Terbaru

Jejak Masa Lalu: Cerpen Nurwahidah Bi

Jejak Masa Lalu: Cerpen Nurwahidah Bi 


Rika datang ke pantai, seperti biasanya. Dia duduk di pasir pantai, membiarkan gaun bunga-bunganya kotor oleh pasir dan memilih memandangi lautan yang tenang.

Di belakang Rika, banyak pasangan dan keluarga yang sedang bersenda gurau. Rika melihat-lihat jejak kaki orang-orang yang berjalan di atas pasir. 

Dua anak perempuan dan seorang pria melemparkan bola kepada Rika. Salah satu dari anak perempuan itu menghampiri dan mengambil bola, kemudian mengucapkan maaf dengan pendek. Kembali dia bermain voli pantai meninggalkan jejak di pasir.

Jejak-jejak itu mengingatkannya pada masa lalu. Rika masih ingat betul, bagaimana dia dan lelaki yang dicintainya pernah berjalan-jalan di pantai ini. Mereka berlari-lari kecil sambil tertawa-tawa. Bagi Rika, jejak kaki mereka masih terlihat samar-samar di pasir pantai. Itu adalah kenangan indah yang takkan pernah dia lupakan.

Namun, setelahnya Rika hanya duduk sendirian. Lelaki itu sudah lama pergi, meninggalkan jejak-jejak yang tak lagi terlihat di pasir pantai. Mereka berpisah tanpa pernah bisa bersatu kembali. Rika menyesal, karena tidak bisa mempertahankan hubungannya dengan lelaki itu.

Saat itu, mereka masih muda dan penuh semangat. Lelaki itu adalah pria yang biasa saja dan tidak tampan. Dia selalu bisa membuat Rika tersenyum dengan lelucon-lelucon konyolnya. Tapi, saat itu, mereka masih perlu belajar untuk mengendalikan emosi mereka. Terlalu cepat mengikat ikrar bernama cinta.

Rika ingat betul, bagaimana mereka berdua pernah bertengkar hebat di pantai ini. Mereka saling berteriak dan mencaci-maki satu sama lain. Rika merasa sedih, karena pada akhirnya merasa bahwa lelaki itu tidak pernah menghargainya. Tapi, setelah bertengkar, lelaki itu akan meminta maaf dan membuat Rika jatuh cinta lagi dengan segala manis yang ditampilkan.


Baca juga: MERAPIKAN KENANGAN: CERPEN DRAMA

Cerpen lainnya: DI BAWAH POHON BERINGIN: CERPEN DRAMA KAK BI


Pada akhirnya, kebahagiaan mereka hanya berlangsung singkat. Lelaki itu harus pergi meninggalkan Rika, karena harus pindah kerja di luar kota. Rika yang sedang menanti si buah hati, berusaha keras untuk mengikhlaskan kepergian lelaki itu, meski hatinya meronta-ronta.

Saat-saat menanti kepulangan lelaki itu, Rika sering datang ke pantai, menghabiskan waktu seperti saat ini. Dia akan duduk di pasir pantai, memandangi laut yang tenang, sambil menunggu lelakinya pulang atau hanya sekadar memberikan kabar.

Bukan kabar bahagia, suatu hari, Rika malah mendapatkan kabar yang mengguncang dunianya. Lelakinya telah berpulang karena kecelakaan mobil di luar kota. Rika hancur, dan mulai menyalahkan dirinya sendiri karena telah mengizinkan lelaki itu bekerja di luar kota.

"Ma!" seru anak perempuan di belakang Rika. Rika menoleh dan mulai menangis, kala wajah lelakinya justru terbayang. 

Rika mengalihkan pandangannya pada jejak kaki yang ditinggalkan di atas pasir lembut. Rika merasa bahwa jejak kaki itu adalah pengingat akan kehilangan lelaki yang pernah dicintainya.

Anak perempuan itu, menarik Rika. Rika mengikuti jejak kaki anak perempuan yang ada di pasir, sama seperti yang dilakukannya dulu ketika berharap menemukan jejak kaki lelaki yang dicintainya.

Sama seperti hari itu, lima tahun setelah kepergian lelakinya. Jejak kaki yang diikuti Rika terhenti pada jejak kaki seorang lelaki baru.

Segala kehampaan mendadak sirna. Semua kenangan indah yang pernah Rika dan lelakinya bagikan di pantai ini menjelma sebatas memori masa lalu.

Jejak kaki lelaki itu telah hilang bersamaan dengan kepergiannya, tersapu ombak tipis-tipis yang menyisir bibir pantai.

Sama seperti hari itu, enam tahun lalu. Saat jejak langkah kaki Rika bertemu dengan jejak kaki sosok yang baru. Sepi dan rindu Rika lenyap, perlahan melepaskan jejak masa lalu dan mulai mengikuti jejak yang baru.


Pada akhirnya, Rika memang sering kembali ke pantai ini setiap tahunnya, sebagai penghormatan kepada lelaki yang pernah dicintainya, agar putrinya bisa merasakan jejak-jejak di mana sang ayah pernah bernapas.

Tapi, ini adalah tahun keenam di mana Rika tidak hanya pergi bersama sang putri. Melainkan bersama lelaki baru dan anggota keluarga barunya. Hanya beberapa bulan setelah bertemu lelaki baru, Rika memilih bersedia dipersunting saat itu. Rika ingin memulai hidup barunya, membuat jejak kaki baru bersama belahan jiwanya kini. 

Kini, Rika telah menjadi wanita dewasa seutuhnya, yang tidak lagi merengek pada takdir karena ditinggal suami. Melainkan menjelma ibu yang walaupun sering bertengkar dengan suami tetapi selalu memilih untuk sabar, walau ujungnya memaksa ingin menang.

Rika telah memiliki keluarga dan anak-anak yang sangat dicintainya. Tapi, pantai itu selalu menjadi tempat di mana dia akan merenungkan masa lalu, mengenang kenangan dan kesalahan yang pernah dia bagikan bersama lelaki yang pernah dicintainya. Untuk menjadi bahan introspeksi diri ketika Rika merasa dirinya berada di jalan atau keputusan egois yang mungkin saja salah.

"Kamu bengong lagi!" Suara lelaki barunya terdengar kesal.

"Aku main voli demi kalian bertiga ya!" ucap Rika mengambil posisi siap menerima bola sambil tertawa lebar.


Tamat 

Gorontalo, April 2023.


Mungkin Anda sukai: Cerpen Nadia Omara: Diamond Play Button

Komentar

Popular