Kamu Percaya AI Detector? Are You Kidding? | Curcol Kak Bi
Kamu Percaya AI Detector? Are You Kidding? | Curcol Kak Bi
Belakangan ini, Kak Bi menyadari bahwa ada banyak pembahasan tentang artificial intelligence atau AI yang cukup menarik, tersebar di mana-mana. Selama ini Kak Bi cukup pasif mengenai pembahasan AI, khususnya AI di kalangan penulis karena malas saja ikut-ikutan arus. Ditambah memang sekarang jarang ber-sosmed karena kondisi fisik tidak stabil.
Saat menyimak fenomena dugaan penggunaan AI di beberapa platform penulis, Kak Bi menemukan sebuah hal menarik.
Bagaimana kalau kita bahas beberapa hal dari apa yang sudah Kak Bi baca di beberapa situs? Untuk kali ini, izinkan Kak Bi ikut-ikutan:
***
1. Tuduhan Pemakaian Artificial Intelligence dan AI Detector
"Dunia yang semakin digital ini, membawa manusia pada teknologi kecerdasan buatan atau Artificial intelligence yang semakin berkembang pesat."
Teeeet!!!
Tulisan di atas kemungkinan bakal terdeteksi AI karena dianggap kaku. Tapi, ya hanya Kak Bi dan Tuhan yang tahu kalau itu tulisan yang diketik karena terinspirasi banyak bacaan artikel atau tidak.
Tahu tidak, salah satu inovasi yang cukup menarik adalah Artificial Intelligence Detector atau AI Detector, alat ini konon katanya bisa mendeteksi apakah sebuah tulisan dibuat oleh manusia atau mesin.
Akan tetapi, pertanyaannya: Benarkah si AI detector ini bisa dipercaya sepenuhnya?
Coba bayangkan momen ini dulu: kamu adalah seorang penulis yang sudah susah payah membuat artikel atau menulis karya fiksi berupa cerpen dan novel. Semua ide, kata-kata, dan sentuhan yang ada dalam tulisan tersebut memang berasal dari jiwa dan dirimu sendiri.
Lalu, kamu memutuskan untuk menguji tulisan itu dengan AI detector, karena iseng saja dan apa yang terjadi?
Tadaaaa....
Tulisanmu dinyatakan sebagai hasil buatan AI. Padahal, kamu yakin 100% bahwa itu adalah karya orisinalmu.
Wah, tentu saja ini berbahaya.
Bisa dibayangkan apa yang akan terjadi kalau ada instansi atau orang yang melakukan cek hasil karya tulis memakai AI detector, terhadap tulisan kita dan hasilnya di atas 60% AI, padahal kita menulisnya sendiri. Semuanya akan berujung fitnah dan pencemaran nama baik. Apalagi sekarang ini, banyak manusia sok manusiawi yang sok bijak dan sok menilai tulisan orang lain sebagai AI hanya karena penggunaan tanda bacalah, kerapihan tulisan lah atau lain-lain. Makanya, terkadang ada yang mengandalkan AI content detector sebagai penyelesaian masalah.
2. Mengenal Positif Palsu dalam AI Content Detector
Setelah Kak Bi baca di internet (salah satu referensi https://undetectable.ai/blog/id/dapatkah-detektor-ai-salah/), ternyata kasus di atas bukanlah hal yang aneh dalam dunia konten AI. Inilah yang disebut dengan false positive atau positif palsu.
Nah, apa sih positif palsu dan apa bahayanya?
Sepenangkapan Kak Bi, positif palsu itu artinya sistem dari AI detector (yang juga robot) mendeteksi sesuatu yang sebenarnya tidak ada. Dalam konteks AI detector, positif palsu terjadi saat tulisan yang murni dibuat oleh manusia malah dianggap sebagai hasil karya AI dan hal ini tentu saja bisa bikin frustrasi, terutama bagi penulis yang bangga dengan orisinalitas karyanya atau mahasiswa yang memang mengerjakan tugas skripsinya sendiri.
Kenapa ini bisa terjadi?
Jawabannya sederhana, ya karena AI detector belum sempurna dan dia ini robot juga. Alat ini bekerja berdasarkan pola, algoritma, dan data yang sudah pernah dipelajari atau dilatihkan kepada mesin atau website AI itu sebelumnya.
Ketika tulisan kita kebetulan punya ciri-ciri yang mirip dengan pola tulisan AI yang pernah dipelajari oleh detektor tersebut, sistemnya bisa saja salah mengira bahwa itu adalah hasil karya dari mesin juga. (Baca referensi di sini: https://www.theblogsmith.com/blog/how-reliable-are-ai-detectors/ )
Sementara itu, Kak Bi yakin di dunia ini banyak manusia yang bisa menulis secara baik, tanpa typo, tanpa kesalahan penggunaan kalimat dan tanpa cacat logika. Pokoknya si perfeksionis yang lihat barisan barang di minimarket eh malah sibuk ngerapihin, manusia begini ada kok (👆).
Jika hasil tulisan dari manusia-manusia ini terbaca sebagai robot oleh AI Detector yang notabenenya juga 'mesin kecerdasan buatan', lantas harus bagaimana untuk membuat sebuah karya?
Haruskah dibuat cacat logika supaya tidak dianggap perfect? Atau haruskah mengacaukan susunan dan struktur kalimat, lalu diberi banyak typo? Haruskah tidak menyertakan sinopsis film, biar pembaca menghayal sendiri langsung dari kelebihan dan kekurangan sebuah review?
Atau, ya sudah tidak perlu menulis lagi saja. Huhuhu. Jujur, belakangan ini aku sengaja tidak mengedit typo di tulisan online-ku, biar tidak dianggap AI, padahal malas banget lihat tulisan sendiri jadi jelek begitu.
Sementara di luar sana, masih banyak juga kok penulis-penulis yang punya penyakit 'ketik dua kalimat, udah ada typo' atau 'menulis satu paragraf, rasanya ngantuk, makanya banyak tidak relevan dan malah catlog'.
Nah, harus bagaimana kami-kami ini, jika orisinalitas digantungkan pada leher AI detector? AI maker sejenis Chat GPT atau Gemini sejatinya juga mempelajari dan pakai pola manusia sebagai bahan amunisi mereka. Kasarnya, robot belajar dari manusia untuk membantu manusia, manusia yang minta bantuan maupun tidak minta bantuan dianggap pakai robot oleh robot yang belajar dari manusia. Nah loh, bingung kan?
Baca juga: CARA MENULIS ESAI ALA NURWAHIDAH BI: CURCOL KAK BI
Artikel lainnya: MENGENAL INFJ, SI KEPRIBADIAN LANGKA: ESAI KAK BI
3. Apakah AI Detector Benar-Benar Bisa Dipercaya?
Jawabannya agak rumit. Di satu sisi, AI detector ini mungkin memang bisa berguna untuk mengidentifikasi mana konten yang dihasilkan oleh AI, terutama di dunia akademik atau profesional. Tapi di sisi lain, kita tidak bisa mengandalkan alat seperti ini sepenuhnya. Malah menurutku jangan sih!
Sudah aku bahas sebelumnya, ada kemungkinan besar terjadi kesalahan dalam mendeteksi, terutama bagi tulisan-tulisan yang punya gaya tertentu atau pakai bahasa yang agak umum dan formal atau tulisan yang mirip dengan data pelatihan mesin AI atau AI detector itu sendiri.
Selain itu, AI detector juga bisa kewalahan gaes, dengan berbagai jenis gaya penulisan yang sangat bervariasi di antara manusia. Penulis yang punya kebiasaan unik atau gaya bahasa tertentu bisa saja terjebak dalam perangkap positif palsu. Tentu saja, hal ini bisa sangat merugikan dan bahkan merusak reputasi jika hasil deteksi tersebut dijadikan acuan tanpa dipertimbangkan secara kritis.
4. Contoh Hasil Pindaian AI Detector
Karena alasan satu dan lain hal, Kak Bi coba-coba melakukan beberapa pengujian website-website AI detector memakai tulisan Kak Bi sendiri dan hasilnya cukup mengecewakan.
Dari keempat website, menunjukkan tingkat persenan yang berbeda. Sebut saja, https://www.zerogpt.com/#google_vignette cerpen yang Kak Bi ujikan di sini mendapatkan 11,47% sebagai tulisan AI, https://smallseotools.com/id/ai-content-detector/ mendapatkan 99.95% adalah konten manusia, https://zerogpt.net/id mendapatkan dua hasil dari pilihan bahasa berbeda; yaitu 22.70% dalam website versi bahasa inggris dan 11.17% dalam website versi bahasa Indonesia sebagai konten AI, sedangkan https://plagiarismdetector.net/id/ai-content-detector khusus bagian Ai detector-nya dinyatakan 100% konten manusia.
Padahal cerpen yang Kak Bi ujikan adalah cerpen yang terinspirasi dari kisah nyata, soal kuda keluarga.
5. Fakta Tentang AI Detector
- Bukan hanya False Positives (Positif Palsu), ada juga namanya dan False Negatives (Negatif Palsu) yaitu sebuah keadaan di mana AI detector memberikan hasil yang tidak akurat, dengan menandai tulisan manusia sebagai buatan AI (false positive) atau sebaliknya, menandai konten AI sebagai tulisan manusia (false negative). Ini menunjukkan bahwa teknologi AI detector masih belum sempurna.
Kok ya nyuruh anak TK momong bayi? Piye toh?
- AI detector juga agak bias berdasarkan data yang digunakan untuk melatihnya. Misalnya, kalau lebih banyak data tentang gaya penulisan tertentu yang dipakai, maka detektor tersebut mungkin lebih sering salah menandai tulisan dari penulis dengan gaya yang mirip dilatihkan untuknya. Eh, ini paham nggak sih ya? Ah, pokoknya begitulah ya.
- Selain data tentang gaya penulisan, AI detector ternyata juga bekerja dengan mengidentifikasi pola-pola linguistik yang khas dari tulisan AI itu sendiri, seperti struktur kalimat yang terlalu sempurna atau penggunaan kosakata tertentu. Nah, berarti tulisan manusia yang juga mengikuti pola ini bisa saja keliru dianggap sebagai buatan si AI.
Apa kabar diriku yang sudah menulis memakai gaya novel terjemahan sejak 2015? Ini sejak publikasi tulisan, sebelum tulisan dipublikasi, masih dalam bentuk tulisan tangan yang ditulis sejak SD. Memang terinspirasi dari gaya formal dan kaku. Baru, setelah mengikuti event-event menulis, daku bisa belajar menulis dengan gaya bahasa yang berbeda-beda.
- Melihat hasil dari berbagai ujicoba yang Kak Bi lakukan di beberapa website, ternyata AI detector terbatas pada bahasa dan gaya penulisan yang kurang umum atau sangat kreatif. Sebagian besar AI detector berfungsi dengan baik pada bahasa Inggris atau bahasa lain yang didukung, dan bisa kurang akurat pada bahasa yang kurang umum.
AI detector mungkin sedikit lebih akurat untuk teks yang bersifat teknis atau serius gitu, dan kurang akurat untuk konten kreatif seperti puisi dan fiksi, yang biasanya sangat bergantung pada gaya penulisan setiap penulis.
***
Kesimpulan tulisan ini, AI detector bisa saja menjadi alat positif, tapi bagi mereka yang menggunakan AI detector harus hati-hati dan tidak terlalu mengandalkan hasilnya sebagai kebenaran. Perlu cek dan ricek lagi memakai perasaan sebagai manusia. Butuh editor manusia.
Sebagai penulis, jangan langsung panik kalau tulisanmu terbaca sebagai hasil karya AI ya. Nangis aja dulu huhu....
Itu bisa jadi sekadar kesalahan teknis saja atau bisa jadi secara tidak sadar tulisan-tulisanmu yang ada di sosmed dan platform tidak sengaja jadi bahan pelatihan si AI, sehingga gaya menulismu pada tulisan-tulisan selanjutnya bakal dikira AI juga.
Solusinya adalah membuat tulisan yang unik dan khas diri sendiri. Meskipun, kelak, suatu saat nanti tulisan-tulisan kita yang ada di sosmed dan platform bisa saja jadi bahan pelatihan AI. Ya, terus upgrade diri saja huhu....
Referensi:
- https://scholarlykitchen.sspnet.org/2023/09/14/publishers-dont-use-ai-detection-tools/
- https://surferseo.com/blog/how-do-ai-content-detectors-work/
Notes:
Sebenarnya, dulu tulisan ini harusnya dibuat sebagai tulisan MO. Tapi, karena bad mood aku bikin esai biasa aja. Alasannya adalah permintaan tiba-tiba dari pihak Opinia yang mengharuskan kami para penulisnya memakai AI detector pada tulisan-tulisan yang diunggah di Opinia sebagai tulisan Mitra Opinia, biar gaji bisa cair. Saat itu ada tuduhan beberapa penulis memakai AI untuk memenuhi jatah tulisan dalam sebulan.
Dduh, rasanya sakit sekali saat tulisanku dan para penulis lainnya mendapat tuduhan pemakaian AI karena detector si*lan yang bilang rata-rata tulisan kami ada di atas sekian persen dan berisiko gagal cair bonus.
Sejak saat itu aku benci banget sama AI detector dan orang-orang yang sok tahu dan suka menuduh kalau tulisan tertentu pakai AI. Aku malah nggak begitu benci sama orang yang pakai AI, aku malah benci sama tukang tuduh itu. Apalagi sekarang semakin banyak penulis dan pembaca yang beralih jadi tukang tuduh, daripada serius menulis dan serius membaca. Ckckcck~~
Btw, kamu Percaya AI detector? Are you kidding? Jangan jadi tukang fitnah deh!


Komentar
Posting Komentar