nulis dengan traktir mangga di sini ya: https://teer.id/nurwahidah_bi







Komentar
Posting Komentar