Terbaru

Review Buku Jodoh yang Tersesat oleh Patrick Kellan

Review Buku Jodoh yang Tersesat oleh Patrick Kellan 


Sebenarnya aku tuh jarang tertarik baca novel percintaan remaja. Saat pinjam buku ini ke teman, pure buat bahan resensi aja ehehe...

Judul buku Jodoh yang Tersesat, mungkin kelihatan kayak kisah bucin remaja biasa, tapi setelah membacanya, aku harus mengatakan kalau novel karya Patrick Kellan ini lebih dari sekadar cerita cinta klise. 

Dengan gaya penulisan ringan, bercampur humor, dan pesan moral yang mendalam, buku ini berhasil jadi bacaan yang bukan hanya menarik bagi remaja, tetapi juga mungkin relevan untuk orang tua. 

Meskipun aku sempat drop selama berminggu-minggu, karena seharusnya ini masuk list yang aku review di bulan Februari 2026, eh malah nggak selesai baca karena ada beberapa alasan. Simak aja ulasan selengkapnya ya.


***


1. Identitas Buku

Judul: Jodoh yang Tersesat

Pengarang: Patrick Kellan 

Editor: Patrick Kellan 

Cover: Derra

Genre: Teen Lit, Romantis, Melodrama, Slice of Life

Penerbit: Patrick Kellan Publisher, CV.Josh Kellan

Tebal: 132 halaman

ISBN: 978-623-90855-2-0

Cetakan ketiga, Juni 2019


***


2. Tentang Pengarang

Patrick Kellan adalah penulis berbakat yang lahir dan besar di kota Bandar Lampung. Dia dikenal sebagai penulis yang memegang teguh prinsip hidup, "Diam lebih baik daripada banyak bicara tapi tak terlihat hasilnya." 

Memulai debutnya lewat platform menulis digital, Patrick memiliki gaya penceritaan yang kuat dengan ciri khas menyelipkan pesan moral mendalam di setiap karyanya.

Hingga saat ini, Patrick Kellan telah melahirkan berbagai karya populer, di antaranya:

- Buku Pertama: Kumpulan 15 cerpen menyentuh hati (Patrick Kellan’s Moral Code).

- Buku Kedua: Novelet dengan dua judul (Kisah Yang Tak Bisa Mati & Kisah Tertulis).

- Novel Ketiga: Jodoh yang Tersesat (Buku yang sedang aku bahas hari ini).

- Novel Keempat: Bukan Pernikahan Impian (Kolaborasi dengan penulis lain).

- Novel Kelima: Love Van Java (Kisah berlatar tahun 1920-an).

Semua novel di atas masing-masing punya pesan moral yang kuat di dalamnya

Seperti kata sang author.

"Biar raga kita saja yang mati, jiwa tetap menjadi penasihat bumi melalui tulisan-tulisan yang kita ciptakan dari hati."



3. Blurb

"Bhi, jodoh lu tuh." Kay menyikut pinggangku.

"Nyesek amat liat jodoh lagi pacaran."

Aku ikut tertawa memang. Tapi dengan mata masih menatap punggung dua orang yang semakin menjauh. Cowok cewek yang dibilang sebagai pasangan paling serasi di sekolah saat ini. Yang satu cantik dan mulai banyak dikenal, yang satu keren dan udah terkenal.

Padahal sejak peristiwa tabrakan itu aku langsung jatuh cinta.

Sialnya, sekarang statusnya masih pacar orang. Sakit? Iya. Tapi bukan masalah, karena saat ini bagiku dia cuma sedang mengarah ke hati yang salah.

Jodoh yang tersesat.


Baca juga: MENCARI AYAH: REVIEW BUKU PATRICK KELLAN

Review lainnya: LOVE VAN JAVA: REVIEW BUKU PATRICK KELLAN LAGI


4. Isi Resensi

Sebenarnya aku agak bingung untuk mengulas buku tipis ini eheheh. Well, secara garis besar, Jodoh yang Tersesat berpusat pada kehidupan Abhi, seorang pemuda sederhana yang harus berjuang keras di masa-masa akhir sekolah sampai awal kedewasaannya. Alur cerita bergerak cukup dinamis, memadukan manisnya masa muda dengan pahitnya realitas kehidupan.

Kalau setipis ini masuknya novelet kan ya?Kalau melihat jumlah halamannya yang di bawah 150 halaman, buku ini secara teori lebih pas masuk kategori novelet ya. Tapi, karena Bang PK sendiri menyebut karya ketiganya ini sebagai novel, mari kita bedah bagaimana novel tipis ini memotret konflik klasik .... 

Ya, novel ini memotret konflik klasik yang dikemas secara emosional. Ada konflik finansial dan keluarga, benturan Status sosial soal cinta antara Abhi dan Michie. Juga pengorbanan demi bakti.



Melihat covernya yang menampilkan latar belakang pesawat dan animasi sepasang remaja, kamu mungkin akan langsung menebak kalau ini adalah kisah klise tentang perpisahan remaja yang berujung salah satu merantau atau pergi. Karena aku juga mengira begitu wkwkwk ....

Ditambah judulnya yang bernuansa teenlit biasa. Namun, kejutan langsung diberikan sejak halaman pertama. Cerita dibuka dengan mengejutkan tapi agak aneh, lewat wejangan mendalam seorang ayah kepada anak lelakinya, Abhi, yang baru menginjak kelas 1 SMA dalam masa peralihan remaja. 

Sang ayah berpesan intinya ketertarikan pada lawan jenis adalah hal normal, namun jika nggak dikontrol akan merusak semuanya. Sebuah premis kuat juga ditanamkan di sini, "Jodoh itu dijaga, bukan dirusak."

Jujur, bagiku wejangan berat ini terasa agak berlebihan untuk anak yang baru lulus SMP, meskipun poin ini memang jadi fondasi utama bagi karakter Abhi di masa depan.

Perjalanan putih abu-abu Abhi juga nggak flat, dia ditemani dua sahabat setianya sejak SMP, Kay dan Dion. Di sekolah inilah Abhi jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Michelle alias Mawar alias Michie ehehehe. Sayangnya, cinta itu langsung layu karena Michie sudah punya pacar dan awalnya sangat menutup diri, bahkan nggak sudi didekati sama Abhi.

Perjuangan Abhi meraih hati Michie pun dimulai dan dikemas penuh humor khas anak sekolahan. Dinamika persahabatan trio Abhi, Kay, dan Dion sukses bikin tertawa walau agak alay dikit (ini masalahnya ada di aku ya, masa SMA-ku nggak seseru itu makanya kurang relate wkwkwk). 

Melalui sebuah 'insiden emosional', mata Michie akhirnya terbuka untuk bisa melihat ketulusan Abhi. 



Kalau novel remaja lain biasanya cuma fokus pada romansanya aja, Jodoh yang Tersesat justru meletakkan kekuatan terbesarnya pada hubungan keluarga, khususnya pilar karakter para Ayah. 

Bang PK dengan piawai menampilkan tiga karakter ayah dengan latar belakang dan cara mendidik yang berbeda. Ada ayah Abhi, sosok bersahaja yang sukses mendidik Abhi menjadi lelaki sejati, mengerti prioritas, dan tahu cara menjaga kehormatan wanita. Walau pada akhirnya masih nyisipin adegan peluk-peluk wkwkwkw...

Lalu ada Papi Michie, sosok keras dan protektif yang menuntut kemapanan materi demi masa depan putrinya. Serta Pak Samudra, sosok mentor yang bijaksana, kaya raya, namun sangat menghargai integritas dan tanggung jawab Abhi.

Terlebih setelah beberapa tahun lulus SMA, ujian berat menimpa Abhi saat ayahnya sakit keras dan butuh biaya operasi yang sangat besar, ini memaksanya mengubur ego dan bermimpi demi berbakti pada orang tua. 

Situasi makin rumit karena cintanya dengan Michie terhalang tembok perbedaan status ekonomi; Papi Michie yang kaya raya menuntut kemapanan, memicu konflik batin hebat yang mempertaruhkan harga diri Abhi. 

Puncak ketegangan pun terjadi dalam makan malam tiga keluarga, di mana Abhi mengambil keputusan pahit untuk menerima perjodohan demi membalas budi atas kebaikan Pak Samudra. 

Bang PK pada akhirnya berhasil mengemas plot twist di bab akhir lewat lompatan waktu, yang sempat menjebakku dengan perkiraan sad ending. Tapi, ya mending kau baca sendirilah ini happy ending atau nggak? Eheheh...


***


5. Kelebihan 

Salah satu kekuatan utama novel ini terletak pada kepiawaian Bang PK dalam meramu karakterisasi yang kuat dan terasa cukup manusiawi. Setiap tokoh dibangun dengan porsi yang pas tanpa ada yang sepenuhnya hitam atau putih. 

Abhi digambarkan sebagai protagonis yang cool namun tetap kayak remaja normal yang suka cabut kelas atau terlibat perkelahian. Seiring berjalannya alur, dia berkembang menjadi sosok pria idaman, mandiri, dan berprinsip yang menolak mengelola perusahaan 'mertuanya' demi merintis bengkelnya sendiri. 

Karakter Michie yang tulus dan berprinsip ingin jadi guru, duo sahabat Kay dan Dion yang menjadi support system menjadi penggerak plot, sampai pilar karakter para orang tua, seperti kebijaksanaan Pak Samudra serta transformasi emosional Papi Michie yang melarutkan egonya, kasih dimensi cerita yang sangat mendalam dan cukup menyentuh hati.

Hubungan yang kuat antar-karakter ini didukung oleh penggunaan sudut pandang orang pertama. Meskipun lewat blurb aku sempat mengira tokoh utamanya cewek eh nggak tahunya cowok.

Gaya penceritaan Abhi yang lugas dan apa adanya bikin seolah sedang diajak ngobrol langsung, bahkan secara spontan ikut menjawab pertanyaan batin yang dilontarkan di dalam buku. 

Dinamika ini menghasilkan elemen seimbang antara komedi segar anak sekolah, melodrama keluarga sampai romansanya itu sendiri. Di samping aspek hiburannya, novel ini kaya akan pesan moral walau bagiku terkesan agak menggurui sih.

Terakhir, dari segi kepraktisan, buku cetakan ketiga yang kupinjam dari bestie-ku ini punya alur cerita yang dikemas ringan dan nggak rumit. Dengan fisiknya yang cukup tipis, buku ini jadi pilihan yang sangat pas untuk orang yang sudah lama absen membaca. Juga buku yang cocok dibaca remaja atau orang tua yang punya anak remaja.



6. Kekurangan 

Kekurangan utama novel ini terletak pada benturan target pasar terkait faktor usia pembaca. Sebagai buku bergenre teenlit, kisahnya dipenuhi dinamika khas dunia sekolah seperti cinta monyet, perebutan gebetan, aksi cabut kelas, sampai perkelahian remaja. 

Bagi pembaca yang se-spesies kayak aku, jomlo 30-an tahun, fase kehidupan kita sudah jauh bergeser ke arah realitas yang lebih bikin mumet. Akibatnya, konflik remaja yang digambarkan seolah-olah mempertaruhkan hidup dan mati di dalam buku ini kemungkinan besar akan terasa sepele, kekanak-kanakan, dan kurang menggigit wkwkwkw.

Ketidakselarasan ini diperparah oleh porsi wejangan di bab-bab awal yang kurasa terlalu berat, teatrikal, dan kurang realistis aja. Kasih nasihat panjang lebar mengenai pernikahan dan jodoh kepada anak yang baru menginjak kelas 1 SMA terasa sedikit prematur dan dipaksakan. 

Gaya bahasa yang terkesan terlalu menggurui atau dramatis layaknya adegan sinetron ini memicu rasa bosanku makanya sempat berhenti baca selama berbulan-bulan.

Selain itu, novel ini pakai trope jodoh pasti bertemu yang cenderung klise. Bahkan aku pun punya tulisan dengan tema serupa ini, jadi ya gitu deh. Realitas hubungan asmara di dunia nyata jauh lebih kompleks daripada sekadar narasi bahwa jodoh yang tersesat pasti akan pulang dengan sendirinya.

Terakhir, format buku yang cukup tipis ini bikin penceritaannya terasa terlalu ringan. Bagi Pengembara yang terbiasa dengan perkembangan karakter, bakal merasa ini alurnya kecepetan tapi dialognya lamban.


***


7. Kesimpulan

Novel ini adalah sebuah bacaan melodrama-romantis yang cukup solid untuk remaja. Meskipun nggak jadi favoritku, buku ini masih berhasil menguras emosiku kok. Ini kalau aku baca saat masih remaja, pasti jadi salah satu buku terfavorit eheheh.

Buku ini bisa jadi panduan kecil buat remaja tentang bagaimana mencintai dengan akal sehat dan menjaga kehormatan, sekaligus jendela bagi orang tua untuk memahami bagaimana mendampingi anak-anak mereka melewati badai masa pubertas menuju kedewasaan. 

Rating 3 hati dari 5 hati untuk buku ini. Terima kasih sudah mampir, maaf kalau ada salah-salah kata. Oh ya, karena aku suka mangga, kamu bisa banget dukung aku biar semangat nulis dengan traktir mangga di sini ya: https://teer.id/nurwahidah_bi

Komentar

Popular