[Spooktober] Terbelenggu dalam Dosa dan Penampakan: Cerpen Horor Kak Bi
[Spooktober] Terbelenggu dalam Dosa dan Penampakan: Cerpen Horor Kak Bi
Hai, Pengembara. Baca cerita horor, serunya di malam hari kan? Bagi yang kurang berani, memang paling aman baca siang hari aja eheheh.
Oke, selamat membaca dua cerpen horor spesial Spooktober hari ini ya ....***
1. Terbelenggu dalam Dosa
Saat melepas sepatu di kaki, aku melihat ke langit-langit di ruang tamu, entah kenapa rasanya malam ini agak aneh. Mungkin karena hari ini setahun kematian istriku.
Aku masuk ke kamar, dengan kaos kaki yang jadi pilihan terakhirnya. Aku duduk di ranjang melirik kenangan dalam sisa-sisa kebersamaan kami, yang mungkin saja masih teringat di kepala.
Begitu melepas kaos kaki, aku kembali melihat ke langit-langit sebab sedari tadi telingaku menangkap suara aneh. Kamar yang seharusnya nyaman itu terasa penuh dengan aura mencekam.
Ada sesuatu yang merah menetes dari atas, dan aku tersentak ketika tetes-tetes cairan merah itu mengenai pundakku. Darah. Darah segar yang hangat.
Aku membelalakkan mata, mencoba mencari sumbernya, dan itulah saat aku melihatnya. Di atas langit-langit, dengan rambut panjangnya yang merayap ke bawah, berdiri sosok wanita dengan mata yang tajam menusuk jiwaku.
"Astaga, ini tidak mungkin," seruku melempar kaos kaki dan naik sepenuhnya ke atas ranjang.
Dia telah meninggal setahun yang lalu. "Catherine?" bisikku dengan gemetar, merasa semakin kedinginan.
Udara di kamar ini seolah membeku, dan aku tahu ada yang sangat salah. Leherku terasa tertarik, aku dipaksa untuk mendongak. Rasanya hampir patah ketika aku berusaha menahan agar tidak melihat ke arahnya.
Dia tersenyum kejam, bibirnya yang pucat menunjukkan gigi yang menghitam. "Ya, sayang," suaranya bergema di udara, seperti angin malam yang membawa kutukan. "Aku kembali."
Aku tidak bisa bergerak, terlalu terkejut, terlalu ketakutan. Aku tahu bahwa Catherine, istriku yang meninggal dalam kecelakaan mobil tragis, tidak mungkin hidup kembali. Tapi di hadapanku, dia sedang berdiri dengan nyata, dengan mata birunya itu dia memandangiku dengan sangat dingin.
"Apa yang kau inginkan dariku?" desisku, mencoba mengendalikan rasa takut yang merayap di dalam diri.
Catherine melangkah turun dari langit-langit kamar, kakinya menyentuh tanah dengan langkah yang seakan-akan tidak memiliki berat. "Aku ingin kau merasakan apa yang telah kau lakukan padaku."
Aku merasa napasku semakin sesak, saat mencoba untuk menghindari pandangannya yang mematikan. "Aku tidak mengerti, Catherine. Aku tidak pernah melakukan apapun."
Dia mendekat lagi, wajahnya hampir menyentuh wajahku. "Kau ingat malam itu, bukan? Ketika kita bertengkar dan kau mengabaikanku. Ketika kau membawa mobil dengan begitu ceroboh, membawaku ke kematian."
"Apa?" Aku mencoba untuk mengingat memori hari itu.
Buram, aku tidak mengerti apa yang dia maksud. Itu adalah pertengkaran terakhir kami sebelum kecelakaan itu terjadi. Bisa jadi, sebab ketika aku terbangun dari tidur panjang selama 40 hari, pemakaman Catherine sudah lama selesai.
"Kau berbohong," ucapnya dengan nada tajam, dan tangannya tiba-tiba mencengkeram leherku. Aku merasa diri ini terangkat dari ranjang, mungkin hampir melayang. "Sekarang, rasakan bagaimana ketika lehermu hampir patah, seperti yang kau lakukan padaku."
"Sa—yang!!!"
Aku berjuang keras untuk bernapas, tubuhku merasa sakit akibat cengkeramannya yang kuat. Catherine tersenyum lagi, lebih jahat dari sebelumnya. "Aku akan menghukummu, seperti yang seharusnya kulakukan sejak dulu."
Saat dunia mulai memudar, aku merenung tentang kesalahanku dan kematian Catherine.
Beberapa kilasan tentang perkelahian kami tiba-tiba muncul di benak ini. Rasanya sakit, saat Cathrine menuduhku berselingkuh dengan adiknya.
Perdebatan hebat, masalah kantor, ayahnya dan ayahku yang bertengkar hebat usai Cathrine keguguran dan ancaman bunuh diri Catherine semuanya muncul begitu saja.
"Kau, seharusnya mengingat semua dosamu! Beraninya kau melupakan kesalahanmu!" Cathrine berteriak, lalu entah bagaimana dia menghilang begitu saja, meninggalkanku yang kesakitan.
Foto pernikahan kami mendadak jatuh, pecah berkeping-keping. Aku mengatur napas dan berbaring di ranjang sambil menyentuh leher yang sangat sakit. Aku tahu bahwa kutukan Cathrine akan berlangsung untuk selamanya.
Dia ingin aku terbelenggu dalam darah dan penyesalan, di bawah pandangan mata tajam Catherine yang membenciku. Setiap tahun akan selalu begitu.
Ya, aku sudah ingat semuanya. Salahku, sengaja meluncurkan mobil kami ke jurang karena aku tidak tahan dengan rengekan Cathrine. Seharusnya kami mati bersama, tapi justru aku yang selamat.
TAMAT
Gorontalo, 8 Oktober 2023
***
Mungkin Anda sukai: [SPOOKTOBER] PULANG: CERPEN MISTERI HOROR
Baca juga: WATCH OUT! | CERPEN THRILLER KAK BI
***
2. Penampakan
Aku dan kelima teman memutuskan untuk berkumpul di rumah makan favorit setelah jam kerja selesai. Tidak ada yang lebih menggugah selera daripada tahu isi renyah yang dimakan bersama mie kuah telor puyuh.
Kami memesan dua piring tahu, masing-masing seharga lima belas ribu dan bersemangat menyantapnya dengan mie. Tidak ada yang bisa menghentikan kami dari obrolan ringan saat makan.
Suasana begitu riuh, dan kami menikmati waktu berharga bersama. Meskipun, entah kenapa hari ini rasa tahu dan mie-nya agak berbeda.
Namun, tiba-tiba, terdengar teriakan dari luar rumah makan. Mata kami semua beralih ke arah sumber suara, penasaran dengan apa yang terjadi. Kami saling menatap sesaat dan aku merasa ingin tahu suara apa itu dan perlahan berjalan menuju pintu masuk rumah makan.
Ketika aku tiba di luar, pemandangan yang aku lihat benar-benar mengejutkan. Seorang nenek-nenek berambut putih sedang memegang pisau besar dan sibuk memotong labu kuning di atas talenan kayu yang terletak di samping pintu masuk rumah makan.
Labu kuning itu tampak sangat besar dan tebal, dan nenek-nenek itu terlihat sangat serius memotongnya.
Aku mendekati nenek itu dan bertanya dengan heran, "Maaf, nenek, lagi ngapain di sini?"
Nenek-nenek itu mengangkat kepala, wajahnya masih penuh konsentrasi. "Oh, aku sedang memotong labu. Nggak lihat ya?"
"Kok udah lama tidak lihat nenek ya? Kudengar nenek sakit?"
Dia hanya mengembus napas asal sembari melanjutkan memotong labu.
"Labunya buat campuran mie atau tahu isi, Nek?" tanyaku basa-basi.
"Untuk rumah makan ini. Mereka akan pakai sebagai bahan dalam hidangan khas mereka."
Aku masih bingung. "Tapi, kenapa nenek motongnya di sini? Harusnya di dalam saja."
Nenek itu tersenyum dan menjawab, "Ini adalah labu khusus, hanya aku yang bisa memotong dan mengolahnya."
Aku mengangguk mengerti, meskipun tetap merasa aneh dengan situasi ini. Nenek itu tampak sangat tegas dalam tugasnya, dan para pelanggan yang keluar dari rumah makan cuek saja dengan keberadaan nenek itu. Mereka seperti sudah terbiasa dengan pemandangan ini.
"Sebentar lagi selesai!" ujarnya menunduk.
Setelah mendengar itu, aku masuk ke dalam dan melihat teman-temanku berhenti makan, di sebelahnya ada mbak-mbak kasir rumah makan yang berdiri sambil menunduk.
"Kenapa?" tanyaku mengambil tempat duduk.
"Di luar siapa, Li, yang teriak?" Nila menatapku.
"Nggak, tahu. Tapi, hmm, nenek yang punya rumah makan ini ada di depan. Kayaknya ada pelanggan yang kaget lihat dia motong labu di depan!"
Seketika, aku merasa seperti ditatap ribuan mata. Aku memperhatikan teman-teman yang memandang dengan heran ke arahku.
"Kenapa?"
"Ibu saya ada di depan ya, Mbak?" tanyanya dengan suara bergetar.
"Iya, saya barusan ngobrol, katanya udah mau masuk ke dalam. Jadi, saya masuk duluan," ucapku biar tidak ditanyain lagi.
"Ibu saya sudah meninggal seminggu lalu."
Deg.
Aku terkejut, heran serta mendadak takut.
"Tapi, tadi di depan?"
"Iya, beberapa orang masih sering lihat ibu potong labu kuning di depan rumah makan."
"Eyy, bercanda ah. Itu nenek baru masuk, bawa labunya," ujarku menunjuk sosok yang memang sedang berjalan menuju dapur rumah makan.
Dian mendadak batuk. "Astaga, aku lihat juga!" ujarnya mengguncang pundakku.
"Kan?" ucapku pada mbak-mbak kasir.
"Ibu sudah meninggal, Mbak." Mbak-mbak kasir meyakinkanku.
Kami semua hanya bisa terdiam, hanya aku dan Dian yang melihat sosok itu. Dengan kekuatan bahasa mata, aku dan Dian memutuskan bahwa sosok tadi itu adalah penampakan.
***
Kami segera bayar pesanan, karena Dian mendadak minta pulang. Kami pun pergi dengan terburu-buru, tanpa menghabiskan pesanan kami.
Aku merinding begitu melewati pintu masuk warung makan, dari jendelanya aku bisa melihat nenek itu menatap mbak-mbak kasir lalu lenyap seketika.
Begitu aku berbalik, dia mendadak ada di hadapanku dan Dian. Dian berteriak, tentu saja aku juga.
"Tolong aku ya!" pinta si nenek menarik tanganku dan Dian.
"Nggak mau!" Dian menolak, sambil merengek dan aku rasanya jadi mules.
"Tolong!"
"Iya! Iya!" Aku berteriak setuju. "Mau apa?" Aku sok berani.
"Bilang ke anakku, uang di kasir harus dipisahkan mana recehan dan mana uang kertas. Pakai labunya harus pas, jangan lebih apalagi sampai kurang."
"Hah?" Dian menggenggam tanganku erat-erat.
"Terus, uang di bawah bantalku bukan buat dia. Tapi, buat Cahaya, cucuku."
"Oke, Nek. Siap!" ucapku cepat sesekali melirik teman-teman lain.
"Lagi! Lagi!" pintanya memaksa.
"Apalagi?" Dian merengek.
"Kalau ada pelanggan yang makannya tidak habis ...." Si nenek menatapku dengan wajah yang semakin pucat. "Lain kali ...."
"Lain kali apa?" bentakku agak menutup mata.
"Jangan kasih bonus tahu isi!"
"Eh?" ucapku dan Dian serentak. Nenek itu kemudian menghilang begitu saja.
Aku dan Dian saling menatap, teman-temanku yang sedari tadi terdiam juga kami tatap.
Dian segera bercerita apa yang barusan terjadi kepada mereka.
"Gila, udah mati masih nyusahin!" seru teman-temanku bergantian. "Iya, nih!"
***
TAMAT
Gorontalo, 11 Oktober 2023
Terima kasih sudah membaca cerpen horor komedi ini. Lucu nggak lucu, horor nggak horor, harap dimaklumi wkwkwk.

Komentar
Posting Komentar