Terbaru

Pursuit of Jade: Review Drama China Viral Tahun 2026

Pursuit of Jade: Review Drama China Viral Tahun 2026


Selama berbulan-bulan semenjak penayangan pertamanya, Pursuit of Jade terus viral. Bahkan di kalangan artis dan influencer, semuanya ter-Linghe-Linghe. Padahal menurutku, harusnya ter-Changyu-Changyu sih atau ter-Xiwei-Xiwei eheheh.

Drama China beberapa tahun terakhir memang sering menghadirkan tokoh perempuan kuat dan kisah cinta yang dibalut intrik politik. Sebut saja, Legend of Fuyao, A Journey to Love bahkan Fated Hearts dan Legend of the Female General.

Pursuit of Jade termasuk drama yang mencoba merangkul beberapa hal, mulai dari misteri masa lalu, perebutan kekuasaan, peperangan, kisah balas dendam, sampai romansa yang tumbuh perlahan.

Lalu, sebenarnya seperti apa kualitas Pursuit of Jade versi Kak Bi? Uhuy, di bawah ini ulasan selengkapnya.

***


Info Drama

Judul: Pursuit of Jade
Genre: Historical, Mystery, Romance, War
Jumlah Episode: 40
Sutradara: Zeng Qing Jie
Penulis Naskah: Zou Yue, diadaptasi dari web novel "Zhu Yu" (逐玉) oleh Tuan Zi Lai Xi (团子来袭)
Pemain: Zhang Ling He, Tian Xi Wei, Kong Xue Er, Deng Kai, Li Qing, Yu Zhong Li, Lin Mu Ran, Yan Yi Kuan
Tayang: 6 Maret 2026 - 26 Maret 2026, iQiyi, Tencent Video
Durasi: 45  menit
Rating Usia: 13+

***


Sinopsis Drama China Pursuit of Jade:

Fan Changyu adalah putri seorang tukang jagal yang hidup sederhana di sebuah desa. Kehidupannya berubah ketika menemukan seorang pria misterius bernama Yan Zheng.

Di balik identitasnya yang tampak biasa, ternyata Yan Zheng yang bernama asli Xie Zheng menyimpan rahasia besar yang berkaitan dengan masa lalu berdarah, kekuasaan kerajaan, serta misteri yang belum terpecahkan selama bertahun-tahun.

Hubungan keduanya perlahan berkembang dari pernikahan palsu demi menyelamatkan rumah Changyu menjadi ikatan yang jauh lebih dalam. Namun semakin dekat mereka, semakin banyak pula rahasia yang terungkap. Konflik keluarga, intrik politik, perang, dan dendam masa lalu terus menguji hubungan mereka.


***


Rating 8.6/10 aja untuk Pursuit of Jade yang sebenarnya cukup berhasil di banyak aspek penting.

Entah itu, chemistry pemeran utama, para karakter perempuan, visualnya pun memanjakan mata, dan alur cerita cukup bikin penasaran. Cuma, ada beberapa hal yang jadi catatan kecil untuk drama ini.


Baca juga: CITY OF STREAMER (2022): REVIEW DRAMA CHINA JING TIAN
Review lainnya: LOVE LIKE THE GALAXY (2022): REVIEW DRACHIN ZHAO LUSI DAN WU LEI


Review Drama China Pursuit of Jade:

1. Kehidupan Desa yang Sulit Dilupakan

Jujur, yang memantapkan aku menonton drama ini adalah setting desanya yang berseliweran di sosmed. Kayak apa ya? Unik aja, nuansanya bersalju, dekat aliran sungai gitu, rumah-rumah juga unik, bahkan aku suka suasana rumah Changyu dan sekitarnya.

Pas nonton di bagian awal pun drama ini terasa hangat, nyaman, dan hidup banget. Aku diajak mengenal para karakter satu per satu tanpa terburu-buru. Hubungan Fan Changyu dan Xie Zheng, eh ini aku nyebutnya Yan Zheng apa Xie Zheng ya? Hmm, Yan Zheng aja ya. Nah, hubungan mereka juga berkembang secara natural.

Nggak ada tuh cinta instan, nggak ada perasaan yang muncul begitu saja hanya karena takdir. Semua dibangun perlahan melalui interaksi sehari-hari, pelan-pelan cinta tumbuh karena terbiasa eyyaaak.

Bahkan setelah cerita berpindah ke konflik yang lebih besar, aku tetap menganggap bagian desa sebagai puncak terbaik drama ini dan berharap mereka semua cepat kembali ke desa dan hidup bahagia di sana.

Sayangnya, justru setelah meninggalkan desa, kualitas cerita mulai terasa naik turun di mataku eheheh.


2. Kolaborasi Karakter Chang Yu dan Yan Zheng

Aku nggak menyangka kalau karakter Fan Changyu menjadi salah satu alasan terbesar mengapa aku betah nonton Pursuit of Jade, bahkan saat episode-episode membosankan muncul sekalipun.

Dia ini bukan tipe tokoh perempuan yang cuma berdiri di belakang sang pahlawan. Dia berani, mandiri, cerdas, dan mampu mengambil keputusan sendiri.

Tian Xiwei tampil sangat meyakinkan. Perjalanan karakter Fan Changyu dari gadis desa biasa menjadi sosok yang mampu menghadapi berbagai tantangan terasa emosional dan menyenangkan untuk diikuti.

Namun di sisi lain, aku juga merasa Fan Changyu terlalu kuat. Sampai-sampai ada momen ketika dia bisa ambil keputusan militer dan bahkan terlihat jauh lebih hebat daripada para jenderal berpengalaman. Kekuatannya terlalu fiksi fantasi untuk ukuran drama romansa sejarah wkwkwk.

Kadang aku juga sempat bertanya-tanya, apakah pekerjaan sebagai tukang jagal memang bisa memberikan  kekuatan sebesar itu? Apakah ajaran bapaknya se-powerfull itu? Changyu makan apa sih kok bisa kuat ngangkat batu?

Meski begitu, karakter Fan Changyu tetap menjadi salah satu female lead historical terbaik tahun ini kok. Ya, walau keseimbangan cerita jadi terganggu sih, karena kemampuan Changyu berkembang jauh lebih menonjol dibanding Yan Zheng. Akibatnya, sang male lead justru terlihat pasif dan kehilangan aura yang sejak awal dijanjikan ke aku sebagai penonton.


Coba pikiran, di awal cerita, Yan Zheng ini diperkenalkan sebagai Marquis Wu'an yang ditakuti banyak orang. Sosok jenderal legendaris dengan reputasi mengerikan di medan perang.

Masalahnya, saat identitas tersebut akhirnya terungkap, aura yang dijanjikan nggak sepenuhnya terasa. Linghe berasa cuma lagi catwalk di dunia Pursuit of Jade doang wkwkwk.

Aku merasa Xie Zheng alias Yan Zheng versi Marquis Wu'an lebih sering disebut hebat daripada benar-benar diperlihatkan kehebatannya.

Alih-alih mendapatkan adegan perang spektakuler atau strategi militer yang brilian, fia justru lebih sering terluka, sakit, diselamatkan, atau sibuk menyembunyikan identitasnya. Tapi, setelah menonton episode 12-13 aku jadi tahu kegunaannya punya suami tamvan, yaitu biar bisa disewain sih wkwkwk.

Dan jujur saja, semakin lama rahasia identitas Marquis itu disimpan, aku semakin ingin masuk ke layar dan bilang, "Tolong kasih tahu Fan Changyu sekarang juga. Ini udah kelamaan."

Padahal Zhang Linghe sebenarnya tampil sangat baik sih. Dia tetap berhasil membuat karakter ini menarik, terutama dalam adegan emosional dan romantis. Sayangnya, penulisan karakternya nggak selalu mendukung. Kalau ada yang ikonik ya, adegan ciuman paksa waktu diancam cerai sama Changyu, adegan ngitung utang mantannya Changyu, adegan pulang perang dengan kostum ala Sun Gokong di kepalanya itu dan tentu saja pertempuran melawan pamannya sendiri.

Beruntungnya, chemistry Zhang Linghe dan Tian Xiwei bagussss banget. Mereka berdua punya dinamika yang sangat menyenangkan buat ditonton.

Ada rasa penasaran, ketegangan, kerinduan, dan kehangatan yang tumbuh secara bertahap. Hubungan mereka terasa dewasa karena dibangun melalui komunikasi, pengorbanan, dan rasa saling percaya.

Adegan romantis mereka juga berhasil menyampaikan emosi tanpa harus berlebihan. Aku suka adegan-adegan di mana Yan Zheng membela Changyu dari mantan tunangannya itu, sampe ngakak waktu Yan Zheng buka kertas tagihan utang keluarga mantannya Changyu eheheh, Zhang Ling He di sini aktingnya termasuk oke.


3. Second Couple yang Tidak Kalah Menarik

Sejujurnya lagi, aku udah sempat dapat bocoran soal second couple sebelum menonton. Soalnya aku nonton ini beberapa minggu setelah dramanya tamat, makanya kena spoiler tipis-tipis deh.

Termasuk soal Qi Min dan Yu Qianqian.


Setelah kutonton, Qi Min adalah karakter yang sangat menarik. Karakter ini bukan sekadar antagonis atau sosok abu-abu biasa. Dia ditulis dengan latar belakang yang cukup kompleks. Dia dingin, penuh dendam, manipulatif, tetapi juga menyimpan luka yang dalam. Paling penting, ganteng wkwkwk.

Deng Kai sebagai Qi Min benar-benar mencuri perhatian melalui karakter ini. Bahkan bagiku, Qi Min justru menjadi karakter paling menarik dalam keseluruhan drama.

Hubungannya dengan Yu Qianqian menghadirkan warna berbeda dibanding pasangan utama. Dinamika mereka jauh lebih rumit dan kelam. Kalau Changyu-Yan Zheng hubungannya sweet-romance, yang satu ini dark-romance. Qi Min maksa banget untuk memiliki Qianqian, tapi juga ada rasa benci aneh setiap kali Qianqian nolak dia. Couple ini beneran gila sih kalau kataku.

Sayangnya, hubungan mereka terasa kurang dieksplorasi secara maksimal. Ada banyak hal yang harusnya bisa digali lebih dalam, terutama mengenai latar belakang obsesinya terhadap Yu Qianqian. Masa iya, perkara ditolongin doang bisa sebulol itu? Proses Qianqian hamil anaknya juga terasa kosong.

Oh ya selain mereka berdua, hubungan Gongsun Yin dan Putri Shu juga cukup menarik meskipun nggak banyak dapat porsi cerita. Kalau mereka ini hubungannya tarik ulur gitu, slow burn romance. Hubungan mereka terasa manis, tulus, dan cukup emosional.

Well, jangan lupakan juga bromance Qi Min dan saudaranya, kakak beradik laknat ini jadi saingannya kakak beradik laknat lain dari drama Fated Hearts wkwkwk.


4. Visual Memanjakan Mata, OST Memanjakan Telinga

Kalau ada penghargaan untuk aspek terbaik drama ini, visual dan OST-nya layak masuk nominasi.

Kita bahas visual dulu deh. Mulai dari lanskap bersalju, tata warna, pencahayaan, kostum, sampai pengambilan gambar terlihat sangat indah. Beneran indah banget gaeess... Mengingatkanku sama indahnya pemandangan di drama Korea Can This Love Be Translated?

Di drama in banyak adegan yang kayak lukisan hidup. Tian Xiwei dan Zhang Linghe juga tampil sangat fotogenik di layar.

Musiknya juga menjadi nilai tambah besar dan menyelamatkan drama ini dari adegan-adegan membosankan. Lagu-lagu yang digunakan berhasil memperkuat adegan romantis, emosional, maupun adegan penuh ketegangan.

Jarang ada momen ketika musik terasa mengganggu. Sebaliknya, OST justru membantu memperdalam suasana dan membuat banyak adegan terasa lebih berkesan.

Ini kalau nggak ada OST yang enak kayaknya aku udah drop drama ini waktu Changyu nyariin Yan Zheng ke medan perang, karena di sini jujur agak lamban dan membosankan. Terima kasih sama lagu-lagu di drama ini yang benar-benar menemani sepanjang drama.

Btw, aku drop beberapa lagu yang kusuka ya, ada Pure As I Am yang lembut dan enak banget, dinyanyikan Yisa Yu, Among Thousands, I Seek Him dari Zhang Bichen, I Tread Carefully with Fate dari JJ Lin. Dan tentu saja si lagu utama yang vibesnya film romansa indonesia jadul yang enaaaak di telinga, A Single Thought dari Zhang Zining dan Li Xinyi.


5. Politik Oh Politik!!!

Drama ini sebenarnya punya fondasi yang kuat untuk menghadirkan konflik politik yang menarik. Sayangnya, banyak intrik yang terasa dangkal dan nggak berkembang maksimal, rasanya juga entah kenapa agak membosankan. Serasa jalan di tempat dan baru diburu-buru menjelang 10 episode akhir. Pokoknya kalau udah adegan di istana atau rumah si menteri apa itu, aku pengin skip adegannya aja wkwkwk.

Ketika cerita memasuki konflik besar dan peperangan, ekspektasiku otomatis meningkat dong. Sayangnya, hasil akhir kurang memuaskan.

Beberapa adegan perang terasa terlalu sederhana. Pertarungan besar yang seharusnya menjadi klimaks justru terlihat B aja.

Ada momen saat cerita terasa sedang membangun sesuatu menuju sesuatu yang epik, tapi waktu saatnya tiba, semuanya selesai lebih cepat dari yang diharapkan.

Inilah alasan kenapa aku merasa bagian akhir nggak sekuat bagian awal.


***


Kelebihan dan Kekurangan Drama Pursuit of Jade:

- Kelebihan:

1. Chemistry Zhang Linghe dan Tian Xiwei sangat kuat.
2. Bagian desa menjadi setting terbaik cerita.
3. Fan Changyu adalah female lead yang menarik dan berkesan, walau kekuatannya agak lebay
4. Deng Kai berhasil mencuri perhatianku sebagai Qi Min, padahal kesal banget sama dia di drama Follow Your Heart. Dia menakutkan tapi bikin penasaran juga sebagai Qi Min
5. Visual, kostum, dan sinematografi sangat indah.
6. OST yang enak didengar, mendukung suasana dengan baik. 10/10 deh buat lagunya.


- Kekurangan:

1. Karakter Xie Zheng alias Yan Zheng alias Adipati Wu'an kurang dimanfaatkan secara maksimal.
2. Tempo cerita naik turun, seru di awal, membosankan di tengah, bikin penasaran dan buru-buru di akhir. Kayak nggak rapi gitu.
3. Konflik politik kurang tajam dan kurang menarik
4. Adegan perang dan aksi besar mengecewakan, masa iya pertempuran akhirnya malah cuma begitu aja.
5. Beberapa pengungkapan rahasia terasa terburu-buru.
6. Bagian akhir nggak semegah yang dijanjikan cerita awal dan keseluruhannya nggak se-bagus yang dikatakan orang-orang. Ekspektasiku terlalu ketinggian.


***


Pursuit of Jade adalah drama yang nyaris menjadi salah satu drama historical romance terbaik tahun ini versi aku. Dia punya pasangan utama yang kuat, karakter perempuan yang berkesan, visual yang memanjakan mata, serta kisah cinta. Sayangnya, drama ini nggak mampu mempertahankan kualitas yang sama sampai akhir.

Meski demikian, Pursuit of Jade tetap merupakan tontonan yang sangat menghibur. Kalau Pengembara suka drama sejarah dengan romansa yang kuat, karakter menarik, dan visual yang cantik, drama ini layak banget masuk daftar tontonan.

Karena meskipun nggak sempurna, perjalanan Fan Changyu dan Xie Zheng tetap berhasil meninggalkan kesan yang sulit dilupakan. Aku pun bisa melihat dengan jelas bagaimana orang bisa ter-Linghe-Linghe, soalnya visualnya bar-bar sekali ya.

Well, meskipun aku lihat di sosmed banyak yang menghina Linghe dengan bilang dia jenderal ber-make-up, ya aku nggak bisa bohong dia terlalu rapi untuk ukuran jenderal perang ehehe. Tapi, ya visualnya nggak bisa disalahkan juga sih.

Oh ya, sebelum nonton drachin Pursuit of Jade aku juga ada baca becandaan yang bilang kalau Yan Zheng itu takut sama surat cerai dan bakal muntah darah kalau dikasih surat cerai. Faktanya dia nggak sesering itu diancam surat cerai sama Changyu dan juga nggak sesering itu muntah darah. Makanya aku heran, ini jokes datang darimana? Kupikir hampir setiap episode dia muntah darah, ternyata pas di awal doang dan pas momen berantem. Eheheh....

Lah, kok masih lanjut? Yowes, sampai sini saja ulasannya. Terima kasih.


Oh ya, karena aku suka mangga, kamu bisa banget dukung aku biar semangat nulis dengan traktir mangga di sini ya: https://teer.id/nurwahidah_bi

Komentar

Popular