[Spooktober] Sesal Terpendam dan Kenangan Malam Itu: Cermin Horor
[Spooktober] Sesal Terpendam dan Kenangan Malam Itu: Cermin Horor
1. Sesal Terpendam
Di tanah yang gundukan merahnya masih basah, di bawah langit senja yang muram, terdapat sebuah makam yang belum lama dipendam oleh kisah sedih.
Bunga-bunga putih dan merah mendadak merekah, tumbuh di sekitarnya, menambah kesan kesedihan yang mendalam. Di sinilah tempat mereka meletakkan dia yang telah menghembuskan napas terakhirnya.
Bocah kecil yang berpulang kepada Sang Pencipta, setelah kembali ke pelukan sang ayah.
***
Sore itu, desir hujan gerimis mengiringi kepulangan mereka yang merasa sesak oleh kisah sang bocah. Bawaannya, langit yang tertutup mendung seolah-olah tidak cukup memberikan restu bagi kepulangan sang bocah. Air menghujan dari langit, seperti kerinduan dan kesal yang menumpuk.
Di antara riuh rendah gerimis, terdengar suara aneh di telinga-telinga mereka. Rintihan kesakitan, serupa terjepit di tenggorokan yang ingin meronta keluar.
Akan tetapi, tertahan oleh sesuatu yang tak kasat mata. Mereka yang pernah hadir di pemakaman sang bocah merasa merinding, seakan-akan selalu ada sesuatu yang memandangi mereka dari sudut gelap yang tak terlihat.
Terkadang, cekikikan tawa menggema. Tawa yang begitu memekik, membuat mereka gemetar. Itu bukanlah tawa kebahagiaan, melainkan suara yang menjijikkan, seperti ejekan yang datang dari alam yang berbeda.
Bayang-bayang sosok bergaun panjang kadang terlihat. Sosok itu melayang-layang mengitari para pelayat yang pulang ke rumah masing-masing. Dalam kegelapan malam, sosok-sosok itu tampak seperti penari gelap yang datang untuk menghantar kepergian sang bocah.
Suara tangis memilukan mulai memenuhi udara, menggantikan riuh rendah gerimis yang memudar. Rintihan penyesalan mendalam tak lagi tertahan. Mereka yang hadir di makam ikut merasakan sakit yang tak terungkap. Sesuatu yang telah lama mereka disembunyikan, sekarang muncul ke permukaan.
Bocah dengan foto manisnya di atas tanah, tiba-tiba membuat beberapa orang mulai berteriak. Beberapa memaki, beberapa menangis. Sungguh, bagai diiris dengan sembilu.
***
Sore itu, sang waktu tampaknya tidak cukup untuk menyelesaikan semua penyesalan. Semua itu terpaksa harus dihadapi dan terungkap. Ruh yang telah tinggalkan tubuhnya, sebelum perjalanan berakhir membawanya pergi dengan sejuta pertanyaan yang tak pernah terjawab.
Makam yang masih basah itu adalah hasil dari keegoisan warga kampung yang memisahkan sang bocah dari ibunya untuk diberikan kepada sang ayah. Siapa yang menyangka, tubuhnya pulang dalam keadaan kaku tak bernyawa. Hanya semalam saja, setelah bermalam di rumah sang ayah, bocah itu menjadi korban botol-botol berbau dosa yang diminum karena patah hati.
Mulai hari itu, mereka; warga kampung akan selalu diteror rasa bersalah, oleh tangisan bocah yang pernah meraung enggan dipisahkan dari sang ibu. Mereka akan hidup dalam gelisah dan sesal, saat bertatap mata dengan sang ibu yang jiwanya patah oleh takdir.
TAMAT
Gorontalo, 14 Oktober 2023
***
Baca juga: [SPOOKTOBER] CERPEN HOROR SERU: LENTERA LANTAI 13
Cerpen lainnya: [SPOOKTOBER] TURUN DAN KEJADIAN MISTIS DI GUNUNG: CERMIN HOROR
***
2. Kenangan Malam Itu
Malam itu, suasana yang tak wajar merajai tempat di mana kaki-kaki letih beristirahat. Dingin menggigit tulang, dan hening mengisi ruang hingga tampaknya menjauhkan segala macam kehidupan.
Aku terbaring sendirian di sudut ranjang, di ranjang lainnya kakak perempuanku terlelap dengan dengkuran yang semakin lama semakin tenang. Sementara aku, tersesat dalam sepi yang semakin lama semakin menakutkan.
Tiba-tiba, dentingan lonceng bergaung di kegelapan. Jantungku berdegup kencang, dan rasa takut merayap di tulang belulang. Suaranya semakin nyaring, aku mencoba untuk memejamkan mata untuk mengabaikan suara itu. Mencoba lelap, tetapi ketakutan mencegah untuk tertidur.
Kutarik selimut, hingga ujung kaki bebas terkena udara malam. Tiba-tiba, terdengar sesuatu yang tidak seharusnya ada di malam ini. Bersamaan dengan lonceng di kaca jendela yang bergemerincing, meskipun tak ada angin yang meniup, rengekan anak kecil samar-samar terdengar.
Aku menggigil, bulu kuduk berdiri. Aku bangun dan duduk di atas ranjang, mata ini menangkap sosok misterius di luar jendela.
Sosok itu, seperti bayangan yang muncul dari kegelapan, menghampiri jendela. Tak ada wajah yang muncul sebab tertutup tirai, hanya kepala tanpa fitur yang jelas, bayangan seolah rambut panjang terurai.
Namun, yang paling mengerikan adalah suara yang keluar darinya. Terdengar lengkingan tawa yang menggelikan, menggetarkan hati dan mengejutkan ketenangan malam.
Dengan sisa-sisa keberanian, aku meraih tasbih di dekat meja, kunyalakan lampu baca dan bersandar di bagian atas ranjang sambil berdzikir.
Sesekali, kuucapkan dzikir dengan lantang, berharap untuk mendapatkan perlindungan Ilahi. Sosok misterius itu mendadak menggeram, kuharap dia terbakar oleh kekuatan doa.
Perlahan-lahan, dia mulai memudar, hilang dalam kegelapan yang kembali memenuhi malam.
Aku perlahan meluncurkan badan dan meregangkannya di ranjang, masih dalam ketakutan yang tak terlupakan dan masih dengan dzikir yang terlontarkan.
***
Karena menangan buruk di malam itu, aku menyadari bahwa di alam semesta ini, ada hal-hal yang tak dapat kita jelaskan. Mekuatan yang tak bisa kita lihat, dan ketakutan yang selalu mengintai di sudut-sudut kegelapan.
Setiap malam, aku selalu dihantui rasa takut, bila lupa mengucap doa sebelum tidur. Aku yakin, mereka akan kembali padaku saat lengah dan tak berdaya.
TAMAT
Gorontalo, 12 Oktober 2023
Cerpen ini terinspirasi dari kejadian nyata di mana aku melihat bayangan tangan di suatu malam. Kapan-kapan aku ceritain eheheh....

Komentar
Posting Komentar