Terbaru

Cerpen Misteri: Lingkaran Mimpi

Cerpen Misteri: Lingkaran Mimpi 


Cerpen misteri, selalu menyajikan kisah misterius yang bikin pusing sendiri. Ada yang masalahnya terpecahkan di akhir cerita, ada pula yang berujung open ending.

Semuanya, tergantung selera, sama seperti Lingkaran Mimpi ini. Selamat membaca!


***


[Cerpen Misteri] Aku menatap Nur dan Ika, keduanya sudah tertidur pulas. Sementara diri ini, hanya bisa duduk di tepi tempat tidur sambil memperhitungkan beberapa hal.

Apa aku harus tidur memakai penutup mata? Haruskah kunyalakan lampu tidur di meja samping tempat tidurku? Atau aku menutup sebadan-badan dengan selimut saja.

Perlahan, teringat perkataan Nur tadi sebelum tidur. Untuk membiarkan semua masalah keluar dari kepala, melepaskan rasa rindu pada orang tua, supaya aku bisa tertidur pulas tanpa takut bermimpi buruk lagi.

Kutarik napas panjang, dan segera membaringkan badan. Aku mulai mengatur napas, dan mencoba untuk tidur. Sesekali merangkum kegiatan di asrama ini selama beberapa hari belakangan, sebuah kebetulan dan kenikmatan yang harus disyukuri aku bisa ada di sini bersama kedua sahabat.


***


Rasanya baru beberapa menit tertidur, aku langsung merasakan jatuh sehingga terbangun dengan napas tersengal-sengal. Aku melihat sekeliling kamar dan mencoba memastikan bahwa diri ini sudah benar-benar bangun. Karena beberapa malam setelah tinggal di sini, aku sering bermimpi aneh. Di dalam mimpi aku selalu terbangun di suatu tempat yang asing.

Syukurlah, aku masih di kamarku. Ini bukan mimpi, sebab Nur dan Ika masih tidur di tempat tidurnya masing-masing. Ya, walaupun perasaan aneh masih membekap, aku segera menarik napas dalam-dalam, meletakkan kepala ini kembali ke bantal, dan memejamkan mata.


Baca juga: CANDI HUTAN: CERITA HOROR FANTASI

Cerpen lainnya: CERPEN FANTASI GRATIS: PROYEKSI GAME


Hmm, hari sudah pagi ketika aku membuka mata. Akan tetapi ini bukan di kamarku. Aku sedang berada di sebuah tempat asing. Kali ini sebuah koridor panjang dengan dinding berwarna abu-abu kusam. Di sepanjang koridor, cahaya yang masuk dari sisi kiri lumayan terasa hangat. Di ujung koridor sana, ada pintu besar yang tampak agak, ekhm ... menakutkan.

Aku menoleh ke belakang dan rupanya di belakang hanya ada dinding kusam.

"Di mana ini? Tempatnya agak berbeda," gumamku sambil berjalan mendekati ujung koridor. Aku bisa merasakan detak jantung ini semakin kencang.

Setelah meraih gagang pintu dan membukanya perlahan, di balik pintu, ada sebuah ruangan besar dengan lemari antik berukiran aneh yang berdiri kokoh di tengah.

Di depan lemari itu, ada seorang laki-laki dengan pakaian rapi berdiri membelakangi lemari dan tersenyum kaku. Senyuman itu membuat bulu kudukku merinding. Dengan cepat, aku melangkah mundur dan rasanya seperti kehilangan pijakan, lalu jatuh ke bawah.

Saat itulah, diri ini terbangun. Aku tatap seluruh ruangan sambil terengah-engah, ah, aku sudah berada di kamar lagi, berkeringat dingin. Namun, ada yang aneh. Nur dan Ika tak ada di tempat tidur mereka. Aku segera bangkit dan melihat sekeliling, mencoba mencari dua sahabat itu. Saat itulah aku menyadari bahwa lemari yang kulihat dalam mimpi barusan ada di pojok kamar ini, dan tiba-tiba saja pintu lemari tersebut terbuka dengan sendirinya.

Dari dalam lemari, laki-laki aneh itu muncul lagi, kali ini sosoknya terlihat lebih besar dan mengerikan. Aku tidak bisa menahan diri untuk berteriak.

"Bangun! Bangun!" teriakku sekuat tenaga. Saat yakin bahwa masih bermimpi.

Akhirnya, mata ini terbuka juga dan terbangun sekali lagi. Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak menangis, air mata jatuh begitu saja. Aku menatap langit-langit kamar, untuk memastikan bahwa sudah benar-benar bangun. 

Kali ini, Nur dan Ika ada di tempat tidur mereka, tertidur pulas. Sambil gemetar aku duduk di tepian ranjang, memegangi kepala yang terasa pening. Aku mencoba menggapai air minum di meja yang ada antara tempat tidurku dan Ika, sambil mengingat mimpi buruk yang baru saja terjadi.

Begitu menggapai gelas, aku terkejut karena tangan ini menembus gelas. Ah, lemas seketika.

"Apa ini? Mama? Papa? Tolong!!!" Aku berjongkok di bawah meja, sambil menangis sesenggukan. "Apa aku masih bermimpi? Atau sudah mati?"

"Rina!" Suara itu membuat isakanku mereda. "Rina bangun!"

"Nur?" panggilku mencari-cari suara Nur yang terdengar seperti diredam oleh sesuatu. "Tolong, aku nggak bisa bangun! Tolong!" rengekku dengan kaki yang semakin lemas.

Aku terdiam untuk waktu yang lama, rasanya lama sekali terduduk di lantai. Sampai rasa lelah itu menyelimuti mata dan kepala, lalu memberatkan badan.


***


[Cerpen Misteri] Aroma minyak telon, dengan perihnya menembus mata. Aku terbangun dan mendapati Nur juga Ika dengan wajah yang sangat lega sedang menatapku lekat-lekat, kemudian beralih memeluk tubuh ini.

"Kamu bangun juga!" ucap Ika sambil mengelus kepala yang terasa agak pening.

"Aku mimpi buruk!" ucapku mulai menangis. "Ini kalian nyata kan? Aku udah bangun kan?"

Keduanya coba menenangkan, sambil memberikan air minum. Rasanya haus sekali, segera kutegak air itu dengan cepat dan minta tambah. Nur segera mengambilkan air lagi dan memberikannya kepadaku.


***


Pagi hari kala terbangun itu, aku langsung dipulangkan dari asrama. Rencana mengikuti pelatihan selama sebulan untuk program magang kandas sudah, karena kata salah satu rekan yang dekat dengan Ika, aku kemungkinan besar diganggu oleh penghuni kamar sebelumnya atau ada rahasia yang lebih kelam lagi soal bangunan yang kami jadikan asrama pelatihan ini.

Dengan berat hati, kutinggalkan Nur dan Ika. Keduanya juga minta dipindahkan dari kamar itu, karena takut setelah kepergianku justru mereka yang akan diteror.

Beruntung, usai meninggalkan tempat itu. Mimpi buruk tak lagi datang, aku bisa kembali tidur pulas tanpa gangguan. Melelahkan sekali rasanya terperangkap dalam lingkaran mimpi.

Tepat seminggu sudah aku meninggalkan asrama, akan tetapi hari ini agak terasa aneh. Aku menatap mama dan papa dengan seksama, dan menyadari sesuatu. Mama dan papa selalu melakukan kegiatan yang sama, keduanya juga selalu di rumah dan bahkan sudah seminggu di rumah ini, aku belum melihat nenek. Ke mana nenek? 

"Apa jangan-jangan???" bisikku perlahan.

"Jangan-jangan apa?" Nenek muncul dari belakang, aku tersenyum saat menyadari ada nenek dan segera memeluknya. "Kamu kenapa? Sudahi mimpi buruknya!"

"Nenek kemana sih? Aku cariin." Kuabaikan kata-katanya dan masih memeluk, menikmati aroma nenek.

"Hmm, nenek kan udah pergi. Nenek datang ke sini cuma mau ngasih tahu kamu untuk segera bangun. Buka pintu itu!" ungkap nenek terdengar aneh.

"Maksudnya?" Aku melepaskan pelukan sambil menatap wajah nenek yang berubah pucat.

"Kamu masih bermimpi! Bangun sekarang juga! Bangun Rina!"

Mendengar itu, tubuhku terasa ringan. Perlahan mama dan papa yang sedari tadi melihat dari meja makan menghilang, dan digantikan dengan sosok lelaki besar yang kulihat dalam mimpi seminggu lalu. Semua interior rumah pun berubah jadi lorong koridor, aku menjadi pusing dan mendadak mual.

Begitu aku muntah dan menutup mata, aku malah terbangun di sebuah tempat bergordeng hijau dengan selang aneh di hidung.

Mama dan papa berhamburan, sepertinya mereka bisa mendengar suaraku memanggil-manggil. Setelah dijelaskan, rupanya aku sudah tak sadarkan diri selama 6 hari dan hari ini adalah hari pemakaman nenekku.

Saat kutanyakan tentang pelatihan magang dan kenapa nenek meninggal? Mama dan papa malah tampak kebingungan.

"Ma? Kenapa?" Aku pun jadi bingung.

"Kamu kecelakaan waktu pergi ke asrama magang, Rina. Nenek kan ikut menemani kamu hari itu, kamu nggak ingat?" Mama mengelus pundakku. Rasanya aneh, kepala bagian depan seperti diketuk palu.

Apa ini? Apa ini mimpi? Apa aku masih belum bangun?


***


TAMAT 

Gorontalo, 24 Agustus 2024


Sekian cerpen misteri kali ini, kalau habis membaca ini kalian pusing? Sama, Kak Bi juga. Nulis cerpen misteri ini butuh 2 hari lebih gegara mual sendiri demi mikirin alur keliling mimpi ini.

Terima kasih banyak sudah menyempatkan waktu untuk membaca cerpen misteri Lingkaran Mimpi. Oh ya, karena aku suka mangga, kamu bisa banget dukung aku biar semangat nulis dengan traktir mangga di sini ya: https://teer.id/nurwahidah_bi

Komentar

Popular