Terbaru

Pro Bono (2025): Review Drama Korea tentang Hukum

Pro Bono (2025): Review Drama Korea tentang Hukum



Hai, Pengembara, aku mau bikin opening serius nih, soalnya ini drama hukum wkwkwkw....

Belakangan ini, drama legal Korea semakin berani mengangkat isu sosial yang dekat dengan realita. Bukan cuma soal pengacara hebat memenangkan kasus besar, tetapi juga tentang bagaimana hukum sering kali gagal melindungi orang-orang kecil.

Nah, drama Pro Bini eh Pro Bono ini bukan tipe legal drama yang penuh istilah hukum berat atau persidangan megah tanpa emosi ya. Kekuatannya ada pada kasus-kasus aneh, personal, dan kadang terasa absurd… tetapi menyimpan kritik sosial yang sangat nyata.

Langsung saja masuk ke ulasan selengkapnya dari drama tahun 2025 akhir tapi tamatnya pas awal Januari 2026 ini!!!


***


Info Drama 

Judul: Pro Bono

Sutradara: Kim Seong Yoon

Penulis Naskah: Moon Yoo Seok

Genre: Comedy, Law, Life, Drama

Pemain: Jung Kyung Ho, So Ju Yeon, Yoon Na Moo, Seo Hye Won, Kang Hyung Suk, Lee Yoo Young

Rilis: 6 Desember 2025 - 11 Januari 2026, tvN

Episode: 12

Durasi: 1 jam 13 menit

Rating Usia: 13+


***


Sinopsis Drama Korea Pro Bono:

Kang Da Wit adalah hakim nyentrik, cerdas, dan berani. Di balik citra bersih, etos kerja tanpa cela, dan popularitasnya sebagai legal influencer dengan ratusan ribu pengikut di media sosial, Da Wit sebenarnya didorong berambisi besar dan bersifat materialistis. 

Namun, keputusan-keputusannya yang kontroversial membuat banyak pihak tidak senang. Langkahnya menuju puncak kesuksesan mendadak hancur berantakan saat terseret ke dalam sebuah konflik besar yang memaksanya untuk menanggalkan jabatan sebagai hakim.

Dia terpaksa bergabung dengan Pro Bono, sebuah tim bantuan hukum nirlaba di bawah naungan firma hukum elit. Berbeda dari layanan hukum biasa, tim ini khusus bergerak untuk menangani kasus-kasus unik yang berpotensi menarik perhatian media.

Di tim inilah Kang Da Wit dipertemukan dengan rekan barunya, Park Gi Ppeum yang Karakternya adalah kebalikan dari Da Wit; dia seorang pencinta hukum yang ugal-ugalan dalam menyalurkan hasratnya. Begitu Gi Ppeum tertarik pada suatu hal, dia akan menyelaminya begitu dalam. 

Bagi Gi Ppeum, menjadi pengacara publik adalah sebuah misi suci untuk membela hak asasi manusia, mewujudkan keadilan sosial, dan menjadi sandaran bagi warga negara.

Bersama-sama, mereka berjuang memberikan bantuan hukum kepada para korban yang sudah tidak punya tempat lain untuk berpaling.


***


Rating 8.9/10 untuk drama hukum yang komedinya pas, sindirannya juga dapat eheheh.

Oh ya, jangan salfok sama salah satu poster yang ada gambar apelnya ya, itu apel bukan sembarang apek wkwkwkw.

Btw, salah satu kasus yang paling membekas di aku adalah tentang seorang anak disabilitas yang ingin menggugat Tuhan karena merasa nggak pernah meminta dilahirkan dalam kondisi seperti itu. Kedengarannya aneh, bahkan mustahil kan ya?


Baca juga: REVIEW DRAKOR MY NAME (2021): HAN SO HEE BALAS DENDAM

Review lainnya: REVIEW MISSING (2016): FILM KOREA GONG HYO JIN


Review Drama Korea Pro Bono:


1. Tema Hukum yang Dimasak Cukup Matang

Hal paling menarik dari Pro Bono adalah bagaimana drama ini menjadikan kasus hukum sebagai cermin kondisi sosial.

Kasus-kasusnya memang kadang kerasa terlalu dipilih demi drama, tapi semua pesannya jelas. Drama ini membahas bagaimana orang miskin hampir selalu kalah saat berhadapan dengan sistem hukum yang mahal dan rumit.

Kasus anak disabilitas yang mau menggugat Tuhan menjadi simbol paling kuat dalam drama ini. Bukan karena dia benar-benar ingin menang di pengadilan, melainkan karena dia ingin rasa sakit dan keberadaannya diakui.

Dan di sinilah drama ini terasa menyentuh. Yang sebenarnya menyakitkan bukan semata kondisi disabilitasnya, melainkan lingkungan sosial yang gagal menyediakan ruang hidup yang layak bagi dirinya.

Drama ini juga membahas hak perempuan atas tubuhnya sendiri, kehamilan remaja akibat tekanan sosial, hingga bagaimana masyarakat sering memaksakan moralitas atas nama agama atau tradisi.

Namun memang, di beberapa bagian drama terasa bermain aman. Ada isu yang awalnya tampak berani tetapi kemudian diselesaikan dengan cara yang lebih aman agar nggak terlalu kontroversial.

Meski begitu, tetap terasa kalau drama ini mencoba membuka ruang diskusi tentang hak, kebebasan, dan empati. Walaupun ada beberapa 'hal' yang kurang pas di aku sih. 


***


2. Kang Da Wit, Karakter yang Menjadi Jiwa Drama

Sulit membahas drama ini tanpa memuji penampilan Jung Kyung Ho (aku pun sulit karena masih patah hati dia putus sama Soo Young wkwkwk)

Karakter Kang Da Wit benar-benar menjadi pusat gravitasi cerita. Dia bukan tipe PU sempurna yang selalu benar. Kadang oportunis, bahkan manipulatif, tetapi tetap punya rasa kemanusiaan yang kuat.

Yang bikin menarik adalah caranya menangani kasus. Dia nggak cuma mengandalkan hukum tertulis, tetapi juga membaca psikologi hakim, moralitas lawan, dan kelemahan sistem itu sendiri.

Akting Jung Kyung Ho bikin karakter ini terasa hidup. Ekspresi wajahnya, bahasa tubuhnya, sampai gaya bicara sarkastiknya bikin setiap adegan terasa natural dan penuh energi kebarbaran. Serasa bukan aktingnya, kayak jadi diri sendiri aja wkwkwk.

Bahkan ketika cerita mulai goyah, karakternya tetap mampu membuatku bertahan.


3. Humor dan Drama yang Nggak Seimbang

Meski dipasarkan sebagai legal comedy, unsur komedi dalam drama ini cukup hit-or-miss.

Ada momen lucu yang berhasil banget, terutama dari dinamika tim pro bono yang penuh karakter eksentrik. Tapi ada juga bagian yang terasa terlalu berisik dan berlebihan sampai justru mengganggu emosi cerita.

Saat drama sedang membangun emosi serius, humor yang terlalu slapstick kadang terasa nggak pas. Kecuali pas Da Wit dikejar anjing ya wkwkwk, ini humor banget untukku.

Sebenarnya drama ini lebih kuat disebut drama sosial ketimbang komedi. Tapi, karena komedinya banyak dan tersebar pula, lalu mengingat selera humor tiap orang berbeda, kayaknya nggak salah juga kalau kasih label drama komedi ke drama yang bisa bikin aku ketawa ini eheheh.


***


4. Tentang Karakter dan Dialog

Semua karakter dalam drama ini punya luka dan kepentingan masing-masing.

Nggak ada tim yang benar-benar solid sejak awal. Mereka gampang curiga, gampang kecewa, dan sering salah paham. Terlebih si Gi Ppeum yang nyebelin banget di mataku, tapi justru itu yang bikin hubungan mereka terasa realistis.

Drama ini mau menunjukkan bagaimana kepercayaan yang baru tumbuh bisa runtuh hanya karena sedikit keraguan. Hmm, sedikit? Kayaknya pas kasus tim Pro Bono bekerja tanpa Kang Da Wit dan bikin timnya malah jadi tim Pro Bodoh sih itu gegara kepercayaan mereka yang hadeuh bikin capek pas ditonton.

Untungnya, perkembangan karakter-karakternya cepat dan cukup natural. Ada yang tumbuh menjadi lebih berani, ada yang belajar memahami orang lain, tapu ada juga yang tetap terjebak dalam ego sendiri.

Selain karakter, aspek yang bikin drama ini kelihatan serius walau genrenya komedi adalah banyak percakapan cerdas tanpa terdengar terlalu dibuat-buat. Ada kritik sosial, sindiran terhadap sistem hukum, hingga refleksi moral yang terasa relevan dengan kehidupan nyata.

Drama ini juga cukup jujur dalam memperlihatkan bagaimana hukum sering kali berpihak pada mereka yang punya uang dan kekuasaan.

Dan di sisi lain, drama ini menunjukkan kalau pengacara juga bisa menjadi alat perubahan, meski jumlah mereka terlalu sedikit untuk melawan seluruh ketidakadilan di dunia ini. Pengacara baik ya, catat, pengacara baik.


***


Kelebihan dan Kekurangan Drama Korea Pro Bono:

- Kelebihan:

1. Isu sosial dan kritik sosial yang kuat, relevan dan berani

2. Kasus-kasus hukum yang emosional, menarik dan membekas di aku

3. Akting Jung Kyung Ho sangat kuat

4. Dialog terasa cerdas dan hidup

5. Karakter-karakternya manusiawi dan nggak sempurna, meskipun bikin gemes sampai pengin kusentil ulu hatinya.





- Kekurangan:

1. Tone drama kadang terasa nggak konsisten, dikit-dikit humor, lalu drama, lalu nangis, lalu serius, lalu politik, lalu romance tipis, ah entahlah. Maksudku, dikasih waktu lah kami-kami ini untuk mencerna setiap kasus wkwkwk.

2. Beberapa subplot terlalu dramatis dan ada penyelesaian konflik yang terlalu aman

3. Beberapa karakter pendukung terasa berlebihan.


***


Sekian ulasan drama Korea Pro Bono, drakornya Jung Kyung Ho yang vibes-nya seru ala-ala Avengers saat tim Pro Bono berjalan bersama menuju ruang sidang!!!

Terima kasih sudah mampir ya, mohon maaf kalau ada salah-salah kata. Oh ya, karena aku suka buah mangga, kamu bisa banget dukung aku biar semangat nulis dengan traktir mangga di sini ya: https://teer.id/nurwahidah_bi

Komentar

Popular