Terbaru

The Prisoner of Beauty (2025): Review Drachin Liu Yuning dan Song Zuer

The Prisoner of Beauty (2025): Review Drachin Liu Yuning dan Song Zuer


September ini aku nggak banyak bikin postingan, sebab lagi fokus di platform menulis Quarterfull. Tapi, aku sempetin mengulas drama dari Liu Yuning dan Song Zuer ini; TPoB

Awalnya aku kira The Prisoner of Beauty ini bakal jadi drama politik berat yang banyak intrik tanpa jeda napas. Soalnya dari judul aja udah terdengar serius banget. Tapi ternyata, drama ini justru berhasil jadi paket lengkap. Ada politik, tragedi keluarga, romance slow burn, komedi receh, sampai momen emosional yang bikin dada sesak.

Dan jujur aja, salah satu kekuatan terbesar drama ini adalah bagaimana mereka semua membuatku merasa ikut hidup bersama para karakternya. Ketawa bareng mereka, gemas sendiri, terus mendadak nangis di episode berikutnya.

Oke, langsung saja masuk ke ulasan selengkapnya. Biar kamu tahu bagaimana aku bisa langsung suka, langsung nggak mau berhenti nonton dan langsung penasaran baru dari episode 1 doang.


***


Info Drama 

Judul: The Prisoner of Beauty 

Sutradara: Deng Ke, Gao Cong Kai

Penulis Naskah: Nan Zhen

Genre: Historical, Romance, Drama, Political

Pemain: Song Zuer, Liu Yuning, Xuan Lu, Liu Duan Duan, Wang Cheng Si, Li Xue Qin

Rilis: 13 Mei 2025 - 29 Mei 2025, Tencent Video

Episode: 36

Durasi: 45 Menit

Rating Usia: 13+


***


Sinopsis Drama China The Prisoner of Beauty:

Xiao Qiao alias Qiao Man, wanita dari keluarga Qiao harus menikah dengan Wei Shao, seorang pemimpin keluarga Wei, demi menghentikan konflik panjang antara dua keluarga mereka. Masalahnya, hubungan kedua klan ini dipenuhi dendam lama dan luka yang belum sembuh.

Wei Shao tumbuh dengan kebencian terhadap keluarga Qiao karena tragedi masa lalu yang menghancurkan keluarga besarnya. Sementara Xiao Qiao datang membawa niat damai, tetapi tetap harus menghadapi kecurigaan, penolakan, dan tembok dingin dari suaminya sendiri.

Dari hubungan yang awalnya penuh waspada, perlahan mereka mulai mengenal satu sama lain. Sedikit demi sedikit, rasa hormat tumbuh, kepercayaan terbentuk, lalu cinta datang tanpa terasa.

Di tengah konflik politik, perang, pengkhianatan, dan tekanan keluarga, keduanya belajar menjadi partner yang saling melindungi, bukan sekadar pasangan dalam pernikahan politik.


***


Rating 10/10 untuk The Prisoner of Beauty yang berhasil jadi salah satu drama romance historical paling memorable tahun 2025, dan terus memunculkan bibit fans baru bahkan di tahun 2026 saat ulasan ini kubuat. 

Pokoknya jangan tertipu sama sinopsisnya yang simpel ya. Drama dengan alur rapi, chemistry pemainnya yang kuat dan emosinya ngena ini aku tonton sebelum menonton A Dream within a Dream. Nontonnya masih di tahun 2025 juga, beberapa bulan setelah dramanya rilis. Cuma telat aja aku review-nya eheheh....

Episode drama ini terasa kurang banyak bagiku, 36 episodenya memang panjang dengan cara yang bagus, tapi harusnya dibikin minimal sampai episode 38 lah sampai couple ini punya banyak anak wkwkwk. Soalnya, cerita TPOB ini berkembang pelan, rapi, dan makin lama makin bikin susah berhenti nonton.


Baca juga: REVIEW DRAMA CHINA FOR MARRIED DOCTRESS (2020)

Review lainnya: REVIEW MOONLIGHT MYSTIQUE (2025): DRAMA CHINA BAI LU DAN AO RUI PENG


Review Drama China The Prisoner of Beauty:


1. Tentang Slow Burn Romance dan Chemistry 

Kalau Pengembara suka trope enemies to lovers, drama ini bakal benar-benar memanjakanmu dengan kisah Xiao Qiao yang bakal aku panggil Man Man aja ya ke depannya, dan Wei Shao.

Hal yang bikin hubungan Man Man dan Wei Shao terasa spesial adalah karena prosesnya dibangun dengan pondasi yang kuat. Mereka bukan tipe pasangan yang tiba-tiba jatuh cinta hanya karena beberapa tatapan dramatis atau adegan nyaris jatuh lalu ditangkap pasangan. Kebencian di antara mereka juga bukan tipe yang menggebu-gebu, kayak benci sampai mati gitu, bukan! Hubungan mereka berkembang lewat rasa hormat, pengertian, dan proses memahami luka masing-masing.

Awalnya memang penuh curiga. Wei Shao bahkan terang-terangan menolak keluarga Qiao dan selalu waspada ke Man Man, tapi tanpa sadar sejak pertemuan pertama Wei Shao yang awal menolak perjodohan pada akhirnya memang jatuh cinta pada gadis manis yang diintipnya di balik tirai saat dipertemukan pertama kali. 

Bayangkan pertemuan pertamanya itu, dia bilang, “Suruh pulang aja orangnya.” Lalu beberapa saat kemudian pas lihat Man Man, malah bilang, “Tapi kata nenekku .…”

Preeettt, adipati satu ini memang keras kepala tapi gampang luluh juga. Cuma ya, dia denial aja wkwkwk....

Tapi justru di situ serunya. Setiap konflik, salah paham, tarik ulur atau ancaman yang datang malah bikin mereka semakin mengenal satu sama lain.

Romance-nya sendiri termasuk slow burn yang sabaaar banget, tapi justru itu yang bikin berdebar. Dari yang awalnya canggung, asing, sampai akhirnya mulai saling peduli, entah kenapa semuanya terasa natural tapi bukan yang membosankan gitu.


Dan Wei Shao? Aduh, karakter satu ini memang gemasnya keterlaluan. Sok galak, sok dingin, tapi tiap salting malah jadi lucu sendiri. Liu Yuning cocok banget jadi Wei Shao, aku nggak bisa membayangkan kalau bukan dia yang jadi Wei Shao, apa aku bakal sesuka ini sama dramanya wkwkkw.

Salah satu momen paling ngakak tentu saja waktu dia melarang para jenderalnya untuk percaya ke keluarga Qiao karena katanya itu bikin orang jadi bodoh. Eh, padahal dia yang paling duluan kena efeknya wkwkwk. Terus adegan mereka berantem gara-gara apa ya itu, kalau nggak salah gara-gara surat Man Man yang diam-diam dibaca dan dimata-matai sama Wei Shao atau perkara datang ke tempat hiburan malam. Dduh aku lupa tepatnya yang mana.

Pokoknya adegan berantem ini jadi memori core di aku, apalagi pas Man Man bilang, Wei Shao tuh cuma kelebihan tinggi aja, semua serba kurang wkwkwk.

Well, salah satu alasan kenapa drama ini gampang bikin aku terbawa suasana adalah chemistry antar pemain yang kuat.

Bukan cuma chemistry pasangan utamanya yang tumpah-tumpah ya, tapi juga hubungan persahabatan dan hubungan antar karakter pendukungnya terasa hidup. Ketika empat sekawan muncul dalam satu frame, suasananya langsung berubah lucu. Interaksi mereka terasa natural banget sampai aku seperti ikut masuk ke circle mereka.

Wei Liang dan Xiao Tao juga sukses mencuri perhatian. Couple satu ini memang tipe yang bikin senyum-senyum sendiri tiap muncul. Bahkan aku dibikin nangis sama hubungan mereka di ending huhuhu ....

Pokoknya, drama ini punya kemampuan membuat karakter-karakternya terasa seperti manusia sungguhan, bukan sekadar alat penggerak plot.


2. Perkembangan Karakter 


Kalau nonton tipe romance slow burn gitu, memang hanya perkembangan karakter yang jadi kemudinya. Kalau nggak ada perkembangan karakter pasti bakal bosenin banget sih, apalagi aku sempat baca kalau drama ini membosankan bagi beberapa orang yang bilang kalau para pemain pendukungnya jelek, astaghfirullah, tobatlah wahai manusia. Bayangkan bakal di-rating sejelek apa drama ini oleh pencinta visual wkwkwk, tapi awas aja kalau bilang Ning ge jelek, aku sumpahin tiap malam mimpi diomelin Ning ge.

Oke, lanjut!!!

Nah, soal Man Man, dia mungkin bukan tipe female lead yang langsung bikin semua orang jatuh cinta sejak episode awal. Tapi semakin cerita berjalan, pesonanya makin terlihat. Untuk aku sendiri langsung terpana sih, dduh gadis ini cantik dan manis banget, jenderal dan Adipati mana yang menolak dinikahkan dengannya?


Dia ini cerdas, diplomatis, lembut, tapi tetap kuat, tenang dan tegas. Dia gambaran istri solehah banget, yang menunggui suami, merawat suami, menjaga aib suami dan bisa juga ngomelin suami. Dia bukan karakter yang hanya menunggu diselamatkan, banyak konflik justru selesai karena kecerdasan Man Man dalam membaca situasi dan keberaniannya mengambil keputusan.

Yang menarik, kekuatannya bukan ditampilkan lewat adegan overpower berlebihan dan adegan aksi berantem, melainkan lewat ketenangan dan cara berpikirnya. Aaah, Song Zuer udah paling cocok jadi Man Man.

Sementara Wei Shao adalah karakter yang sejak awal memang sudah kuat sebagai pemimpin perang. Tapi drama ini nggak membuatnya berubah jadi bucin tolol tanpa logika saat jatuh cinta. Dia tetap tegas, tetap berwibawa, tetap dingin ke orang lain, hanya saja perlahan belajar membuka hatinya. Nah, momen membuka hati inilah yang terasa bodoh bagi circle dan aku sebagai penonton wkwkwk.


Perubahan Wei Shao terasa memuaskan karena prosesnya panjang. Dari seseorang yang dipenuhi dendam, menjadi sosok yang perlahan belajar memaafkan demi orang-orang yang dia sayangi.

Dan jujur, Liu Yu Ning benar-benar cocok memerankan karakter ini. Aura dingin, tegas, tapi awkward soal cinta itu dapet banget. Pengin kantungin dia kalau lagi berantem sama Man Man, matanya ituloh berasa suami-suami takut istri wkwkwk.


3. Komedi yang Nggak Disangka-Sangka


Hal lain yang paling mengejutkan dari drama ini dan benar-benar bikin aku sampai harus ngecek lagi di MyDramaList soal masalah genre adalah komedi.

Dengan tema perang, dendam keluarga, dan politik, kupikir isinya bakal berat terus. Ternyata banyak adegan yang justru absurd dan bikin ngakak.

Humornya bukan tipe slapstick berlebihan, tapi muncul natural dari interaksi karakter dan dialog-dialog lucu. Apalagi tiap Wei Shao mulai salah tingkah gara-gara Man Man. Tatapan galaknya sering kalah sama tingkah paniknya sendiri. Para jenderal dan situasi di rumah Wei Shao saat kedatangan Man Man juga jadi humor dan hangat wkwkwk, walau masih diselipkan adegan penuh curiga.

Drama ini pintar kasih jeda ringan di tengah konflik emosional yang berat, jadinya aku nggak merasa lelah.


4. Emosinya Benar-Benar Sampai


Meski punya banyak adegan lucu dan manis, kekuatan terbesar The Prisoner of Beauty tetap ada di sisi emosionalnya. Ada banyak adegan yang bukan cuma sedih, tapi terasa menghantam kepalaku, karena rasanya udah terlalu terikat dengan konflik mereka.

Salah satu yang paling membekas tentu adegan ayah Man Man memberi penghormatan ke arah Negara Wei. Itu bukan sekadar adegan sedih biasa, rasanya kayak semua dendam, rasa bersalah, kehilangan, dan luka dari dua keluarga akhirnya tumpah dalam satu momen.

Pokoknya drama ini berhasil bikin konflik kedua keluarga terasa manusiawi, nggak lebay seolah-olah nggak ada yang mau mengalah. Sebenarnya nggak ada pihak yang sepenuhnya salah, mereka semua sama-sama korban keadaan dan tragedi masa lalu.

Makanya waktu emosi puncaknya datang di lima episode terakhir, rasanya intens sekali. Klimaks konfliknya kuat, sedihnya juga maksimal. Aku sampai susah move on berhari-hari setelah tamat.

Oh ya, ada tambahan juga soal villain yang benar-benar nyebelin dan bikin emosi. Jujur, villain di drama ini patut diapresiasi. Mereka bukan antagonis kosong yang jahat tanpa alasan.

Sebagian besar tindakan mereka lahir dari luka, ambisi, trauma, atau rasa iri yang sebenarnya masih masuk akal. Itu yang bikin konflik terasa lebih hidup.

Meski ya… ada juga tipe antagonis yang bikin aku geregetan karena nggak tobat-tobat, siapa dia? Ya, Lady Yu Lou. Dahlah, malas bahas dia.


5. Visual, Kostum, dan OST yang Mendukung Atmosfer


Secara visual, drama ini cantik banget. Kostumnya elegan, sinematografinya mendukung suasana, tone-nya lembut dengan nuansa merah-hitam dan adegan perang maupun laga dibikin cukup realistis tanpa CGI berlebihan.

Membahas The Prisoner of Beauty belum lengkap kalau belum bahas OST. Iya, OST-nya juga mendukung emosi cerita dengan baik. Beberapa lagunya benar-benar meninggalkan kesan setelah drama selesai....

Sampai sekarang, lagunya Liu Yuning yang berjudul Blazing Moon, Sheng Yu judulnya Snow Over the Ancient City dan Jing Long yang berjudul Springs Bloom. Well, masih banyak lagi, silakan cari sendiri dan rasakan megahnya drama ini lewat OST-nya.


***


Kelebihan dan Kekurangan Drama China The Prisoner of Beauty


- Kelebihan:

1. Alur rapi dan nggak monoton. Politik, perang dan romance menurutku dibagi rata.

2. Slow burn romance yang dibangun natural

3. Chemistry antarpemain sangat kuat, bahkan side characters-nya hidup dan memorable

4. Banyak adegan komedi yang lucu-lucu

5. Karakter utama berkembang dengan baik

6. Emosi dramanya ngena banget, kalau diajak nangis ya udah deh nangis aja huhuhu

7. Visual, kostum, dan OST mendukung suasana

8. Ending memuaskan, walau ada tumbal huhuhu


- Kekurangan:

1. Beberapa konflik akhir sebenarnya masih terasa agak diburu-buru, tapi bagiku ini sama sekali bukan masalah, hanya kasih tahu aja, siapa tahu aja kamu nggak suka ending yang agak buru-buru kan?

2. Buat yang nggak tahan sama pola slow burn romance, harus agak sabar, tapi bagiku slow burn romance mereka malah pas. Kayaknya nggak banyak deh orang yang dijodohkan di dunia nyata bisa langsung sat-set aja hubungannya, kecuali kamu nontonnya short drachin, yang ngewong dulu, hamil, baru nikah wkwkwk.


***


Kalau ada yang bilang lebih suka The Prisoner of Beauty dibanding beberapa drachin kostum sejarah di kisaran tahun 2025-2026, maka aku akan ada di tim itu. Kalau ada yang bilang TPOB jelek, hmm mungkin beda selera aja dan genrenya bukan yang begini.

Padahal bagiku, drama ini udah berhasil membuatku ikutan gemas, ikut jatuh cinta, ikut marah, ikut nangis, bahkan ikut memikul luka dari konflik dua keluarga yang sudah berlangsung bertahun-tahun.

Dan ketika sebuah drama berhasil membuat penontonnya merasa seperti bagian dari dunia mereka, rasanya wajar kan kalau akhirnya susah move on dan menjadikan dramanya sebagai favorit?


Kalau Pengembara punya selera yang sama denganku dan sedang mencari drama historical romance dengan trope enemies to lovers yang emosional, chemistry kuat, banyak momen lucu, dan karakter yang tumbuh bersama pelan-pelan, drama ini sangat layak masuk daftar tonton.

Slow burn-nya pelan, tapi begitu kena di hati … ya selesai. Susah keluar, seolah terpenjara. Bukan cuma Wei Shao dan Man Man yang dipenjara oleh cinta, aku pun dipenjarakan oleh kenyamanan saat menonton, walau dibikin darah tinggi sama para villain dan antagonisnya wkwkwk.

Terlebih, sebagai fans Liu Yuning jalur The Long Ballad, aku tentu akan mendukung dramanya dong. Sekian ulasan kali ini, mohon maaf kalau ada salah-salah kata ya, terima kasih sudah mampir.


Oh ya, karena aku suka buah mangga, kamu bisa banget dukung aku biar semangat nulis dengan traktir mangga di sini ya: https://teer.id/nurwahidah_bi

Komentar

Popular