Terbaru

Merapikan Kenangan: Cerpen Drama

Merapikan Kenangan: Cerpen Drama



Cerpen drama datang lagi, alih-alih cerpen drama mungkin ini bisa masuk ke cerpen realis kali ya.... Tapi, ini cerpen drama aja deh ehehe. 

Selamat membaca, di bawah ini adalah Cerpen Drama: Merapikan Kenangan


***


[Cerpen Drama] Pernahkan kau merasakan bosan yang teramat sangat hingga tidak tahu harus melakukan apa?

Sama seperti Lia, dirinya selalu sibuk selama ini. Berbagai tuntutan kerjaan dan status sebagai single parent membuatnya sering tertukar mana pagi, mana malam.

Sama seperti malam itu, kala Lia sedang membersihkan rumah, saat kedua anaknya telah lelah bermain dan pulas tertidur dengan main di tangan di kamar masing-masing. Meskipun merasa lelah setelah seharian beraktivitas, tetapi Lia harus menyimpan barang-barang dan mainan anak-anaknya ke keranjang.

Usai membersihkan rumah, Lia duduk di depan kamar mendiang ibu. Bosan dan tak tahu harus berbuat apa? Padahal itu sudah hampir jam sebelas malam. Ada rindu yang menjalar kala teringat beberapa tahun lalu, ketika dirinya menanti kelahiran si bungsu tapi ibunya yang menjadi sibuk dan sangat antusias. 

Lia berdiri, membuka pintu kamar yang sudah ditutup rapat selama berbulan-bulan, hanya sesekali dibuka untuk mengambil sesuatu. Begitu pintu dibuka, aroma ibu yang masih tertinggal membuat bulu kuduk sedikit merinding. Lia melangkah menuju lemari tua, usai menyalakan saklar lampu. Lia membuka pintu lemari dan mengeluarkan beberapa benda dari dalamnya. 

Dipeluknya baju sang ibu, sebagai bentuk kerinduan betapa dirinya ingin dipeluk oleh ibu tercinta.

Lia menatap seisi kamar dengan sendu. Setahun sudah ibu meninggal, tapi semua masih sama. Bahkan debu-debu pun masih sangat banyak. Lia menjadi terbawa perasaan, beberapa kali meminta maaf karena membiarkan kamar ini dikunci dan tak terawat.


***


[Cerpen Drama] Dirinya terlalu sibuk bekerja, sebab sudah lama menjadi ibu tunggal. Hanya setahun setelah melahirkan anak kedua, suaminya selingkuh dengan selebgram seksi. Tapi, Lia dan mendiang ibu memilih maju. Keduanya bekerja sama untuk membesarkan dua anak yang ditinggalkan ayah mereka demi wanita penjual pembesar payudara.

Dengan embusan napas berat, Lia melepaskan baju ibu yang dipeluk erat dan meletakkannya di ranjang tempat Lia duduk sedari tadi. Dia mengambil tumpukan keranjang di bawah ranjang, dibersihkan dengan daster sobek di bagian bawah lemari. Lalu memulai untuk memilah-milah pakaian yang masih bisa digunakan atau tidak. 

Lia membaginya menjadi tiga keranjang, daster sobek dan pakaian tua diletakkan bersamaan. Pakaian yang masih bagus diletakkan pada keranjang kuning, ingin dibagikan kepada keluarga. Pakaian yang dirasa cocok untuknya dan penuh kenangan akan disimpan di lemari lain dan ini diletakkan pada keranjang yang lebih kecil.

Pakaian yang tidak layak pakai dimasukkan ke gudang, pakaian yang hendak diberikan pada keluarga dimasukkan ke dalam plastik. Beberapa pakaian yang masih bisa dipakai oleh Lia dimasukkan ke dalam lemari di kamarnya.

Lemari pun berangsur-angsur kosong. Ibu tidak punya banyak barang di lemari, hanya beberapa buku dan selaci barang-barang antik. Semuanya dimasukkan ke kardus, kecuali buku yang diletakkan ke dalam rak kaca di ruang tengah.


Baca juga: SEKALI LAGI: CERPEN DRAMA NURWAHIDAH BI

Cerpen lainnya: DI BAWAH POHON BERINGIN: CERPEN DRAMA KAK BI


[Cerpen Drama] Selesai dengan lemari, Lia beralih membersihkan debu dan sedikit mengubah interior kamar. Dia berencana untuk menjadikan kamar ibu sebagai tempat bekerja sekaligus tempat istirahat. Sejak Covid, Lia memang bekerja dari rumah. Tapi, beberapa hari ini dia tetap harus pergi ke kantor. Akan tetapi karena lock down diperpanjang. Dia harus kembali di rumahkan.

Saat sedang membersihkan lantai, Lia menemukan benda cokelat kotor di belakang meja kecil. Dia mengambil dan membukanya ternyata itu adalah sebuah buku catatan dari mendiang ibunya.

Lia merasa sedih membaca buku itu, tetapi juga merasa sangat senang karena bisa membaca keseharian sang ibu. Setelah membaca buku itu, Lia menyadari bahwa sudah jam dua belas malam, dia pun memutuskan untuk menyimpan buku catatan ibunya di rak kaca ruang tengah.

Lia merasa lega karena kamar sudah bersih. Lia memindahkan meja besar ke dalam kamar untuk dijadikan meja kerja. Lemari di dalam kamar bisa dipindahkan dengan mudah karena tak terlalu besar. Dia merenung sejenak, melihat sekeliling kamarnya. Dia merasa bahwa kamar ini sekarang lebih rapi dan lebih bersih daripada sebelumnya.

Sisa-sisa jejak ibu tak begitu terlihat, butuh waktu setahun lebih bagi Lia untuk move on dari kamar sang ibu. Tapi, sampai kapan Lia akan bertahan dengan segala kenangan? Bukankah manusia berhak maju dan bertahan hidup?


***


Setelah selesai membersihkan semuanya, Lia merasa puas dengan pekerjaannya. Dia duduk di atas tempat tidur yang tak lagi berdebu, aroma ibu tentu saja samar-samar masih tercium. Saat asik merebahkan tubuhnya seseorang memanggil.

Lia bangun dan melihat anak sulungnya terbangun. "Ibu apakan kamar nenek?" ucapnya sambil memeriksa kamar ini.

"Ibu rapikan, sudah lama juga tidak dibersihkan. Kamu kebangun ya? Maaf." Lia segera bangun dan duduk dengan wajah mengantuk.

"Iya, ibu berisik banget." Bocah berusia 10 tahun itu duduk di sebelah Lia dan mengomentari beberapa hal.

"Kamu lanjut tidur gih, ibu besok libur jadinya pakai waktu malam untuk bersih-bersih dan besok ibu mau tidur seharian." Ucapan Lia membawa gelak tawa si sulung. "Kamu yang jagain adek ya?"

"Iih nggak mau! Rafa besok ada janji sama teman-teman," ucapnya mendekati Lia.

"Kemana?"

"Ada deh!" ucapnya segera berbaring di ranjang. "Ibu, aku kangen nenek."

"Ibu juga!" Lia ikut berbaring dan menatap langit-langit kamar. Dia merasa puas dengan apa yang telah dilakukan. 

"Nenek nggak marah kalau kamarnya dibersihkan?" tanya bocah kelas 4 SD itu.

"Nggak kok! Nggak marah. Nenek pasti senang karena ibu sudah berhenti bersedih. Nenek pasti nggak mau lihat kita sedih terus kan?" jawab Lia memiringkan badan menghadap si sulung.

"Tapi, ibu masih sedih?" Si sulung menengok ke sebelah kanan. Menatap wajah Lia yang penuh keletihan.

"Kita hanya merapikan barang-barang nenek. Bukan membuang kenangannya. Jadi, ibu nggak sedih. Karena kalau kangen ke nenek, tinggal kirim doa aja."

Si sulung bangun dan melemparkan tubuhnya kepada Lia. "Tenang aja, meskipun ibu sudah jadi yatim piatu. Ada Rafa dan Syifa yang akan jagain ibu. Rafa kan masih punya ibu yang keren ini," ungkapnya memeluk Lia. "Ya, tapi tidak punya ayah sih!" sambungnya membuat Lia tertawa.

"Ah, seharian capek, lihat Rafa yang ceria gini. Ibu jadi kayak di-charger nih, biarpun marah karena lihat mainan kalian tidak disimpan ke tempatnya!" Lia membalas pelukan si sulung dengan penuh kehangatan.

"Maaf, Bu. Besok Rafa beresin ya!" 

Pelukan Lia pada Rafa, membawanya pada perasaan sedih juga perasaan beruntung, karena bukan hanya memiliki kenangan indah bersama ibunya, Lia juga punya kesempatan untuk mengukir kenangan indah bersama kedua anaknya. 


Lia teringat saat-saat ketika ibunya masih hidup, mereka sering melakukan aktivitas bersama seperti memasak, berbicara tentang kehidupan, dan melakukan berbagai perjalanan.

Lia juga berpikir tentang bagaimana ibunya selalu mengajarkan kepadanya untuk menjaga kebersihan dan kerapihan di rumah? Sehingga keputusannya untuk bersih-bersih sudah dirasa tepat. 

Dengan pikirannya yang penuh dengan kenangan tentang ibunya, Lia berjanji akan terus menjaga kebersihan dan kerapihan di rumahnya, sebagai bentuk penghormatan dan kenangan untuk ibunya yang selalu peduli dengan lingkungan sekitar.

"Bu, Rafa ngantuk. Kita tidur di sini aja ya." Rafa mengambil tempat di pinggir dinding.

"Eh, ibu kan tidur di kamar Syifa, sampai dia masuk SD. Kamu lupa?"

"Malam ini aja? Please!" Si sulung memasang wajah memelas.

"Iya, tapi kalau adikmu bangun ibu pindah ke kamarnya ya."

"Oke!" seru calon pelindung keluarga masa depan itu sambil memeluk ibunya dan bersandar di dada sampai pelan-pelan tertidur.


TAMAT

Gorontalo, 7 Februari 2024


Terima kasih sudah membaca cerpen drama: Membuang Kenangan. Semoga suka dan selamat membaca. 

Komentar

Popular