Terbaru

Alas Roban (2026): Review Film Horor Indonesia

 Alas Roban (2026): Review Film Horor Indonesia 



Sebagai pencinta horor, aku udah tahu kalau Alas Roban ini sudah lama dikenal sebagai salah satu lokasi paling angker di Pulau Jawa, walau aku nggak tinggal di pulau Jawa ya. 

Wajar kalau saat kisahnya diangkat menjadi film horor, ekspektasi penonton langsung tinggi. Apalagi film ini menjanjikan perpaduan horor, drama keluarga, dan urban legend yang cukup melegenda.

Sayangnya, setelah menonton, aku merasa Alas Roban nggak sesuai ekspektasi. Ada beberapa bagian yang benar-benar berhasil membangun suasana mencekam, tetapi ada juga keputusan cerita yang justru bikin pengalaman menontonnya terasa naik turun.

Btw, aku nggak nonton di bioskop tapi di Netflix, makanya mungkin aja vibes dan feels nonton di bioskop sama Netflix tuh beda.


***


Info Film

Judul: Alas Roban

Genre: Horor, Misteri, Drama

Sutradara: Hadrah Daeng Ratu

Penulis Naskah: Evelyn Afnilia

Pemain: Michelle Ziudith, Rio Dewanto, Taskya Namya, Fara Shakila, Imelda Therinne

Tayang: 15 Januari 2026 

Durasi: 111 Menit

Rating Usia: 13+


***


Sinopsis Film Horor Indonesia Alas Roban:

Suatu malam, Sita dan putrinya, Gendis, melewati jalan Alas Roban dan sempat terhenti saat bus tiba-tiba mogok karena menabrak sesuatu.

Sejak perjalanan itu, hidup mereka berubah total. Teror demi teror mulai menghantui ibu dan anak ini, hingga akhirnya terungkap bahwa ada sesuatu yang tertinggal di Alas Roban dan harus diselesaikan.

Di balik semua kejadian itu, mereka harus menghadapi misteri sosok Dewi Raras, arwah-arwah penghuni Alas Roban, serta rahasia yang membuat tempat tersebut terus memakan korban.


***


Rating 6.5/10 aja untuk film horor yang punya konsep menarik, atmosfer cukup kuat tapi kurang banget.

Alur cerita dipenuhi banyak pertanyaan yang nggak terjawab, karakter villainnya kurang mengancam, dan babak akhirnya justru menjadi bagian paling lemah.


Baca juga: REVIEW FILM HOROR THAILAND TERBAIK 2004: SHUTTER

Review lainnya: THE CURSED: DEAD MAN’S PREY (2021): DUKUN INDONESIA DI FILM KOREA [SPOOKTOBER]


Review Film Horor Indonesia Alas Roban:



1, Opening dan Jumpscare yang Berhasil Membangun Suasana

Salah satu kekuatan Alas Roban ada di bagian awal film. Openingnya berhasil bikin suasana terasa mencekam dan berasa nggak nyamaan gitu, apalagi ketika legenda Alas Roban mulai diperkenalkan. Beberapa adegan awal benar-benar sukses menciptakan rasa penasaran tentang apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang akan terjadi di jalan angker tersebut.

Ditambah lagi, penggunaan lokasi hutan yang gelap bikin atmosfer mistisnya cukup terasa.

Well, entah, kamu ingat atau tidak. Aku pernah bilang di ulasan lainnya, kalau aku kurang suka film horor yang jumpscare-nya terlalu mengagetkan dan bertebaran tidak sesuai tempat.

Kalau tujuan utamanya mencari suasana horor, film ini sebenarnya cukup berhasil dengan jumpscare-nya yang terasa pas dan nggak semuanya mengandalkan suara keras. Salah satu adegan yang paling berkesan adalah waktu Tika mencari Gendis di dalam rumah, lalu membuka pintu kamar mandi dan muncul sosok menyeramkan tepat di balik pintu.

Sudut pandang Gendis yang melihat dunia dengan siluet-siluet samar juga menjadi ide yang menarik, meski menurutku belum dimanfaatkan secara maksimal di sepanjang film.

Ditambah lagi, makeup efek untuk beberapa hantu terlihat cukup bagus. Senyum Gendis setelah keluar dari kamar mandi bahkan menjadi salah satu visual paling menyeramkan di film ini.


2. Ceritanya Menarik, Tapi Banyak Hal yang Mengganjal

Konsep utama film sebenarnya cukup unik. Ide tentang jiwa Gendis yang tertinggal di Alas Roban lalu harus dikembalikan menjadi konflik utama. Ditambah lagi legenda Alas Roban memang memberi ruang untuk eksplorasi cerita supranatural.

Sayangnya, semakin lama film berjalan, malah semakin banyak pertanyaan yang justru tidak dijelaskan.

Yang paling mengganggu adalah kenapa Sita dan Gendis bisa selamat dari perjalanan bus pertama, sementara hampir semua korban lain langsung menjadi tumbal. Filmnya nggak pernah benar-benar kasih alasan mengapa mereka menjadi pengecualian.

Aturan mengenai siapa yang hilang, siapa yang kembali, hingga kapan korban akan diambil lagi juga terasa nggak konsisten. Akibatnya misteri yang awalnya menarik justru berubah menjadi membingungkan.

Pun, setelah konflik utama berjalan, ritme film mulai melambat. Beberapa adegan terasa berulang, terutama mimpi-mimpi yang terus muncul dan adegan mencari Gendis yang berlangsung berkali-kali. Bukannya menambah ketegangan, bagian ini justru bikin tempo film terasa melelahkan.

Beberapa dialog juga terasa kurang natural sehingga emosi yang seharusnya muncul nggak sepenuhnya sampai ke aku, kayak kaku aja gitu di dengerin.



3. Antagonis dan Ending yang Kurang Memuaskan

Sebagai penjaga sekaligus sosok yang menguasai Alas Roban, Dewi Raras seharusnya menjadi ancaman terbesar dalam film ini.

Sayangnya, kehadirannya justru kurang kuat.

Adegan terakhirnya di hutan nggak memberikan kesan bahwa dia benar-benar sosok mengerikan yang menguasai tempat tersebut. Padahal dengan premis sebesar itu, karakter antagonis seharusnya bisa dibuat jauh lebih mengintimidasi.

Coba tanya ke pembaca novelku yang berjudul Killing (Ho)Me segila apa itu Nyai Selaras? Asyiik, promo dulu, bukunya ada di Google play book dan aplikasi Quarterfullya.

Oke, lanjut ya. Bagian akhir film juga menjadi kelemahan terbesar Alas Roban.

Ketika cerita mulai masuk ke dunia lain, ketegangannya justru menurun. Kehadiran beberapa karakter di alam tersebut terasa kurang memiliki urgensi sehingga konflik kehilangan daya tariknya.

Meski begitu, aku cukup menyukai ritual penutup yang melibatkan banyak orang itu. Unik aja sih, rasanya. Nggak cuma ada satu orang pintar, tetapi ada pemimpin ritual, penari, sampai iringan musik tradisional yang bikin adegan tersebut terasa berbeda dari film horor Indonesia pada umumnya.

Yang juga menarik adalah potongan wawancara masyarakat lokal di bagian akhir. Malah bagian ini yang bikin legenda Alas Roban terasa lebih hidup dibanding sama isi filmnya sendiri.


***


Kelebihan dan Kekurangan Film Indonesia Alas Roban



- Kelebihan:

1. Atmosfer horor cukup berhasil dibangun sejak awal.

2. Makeup efek beberapa hantu terlihat bagus, nggak ada yang bikin aku ketawa karena make-up hantunya jelek.

3. Beberapa jumpscare efektif.

4. Konsep jiwa yang tertinggal di Alas Roban cukup menarik.

5. Ritual penutup terasa berbeda dari horor Indonesia kebanyakan.

6. Akting para pemain oke-oke, walau ada dialog yang kurang mantap.


- Kekurangan:

1. Banyak plot hole yang tidak dijelaskan.

2. Aturan dunia supranaturalnya tidak jelas daan terasa nggak konsisten.

3. Babak tengah mulai repetitif dan bikin ngantuk.

4. Antagonis utama kurang mengintimidasi, kurang berasa villainnya.

5. Ending kehilangan ketegangan.

6. Pengembangan karakter kurang kuat sehingga ikatan emosional tidak terlalu terasa.


***


Alas Roban adalah film Indonesia yang punya ide besar dengan fondasi cerita yang sebenarnya menarik. Legenda Alas Roban sendiri memiliki potensi luar biasa untuk dijadikan horor yang ikonik, sama halnya dengan cerita-cerita horor yang biasa dibawakan sama Youtuber kayak Nessie Judge, Nadia Omara atau Hirotada Radifan.

Sayangnya, eksekusinya belum mampu memaksimalkan semua potensi tersebut. Waktu atmosfer, makeup, dan beberapa adegan horornya sudah berhasil menciptakan rasa takut, ceritanya justru kehilangan arah.

Padahal aku nonton ini karena kata temenku yang nonton waktu masih tayang di bioskop, ini tuh lumayan serem. Mana weyyy???



Komentar

Popular