Terbaru

Review Series Fate: The Winx Saga (2021-2022), Live Action Winx Club

Review Series Fate: The Winx Saga (2021-2022), Live Action Winx Club


Bloom, Musa, Stella dan Flora, nama-nama ini tidak asing bagi penggemar animasi Winx Club dari Nickelodeon. Beruntungnya, serial animasi ini pernah diadaptasi menjadi serial live action di Netflix.

Ayo, temenin Kak Bi mengulas serial live action dari Winx Club ini!


***


Info Series

Judul: Fate: The Winx Saga

Dibuat oleh: Brian Young berdasarkan Winx Club oleh Iginio Straffi

Genre: Drama, Supranatural, Aksi, Dark fantasy, Remaja, Petualangan

Pemain: Abigail Cowen, Hannah Van Der Westhuysen, Precious Mustapha, Eliot Salt, Elisha Applebaum, Danny Griffin, Éanna Hardwicke, Freddie Thorp, Rob James-Collier

Rilis:

- S1 22 January 2021

- S2 16 September 2022

Jumlah Season: 2

Episode: 13 (S1 6 + S2 7)

Durasi: 47–53 menit

Negara: Britania Raya

Rating Usia: 18+


***


Sinopsis Serial Live Action Fate: The Winx Saga Season 1:

Bloom, adalah peri berkekuatan api yang dibesarkan di bumi dan pergi ke Alfea di Otherworld untuk belajar mengendalikan kekuatannya.

Di Alfea, Bloom bertemu dengan teman-teman sesama peri seperti Stella; si peri cahaya, Aisha; si peri air, Terra; si peri bumi dan Musa; si peri pikiran. 

Alfea adalah sekolah asrama magis di Otherworld. Di sana, para murid harus belajar mengendalikan dan menguasai kekuatan sambil menghadapi cinta, persaingan, dan monster-monster yang mengancam hidup.

Seiring waktu, saat para siswa di Alfea menjelajahi kekuatan dan pencarian jati diri. Bloom dan Stella bekerja sama untuk sebuah misi, berbarengan dengan itu muncul teror sosok Burned One di Otherworld.

Saat Bloom mulai menyelidiki masa lalu, dia juga menemukan memori penting yang menjadi penghubung masa lalunya dengan masalah di masa kini. Di saat yang sama, Saul Silva si pelatih anggar yang terluka oleh Burned One pun membagikan sebuah rahasia. 

Setelah kejadian itu, para penghuni Alfea semakin waspada. Pada akhirnya, kondisi Saul Silva tetap memburuk meskipun Burned One telah dibunuh, ini mengisyaratkan bahwa masih ada yang lain. 

Bloom dan teman-temannya bersatu untuk melawan Burned One hingga Farah Dowling datang untuk menghabisinya.


Sinopsis Serial Live Action Fate: The Winx Saga Season 2:

Season 2 serial live action ini dimulai dengan Bloom yang masih terguncang setelah menemukan rahasia tentang kehidupannya. Sementara itu, kehidupan di Alfea pun semakin rumit dengan datangnya wajah-wajah baru pembawa tantangan bagi para murid.

Setelah kejadian mengejutkan di season 1, kini para murid juga harus menghadapi dampak emosional dari hilangnya Farah Dowling dan kedatangan Rosalind. Kemudian, saat persiapan pesta alumni, Stella sang Putri Solaria juga bertekad untuk mengungkap sifat asli Rosalind.

Sampai pada suatu malam, berita mengejutkan tentang Beatrix yang diculik oleh Blood Witch merebak. Sky, Riven dan Musa coba untuk menyelamatkan Beatrix. Alfea jadi berantakan dengan berbagai tipu daya yang bermunculan, hingga Bloom yang kehilangan kendali atas kekuatannya.

Di mana ada Blood Witch yang terus melancarkan rencana dan membuat para murid harus melindungi sekolah dan teman-teman. Bloom pun dihadapkan pada pilihan yang berat.


***


Review Serial Live Action Fate: The Winx Saga - Rating 7.5/10 untuk season 1 serial live action ini. Sedangkan untuk season 2 aku kasih 5.8/10 aja. 

Lah, kok jomplang gitu rating-nya? Ya, entahlah. Ya, begitulah.


Baca juga: REVIEW STRANGER THINGS SEASON 1-4 (2016-2022), REKOMENDASI SERIES NETFLIX

Review lainnya: [SPOOKTOBER] GUILLERMO DEL TORO'S: CABINET OF CURIOSITIES | REVIEW SERIES NETFLIX


Review Serial Live Action Fate: The Winx Saga; Berkenalan dengan Para Karakter

1. Jika di versi Winx Club Bloom adalah seorang peri naga api yang berasal dari planet Domino padahal dibesarkan di bumi, di serial live action-nya Bloom adalah peri api yang dibesarkan di bumi oleh orang tua manusia dan saat menyadari bahwa kekuatannya berbahaya, Bloom pun pergi ke Alfea di Otherworld. Singkat, padat, jelas dan biasa aja.


2. Stella, dalam Winx Club adalah si peri cahaya yang memakai kekuatan matahari dan bulan. Sementara di serial live action ini, Stella adalah peri cahaya yang fashionable, manja dan mantan pacar si Sky yang sebenarnya kurang suka akan keberadaan si Bloom. Dia adalah putri dari Solaria dan anak Ratu Luna.


3. Aisha dalam Winx Club adalah peri ombak yang bisa mengendalikan cairan dan merupakan Putri Mahkota Andros. Akan tetapi, dalam Fate: The Winx Saga, Aisha adalah peri air atletis dari Andros dengan pemikiran praktisnya.


4. Terra Harvey adalah sosok yang agak beda, seingatku dia tidak ada di Winx Club. Setahuku cuma Flora si peri bumi yang sensitif dan pemalu. Sayangnya, Flora muncul hanya di season 2 (kayaknya setelah diprotes penonton saat season 1 tayang deh) sebagai sepupu Terra dan Sam yang penuh rasa optimis dan dengan cepat Flora bisa bergabung dalam grup Winx.

Oke, kembali ke Terra, dia kebalikan dari Flora versi live action. Sesosok peri bumi yang canggung, dibesarkan di Alfea tapi punya masalah sosial.


5. Satu lagi yang berbeda kali ini, yaitu Musa si peri musik. Di mana dalam Winx Club, Musa adalah sosok yang mengendalikan musik dan gelombang suara. Tapi, di serial live action-nya, Netflix malah mengubahnya menjadi peri pikiran. Musa bisa merasakan pikiran dan emosi orang-orang. Karena itu dia menjadi kesulitan, sehingga seringkali menjaga jarak dengan orang lain.


6. Sky kalau di Winx Club itu merupakan pacar Bloom, juga pangeran mahkota Eraklyon sekaligus pemimpin The Specialist. The Specialist adalah pejuang laki-laki yang berlatih di sekolah Red Fountain.

Sementara dalam versi live action, Sky adalah salah satu The Specialist yang paling terampil, dan merupakan putra Andreas dari Eraklyon. Tapi, dia dibesarkan oleh ayah angkatnya, Saul Silva. Sama seperti dalam Winx Club, Sky juga tertarik pada Bloom.


7. Sosok Beatrix juga sosok yang berbeda dari versi animasinya. Dalam serial live action-nya, Beatrix adalah peri yang bisa memanipulasi listrik dan sangat tertarik dengan sejarah kelam Alfea dan tahu lebih banyak hal-hal tentang Bloom. Dia juga putri adopsi dari Andreas.

Beatrix ini sepertinya diadaptasi dari Tecna si peri teknologi, dengan kekuatannya berupa memori fotografi, energi mesin dan sains.


8. Riven dalam Winx Club adalah anggota The Specialist yang kompetitif dan keras kepala, karena sang ibu meninggalkannya saat lahir, Riven cukup waspada terhadap perempuan.

Akan tetapi dalam serial Netflix ini, Riven digambarkan sebagai sosok yang cuek dan genit. Dia juga sahabat Sky dan terlibat cinta segitiga nan terlarang antara Beatrix dan Dane.


***


Kelebihan Series Live Action Fate: The Winx Saga Season 1 dan 2

Serial Fate berusaha menghadirkan cerita yang lebih gelap dan dewasa, tapi tetap mempertahankan elemen-elemen fantasi dari versi animasinya.


Kelebihan Season 1:

- Secara sinematografi kuakui ini indah, bahkan lokasi-lokasi 'tergelap' juga punya daya tariknya sendiri. Serial ini berhasil menampilkan visual menawan dengan efek CGI yang memukau. Lingkungan Alfea dan dunia magis Otherworld terasa hidup, hanya saja dengan versi yang lebih gelap daripada Magic Dimension-nya Winx Club yang penuh warna.

- Ceritanya menarik, meskipun berbeda dari versi aslinya, plot yang disajikan cukup oke untuk diikuti dan twist-nya juga cukup segar. Apalagi chemistry antar pemain juga baik.

- Sebenarnya, aku suka bagaimana serial ini mengangkat tema yang lebih kompleks, seperti konflik keluarga dan pencarian identitas. Ini terasa lebih relevan dengan remaja dan dewasa nanggung kayak aku gini.


Kelebihan Season 2:

- Pada season ini pengembangan beberapa karakter memang jadi lebih baik, di mana Netflix memberikan kesempatan bagi karakter lain, seperti Aisha, Terra dan Stella untuk tumbuh dan berkembang.


- Dibandingkan season 1, cerita di season 2 memang rasanya lebih menarik karena alur cerita yang lebih terarah. Drama dan konflik yang dihadirkan juga lebih mendalam, meskipun masih banyak elemen yang terasa kurang.

Bahkan di season ini Netflix kasih momen-momen nostalgia dengan menampilkan adegan saat para peri menggunakan sihir mereka bersama-sama, lengkap dengan transformasi sayapnya. Mantap.


***


Kekurangan Serial Live Action Fate: The Winx Saga Season 1 dan 2

Ada kelebihan, tentu saja ada kekurangan. Di bawah ini kekurangan season 1 ya:

- Tahu, tidak? Karakter utamanya menyebalkan loh. Ya, si Bloom, sering kali bersikap terlalu agresif dan egois. Perkembangan karakternya juga kurang. Mungkin karena penulisan karakternya lemah atau apa. Tapi yang pasti, karakter Bloom di serial live action season pertamanya ini malah terkesan tidak loveable.

Selain Bloom, karakter-karakter lain tidak dapat sorotan yang cukup. Pengembangan karakter beberapa tokoh terasa dangkal, dan beberapa karakter penting dari versi asli seperti Flora dan Tecna bahkan dihilangkan. Kesal nggak???


- Entah karena apa, dialog dan plot cerita di season 1 terkadang canggung dan tidak alami. Beberapa subplot juga buru-buru dan kurang berkembang. Mungkin karena sedang mencoba menggabungkan unsur-unsur gelap dan remaja secara berlebihan, sehingga bikin beberapa momen jadi tidak seimbang. Bahkan, transisi antara momen serius dan ringan juga kurang smooth.


Kekurangan season 2:

- Sebenarnya, season 2 dari Fate: The Winx Saga ini ada sedikit peningkatan dalam hal cerita dibandingkan season sebelumnya.

Namun, yang jadi masalah utama masih karakter si Bloom. Dia masih terasa kurang menarik meskipun digembar-gemborkan punya kekuatan besar. Abigail Cowen sebenarnya sudah ugal-ugalan memerankan Bloom, tetapi memang penulisan karakternya aja yang sembrono dan bikin karakternya tidak berkembang lebih banyak.


- Sama seperti Bloom, Beatrix juga tetap menjadi karakter yang kurang berkembang. Kemunculan beberapa adegannya malah tidak berguna, seperti adegan 'dewasa' yang secara tidak langsung mempromosikan agenda tertentu. Dan aku benci banget sama hal kayak gini.

Meski punya potensi besar, karakter Beatrix ini tidak banyak berubah sejak season pertama dan masih terasa membingungkan tentang peran dan motivasinya tuh apaan.


- Meskipun ada banyak momen menarik di season kedua terlepas dari banyaknya adegan entah apa gunanya, alur keseluruhan cerita tidak banyak berubah sih. Beberapa plot terasa dipaksa dan kurang matang, bikin season ini terasa lebih seperti menuruti kemauan penonton yang protes di season awal tapi malah 'keteteran', padahal episodenya lebih banyak satu episode dibandingkan season sebelumnya loh.


***


Ya udah deh, sekian cuap-cuap panjang ini, keseluruhan serial live action-nya aku kasih rating 7 karena masih lumayan seru.

Oh ya, dilansir dari Wikipedia pada November 2022, serial live action ini dibatalkan dan akan dilanjutkan dalam bentuk novel grafis yang diterbitkan oleh Mad Cave Studios, dengan volume pertamanya yang dirilis pada Juli 2024. Sehingga nggak bakal ada itu yang namanya season 3.

Apa penonton kecewa? Oh, tentu tidak. Syukurlah tidak dilanjutkan lagi. Mau bahas apa lagi? Apa lagi yang mau dirusak, heh? 😬 

Komentar

Popular