Terbaru
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Lemahnya Perempuan: Curcol Kak Bi
Lemahnya Perempuan: Curcol Kak Bi
Aku hanya ingin membahas sebuah momen dari kejadian lama, yang mungkin saja masih sering terjadi sampai saat ini.
Di awal tahun 2024, aku sempat dikejutkan dengan berita yang memilukan. Tentang laporan dua gadis berbeda kepada keluarga bahwa dirinya mendapatkan perlakuan negatif. Gadis 18 tahun dirudapaksa oleh suami dari bos tempatnya bekerja. Sementara, gadis 24 tahun dirudapaksa oleh tetangga.
Persamaan kedua gadis ini adalah intelektual disabilitas. Di mana kemampuan mereka untuk membela diri berbeda dengan perempuan lain.
Gadis 18 tahun, memilih bekerja yang ringan karena ingin membantu ibu. Sementara, gadis 24 tahun tidak bekerja karena menjaga ibu. Meskipun sering dikatakan seperti anak-anak, aku yakin mereka punya perasaan yang sama seperti orang lain. Perasaan ingin aman dan bahagia.
Setelah perdebatan panjang, kasus gadis 18 tahun malah dinyatakan sebagai 'bukan pemerkosaan sebab sudah dua kali.' Lalu, untuk gadis 24 tahun berakhir dengan ayahnya yang meminta pertanggungjawaban tapi diabaikan.
Miris rasanya, hatiku bergemuruh dan panas. Sebab, perempuan benar-benar tak berdaya di hadapan lelaki dan hukum. Untuk gadis 18 tahun, hanya karena dalam laporannya dia sudah dua kali dirudapaksa, bahkan hasil visum menyatakan luka robek luar dalam. Tetap saja tak bisa memperkuat laporan korban terhadap pelaku.
Keluarga korban bahkan sudah siap membawanya ke jalur hukum, ujung-ujungnya seolah digiring ke jalur damai. Hanya karena stigma masyarakat; Sudah dua kali gitu, pasti suka sama suka. Nggak ada diperkosa sampai berkali-kali gitu, pasti dianya juga mau.
Sementara itu, untuk gadis 24 tahun. Lelaki itu tidak mau bertanggung jawab dengan alasannya. "Saya tidak mau punya istri b*doh dan idi*t."
Sumpah, rasanya saya ingin mencari lelaki itu dan menyumbat mulutnya dengan besi panas. Ditambah, di tempatnya lagi-lagi rumor menyebar, kalau gadis 24 tahun ini memang sering keluar rumah.
Ingat, keduanya adalah pengidap intelektual disabilitas di mana orang tuanya sangat sayang dan memperlakukan mereka dengan hati-hati. Karena hatinya memang selembut itu.
Sedihnya, pernyataan-pernyataan yang menghakimi dan menghina itu justru keluar dari mulut sesama perempuan. Di mana mereka malah membandingkan diri mereka semasa pacaran, yang pada dasarnya apapun yang mungkin mereka lakukan saat pacaran ya terjadi atas dasar suka sama suka.
Nikahkan saja mereka, adalah narasi yang paling sering aku dengar pada korban rudapaksa. Terlepas bagaimana pun latar belakang korbannya.
Menikahkan korban rudapaksa dengan pelakunya sama saja menikahkan dia dengan penjahat kelamin yang telah merampas harga diri dan dunianya.
Baca juga: REVIEW CONVERSATIONS WITH A KILLER: THE JEFFREY DAHMER TAPES (2022)
Artikel lainnya: GENIE, MAKE A WISH (2025): SUZY DAN KIM WOO BIN REUNIAN
Mereka yang bicara seperti itu, takkan pernah tahu trauma apa yang dirasakan korban. Di mana dirinya harus terus merasa dirudapaksa setiap harinya. Entah trauma seperti apa yang dihadapi kedua gadis ini, mereka bahkan seolah tidak sadar bahwa yang dilakukan kepada mereka adalah kejahatan. Karena keduanya, menurut saksi bercerita tentang dirinya sendiri tanpa rasa sedih, melainkan dengan ekspresi tenang walau terkesan takut-takut bercerita.
Menikahkan pelaku dan korban, seolah membiarkan luka karena tertusuk pecahan beling tidak disembuhkan, malah pecahan belingnya dibiarkan dalam luka tersebut hingga membuat luka membusuk.
"Cuma pura-pura itu, padahal sampai dua kali."
"Coba cek lagi, itu beneran si A pelakunya? Mana mau dia sama orang b*doh?"
Kedua kalimat ini membuatku terluka dan sakit hati. Sampai seratus kali pun, itu namanya tetap dirudapaksa. Mau seperti apapun keadaan korban, kalau lelakinya bejat ya dia malah akan mencari mangsa yang lemah, kan?
Kok orang-orang tidak berpikir sampai sana? Kok malah korban yang jadi tersangka? Jika korban mengalami kekerasan secara fisik dan mental. Entah berupa penyiksaan secara langsung saat proses rudapaksa atau ancaman-ancaman yang mempermainkan mental korban seperti:
"Kalau kamu cerita ke orang, kamu yang malu loh karena tidak bisa jaga diri."
"Kalau kamu ceritakan, saya pecat kamu."
"Tidak ada gunanya cerita ke orang, siapa yang percaya orang bodoh kayak kamu."
"Ini cuma main-main kok, tidak akan bikin kamu mati. Kalau kamu cerita ke orang saya akan buat kamu masuk penjara."
Dan, ancaman lainnya yang memperlihatkan bahwa si pelaku sangat over power di hadapan korban.
"Kasihan sekali, harusnya jaga diri dong. Atau jadi perempuan kok malah nggak bisa jaga diri?" ucap kubu baik hati, pengidap standar ganda.
Kenapa hanya perempuan yang selalu dituntut untuk jaga diri? Kenapa laki-laki tidak mencoba untuk menjaga mata, jaga hati dan jaga pikiran?
Bagaimana perasaan bapak-bapak dan ibu-ibu saat anak perempuan disakiti orang lain? Siapa yang salah? Anak Anda? Atau pelaku? Jangan menganggap remeh, hal yang tidak pernah Anda rasakan.
Miris, sungguh. Semoga hal-hal menyedihkan seperti ini dihindarkan dari diri sendiri, anak dan saudara kita, entah itu bertemu pelaku rudapaksa ataupun bertemu tetangga rumpi yang hobinya memakan empati demi eksistensi bernama sok peduli.
Curcol Kak Bi ini hanya cuapan kesal. Intinya say no to Sexual Harassment.
Jujur, aku jadi semakin takut nikah. Takut tidak bisa memberikan perlindungan untuk anak-anak, dari binatang berbulu domba bernama manusia bejat.
***
Gorontalo, hanya sebuah catatan lama dari akhir tahun 2024.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Popular
Genie, Make a Wish (2025): Suzy dan Kim Woo Bin Reunian
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Review Drachin How Dare You!? (2026): Kaisar dan Permaisuri Gen Z
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Twelve (2025): Review Drakor Fantasi yang Biasa Aja
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya

Komentar
Posting Komentar