Bayangan di Kebun dan Ranjang Sebelah: Dua Cermin Horor
Bayangan di Kebun dan Ranjang Sebelah: Dua Cermin Horor
Hai, Pengembara. Pada kesempatan kali ini, aku bawakan dua cerita mini bergenre horor misteri ya. Selamat membaca dua cermin horor di bawah ini:
***
1. Cerita Misteri Horor: Bayangan di Kebun
Malam itu, angin berdesir pelan di antara dedaunan yang lebat. Kebun samping rumah terlihat menyeramkan karena tak ada lampu. Jam di ponsel sudah menunjukkan pukul 10 malam, dan aku masih duduk-duduk di teras rumah sambil makan kuaci.
Karena besok libur, rencananya aku mau begadang. Selesaikan makan kuaci dulu baru masuk ke rumah. Saat sibuk menggerogoti kulit kuaci, sesekali aku bisa mendengar suara orang-orang di jalanan. Biasalah, ini malam minggu. Muda-mudi kompleks sedang mencari mangsa.
Beberapa menit berlalu, mendadak terasa hening. Aku sampai memeriksa jalanan dan sekitar.
"Apa sudah larut banget ya? Sepi banget ini, Ya Allah," gumamku dalam hati, sambil memelototi jalanan.
Aneh, motor pun tidak ada yang lewat, padahal tadi ramai-ramai saja. Tiba-tiba, dari kebun samping rumah terdengar bunyi-bunyian aneh di balik semak rerumputan.
Aku memperhatikan ke arah pagar tanaman yang tinggi, memeriksa apa pintu pagar kayu di kebun terbuka. Aku takut ada anak muda yang nakal dan mencoba tanam ubi di sana.
Sekelibat ada bayangan hitam besar tampak melompat-lompat, jantungku pun berdegup kencang ketika pada akhirnya bisa melihat sosok bayangan besar kehitaman itu. Sosok itu perlahan mirip seseorang tapi tidak jelas, karena gelap. Bokong ini mendadak berat, aku tidak bisa beranjak dari kursi untuk kabur.
Dengan bulu kuduk yang mulai berdiri, aku mendengar bunyi tepuk tangan dan aroma bunga melati lewat di hidung. Sementara itu, bayangan misterius masih ada di kebun samping rumah.
"Eh, Mairoh!" Aku terkejut melihat bapak yang tiba-tiba ada di samping, berdiri dekat pintu sambil berkacak pinggang. "Dipanggil dari tadi, tuli ya? Telingamu ketutupan kapas apa gimana nih?"
Aku segera berdiri dan tanpa bicara apa-apa langsung menunju sosok bayangan di kebun. Bapak menengok dan kembali mengomeli. Tepat saat bapak sibuk mengomel dan mengabaikan apa yang kulihat. Sosok bayangan tadi mulai semakin kentara di mataku saat tiba-tiba sekelilingnya dipenuhi asap putih tipis.
"Bapak, itu siapa di situ?"
"Apaan sih, dari tadi nunjuk-nunjuk!" ucap bapak sambil menengok dan terdiam sejenak. "Ah, palingan juga Pak Jono, lagi cari jangkrik."
Usai bicara begitu, bapak langsung menarikku masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu rapat-rapat.
***
Keesokan paginya, keluargaku diberitahu bahwa Pak Jono meninggal dunia bakda isya. Pak Jono adalah pemilik kebun kosong di samping rumah, kebun rimbun tanpa tanaman sayur. Hanya diisi pohon rindang tidak jelas dan rumput-rumput setinggi paha.
Aku terdiam dan hanya bisa mengingat sosok bayangan semalam.
"Pemakamannya jam berapa, Bapak?" tanya ibu.
"Jam 10," jawab bapak agak aneh. "Mairoh, semalam jam berapa lihat bayangan di luar?"
"Jam sepuluhan-lah. Bapak, apa jangan-jangan yang semalam kita lihat itu Pak Jono." Aku menatap bapak.
"Hah? Kenapa? Kalian semalam kenapa?" Ibu kepo.
"Aku nggak nyangka, meskipun udah meninggal, Pak Jono masih cari jangkrik!" ucapku menatap bapak. Ibu juga menatap bapak, pasti tidak paham dengan ucapanku.
"Mairoh, yang semalam kita lihat itu setan. Ngapain jadi Pak Jono nyari jangkrik. Otak ketutupan kuaci nih!" Bapak mengomeli, lalu melenggang pergi.
"Hiih!" seruku merinding, saat teringat bayangan semalam
TAMAT
Gorontalo, 15 Agustus 2024
Baca juga: DUA CERMIN HOROR DAN PUISI HOROR KAK BI
Cerpen lainnya: [SPOOKTOBER] DUA CERMIN HOROR: BAU KEMENYAN, PERJALANAN TENGAH MALAM
2. Cermin Horor: Ranjang Sebelah
Aku membuka mata dengan perasaan aneh, kepalaku terasa ringan dan kosong, entah kenapa rasanya aku linglung.
Kulirik adik yang duduk di bawah kakiku sambil bermain ponsel, ketika kupanggil dia segera mendekat dan bicara sesuatu. Tapi, aku tak bisa mendengar dengan jelas. Kemudian dia pergi melewati tirai hijau muda yang tampak berat menggantung mengelilingi sekitar.
Tak butuh waktu lama, seorang berpakaian putih, dengan beberapa pena di saku kemeja datang. Perlahan, aku mulai bisa mendengar suara dan mengedipkan mata beberapa kali mengikuti perintah orang itu. Sesaat kemudian, aku mendengar bahwa sekarang sedang berada di IGD, lalu tertidur begitu saja.
***
Suara batuk parah muncul dari ranjang sebelah, aku terbangun dan melirik ke arah kanan. Hanya ada tirai di situ, dengan bayangan tipis dari balik tirai.
Aku tidak ingat sudah berapa lama tidur, tapi yang pasti kali ini kepalaku sudah lumayan sesuai. Tidak terasa kosong, sepertinya kesadaran ini sudah kembali pada tempatnya. Aku duduk untuk memperhatikan suara batuk yang semakin parah, lalu bersahutan dengan suara mendengkur yang juga datang dari sebelah kanan.
Aku agak khawatir saat mendengar suara batuk itu, segera kubangunhkan adik yang tertidur di lantai. Begitu dia bangun, aku segera bertanya soal ranjang sebelah.
"Maksudnya, Kak? Kakak masih belum sadar ya?"
"Hah? Aku udah sadar kok, udah bangun. Ada pasien apa di sebelah? Kok dari tadi batuk, tapi yang jagain cuma tidur sampai mendengkur gitu?"
"Nggak ada pasien."
"Hah? Kamu nggak dengar suara batuknya? Itu keras sekali loh."
Adikku terdiam sambil memperhatikan tirai di samping ranjang. "Nggak ada apa-apa."
"Ya nggak apa-apa juga sih, namanya di IGD. Aku mencoba maklum."
"Kita udah pindah ruangan tadi pas kakak tidur."
"Oh ya? Ruangan kelas berapa?"
"Kelas dua."
"Hmma, ya udah kamu tidur lagi aja. Ambilin aku air dulu dong."
Saat adikku sibuk mengambil air, suara batuk kembali terdengar. Aku merasa kesal karena penjaga di sebelah tidak bangun untuk memberikan air putih kepada pasien yang sedang batuk parah itu.
Aku segera turun dari ranjang dan membuka tirai dengan cepat. Seketika terdiam, saat melihat hanya ada ranjang kosong di situ. Mendadak, lengan dan tengkukku merinding. Aku berbalik ke arah ranjang sendiri dan menatap adik sambil tersenyum pahit.
"Nggak ada pasien ya?" tanyaku yang disambutnya dengan anggukan.
Adikku mendekat dan membantuku naik kembali ke ranjang, kemudian segera menutup tirai dan mengembus napas berat.
"Pasien di ranjang sebelah, baru meninggal beberapa menit setelah kita pindah ke kamar ini. Dia kena serangan jantung karena istri yang sering jaga di sini, katanya kecelakaan dan meninggal dunia."
"Ooh ... gitu ya." Aku menunduk.
"Kayaknya, kemampuan kakak makin parah deh," gerutu adikku kembali ke karpet tempatnya tidur tadi. "Sekarang jam dua pagi, tidur lagi aja, Kak."
"Iya," ucapku berbaring pelan-pelan dan mulai menutup mata.
"Uhuk! Uhuk-uhuk!" Astaga, suara batuk itu muncul lagi.
Aku menoleh perlahan ke arah tirai, membuka mata sedikit demi sedikit dan melihat ada siluet misterius yang tampak duduk di ranjang sebelah. Demi ketenangan adik, aku memilih untuk mengabaikannya saja.
TAMAT
Gorontalo, 15 Agustus 2024
***
Sekian cermin horor kali ini, jika tidak seram, tolong diambil hikmahnya saja ya. Terima kasih banyak sudah menyempatkan waktu untuk membaca dua cerita misteri horor "Bayangan di Kebun dan Ranjang Sebelah."
Oh ya, karena aku suka mangga, kamu bisa banget dukung aku biar semangat nulis dengan traktir mangga di sini ya: https://teer.id/nurwahidah_bi
Komentar
Posting Komentar