Review Perfect Scenario: Skenario Musuh Bebuyutan ala Kezia Evi Wiadji
Review Perfect Scenario: Skenario Musuh Bebuyutan ala Kezia Evi Wiadji
Benci jadi cinta mungkin adalah formula paling klasik dan klise dalam jagat fiksi remaja. Namun, seperti resep masakan yang sama di tangan koki yang berbeda, cerita Teenlit bisa tetap terasa segar jika diolah dengan bumbu konflik yang tepat.
Inilah yang aku temukan dalam novel Perfect Scenario karya Kak Kezia Evi Wiadji. Meskipun awalnya aku terpikat karena sampulnya yang manis, ternyata isi di dalamnya menawarkan dinamika hubungan yang lebih kompleks dari sekadar cinta monyet.
***
1. Identitas Buku
Judul: Perfect Scenario
Penulis: Kezia Evi Wiadji
Cover: Orkha Creative
Genre: Romance - Teenlit
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 280 halaman
Terbit: September 2015
2. Tentang Pengarang
Akrab disapa Evi. Selain bekerja sebagai karyawati di sebuah bank swasta di Jakarta, dia mencoba terjun ke dunia tulis-menulis sejak tahun 2011. Dari tangannya telah hadir beberapa buku, baik fiksi maupun nonfiksi.
Melalui berbagai kisah, penulis mencoba berbagi semangat hidup, inspirasi, dan pesan. Dan seperti keinginannya hanya untuk memuliakan nama Tuhan, dia berusaha melakukan yang terbaik selama Tuhan memercayakan talenta ini.
3. Blurb
"Dengar ya, kita harus pacaran!"
"HAH?"
"Mulai detik ini, lo pacar gue. Dan selama itu, lo ngga boleh jalan dengan cowok lain!"
"Eh, kamu kesurupan ya, tiba-tiba ngomong aneh begitu?!"
"Gue sadar seratus persen. Jadi dengar—"
"Sori, aku ngga mau!"
"Heh! Jangan ge-er dulu. Gue sebenarnya juga nggak mau pacaran sama lo. Tapi kali ini, mau ngga mau, kita harus!"
Ajakan kencan ini akan membahagiakan Finda, seandainya ia menyukai Farel. Seandainya Farel bukan duri dalam dagingnya. Seandainya Finda tidak menyukai Niko (teman baik Farel). Dan seandainya Farel tidak sedang berkencan dengan Novi. Tetapi, ajakan kencan jauh dari romantis yang disodorkan Farel ini harus diterima Finda karena mereka mempunyai tujuan yang sama, yaitu membatalkan pernikahan orangtua mereka!
Baca juga: MENGURAI BENANG MERAH DALAM KEAJAIBAN TOKO KELONTONG NAMIYA | REVIEW BUKU
Review buku lainnya: LOVE VAN JAVA: REVIEW BUKU PATRICK KELLAN LAGI
4. Isi Resensi
Awalnya aku tertarik membeli buku ini karena jatuh cinta desain awal sampul buku ini (2017 Perfect Scenario mengeluarkan desain sampul baru untuk cetakan terbaru). Desain sampul yang simpel, dengan highlight utama gambar pasangan yang sedang berbagi tatapan mesra. Membuatku semakin penasaran dengan isi bukunya.
Buku ini pada dasarnya punya tema klise, berbalut sentuhan remaja dan konflik keluarga. Tapi, berkat pengolahan cerita yang keren dari pengarang, membuktikan bahwa tema dan ide simpel bisa menjadi sesuatu yang mengasyikkan untuk dibaca.
Dalam hal ini, Perfect Scenario secara halus berhasil membenarkan ungkapan benci jadi cinta yang terbukti pada hubungan Finda dan Farel yang terkenal sebagai pasangan musuh bebuyutan. Keduanya mulai bermusuhan sejak pertama kali bertemu. Bahkan saat skenario gila dijalankan, keduanya tetap bertengkar sebagaimana biasa.
Farel dan Finda telah dengan sadar berpura-pura pacaran walau saling membenci satu sama lain. Dari Farel, diketahui alasan dia memainkan skenario, karena nggak ingin jadi saudara Finda. Tapi, ternyata ada alasan lain yang lebih kuat.
Finda sendiri terpaksa mengikuti skenario Farel walau sedang menaruh hati pada Niko; teman baik Farel. Ditambah lagi harus menerima emosi serta labrakan Novi; kekasih Farel yang sifatnya sangat tantrum ala-ala gadis sinetron yang membuat Farel jadi pusing sendiri.
Pada akhirnya, insiden ketika keluarga Farel dan Finda harus pergi rekreasi ke Lembang mengubah semuanya. Farel jadi terbuka akan sikap dan kelakuannya kepada Sang Ayah selama ini. Perjalanan itu juga mengubah hati Farel yang masih berstatus kekasih Novi dan Finda di waktu bersamaan, bahkan mengubah pandangan Finda terhadap Farel.
5. Kelebihan Buku
Buku ini tidak hanya menyoal tentang cinta dan persahabatan remaja, ada masalah keluarga yang membackup jalannya cerita. Sejak awal membaca, aku hanya punya satu tujuan, yaitu menemukan alasan sebenarnya kenapa Farel membuat skenario tersebut. Sangat nggak mungkin alasannya cuma karena, "Buat gue, berantem sama Finda itu kesenangan tersendiri. Sensasinya berbeda." (Hal. 43)
Dalam balutan keluarga, buku ini menghadirkan Tante Mira; ibunya Finda, sebagai contoh orang yang meyakini kebahagiaan anak adalah prioritas utama. Sedangkan, Om Tonny; ayahnya Farel adalah contoh orang tua yang mau belajar memperbaiki dirinya sendiri. Dengan ini, secara nggak langsung pengarang meminta kita untuk belajar mengenal anak lebih lanjut. Terlebih, remaja. Karena remaja adalah anak kecil yang terjebak di tubuh orang dewasa.
Selain itu, persahabatan antara Farel dan Niko serta Olly dan Finda, membuat buku ini semakin menarik. Meskipun Olly kebanyakan hanya menjadi tempat curhat Finda, tapi Olly salah satu contoh teman yang berfungsi sebagai support system. Niko sendiri tipikal anak lelaki baik, yang membantu jalannya cerita lebih terarah.
Secara garis besar, pengarang sangat lihai membagi peran dan menghidupkan setiap karakter. Sehingga buku bergenre teen yang bukan tipe buku kesukaanku, justru jadi asik saat dibaca.
6. Kekurangan Buku
Karakter Farel yang sok cool justru menjadi kekurangan, sikapnya yang kurang tegas bukan hanya bikin Novi dan Finda bingung, tapi juga aku sebagai pembaca ehehe.
Selain itu, pada halaman 234, di akhir bab 25, ditemukan kalimat terpotong pada paragraf akhir (Ia berharap agar masalah yang terjadi an-). Langsung lanjut ke bab 26 di halaman 235. Entah siapa yang salah, aku nggak tahu.
Tapi, hilangnya sambungan kalimat pada paragraf nggak terlalu berpengaruh pada jalan cerita sih, yang bikin agak kecewa justru ada di endingnya. Ending yang terasa flat dan di luar ekspektasiku ehehehe. Aku kayaknya terlalu mengharapkan ada ending twist yang bisa buat tercengang. Alasan utama Farel justru lebih lemah dibandingkan alasan-alasan lainnya, karena mudah tertebak.
7. Kesimpulan
Buku ini lumayan menarik, alurnya mengalir, cukup deskriptif dan bahasanya mudah dipahami. Nggak heran, dulu adikku sampai tiga kali pinjam buku ini untuk dibaca ulang eheheh.
Dalam buku ini, tersirat pesan bagi orang tua. Agar orang tua bukan hanya sekadar mengikuti kemauan anak. Tapi, harus belajar berkomunikasi, mengalah dan memahami perasaan anak.
Jika bisa kasih nilai poin, aku bakal kasih 3.6/5 hati untuk buku yang cukup manis ini. Buku ini cocok dibaca remaja, kalau aku yang udah tua memang jadi agak kurang aja sih eheheh.
***
“Cewek secerdas kamu, Fin, ternyata bisa berubah bodoh jika berurusan dengan cinta.” – Olly (Hal. 192)

Komentar
Posting Komentar