Arthdal Chronicles: The Sword of Aramun (2023) | Dari Song Joong Ki jadi Lee Joon Gi
Arthdal Chronicles: The Sword of Aramun (2023) | Dari Song Joong Ki jadi Lee Joon Gi
Sebenarnya, udah lama banget pengin bikin review drama Arthdal Chronicles Season 2: The Sword of Aramun ini. Tapi, baru ada waktunya sekarang ehehe. Terlebih ulasan ini sebelumnya udah pernah aku posting di Opinia, tapi karena Opinia bangkrut tulisan ini jadi nggak punya rumah dan harus masuk antrian tayang di Blog Kak Bi.
Btw, beberapa pembahasan yang aku bawakan di artikel review drama Arthdal Chronicles ini sudah ada yang tayang di FB. Tapi, beberapa poinnya aja ya. Selebihnya, bakal review yang belum pernah aku bahas kok ehehe.
Buat yang mau baca review drama Arthdal Chronicles season 1 bisa klik di sini ya. Dahlah, mari masuk saja ke Review Drama Arthdal Chronicles season 2 di bawah ini:
***
Sinopsis Drama Arthdal Chronicles: The Sword of Aramun:
Drama ini menceritakan kejadian di Arthdal sekitar hampir satu dekade setelah peristiwa di season pertama.
Selama lebih dari delapan tahun, kerajaan baru Arthdal berhasil menekan pemberontakan besar dari suku-suku yang dibantai oleh Tagon (Jang Dong Gun).
Setelah time skip delapan tahun itu, Eun Seom dan Saya (Lee Joon Gi) kini punya jalan hidup yang berbeda. Eun Seom menjadi pemimpin Suku Ago dan di bawah kepemimpinannya, suku Ago akhirnya berhasil menyatukan 30 klan yang telah terpecah selama 200 tahun.
Sementara Saya, masih punya ambisi terhadap Arthdal dan Tanya, tentunya.
Tanya (Shin Se Kyung) sendiri, semakin kuat sebagai pemimpin kepercayaan para pendeta dari Klan Wahan.
Tagon dan Taealha (Kim Ok Vin) masih mempertahankan posisi mereka di puncak kekuasaan, sebagai raja dan ratu Arthdal. Konflik pun makin panas, pertempuran makin brutal, dan pertarungan politik semakin kejam!
***
Review Drama Arthdal Chronicles Season 2: The Sword of Aramun: Rating 9.3/10 untuk drama yang sudah bertahun-tahun ditunggu ini.
Ya, meskipun Arthdal Chronicles kembali dengan wajah baru untuk season duanya di tahun 2023. Tapi, nggak apa-apa, karena aku puas dan dengan segala pertanyaan yang terjawab serta selesai di season kedua.
Dari segi eksekusi, ada banyak sekali peningkatan dibandingkan season pertama, tapi juga ada hal yang terasa kurang maksimal.
Baca juga: Tips Menulis: Cara Meningkatkan Plot
Review Drama Korea lainnya: Mr. Queen
Review Drama Arthdal Chronicles: The Sword of Aramun: Lee Joon Ki dan Shin Se Kyung
1. Lee Joon Gi
Di season kedua ini, Lee Joon Gi sebagai Eunseom dan Saya datang dengan aktingnya yang mantap! Oke, mari kita bahas dulu elemen paling kuat di season ini ya; Lee Joon Gi.
Aku sempat baca-baca, banyak banget yang ragu ketika Song Joong Ki memutuskan tidak kembali untuk memerankan Eunseom dan Saya, tapi ternyata Lee Joon Gi berhasil membawa karakter ini ke level yang lebih matang.
- Eunseom di season pertama, masih seorang pemuda yang berusaha mencari identitasnya. Sekarang, dia sudah berkembang menjadi pemimpin yang kuat dan cerdas.
- Saya sebelumnya lebih misterius dan manipulatif, kali ini aku bisa melihat sisi yang lebih emosional dari karakter ini, walau masih menyebalkan.
Aku nggak tahu sama yang lain, tapi aku sama sekali tidak merasakan perbedaan dari versi Song Joong Ki ataupun Lee Joon Gi. Mungkin karena aku sudah terbiasa mengatur pikiran bahwa boleh saja pemeran 'versi dewasa' dimainkan oleh orang yang berbeda.
Dan pikiran ini berhasil membuatku bisa menerima Lee Joon Gi yang perannya terasa alami. Apalagi kalau soal action scenes, sudah pasti top-tier deh. Lee Joon Gi gituloh.
2. Shin Se Kyung
Kemunculan Tanya versi terbaru ini bahkan sudah menuai banyak kritik jauh sebelum dramanya tayang. Entahlah, aku masih tidak bisa paham alasan orang yang nggak suka sama Shin Se Kyung. Alasan-alasan mereka terlalu 'biasa' dan ada tendensi membenci tanpa alasan yang jelas.
Aku bahkan sempat baca komenan soal Tanya yang katanya beda banget nggak kayak Tanya (Kim Ji Won), dan bilang kangen lihat Tanya yang 'ceria' karena Tanya (Shin Se Kyung) di season 2 terlalu serius.
Dduh, apa beliau nonton Arthdal season 1 cuma sampe episode Tanya ngajarin Saya nembak burung aja kali ya....?
Mari kita bahas soal pembawaan Shin Se Kyung, dengan karakter Tanya di season ini yang menurutku mengalami perkembangan signifikan. Dari seorang gadis muda yang kebingungan, Tanya mulai memahami perannya sebagai pemimpin spiritual. Lantas, apa dengan kedewasaan yang memeluk status barunya, Tanya harus tetap jadi gadis muda yang emosian dan grasak-grusuk. Oh, tentu tidak.
***
Aku sendiri sudah langsung terbiasa sama Lee Joon Gi dan Shin Se Kyung begitu nonton episode 1. Eunseom, Tanya dan Saya versi ini memang lebih dewasa. Ya, iyalah orang si Nunbyeol, Doti dan anaknya Tagon aja udah gede kan di season ini wkwkw.
Lee Joon Gi, oh Lee Joon Gi. Aku bahkan baru sadar saat menonton, kalau warna suaranya mirip Song Joong Ki. Se Kyung juga bisa bikin penekanan suaranya jadi mirip Kim Ji Won saat menjadi Tanya. Entah perasaanku atau gimana, aku sempat coba menutup mata pas mereka ngomong dan walhasil itu beneran Eunseom, Tanya dan Saya di kepalaku.
Kemampuan akting dan jam terbang memang nggak bisa bohong. Kagum banget dengan kemampuan spiritual Tanya yang sudah berkembang, bahkan rela berkorban saat menuju episode akhir.
***
Review Drama Arthdal Chronicles Season 2: The Sword of Aramun: Konflik yang Super Padat
Dengan adanya season 2, ending season 1, akhirnya terjawab. Meskipun tidak pakai sosok Xabara. Aku sama sekali nggak ada masalah.
Season ini memang terasa lebih dark dibanding sebelumnya. Konflik antara Eunseom dan Arthdal, serta pertarungan politik antara Tagon, Tanya, dan Taealha, membuat setiap episode jadi penuh intrik.
Ini bukan sekadar perang fisik, tapi juga perang strategi dan kekuatan diplomasi. Tagon bahkan masih kejam dan licik, dengan segala rahasianya. Taealha makin menunjukkan sisi ambisiusnya, sementara Tanya mulai menunjukkan kekuatan sebagai pemimpin. Masing-masing karakter punya agenda sendiri, dan kita bisa melihat bagaimana mereka semua terus berusaha bertahan dalam dunia yang penuh pengkhianatan itu.
Season ini juga menampilkan pertempuran besar antara suku Ago dan Arthdal dengan kasih visual yang keren. Strategi perang dan politiknya makin dalam dibanding season sebelumnya. Berat banget, sampai sebenarnya agak bosan juga karena terlalu 'politik banget'. Tapi, koreografi aksinya yang lebih realistis dan brutal itu lumayan memacu adrenalin.
***
Review Drama Arthdal Chronicles Season 2: The Sword of Aramun: Karakter yang Lebih Matang
Season ini benar-benar memberikan ruang bagi karakter-karakternya untuk berkembang. Walau banyak wajah yang diganti.
1. Tagon dan Taealha: Pasangan ini bukan sekadar karakter antagonis biasa. Ada momen di mana kita bisa memahami motif mereka, meskipun tetap sulit untuk membenarkan tindakan-tindakan mereka sih.
Dear My lovely Tagon dan Taealha, sejak season 1 aku lebih setuju kalau pemeran utama drama ini ya kalian berdua aja wkwkw. Coba bayangkan kalau nggak ada mereka berdua, Arthdal masih jadi kacung Asa Ron. Ketegangan keduanya yang bercampur benci, iri dan cinta, membuatku ingin bikin petisi ke jakkanim-nya. Tapi, ya mau gimana lagi dong.
2. Ipsaeng: Sebelumnya tokoh Ipsaeng diperankan oleh Kim Sung Cheol dan di season 2 ini digantikan sama aktor Lee Hae Won. Secara fisik dua orang ini beda banget, tapi saat menonton aku jadi paham kenapa Lee Hae Won yang jadi Ipsaeng. Cara bicara dan ekspresinya masih Ipsaeng banget. Nggak ada yang berubah. Aku bisa langsung ngenalin dia bahkan saat pakai topeng. Aku langsung ngomong, "Ini Ipsaeng nih."
3. Yangcha, Dalsae dan Mungtae masih dengan pemain yang sama. Ini bikin feel masih berasa Arthdal sebelumnya, tapi juga bikin perasaan menjadi aneh karena kebanyakan pemain memang diganti, eh mereka bertiga rasanya kayak nggak menua sama sekali wkwkwk.
4. Banyak pemain yang diganti, beneran bukan masalah besar. Mulai dari Tachukan, Mirusol, Taemaja, Chaeun, Nunbyeol bahkan Yeonbal, semuanya berwajah baru dengan karakter yang lebih berkembang.
Tapi, vibes dengan pemeran sebelumnya masih berasa banget. Aku suka sosok yang gantiin Chaeun, bahkan cara dia berdiri, ngangkat alis dan cara bicaranya bisa semirip itu dengan Go Bo Gyeol. Keren sih akting mereka.
Aku bahkan paling waspada sama pengganti Nunbyeol, takut dia nggak bisa seindah visualnya Nunbyeol. Eh, ternyata malah bagus-bagus aja tuh. Nah, yang susah terbiasa justru penggantinya Yeobi.
Artikel lainnya: Fotografi Langit
Mungkin Anda sukai: A Tale of Two Sisters
Review Drama Arthdal Chronicles Season 2: The Sword of Aramun: Kekurangan Drama
Aku nggak akan masukin pembahasan 'politik' sebagai kekurangan drama walau aku sempat agak bosan. Kenapa? Karena genrenya ya emang gitu, salahku yang tetap nonton dari season pertama kan ya?
Tapi, ada beberapa hal yang sebenarnya jadi catatan kecil yang bikin drama ini jadi nggak segonjreng season 1.
1. Adegan dramatis yang agak lebay. Ada beberapa adegan yang terasa aneh sih. Salah satunya adalah adegan di mana Tagon melukai Yangcha, tapi Tanya masih punya momen ngobrol dulu sebelum Tagon melanjutkan aksinya – kayak lagi kasih waktu untuk ngedrama.
2. Poin ini hanya soal ketidakpuasan dan kekesalanku saat Mubaek metong. Kayak apaan banget sih??? Aku nggak terima iih.
3. Endingnya terlalu buru-buru nggak sih? Kayak mau cepat-cepat bikin koneksi ke kisah yang sempat ditampilkan di awal episode season duanya itu (yang ada Suho EXO-nya). Lalu, ada bau-bau kembalinya Taealha, Arok dan Saya untuk season ketiganya yang entah kapan. Nggak usah ngarep!
4. Oh ya, kostumnya tidak semewah season 1 loh. Aku sempat baca kalau kostum di season 1 sempat diprotes karena mirip Game of thrones. Nah, kayaknya kali ini dibikin lebih 'Asia' tapi aku masih suka. Cuma agak sedih aja karena nggak bisa lihat Taealha gerai rambutnya. Huhuhu aku suka banget kostum Taealha di S1. Kostum Tanya juga kurang effort huhu, kayak kusam banget sih.
***
Meskipun ada kekurangan, Arthdal Chronicles: The Sword of Aramun ini masih bisa dinikmati sebagai drama fantasi sejarah yang solid, apalagi bagi yang sudah rela menunggu bertahun-tahun.
Aku sendiri sangat puas dengan drama ini, karena memberikan jawaban yang aku mau atas segala kerisauan tentang nasib para tokoh di season 1. Well, segitu aja review drama Arthdal Chronicles: The Sword of Aramun. Mohon maaf kalau ada salah-salah kata. Terima kasih sudah mampir. Maaf, review-nya telat banget ehehe.


Komentar
Posting Komentar