Salam Perpisahan: Cerpen Nurwahidah Bi
Salam Perpisahan: Cerpen Nurwahidah Bi
[Cerpen Nurwahidah Bi] Kulihat langit malam ini menampilkan visual menawan. Sesaat aku bisa mencium aroma sedap. Hamparan malamnya berbintang, indah sekali. Milky way yang melintang di atas sana menambah keajaiban penghujung malam ini.
Aku berada di tengah hamparan rumput yang penuh kenangan, di antara pohon kering tanpa daun. Musim gugur sudah di ujung hari, tak lama lagi akan menjelang musim dingin, dan bagiku semuanya terasa begitu magis.
Beratapkan tawa bintang dan beralaskan rerumputan yang menggelitik. Aku menunggu di sini. Tiba-tiba saja, aku bisa merasakan kehadiran seseorang. Aku melihat ke arah suara langkah yang semakin mendekat.
Senyumku merekah, di sanalah dia berdiri. Seorang lelaki yang telah merebut kembali hatiku sejak pertama kali kami bertemu di sungai Kokitos. Matanya memancarkan kehangatan dan senyumnya meluluhkan hati, ratapanku berakhir saat bertemu dirinya.
Dia mendekat ke sini dengan langkah perlahan, bersamaan dengan itu aku bisa merasakan detak jantung ini semakin cepat. Begitu dia sampai di depanku, dia meraih tangan ini tanpa bicara sepatah kata pun. Dia meletakkan kepalanya di bahuku. Aku melingkarkan lengan di sekitar pinggangnya, menikmati kehangatan tubuhnya yang sedang memelukku erat.
"Kau tahu, di malam seperti ini, saat kita berada di antara bintang-bintang, aku merasa dunia kita hanya ada di sini," katanya dengan suara lembut.
Aku menengadahkan wajah, menatapnya dengan penuh rindu. "Aku merasakan hal yang sama. Kita seperti terhubung dengan alam semesta, dan saat ini adalah momen yang abadi bagi kita."
Aku menggenggam tangannya erat, entah kapan aku bisa kembali ke tempat ini lagi?
Baca juga: JEJAK MASA LALU: CERPEN NURWAHIDAH BI
Cerpen lainnya: MERAPIKAN KENANGAN: CERPEN DRAMA
[Cerpen Nurwahidah Bi] Aku Selene, tiga tahun setelah kematian suamiku, tiba-tiba saja aku terbangun di pinggiran sungai. Kata mereka aku tersesat dari dunia atas. Saat itulah aku kembali bertemu dengannya, suami tercinta yang dirindukan.
Akan tetapi, aku diminta untuk kembali karena menurut mereka kini sedang tinggal di dunia yang tak seharusnya. Aku mengalah dan berencana menghabiskan malam terakhir dengannya di tempat ini.
Kami duduk di hamparan rumput, berdua saja di tengah keheningan malam. Lengan kami saling terjalin, menjaga kehangatan di dalam hati kami. Aku mencuri pandang ke arahnya, melihat cahaya bintang memantul di matanya yang indah.
"Apa yang kau pikirkan?" tanyaku lembut.
Dia tersenyum dan menjawab, "Aku hanya berpikir tentang betapa beruntungnya aku memilikimu di sampingku. Selama ini kau adalah bintang yang sudah menerangi hidupku, tapi aku tidak bisa menepati janji untuk selalu merawatmu dengan cinta sejati."
Kata-katanya membuat hatiku meleleh. Aku merasa seperti melayang di antara bintang-bintang, terbang tinggi di langit malam. Dalam dekapannya, aku merasakan cinta yang begitu dalam, begitu nyata. Karena kata mereka, ketika aku terbangun nanti ini hanyalah mimpi semata.
***
Di malam yang penuh keajaiban ini, kami terus berpelukan, menikmati kehangatan dan keajaiban cinta yang kami bagi bersama untuk terakhir kalinya. Tak ada yang bisa menggantikan momen ini.
Bunyi lonceng mengalihkanku dari dirinya, aku melepas pelukan dan berdiri. Kutatap langit yang seolah bergerak ke arah selatan. Di atas bukit ini aroma air mulai tercium, aku berbalik dan menatapnya yang sedang duduk tertunduk.
"Sepertinya ... ini sudah waktunya!" ucapku nanar, sungguh aku tak ingin berpisah dengannya lagi.
Dia berdiri, kembali mendekap. Semilir angin menyapu wajah, mengajak gaunku menari-nari.
"Jika sudah di sana, percayalah bahwa aku akan baik-baik saja jika kau ingin memulai hidup baru. Setidaknya, kali ini perpisahan kita diakhiri dengan salam perpisahan," ungkapnya terdengar menyayat hati.
"Aku minta maaf karena membuatmu bersedih!" ujarku memeluknya erat.
Kini kakiku melayang, dia menahan tubuh ini agar tidak terangkat. Aku tahu betul, kami berdua sangat sulit untuk saling merelakan satu sama lain. Aku adalah manusia yang tidak seharusnya berada di dunianya. Aku harus kembali ke dunia atas.
Dari langit, aku bisa melihat langit berbintang itu mengeluarkan cahaya indah, aku terlena dan menutup mata sambil bermandikan cahaya.
"Aku mencintaimu!" Sayup-sayup teriakannya terdengar.
***
Aku terbangun di ruangan yang tak asing, aku duduk sambil melihat ibu yang sedang bicara dengan dokter di depan pintu tanpa menyadari bahwa aku sudah sadar.
Sepersekian detik, tatapannya bertemu denganku. Aku tersenyum dan ibu segera datang bersama dokter, diiringi tangisan.
Katanya aku pingsan selama dua hari karena meminum obat tidur. Aku rasa karena inilah alasan tiba-tiba pergi ke dunianya itu, karena dia ingin menghentikanku pergi dengan cara yang buruk. Padahal seingatku hanya minum dua pil tidur saja hari itu. Aku tidak tahu efeknya akan separah ini.
***
[Cerpen Nurwahidah Bi] Semenjak keluar dari rumah sakit, aku sering sekali menatap langit. Aku yakin kini cinta kami terjalin di antara langit malam berbintang, di tengah pohon kering musim gugur yang tak berdaun. Di tempat ini, kami menemukan keabadian dalam cinta, dan kami bersama-sama menciptakan kisah romantis yang tak terlupakan di dunia fantasi kami sendiri.
Ke depannya, aku tak tahu akan berakhir bagaimana. Entah aku akan bertahan dengan cinta abadi untuknya dan melanjutkan kehidupan atau memulai hidup baru dengan takdir yang baru.
Entahlah, aku pun tak tahu. Setidaknya aku sudah memberikan salam perpisahan yang layak dan yang pasti aku tak lagi menyentuhnya; obat tidur.
Tamat
Gorontalo, 14 Juni 2023
***
Note: Sungai Kokitos adalah sungai ratapan dari mitologi lima sungai dunia bawah Yunani.

Komentar
Posting Komentar