Can This Love Be Translated (2026): Review Drakor Kim Seon Ho dan Go Youn Jung | Hot Topic
Can This Love Be Translated (2026): Review Drakor Kim Seon Ho dan Go Youn Jung | Hot Topic
![]() |
| poster-utama-can-this-love-be-translated.jpg |
Di Januari 2026 kemarin, siapa yang ter-Hojin-Hojin? Oh, jelas aku dong~~
Ini adalah drama comeback Kim Seon Ho yang paling kutunggu-tunggu dan jujur ya… kalau dilihat dari plot garis besar, mungkin bisa dibilang drama romance–comedy dengan sentuhan psychological dan mystery tipis. Tapi entah kenapa, setelah tamat, rasanya aku nggak bisa move on.
Apakah karena plot twist-nya? Karena metaforanya? Atau karena Go Youn Jung dan Kim Seon Ho muncul di layar dan semua dosa naskah Hong Sister lantas termaafkan?
Mari kita bedah pelan-pelan.
***
Info Drama
***
Sinopsis Drama Can This Love Be Translated?:
Joo Ho Jin (Kim Seon Ho) adalah seorang penerjemah yang menguasai berbagai bahasa, mulai dari Inggris, Jepang, hingga Italia. Dalam bekerja, Ho Jin memiliki prinsip profesional yang agak kaku. Di mana dia harus tetap netral, tidak terlihat, dan hanya menjadi "penyambung lidah" yang akurat saja.
Prinsip tersebut mulai runtuh saat dia ditugaskan menjadi penerjemah pribadi bagi bintang papan atas global, Cha Mu Hee (Go Youn Jung).
Cha Mu Hee adalah sosok yang penuh pesona dan kepercayaan diri di depan publik. Namun, di balik citranya yang anggun, dia perlahan-lahan memiliki kepribadian ganda, setelah sadar dari koma. Dengan munculnya Do Ra Mi, sosok yang dia perankan di film sebelum koma, dinamika hidup Cha Mu Hee berubah total.
Dia menjadi sangat blak-blakan, sinis, dan bahkan tak jarang berbicara kasar secara privat.
***
Rating 10/10 untuk drama yang benar-benar memikatku di awal tahun 2026 ini.
Baca juga: REVIEW HOMETOWN CHA-CHA-CHA | SHIN MIN AH SI DOKTER GIGI VS. HONG BANJANG
Review lainnya: REVIEW DRAKOR WHEN LIFE GIVES YOU TANGERINES (2025) | SLICE OF LIFE TERBAIK 2025
Review Lengkap Drama Can This Love Be Translated?:
![]() |
| poster-can-this-love-be-translated.jpg |
1. Plot & Premis: Cinta sebagai Bahasa yang Sulit Diterjemahkan
Premisnya sederhana tapi filosofis yaitu bagaimana kalau seorang penerjemah bahasa justru gagal menerjemahkan perasaannya sendiri dan gagal menerjemahkan bahasa wanita?
Ya, begitulah Joo Ho Jin, pria pintar, kaya, rapi, kalem, multilingual. Ya, tipe yang kelihatannya bisa memahami apa pun. Tapi kebingungan saat menerjemahkan bahasa cinta.
Sementara, Cha Mu Hee adalah perempuan ceria di luar, tapi menyimpan trauma masa kecil yang membentuk alter ego bernama Do Ra Mi sebagai penerjemah bahasa kalbunya yang kusut.
Terlebih, drama ini nggak pakai antagonis klasik. Konflik utamanya bukan orang jahat. Tapi trauma, salah paham, cara bicara yang berbeda dan bahasa cinta yang nggak sinkron.
Dan dialog dari Yeong Hwan ahjussi menjadi kunci drama ini. Di mana dia bilang kalau jumlah bahasa itu sama dengan jumlah penduduk di dunia. Setiap orang berbicara dalam bahasanya sendiri.
Boom. Itu inti dramanya. Ho Jin mungkin saja bisa menerjemahkan 7.100 bahasa, kalau dia mau belajar. Tapi bahasa cinta Mu Hee? Itu yang paling sulit.
Oh ya, aku mau bahas juga soal ada bagian yang terasa jalan santai. Iya, 10 episode ini kan isinya miskom dan kurang peka tuh.
Tapi 12 episode ini nggak maksa, nggak ada subplot yang nggak penting dan emosinya tuh konsisten. Dan jujur aja … kalau ini 16 episode dan ongoing, aku bakal galau brutal nungguinnya.
***
2. SPOILER: Plot Twist yang Masuk Akal
Ada beberapa hal soal plot twist drama ini. Pertama soal kebenaran orang tua Cha Mu Hee. Awalnya aku percaya kalau ibunya meracuni kue dan ayahnya meninggal. Kemudian Mu Hee melompat dari balkon dan semua selesai sebagai tragedi masa lalu.
Ternyata? Ayahnya selamat, struktur keluarga yang aku kira salah dan aneh justru jadi kunci, terlebih informasi yang diberikan ke Mu Hee nggak sepenuhnya benar.
Trauma Mu Hee bukan cuma soal racun. Tapi soal kalimat ibunya, “Kalau kamu nggak ikut mati, nggak ada yang cinta sama kamu.”
Kalimat itu membentuk kepribadian avoidant dalam dirinya. Setiap kali Mu Hee merasa bahagia, ada suara kecil yang bilang, "Tenang aja, nanti juga ditinggal kok.”
Makanya tarik-ulur sampai 10 episode, bikin aku sempat frustasi. Tapi ini realistis sih.
![]() |
| go-youn-jung-dorami-artis.jpg |
Lalu plot twist kedua, soal Do Ra Mi yang bukan sekadar Alter Ego. Si Do Ra Mi ini bukan cuma cewek cegil lucu yang mendadak muncul, gegara Mu Hee memerankan karakter zombie pembunuh itu sebelum kecelakaan di lokasi syuting terakhir.
Dia adalah representasi sisi ibu Mu Hee yang nggak stabil. Juga representasi ketakutan Mu Hee sendiri, yang menjadi sisi liar dan berani mengatakan apa yang Mu Hee pendam.
Dan Go Youn Jung waktu jadi Do Ra Mi? Badas. Lucu. Canduuu. Aktingnya halus, ekspresi mikro jelas, auranya mahal. Bahkan saat plot sempat jalan santai tanpa arah jelas, kehadiran dia bikin aku tetap betah menonton.
***
3. Karakterisasi yang Kuat
* Joo Ho Jin: Green Flag Multibahasa
Kim Seon Ho berhasil bikin ini terasa sebagai true comeback romcom-nya. Ho Jin itu pintar, EQ tinggi, nggak manfaatin keadaan saat Mu Hee rapuh dan berpikir untuk selesaikan masa lalu dulu sebelum maju. Pun dia nggak goyah walau tahu background Mu Hee.
Ini cowok Papago realistis dan sabar banget. Dia nggak langsung nembak pas sadar suka sama seseorang. Jauh banget sama cowok-cowok yang aku kenal, baru ngobrol beberapa jam atau ketemu sekali udah nembak. Lah, aneh.
Pokok, Joo Ho Jin ini impian setiap wanita yang maunya diperjuangkan tanpa dipaksakan. Eyyak. Bahkan adegan pelukan pertama di restoran Jepang? Itu aura ngemongnya kuat banget loh.
Scene waktu dia mau jual rumah warisan tapi bilang, “Tapi Cha Mu Hee suka rumah ini .…” Selesai. Tamat. Jantung meledak. Kalian-kalian cowok di luar sana, lewaaaat!!!
![]() |
| kim-seon-ho-joo-ho-jin-penerjemah.jpg |
* Cha Mu Hee: Si Avoidant Sejati
Mu Hee ini maju mundur bukan karena plin-plan. Tapi karena dari kecil tertanam kalau dia nggak layak dicintai.
Dia ngejar, tapi pas dikejar balik? Malah mundur. Karena bahagia itu terasa seperti ancaman. Bukannya kita-kita juga gitu ya, kalau udah bahagia dikit pasti parno, "Ini kenapa terlalu bahagia? Takut banget tiba-tiba ada hal bikin nangis?"
Ini tipe trauma yang sering banget ada di dunia nyata.
Sekali lagi aku tekankan ya, Cha Mu Hee itu tipe karakter yang bikin penonton pengen nyeret dia ke pojokan dan bilang, “Lu maunya apa sih? Ngomong yang jelas!”
Soalnya, dia tuh mikir sendiri, suka sendiri, nembak, ditolak, nembak lagi. Eh, pas dikasih lampu hijau malah mau putus sebelum mulai.
Capek? Iya. Tapi justru di situ letak kejujurannya. Mu Hee nggak main taktik. Dia bukan tipe yang jaim atau menjaga image. Dia jatuh cinta dan bereaksi impulsif. Bahkan saat itu mengacak-acak dunia Ho Jin.
Dan kalau dipikir-pikir, ini masalah generational clash yang menarik. Cha Mu Hee anak Gen Z, ceplas-ceplos, ekspresif, spontan. Sementara Ho Jin si milenial yang masih A-I-U-E-O soal ungkapan hati, rapi, terstruktur. Mereka bukan cuma beda kepribadian. Mereka beda ritme emosional wkwkwk.
![]() |
| go-youn-jung-cha-mu-hee-artis.jpg |
* Second Couple: Ji Seon & Yong U
Awalnya kukira si Ji Seon ini bakal jadi pengganggu. Ternyata nggak ehehe, soalnya dia kan yang jadi destinasi utama hati Ho Jin di awal episode waktu di Jepang itu.
Sementara Yong U datang sebagai manager yang peka. Lelaki, straight to the point tapi bisa jaga ritme perasaan ke orang yang disukai dan bertanggung jawab. Dia nggak main-main soal komitmen. Kalau udah cipok-bobo, ya pacaran.
Bandingkan dengan Jin Suk si mantannya Ji Seon yang minta nikah cuma karena mumpung lagi mau nih.
Yaa, Yong U menang karena
Ji Sun merasa diusahakan. Standing applause juga untuk penyelesaian hubungan Ho Jin dan Ji Sun yang dewasa. Mereka mengakui pernah suka. Tapi itu masa lalu. Nggak ada drama murahan.
![]() |
| second-couple-ji-seon-yong-u.jpg |
* Hiro: Bukti Cinta Itu Usaha
Aku juga mau kasih spotlight ke Hiro. Dia mulai semuanya dari kesal, sinis dan nggak mengerti Mu Hee. Tapi perlahan berubah.
Dia bahkan belajar bahasa Korea demi bisa berkomunikasi langsung, padahal punya penerjemah.
Itu simbolis banget. Belajar bahasa orang yang kita sayang itu bentuk respek paling konkret. Dan itu selaras dengan pesan utama drama ini, cinta bukan soal perasaan aja. Tapi usaha memahami.
![]() |
| Hiro-dan-cha-mu-hee.jpg |
* Sebagai penonton CTLBT yang gagal move on, aku banyak berterima kasih kepada Kim Yeong Hwan ahjussi, Hiro, Park PD-nim, Yong U dan Do Ra Mi yang sudah mau menerjemahkan bahasa cinta Cha Mu Hee dan Joo Ho Jin yang kusut banget.
***
4. Sinematografi, OST, dan Atmosfer
Set latar dan color grading-nya lembut tapi hangat. Indah banget sih. Benar-benar memanjakan mataku woy, sampai sekarang aku masih pakai salah satu scene aurora di tabletku sebagai wallpaper.
Menonton drama ini rasanya seperti ikut healing tour lintas negara. Visualnya bukan cuma cantik, rapi punya fungsi naratif.
Setiap kota terasa seperti ruang refleksi atau ruang untuk mencoba lagi. Dan adegan di Jepang itu salah satu yang paling kuat secara emosional.
Bayangin aja, kamu di negara asing, merasa kecil, malu dan merasa nggak cukup. Lalu ada seseorang yang bukan cuma menerjemahkan bahasa … tapi juga menyelamatkan harga dirimu. Ya, kalau aku sih pasti bakal jatuh cinta.
OST-nya juga melekat banget, nggak cuma lewat, tapi nempel di memori. Ada dua lagu yang selalu aku play yaitu Kim Min Seok- Love Language dan Wendi Red Velvet-Day Dream. Ah, lagu yang judulnya Promise juga enak tuh.
***
5. Kenapa Drama Ini Terasa Real?
Karena miskomunikasi-nya bukan dibuat-buat. Contoh paling menyakitkan adalah saat Ho Jin bilang suka, itu sebagai keberanian walau prosesnya lama. Sementara Mu Hee menjauh sebagai bentuk hormat. Tapi keduanya diterjemahkan sebagai penolakan. Aku frustrasi sebagai penonton.
Tapi itu kejadian tiap hari di dunia nyata. Perempuan tuh butuh kepastian dan laki-laki butuh kejelasan. Cinta gagal bukan karena kurang kuat. Tapi karena nggak dipahami aja sih.
Terlebih drama ini bukan soal “apakah mereka jadian?" Tapi soal, "apakah cinta bisa diterjemahkan, kalau kita mau belajar bahasanya?"
Dan mungkin jawabannya sederhana banget yaitu kalau nggak paham … ya belajar. Jangan buru-buru menilai.
![]() |
| joo-ho-jin-green-flag-drakor.jpg |
6. Masih Ada Nggak Joo Ho Jin di Dunia Nyata?
Pertanyaan ini valid banget. Karena sepanjang drama, aku lihat Ho Jin disiksa tarik-ulur, diuji kesabarannya dan dipaksa menebak bahasa yang nggak pernah dijelaskan dengan jelas. Sebagai penonton perempuan, aku baper dong. Tapi kalau dari POV laki-laki bagaimana?
Kayaknya Ho Jin itu lelah banget ya eheheh. Dia hampir menyerah karena merasa gagal memahami bahasa cinta Mu Hee. Dan ini real banget. Kadang laki-laki bukan nggak peduli, sepertinya mereka cuma nggak tahu harus membaca apa dari kode-kode yang terlalu abstrak.
Drama ini berani menunjukkan bahwa mencintai perempuan dengan luka batin itu butuh stamina emosional dan Ho Jin bertahan kukan karena dia sempurna. Tapi karena dia memilih untuk belajar.
So, buat para lelaki, nggak ada salahnya belajar. Tapi, semoga saja aku nggak kayak kebanyakan wanita di luar sana yang bahasa cintanya sulit dimengerti wkwkwkw.
Mungkin Anda sukai: KAK BI: REVIEW DRAKOR 100 DAYS MY PRINCE (2018)
Artikel lainnya: RESIDENT PLAYBOOK (2025) | REVIEW DRAMA KOREA MEDIS SLICE OF LIFE
7. Yang Bikin Beda dengan Drama Lainnya
Meskipun aku kesal sama komunikasi Hiro dan Mu Hee, karena kenapa sih kalian nggak pakai aplikasi Papago itu atau Google Translate buat ngobrol?
Tapi, aku tahu ada hal yang bikin drama ini beda dari formula klasik dan bikin aku yakin kasih rating 10/10 sebut saja:
1. Nggak ada masa kecil yang ternyata takdir karena udah ketemu sejak dulu.
2. Nggak ada hujan-payung-klise.
3. Nggak ada mabuk tenda galau.
3. Nggak ada miskin vs kaya dramatis. Karena kedua pasangan ini setara, yang satu anak orang kaya yang jadi artis dan yang satunya lagi anak orang kaya yang jadi penerjemah.
4. Nggak ada antagonis jahat.
Semua konflik berasal dari manusia biasa. Bahkan paman-bibi Mu Hee yang awalnya kucurigai pun ternyata kompleks, bukan jahat tok.
Semua karakter punya alasan, semua manusiawi dan justru itu yang bikin drama ini terasa dewasa banget.
Drama ini mengajarkan untuk jangan hidup dari asumsi. Jangan takut masa depan yang belum tentu terjadi. Selesaikan luka sebelum membangun cinta yang baru. Jangan wariskan trauma ke anak dan belajar mencintai diri sendiri dulu. Dan yang paling penting adalah bahasa yang sama belum tentu berarti pemahamannya sama juga eyyyak.
***
Well, kalau kamu pernah jadi Mu Hee, pernah jadi Ho Jin, atau pernah salah menerjemahkan perasaan orang lain, drama ini bakal kena di hati.
Ini bukan cerita tentang pasangan sempurna. Ini cerita tentang dua orang yang akhirnya mau belajar. Dan mungkin, seperti judulnya, cinta memang bisa diterjemahkan kok … asal dua-duanya mau duduk, diam, dan benar-benar mendengar.
Terima kasih sudah baca review panjang ini, semoga tidak bosan ya. Coba spill di bawah, mana adegan favoritmu?










Komentar
Posting Komentar