Review The Electric State (2025): Film Chris Pratt dan Millie Bobby Brown
Review The Electric State (2025): Film Chris Pratt dan Millie Bobby Brown
Sejak pertama kali diumumkan sebagai film Netflix dengan bujet lebih dari 300 juta dolar, The Electric State kayaknya langsung dibebani ekspektasi dari banyak orang.
Termasuk aku yang berharap ini akan jadi mahakarya sci-fi di tahun 2025, apalagi ini yang main 'kan Millie Bobby Brown. Well, kita ulas sama-sama aja ya.
***
Info Film
Judul: The Electric State
Genre: Action, Adventure, Comedy, Drama, Sci-Fi
Sutradara: Anthony Russo, Joe Russo
Penulis Naskah: Christopher Markus, Stephen McFeely, Simon Stålenhag
Pemain: Chris Pratt, Millie Bobby Brown, Woody Harrelson
Tayang: 24 Februari 2025 (Grauman's Egyptian Theatre), 14 Maret 2025 (United States)
Durasi: 128 menit
Rating Usia: 13+
***
Sinopsis Film The Electric State:
Berlatar tahun 1997 alternatif, The Electric State mengambil setting setelah perang besar antara manusia dan mesin yang mengubah wajah dunia. Robot-robot sisa perang kini terpinggirkan, hidup di wilayah terlarang, sementara manusia mencoba kembali ke kehidupan normalnya dengan teknologi yang semakin canggih.
Ceritanya berfokus pada seorang gadis remaja (Millie Bobby Brown) yang tanpa disadari memegang kunci penting bagi masa depan dunia. Dalam perjalanannya, dia bertemu dengan Keats (Chris Pratt) dan robot pendampingnya yang setia.
Bersama-sama, mereka melakukan perjalanan melintasi Amerika pasca-apokaliptik yang penuh reruntuhan teknologi dan sisa-sisa konflik lama yang belum benar-benar sembuh.
***
Rating 7/10 untuk film yang jauh di bawah ekspektasiku tapi masih seru untuk diikuti.
Film ini memang jauh dari sempurna, tapi menyebutnya film buruk juga rasanya nggak adil. Soalnya, perjalanan di film ini bukan sekadar petualangan fisik, tetapi juga perjalanan emosional tentang kehilangan, harapan, dan hubungan manusia dengan teknologi yang mereka ciptakan sendiri.
Baca juga: THE MOST BEAUTIFUL GIRL IN THE WORLD (2025): REVIEW INDONESIAN MOVIE
Review lainnya: REVIEW DRACHIN UNVEIL: JADEWIND (2026) | BAI LU MEMECAHKAN KASUS MISTERIUS
Review Film The Electric State:
Hal pertama yang paling mencolok dari The Electric State adalah dunianya. Russo Brothers jelas menginvestasikan sebagian besar bujet ke desain visual dan world-building-nya.
Robot-robot dengan desain unik, lanskap Amerika yang rusak namun artistik, serta atmosfer retro tahun 90-an terasa sangat kuat. Dari soundtrack samlai referensi budaya pop, film ini seolah mengajakku bernostalgia ke era analog yang dibungkus teknologi futuristik.
Unik sih, soalnya dunianya beneran ada tapi dari sudut pandang berbeda, di mana robot dan teknologi lebih dulu berkembang dibandingkan dunia asli kita sekarang.
Secara visual, CGI-nya halus, menyatu dengan berbagai aksi, dan nggak terasa berisik banget kayak film robot-robotan lain. Bahkan dibandingkan film sci-fi lain dengan tema serupa, The Electric State terlihat lebih rapi dan konsisten aja. Kalau ada yang bilang, uangnya kelihatan di layar, aku setuju sih wkwkwk.
Masalah utama justru terletak pada cerita. Film ini memulai kisah dengan sangat menjanjikan. Sepuluh sampai lima belas menit awal membangun latar dunia yang kaya dan penuh potensi konflik. Perang manusia vs mesin, trauma, serta nasib robot pascaperang seharusnya bisa jadi fondasi cerita yang dalam dan menggugah. Sayangnya, potensi ini nggak digali maksimal.
Alih-alih memperdalam konflik moral, film justru memilih jalur cerita yang lebih sederhana yaitu soal si gadis terpilih dan perjalanan menyelamatkan dunia dengan antagonis yang biasa aja. Akibatnya, cerita terasa aman dan cenderung datar, terutama di paruh pertama film yang bernuansa terlalu kekanak-kanakan bagiku yang merupakan penonton dewasa.
Namun di sisi lain, justru kesederhanaan ini nih yang bikin film masih mudah dinikmati. The Electric State seolah nggak mencoba menjadi film berat. Dia lebih mirip perjalanan santai yang mengajak otak beristirahat sejenak dari film-film yang penuh beban sosial dan politik itu.
Bapak Chris Pratt tampil cukup mengejutkan di sini ehehe. Karakternya terasa lebih self-deprecating dan nggak seheroik peran-peran sebelumnya. Humornya lumayan masuk dan bekerja, terutama saat berinteraksi dengan karakter robot yang disuarakan Anthony Mackie. Dinamika mereka menghadirkan nuansa bestie yang menyenangkan dan jadi salah satu kekuatan film ini.
Millie Bobby Brown, kurang punya bobot emosional untuk menopang cerita sebesar ini. Terkesan sebagai anak gadis pemberontak aja. Karakternya memang masih ada simpatiknya, tapi nggak cukup kuat untuk meninggalkan kesan mendalam.
Tahu nggak apa yang menarik lagi? Film ini jadi terasa seperti dua film berbeda. Paruh pertamanya sangat ringan dan hampir terasa seperti film anak-anak, sementara paruh kedua mulai menemukan ritme ribetnya. Saat dinamika para karakter mulai berkembang dan konfliknya memuncak, film justru terasa jauh lebih hidup.
***
Kelebihan dan Kekurangan Film The Electric State:
Kelebihan:
1. Visual dan CGI berkualitas tinggi untuk dunia The Electric State. Jadi salah satu yang paling menarik secara visual dalam film sci-fi Netflix.
2. Desain robot yang kreatif dan variatif. Seolah setiap robot terasa punya identitas sendiri, nggak sekadar figuran digital.
3. Nuansa retro sci-fi yang unik. Soundtrack, setting, dan referensi pop culture tahun 90-an kasih pendalaman dan bikin karakter unik pada film ini.
4. Meskipun nggak semua humornya cocok di aku, tapi aku beneran bisa ngakak sama beberapa humor lain. Jadi ini soal selera, tapi tetap aku masukin kelebihan karena memang berhasil menghiburku eheheh.
Kekurangan:
1. Cerita terlalu sederhana untuk skala sebesar ini, dengan bujet dan konsep sebesar ini, narasi terasa kurang berani aja sih.
2. Potensi dunia yang nggak digali maksimal. Latar perang manusia vs mesin hanya jadi tempelan, bukan inti konflik.
3. Tone yang nggak konsisten, bikin agak patah aja. Terlalu kekanak-kanakan di awal, baru menemukan arah di paruh akhir. Ditambah ada adegan ngobrol, yang mungkin mau melucu tapi malah garing, tapi beneran ada momen yang lucu kok. Cuma, porsinya agak membingungkan. Ini tuh film humor atau serius? Wkwkwk
***
Kalau aku menanggalkan ekspektasi berlebihan dan berhenti membandingkannya dengan film-film besar, sebenarnya film ini justru kasih suasana dan wajah lain yang cukup menarik.
The Electric State bukan film yang ingin menggurui, bukan juga tontonan filosofis berat. Ini beneran perjalanan emosional bernuansa retro sci-fi yang ringan dan penuh visual memanjakan mata.
Untuk ukuran film Netflix, The Electric State sudah berada di jalur yang tepat yaitu menghibur, ramah keluarga, dan nyaman ditonton tanpa harus banyak berpikir terlalu keras walau genrenya cukup berat.
Well, kadang, nggak semua film harus keren banget dan wajib mengubah dunia. Ada yang cukup menemani kita selama dua jam dan The Electric State melakukan itu dengan cukup baik, meskipun nggak jadi film terfavoritku dari Millie Bobby Brown.
Sekian review hari ini, jangan lupa komen ya~~terima kasih.




Komentar
Posting Komentar