Terbaru

Putri Dewirasih: Cerpen Fiksi Nurwahidah Bi

Putri Dewirasih: Cerpen Fiksi Nurwahidah Bi 


[Cerpen Fiksi Nurwahidah Bi] Di sebuah kerajaan bernama Suryakanta, hiduplah seorang putri bernama Dewirasih. Putri Dewirasih sangat terobsesi dengan buah manggis, dia bahkan ingin memakan buah manggis setiap hari.

Namun sayangnya, semenjak perang saudara beberapa tahun lalu, buah manggis menjadi langka di kerajaan Suryakanta dan kabar burung berkata bahwa buah manggis hanya bisa tumbuh di daerah yang jauh dari ibukota Suryakanta.

Putri Dewirasih memohon kepada ibunda ratunya untuk bisa melakukan perjalanan keluar istana, demi mencari buah manggis. Suryalestari, sang ratu kerajaan tentu saja menolak. Dewirasih adalah bungsu kesayangan, yang diperjuangkan dengan susah payah saat perang saudara. Melepaskannya pergi jauh hanya demi buah manggis adalah hal yang tidak menggambarkan tata tertib dan adat istiadat kerajaan.

Sebagai gantinya, Ratu Suryalestari berjanji akan mencarikan buah manggis khusus untuk Dewirasih. Asalkan putrinya mau menunggu setelah perjamuan utusan kerajaan Malaka selesai.

Putri Dewirasih murung di beranda kamarnya selama beberapa hari, dorongan untuk makan manggis sangat tinggi. Gadis berusia 18 tahun yang keinginannya selalu dituruti, pada akhirnya bertemu momen langka ketika keinginannya gagal dituruti.


***


Hari itu pun tiba, ketika Putri Dewirasih memutuskan untuk melakukan perjalanan diam-diam ke daerah yang didengarnya bisa menemukan buah manggis dengan mudah.

Putri Dewirasih memaksa dayangnya; Yangsina, untuk ikut kabur bersama. Dayangnya, tentu saja tak bisa menolak permintaan putri manja itu. 

Sore itu juga, dilepaskannya perhiasan emas dan perak yang terbalut di tubuh. Kain-kain sutra yang melilit tubuh digantikan dengan kain lembut khas para dayang. Beberapa benda mewah yang tertinggal di tubuh Dewirasih hanya tudung kepala sepanjang betis yang terbuat dari olahan kulit kayu dan kapas lembut. Serta kalung kecil dan cincin kesayangannya.

Tanpa sepengetahuan ratu Suryalestari, Dewirasih berhasil kabur meninggalkan istana. Dengan menyamar sebagai dayang istana dan pergi bersama Yangsina.


***


[Cerpen Fiksi Nurwahidah Bi] Dalama perjalanannya, Putri Dewirasih semakin menjauh dari ibu kota Suryakanta. Usai menaiki kereta kuda dan turun di perbatasan, Putri Dewirasih dan dayang Yangsina tak sengaja bertemu dengan seorang pria bernama Adi. 

Lelaki itu menjual kuda-kuda pacu untuk istana dan pasukan perbatasan. Adi adalah seorang penduduk asli daerah perbatasan dan dia sangat terkejut melihat seorang putri berjalan-jalan di daerahnya.

"Tuan putri!" Adi menunduk, hendak bersujud.

"Aku bukan tuan putri!" cegah Dewirasih dengan nada angkuh.

"Sebagaimana hamba melihat, hanya anggota kerajaan yang memiliki kalung megha angkasa dan suara tegas nan angkuh seperti ini." Adi menunjuk dengan sopan.

"Kau mengenali kalung ini?" Dewirasih menyentuh kalung kecil di lehernya.

"Ya, hamba adalah putra pembuat kalung kerajaan. Dulu ayahanda hamba bekerja di istana. Memberi sembah hor—"

"Tidak perlu!" Dewirasih menghentikan Adi melakukan sembah hormat. "Kuda-kuda ini bisa bertahan berapa lama dalam perjalanan?" Lanjutnya sambil memerintahkan Yangsina untuk memeriksa kuda-kuda di kandang.

"Tuan putri hendak pergi ke mana?" tanya Adi berdiri tegap.

"Ibundaku sekarang pasti sedang mencari keberadaanku, aku tidak akan bilang tujuanku ke mana!"

"Maafkan hamba, Tuan Putri!"

"Dewirasih, panggil saja begitu!" ketusnya.

"Putri Dewirasih," ujar Yangsina melarang sang putri bicara seperti itu.


Tiba-tiba, suara gemuruh liar terdengar, secara misterius suara itu muncul di hadapan Adi dan Yangsina. Semakin lama gemuruh itu terdengar semakin lucu.

"Aku lapar, apa kau punya sesuatu untuk dimakan?" Dewirasih memegangi perutnya sembari melirik Yangsina yang menatap dengan perasaan malu.

"Baik, Putri. Silakan masuk!" Adi berjalan menuju rumah di balik kandang.

"Bisa-bisanya perut putri sudah lapar, padahal tadi kita sudah makan bubur dan beberapa buah." Yangsina tertawa.

"Itu tidak mengenyangkan! Memangnya perut anggota kerajaan tidak bisa berbunyi begitu?" Dewirasih mengikuti Adi masuk ke dalam rumah.

Dewirasih pun dijamu oleh Adi dan keluarga. Adi tidak memberitahukan status Dewirasih karena permintaan sang putri. Dewirasih bahkan menyembunyikan kalungnya dan mengaku hanya seorang pengelana yang ingin membeli kuda.

Putri Dewirasih dan Yangsina tinggal bersama Adi dan keluarganya selama 2 hari. Karena perjalanan seharian lebih, mereka memutuskan beristirahat di perbatasan sebelum melanjutkan perjalanan.


Baca juga: PENJAGA PEDANG CAHAYA | CERPEN FANTASI TERBARU KELUARGA HERBURN

Cerpen lainnya: CERPEN MISTERI-FANTASI: PENJAGA KAPAL KARAM


Pagi ini, sebelum berangkat pergi melanjutkan perjalanan mencari buah manggis, Putri Dewirasih menemukan kulit manggis di meja dapur.

Dia pun bertanya kepada ibunda Adi, "Kenapa ada kulit manggis di sini, Bu?"

"Oh, ini buah manggis yang ibu beli tadi pagi dari pasar. Maaf, ibu tidak sempat menyimpannya untukmu, sebab Adi dan neneknya sudah menghabiskan semuanya."

"Ooh!" Suara Dewirasih lesu.

"Kamu mau buah manggis juga, Nak?" 

"Oh, buah manggis ada di pasar ya? Bukan di hutan atau di gunung?"

"Ya, buah manggis berasal dari sana, tapi dijual di pasar."

"Maksudku ... Apa di pasar kita masih ada? Di ibukota tidak ada yang menjual manggis." Putri Dewirasih teringat akan langkanya buah manggis di ibukota.

"Ya, kamu ingin ke pasar? Biar Adi yang mengantarmu."

Putri Dewirasih segera pergi ke kamarnya dan menemui Yangsina, dia mulai marah-marah dan menyebut dirinya sendiri 'bodoh'.

"Ada apa Tuan Putri?" tanya Yangsina perhatian sambil mengemasi barang-barang mereka.

"Yangsina, ternyata buah manggis ada di pasar ini. Kenapa kita harus pergi jauh, jika di pasar perbatasan ada buah manggis? Ah, aku sangat merindukannya," ungkap Dewirasih menunjukkan kulit buah manggis yang diambilnya dari dapur.

"Dewi ...," panggil Adi dari luar kamar. "Sina?"

"Ya?" Yangsina segera keluar dan memeriksa.

Adi pun segera mengajak Putri Dewirasih dan Yangsina untuk pergi ke pasar perbatasan usai diperintahkan oleh ibunya.


***


Di sana, Dewirasih melihat berbagai barang dan buah-buahan, termasuk manggis yang begitu dicarinya. Tapi, dia menyadari bahwa buah manggis dijual dengan harga yang sangat mahal. Dewirasih ingin makan sekeranjang buah manggis. Tapi, lima buah manggis dihargai dua keping emas. Dia mengira manggis di pasar akan sangat murah, ternyata sangat mahal.

Dewirasih bahkan tidak membawa satu keping emas pun, bagaimana bisa puas makan manggis dan membawa sisanya ke istana?

"Ini manggis dari hutan yang sangat jauh, hanya datang seminggu sekali. Besok sudah tidak ada lagi." Lelaki tua bertelanjang dada dengan rusuk mengintip di lapisan kulit itu membuat Yangsina mengernyitkan dahi.

"Apa kau mau menerima kalung untuk ditukar dengan sekeranjang buah manggis?" tawar Dewirasih kalap mata.

"Nyai!" seru Yangsina menegur Putri Dewirasih.

"Nyai? Kau memanggilku apa?" Putri Dewirasih mendadak kesal mendengar panggilan itu.

"Maafkan temanku, dia agak bodoh." Yangsina menarik Putri Dewirasih.

"Pergi dari sini jika tidak punya emas." Lelaki penjual manggis mengusir mereka.

"Aku belikan untukmu!" sergah Adi menyentuh lengan Putri Dewirasih dan Yangsina. Adi merasa bertanggung jawab dan membelikan manggis dengan dua keping emas. 

Sayangnya, Dewirasih sangat tidak puas dengan jumlah manggis di tangannya. Ketika dimakan, rasanya pun aneh. Ada yang busuk dan ada yang kecut. Semakin tidak puaslah dia atas kedatangan mereka ke pasar.


Putri Dewirasih yang murung, berjalan mengelilingi pasar. Dia perlahan berbaur dengan penduduk setempat, sesekali memperhatikan rakyatnya. Yangsina dan Adi mengikuti di belakang, seberapapun Dewirasih menyamar, aura Putri Kerajaan tidak bisa luntur begitu saja.

Di saat Putri Dewirasih hampir kehilangan harapan untuk mendapatkan buah manggis, muncullah seorang kakek tua. Dia memberi tahu Dewirasih tentang pohon manggis yang tumbuh di lereng gunung terlarang.

Putri Dewirasih, Adi, dan Yangsina setuju untuk pergi ke sana. Mereka segera pulang ke rumah Adi dan memulai perjalanan menuju lereng gunung dengan berkuda.


***


[Cerpen Fiksi Nurwahidah Bi] Hutan lebat, sungai yang deras, dan medan yang sulit berhasil terlewati. Dua hari perjalanan menjauhi perbatasan akhirnya mereka sampai di lereng gunung.

Dewirasih menemukan banyak pohon manggis yang begitu indah dan penuh dengan buah segar. Adi memetikkan beberapa buah untuk dimakan sang putri.

"Ah, ini enak sekali." Dewirasih merasa bahagia karena berhasil mencapai tujuannya. Dia kemudian duduk menyendiri di bawah satu pohon sambil menikmati manggis hasil petikan Adi.

"Terima kasih karena sudah membuat Tuan Putri tersenyum puas!" ucap Yangsina kepada Adi. Keduanya tersenyum canggung.

"Bagaimana rasanya menjadi dayang istana?" tanya Adi tiba-tiba.

"Melelahkan, apalagi Tuan Putri sangat nakal. Dia terlalu tangguh untuk dihadapi."

"Kau wanita kuat, Nyai Yangsina," puji Adi membuat Yangsina tersipu malu.

"Terima kasih. Itu sudah tugasku."

"Apa tuan putri tidak marah aku menyebut nama kalian hanya dengan sebutan Dewi dan Sina?" 

"Tuan Putri tidak peduli pada hal-hal seperti itu. Lihat dia, dia lebih suka buah manggis daripada bersabar menunggu jamuan kerajaan selesai."

"Jadi tujuan kepergian kalian dari istana adalah demi buah manggis?" Adi terheran-heran.

"Ya, Tuan Putri sangat menyukai buah manggis. Selama perang saudara, buah manggis membantu kami bertahan hidup. Beruntung ratu Suryalestari memenangkan perang itu. Tapi, setelah perang, dia terlalu sibuk untuk menjadi seorang putri dan selalu mengidamkan buah manggis," ungkap Yangsina mengembus napas lesu.

"Aku hanya tidak menyangka menampung seorang putri yang lari dari sangkarnya hanya demi buah manggis." Adi tertawa. Keduanya pun tertawa bersama. 

Dari kejauhan, Dewirasih melihat dayangnya tertawa lebar untuk kali pertama. Dewirasih tersenyum.

Dibantu Adi membuat keranjang dari daun lontar dan bambu, buah manggis dimasukkan ke keranjang untuk dibawa kembali ke istana.

Sebelum kembali ke kerajaan Suryakanta, Dewirasih meninggalkan satu keranjang di rumah Adi. Ditemani Adi, Dewirasih dan Yangsina pun pulang ke kerajaan.


Mungkin Anda sukai: POHON KERING DALAM GERSANGNYA HIDUP: PROSA KAK BI

Cerita fiksi lainnya: CANDI HUTAN: CERITA HOROR FANTASI


Begitu tiba di gerbang istana, pengawal berteriak histeris. "Putri Dewirasih sudah pulang!" 

Berlarilah dia tunggang langgang menuju aula istana. Istana mendadak ramai, putri yang sudah hilang hampir seminggu akhirnya pulang. Ratu Suryalestari menitahkan pencarian Dewirasih untuk dihentikan.

Ketiga orang itu dibawa ke aula istana. Dewirasih pun memperkenalkan Adi kepada Ratu Suryalestari dan menceritakan beberapa hal sebelum dirinya diadili di aula kerajaan bersama Adi dan Yangsina.

"Terima kasih sudah menjaga putriku yang tidak tahu aturan itu. Lama di hutan membuatnya lupa aturan kerajaan," ucap Ratu Suryalestari kepada Adi yang sedang bersujud sedari tadi.

"Sembah hormat hamba, Yang Mulia Ratu." Adi menundukkan badannya, kepala hampir menyentuh lantai.

"Karena kau sudah berbaik hati menolong dan menemani putriku. Serta membawanya pulang dengan selamat. Aku akan mengizinkanmu menikahi Dewirasih."

"Apa?" Adi terkejut.

"Apa?" Dewirasih juga terkejut, dia melirik ibundanya dengan bingung.

"Yang Mulia Ratu, hamba tidak ingin hadiah seperti itu." Adi bergegas menolak tawaran ratu.

"Kau tidak menyukai putriku? Sebelumnya, Dewirasih bilang kau adalah putra pembuat kalung istana, juga memasok kuda untuk istana."

"Ya, itu benar. Tapi—"

"Maka kau lebih pantas lagi bersama putriku."

"Tidak perlu seperti itu Yang Mulia Ratu." Adi masih menolak.

"Ibunda, hentikan. Kau membuatnya malu dan membuatku malu. Dia menyukai orang lain, jadi berhentilah." Putri Dewirasih berjalan menghadap ibundanya di tengah aula.

"Aku hanya ingin kau segera menikah, supaya berhenti berbuat onar." Ratu Suryalestari mengembus napas kesal.

"Ibunda mau menghukumku dengan pernikahan? Kalau begitu, jangan dia! Jangan Adi."

"Ah, kau sudah punya kekasih, rupanya," tebak ratu melirik Adi dengan sangat tajam.

"Tidak ada, Yang Mulia." Adi melirik Dewirasih kesal.


Dewirasih kemudian berjalan menuju Yangsina dan mendorongnya menuju tengah aula.

"Izinkan keduanya tinggal di istana, aku ingin Adi menjadi kepala pengawal kediamanku dan Yangsina menjadi kepala dayang kediamanku." Putri Dewirasih bicara seenaknya.

"Kau harusnya dihukum, bukan malah mendapat hadiah," cibir Sang Ratu.

"Ibunda ratu bisa menghukumku kapan saja."

"Dan apa saja?" Ratu menatap Putri Dewirasih penuh arti, disertai senyuman tipis.

"Ya!" jawabnya dengan napas berat. Para anggota kerajaan yang hadir di aula mendadak tertawa melihat Dewirasih si pemberontak tidak bisa berbuat apa-apa.

"Temui penasehat kerajaan Malaka, menangkan hati mereka karena perjamuan yang tertunda karena ulahmu itu."

"Baiklah!" patuhnya.

"Kau dihukum untuk makan manggis di kediamanmu selama seminggu tanpa keluar dari sana. Tidak boleh kemana-mana kecuali menemui penasehat kerajaan Malaka. Paham?" ungkap Ratu Suryalestari.

"Iya, Ibunda Ratu." Putri Dewirasih merasa puas dengan hukuman makan manggis itu.

"Yangsina dan Adi. Apa kalian mau dinikahkan?" Ratu tiba-tiba beralih pada kedua insan yang terjebak dalam situasi aneh karena ulah Dewirasih.

"Ah, hamba ... tidak tahu Yang Mulia Ratu. Maafkan hamba," ucap Yangsina takut.

"Maafkan hamba, Yang Mulia Ratu. Hamba bersedia menerima Nyai Yangsina sebagai istri." Ucapan Adi membuat Yangsina terperanjat.

"Sudah kubilang, kan!" ucap Dewirasih tertawa kecil sambil menikmati manggisnya.

Yangsina tidak bisa menahan ekspresi bingung. Raut wajahnya benar-benar menggambarkan kebahagiaan bercampur kesal. Adi yang sedari tadi bersujud di hadapan ratu, mendadak berdiri dan mendekati Yangsina.

"Apa kamu bersedia menjadi hadiah terindah dalam hidupku, Nyai Yangsina?" tanya Adi dengan tatapan penuh kesungguhan.

"Aku—"

"Dia bersedia, hanya malu saja," ejek Putri Dewirasih.

"Tuan Putri!" seru Yangsina sembari menutup wajahnya sendiri.

Tawa penghuni istana di aula kerajaan membawa nuansa hangat. Perjalanan Dewirasih memang menuai murka, tapi Ratu Suryalestari sama sekali tak bisa memarahi sang putri kesayangan. Apalagi, lamaran tiba-tiba di aula istana menjelma lakon seru yang manis untuk diikuti.


***


Epilog: Putri Dewirasih 

Putri Dewirasih tampil cantik, dengan hiasan kepala. Aksen batik dan bunga-bunga liar tersemat di pakaian mewahnya.

Duduklah Putri Dewirasih di sebuah gazebo kecil, di depan paviliun tamu kerajaan, sambil menyesap seduhan jahe dan kayu manis, menatap langit indah di peraduan sang semesta.

"Tuan Putri Dewirasih." Suara gagah yang muncul di belakang membuat Dewirasih terkejut.

Dia lekas berdiri, kemudian berbalik dengan angkuh dan menemukan pria berpakaian rapi, dengan hiasan melati dan kembang sepatu diikat di tali pinggang kulit. Kain batik terlilit manis, tersampir agak ke kiri. Rambutnya rapi, walau agak panjang.

"Penasehat kerajaan Malaka?" Dewirasih memastikan. Perlahan tak bisa menahan senyuman yang merekah, kala bertatapan dengan mata seluas bentangan cakrawala yang ditemuinya dalam perjalanan mencari manggis.

"Sutan, panggil hamba seperti itu, Tuan Putri." Ucapannya membuat Dewirasih tersenyum. Seketika, lelaki tampan di hadapannya membuat Dewirasih ingin mengenalnya.

Dengan ragu dia bertanya, "Apa kau suka manggis, Tuan Sutan? Apa di negerimu banyak manggis?"

Tuan Sutan terkekeh mendengar pertanyaan Putri Dewirasih, para dayang kediaman Dewirasih yang berdiri agak jauh dari gazebo hanya bisa menggeleng dan mengembus napas berat sambil menahan tawa.


***


TAMAT 

Gorontalo, 29 Desember 2023 (direvisi April 2026)


Komentar

Popular