Terbaru

Cara Menulis Esai Ala Nurwahidah Bi: Curcol Kak Bi

Cara Menulis Esai Ala Nurwahidah Bi: Curcol Kak Bi



Menulis esai sering dianggap sulit, padahal sebenarnya bisa dilakukan oleh siapa saja kalau tahu langkah-langkahnya. 


Aku sendiri dulunya juga tidak bisa menulis Esai, karena memang masih bingung membedakan opini dan esai. Tapi seiring waktu dan selalu belajar hal baru, setidaknya aku bisa menulis esai ringan.

Setahuku, esai bukan hanya sekadar tulisan, tetapi juga media untuk menyampaikan gagasan, opini, dan analisis secara meyakinkan. Agar esai tersusun rapi, jelas, dan berbobot, ada beberapa tahap penting yang harus diperhatikan.


***


1. Meyakinkan Pembaca dengan Data dan Fakta

Esai itu tidak hanya berisi opini mentah, tetapi juga didukung oleh referensi yang relevan. Bacalah beberapa sumber, baik dari media cetak, buku, maupun situs terpercaya. Lalu, tambahkan pertanyaan yang perlu diajukan, seperti:

- Apakah data ini bermanfaat bagi topikku?

- Apakah informasi ini memperkuat gagasanku?

- Apakah aku butuh sumber tambahan agar tulisan lebih lengkap?

Nah, harusnya sih semakin kuat data yang dipakai, semakin meyakinkan pula esai yang kita tulis.


2. Membuat Outline atau Kerangka Tulisan

Outline adalah peta jalan sebelum menulis. Dengan kerangka tulisan, kita bisa memastikan ide-ide yang ingin disampaikan itu jadi bagian yang lengkap dan tersusun logis. Outline bisa berupa:

- Kerangka topik yang berisi poin-poin ide utama.

- Kerangka kalimat yang lebih rinci, berupa kalimat lengkap yang siap untuk dikembangkan.

Ini fungsinya supaya esai tetap terarah, tidak keluar jalur, tidak tiba-tiba jadi banyak curcol tambahan dan tentu saja biar mudah dipahami pembaca.


Baca juga: REVIEW FILM COLLECTORS (2020): PARA PENGGALI HARTA KARUN

Artikel lainnya: ULASAN FASE: PATRICK KELLAN | REVIEW BUKU


3. Menulis Esai dengan Sistematis

Sebut saja kita mau menulis 1 artikel esai di blog. Setelah outline siap, mulailah menulis esai dengan struktur berikut:

- Pendahuluan: berisi pengantar dan pernyataan topik. Untuk artikel blog, ini bisa 1-2 paragraf pendek saja.

- Isi atau Pembahasan: mulai menjabarkan argumen, data, dan opini. Ini bisa jadi beberapa paragraf variatif, entah panjang atau pendek dan menyesuaikan saja dengan jumlah karakter atau jumlah kata untuk pembaca blog, supaya tidak kepanjangan atau tidak kependekan.

- Penutup: di sinilah tempat merangkum serta memberikan kesimpulan akhir yang kuat, soal hal yang sedang dibahas berdasarkan data-data yang ada.

Terlebih, gunakan bahasa yang baik, kalimat efektif, dan ejaan yang benar ya. Sebab, esai yang sederhana tapi jelas lebih disukai daripada tulisan rumit yang membingungkan.


4. Mengedit dan Menyempurnakan Esai

Tahap editing sangat penting supaya esai lebih berkualitas. Periksa beberapa hal, seperti:

- Apakah ide-ide sudah sesuai?

- Apakah diksi yang dipakai tepat?

- Apakah kalimatnya efektif dan tidak bertele-tele?

- Apakah ejaan dan tanda baca sudah benar?

Kalau perlu, tambahkan referensi baru untuk memperkuat argumen. Jangan lupa sertakan daftar pustaka atau catatan kaki agar tulisan lebih kredibel. Eh, tapi kalau untuk tulisan blog, sekadar link biru di sumber informasi sudah sangat cukup kok.


***


Menulis esai bukan sekadar mengeluarkan opini mentah, melainkan juga bagaimana kita mampu menyusun gagasan secara terorganisir, meyakinkan, dan logis. Dengan membaca referensi, membuat outline, menulis sistematis, dan melakukan editing, esai yang kita hasilkan tidak hanya rapi tetapi juga berbobot.

Nah, setelah membaca tulisan ini. Menurut Pengembara, ini termasuk Esai yang berbobot atau sekadar Opini curcol Kak Bi saja? Tulis alasanmu di kolom komentar ya .... Selamat menulis esai dan terima kasih sudah mampir.


Komentar