[Spooktober] Teror Malam: Cerpen Horor Kak Bi
[Spooktober] Teror Malam: Cerpen Horor Kak Bi
"Saya nggak habis pikir, kalau kamu bisa-bisanya memasukkan setting tempat dengan asal-asalan? Kalau memang kamu nggak bisa dapat info kredibel saat riset, kan bisa cek semua blog di internet." Wanita berkening mulus sibuk memarahi Arman. Lelaki kurus berkacamata dengan tampilan lusuh.
"Maaf, Bu," jawab Arman lesu.
"Saya nggak mau tahu ya! Kamu ubah lagi setting tempat dalam naskah baru kamu. Kalau perlu, kamu datangi hutan untuk mendapatkan view yang lebih nyata dalam narasi. Jangan mengandalkan saya terus dong!"
Setelah dimarahi habis-habisan oleh editornya, Arman kehabisan kata-kata. Ya, karena terlalu stress dengan masalah keluarga Arman memang terkesan asal-asalan dalam menulis proyek barunya, bahkan kehilangan semangat menulis.
Proyek baru ini, meski penting untuk karir, terasa seperti beban tambahan saja. Dengan keadaan yang menjadi runyam, terbersit penyesalan karena sudah menerima tawaran menulis naskah untuk film indie padahal sebelumnya Arman lebih sering menulis di blog kantor.
Demi mengembangkan cerita dalam proyek baru buatannya, Arman akhirnya memilih untuk benar-benar pergi ke suatu hutan di desa pinggir kota.
Arman juga lelah berada di rumah karena selama empat belas hari belakangan suasana di rumah sangat tidak nyaman karena mengalami teror malam yang aneh, sehingga dia memutuskan untuk menjelajahi hutan dan belajar lebih banyak langsung dari sumbernya.
***
Hari mulai gelap ketika Arman menyadari bahwa dia telah tersesat di dalam hutan. Di tengah kebingungan, Arman coba menyalakan ponsel untuk menelepon penjaga hutan di pos pinggir desa. Sayangnya, tiba-tiba saja jaringan teleponnya mati.
"Ah, sepertinya selalu begini!" gerutunya saat menyadari bahwa kesialan selalu bersamanya.
Sebagai laki-laki yang pantang menyerah dan sebenarnya tidak takut pada apapun, terkecuali kehilangan pekerjaan. Arman terus berjalan sampai akhirnya bertemu rute yang telah disediakan, dia pun akhirnya melihat sebuah gubuk tua yang tampak ditinggalkan setelah mengikuti rute.
Arman yang tiba-tiba enggan pulang ke rumah, memutuskan untuk bermalam di gubuk saja, dan baru akan melanjutkan perjalanan besok pagi.
Begitu memasuki gubuk, hawa dingin menyergap dan merayap lewat pori-porinya. Bau lembap dan anyir memenuhi udara, membuatnya ingin muntah. Di luar gubuk, suara serangga dan burung hantu sesekali terdengar, seolah menyambut kedatangan Arman.
Dinding kayu yang lapuk dan berjamur membuat setiap napas terasa berat dan tidak nyaman. Untuk sesaat, nyali Arman sempat menipis, tapi kemudian dia kembali cuek dan hanya menarik napas panjang, lalu mulai mengedarkan pandangan mencari sesuatu yang bisa dipakainya untuk duduk beristirahat.
Ketika memperhatikan seisi ruangan remang, hanya dengan nyala ponsel yang baterainya tinggal lima persen itu Arman menyadari sesuatu.
Dinding-dinding gubuk itu ternyata dipenuhi dengan lukisan-lukisan yang sangat menyeramkan. Di masing-masing lukisan, semuanya berbentuk makhluk aneh dan menyeramkan. Setiap mata dari lukisan itu seolah-olah mengawasi setiap gerakannya.
Arman sempat menatap lukisan-lukisan itu, dia bisa merasakan tubuhnya menjadi geli karena bulu kuduk berdiri, kepalanya pun sejenak terasa mengembung seolah diisi angin.
Namun, kelelahan yang sangat dalam membuat Arman tidak terlalu peduli. Dia memilih menyalakan api kecil di lantai dengan mengumpulkan beberapa kayu yang berserakan. Begitu api menyala dan kehangatan memeluk, Arman pun merebahkan tubuhnya di sudut ruangan beralaskan jaketnya sendiri.
***
Bermalam di gubuk itu, sempat membuat Arman bermimpi buruk. Dia melihat dirinya dikepung oleh sosok-sosok misterius yang berasal dari lukisan-lukisan itu.
Mereka mendekat dengan mata yang memancarkan kebencian. Arman terbangun begitu salah satu dari mereka berteriak.
"Pembunuh! Mati kamu!" ucap suara yang sebenarnya tak asing, tapi Arman tidak begitu mengingatnya.
Dengan keringat dingin membasahi tubuh, Arman tetap tertidur hingga pagi menyapa.
Baca juga: MITOS-MITOS DI GORONTALO PART 3 [SPOOKTOBER]
Cerpen horor lainnya: [SPOOKTOBER] AIR TERJUN KERAMAS DAN TERSESAT: CERMIN HOROR
Pagi hari tiba, Arman terbangun dengan perasaan kalut dan tiba-tiba memeluk dirinya sendiri. Arman duduk sejenak sembari mencari kesadarannya. Dia mulai memakai jaket sembari melihat sekeliling gubuk yang disinggahinya.
Arman terdiam, kemudian tersentak karena kaget saat menyadari semua lukisan yang semalam memenuhi dinding gubuk telah menghilang.
Kini yang tersisa hanyalah beberapa jendela terbuka tanpa penutup. Angin pagi yang dingin bahkan bisa menerobos masuk melalui jendela itu, membuat Arman merinding sekaligus kebingungan.
"Yang semalam bukan lukisan?" Arman segera keluar dari gubuk dan melihat sekeliling, mencari jejak-jejak yang mungkin bisa menjelaskan apa yang terjadi.
Tapi, yang dia temukan hanya hutan sunyii. Tidak ada jejak langkah, tidak ada tanda-tanda kehidupan selain dirinya sendiri. Arman memutuskan kembali pulang dengan perasaan bingung.
***
Arman tiba di rumah dengan badan yang sakit. Rumah ternyata sepi, saat berdiri usai melepas sepatu di ruang tamu. Arman terkejut melihat pantulan wajahnya sendiri di depan bingkai foto pernikahannya.
Arman bergegas masuk ke kamar dan malah menemukan kucing peliharaannya, Simba. Mati bersimbah darah di ranjang.
Meskipun merasa berat hati, setelah mandi Arman baru memutuskan untuk menguburkan Simba di taman belakang. Anehnya, usai mandi Arman menjadi sangat mengantuk dan memilih tidur setelah memindahkan bangkai Simba ke dapur dan akan menguburkannya sore hari saja.
Arman terbangun saat rumahnya dalam keadaan gelap, Arman segera menyalakan lampu dan mengambil sekop, lalu pergi ke taman belakang tempat dia berencana untuk mengubur Simba.
Sesampainya di sana, Arman justru melihat sosok yang tidak dia sangka-sangka sebelumnya.
Di bawah sinar bulan sabit, tepat di taman belakang. Terlihat istrinya, Naila, sedang menguburkan sesuatu, tepat di sebelah gundukan tanah besar.
Arman tertegun, lalu berucap dengan gagap, "Sa-sayang?"
Sosok itu menoleh sembari tersenyum, Arman kini mematung, tidak bisa bergerak atau berbicara.
"Simba kita sudah mati, kamu kapan mati?"
"Hah?" Arman terjatuh. Dia sangat tidak menyangka mendengar suara Naila.
Wanita yang dikuburnya empat hari lalu itu kini telah bangkit dari kuburnya. Arman pun berlari ke dalam rumah dan mengunci semua pintu dan jendela. Sembari meyakinkan ini semua hanya mimpi.
Namun, ini semua bukan mimpi. Arman bisa merasakan detak jantungnya berdentam keras, dia berkeringat dingin dan gemetar ketakutan. Arman mengintip ke luar jendela dan melihat Naila masih berdiri di halaman sambil tersenyum dingin ke arahnya. Matanya kehitaman dengan pisau di perut dan bekas luka tusukan lainnya.
Arman mencoba berpikir jernih, tetapi pikirannya berkabut. Dia ingat betul menguburkan Naila setelah kejadian tak terduga empat belas hari lalu. Tapi kini, Naila berdiri di sana.
"Apa dia ingin membunuhku juga?" gumam Arman mengambil ponselnya dan mencoba menelepon seseorang, siapa saja yang bisa membantunya. Tapi seperti di hutan, mendadak tidak ada sinyal di rumahnya.
"Jadi, kamu membunuh Simba juga?" Suara Naila terdengar dari balik pintu. Arman diam di masuk ke kamar dan bersembunyi.
Suara ketukan di pintu kamar membuat Arman tersentak. Ketukan itu berulang kali terdengar, semakin keras dan semakin mendesak. Arman mundur perlahan, mencari sesuatu untuk membela diri.
Tiba-tiba, pintu terbuka dan Naila sedang berdiri di sana, tubuhnya bersimbah darah, matanya kosong penuh dengan kegelapan.
Arman merasa lumpuh oleh ketakutan. Dia tahu bahwa Naila bukan lagi manusia yang dia kenal. Ini adalah sesuatu yang lain, sesuatu yang mengerikan.
"Kamu akan ikut denganku ya," kata Naila dengan suara yang lebih dalam dan bergema. "Kamu harus membayar apa yang sudah kamu lakukan ke aku, istrimu sendiri."
Arman ingin sekali melarikan diri, tetapi kakinya terasa berat. Dia berusaha untuk bangkit, tetapi setiap langkah terasa seperti menembus lumpur yang tebal. Sementara Naila semakin mendekat.
"Naila, tolong, biarin aku pergi!" seru Arman putus asa. "Maafin aku Naila! Maafin aku sayang, aku nggak bermaksud!!!"
"Pembunuh, mati kamu," ucap Naila dengan senyum menakutkan di wajahnya.
Arman segera menutup matanya, berharap ini semua hanya mimpi buruk yang akan berakhir. Tapi ketika dia membuka matanya kembali, dia masih melihat Naila berdiri di hadapan.
"Selamat tinggal, Sayang," bisik Naila sebelum segalanya menjadi gelap dan Arman merasakan lehernya dicekik sesuatu sangat kuat.
***
Arman terbangun di tempat tidur, tubuhnya gemetar dan napasnya tersengal. Dia segera melihat sekeliling, memastikan bahwa dia berada di rumahnya yang sebenarnya.
Dia menghela napas lega, sembari memaki Naila. Istri yang dihilangkan nyawanya karena dituduh berselingkuh itu.
Arman yang stress dengan tekanan kerja tidak bisa menahan semuanya dan memilih melampiaskan emosinya pada sang istri.
Arman beranjak dari ranjang, masih mengira semuanya hanyalah mimpi buruk dan bagian dari teror malam-malam sebelumnya. Tapi ketika dia menoleh ke cermin di kamar, dia melihat pantulan dirinya sendiri yang tampak pucat.
Matanya mirip seperti yang dia lihat pada Naila tadi malam. Mata yang kosong, penuh dengan kegelapan. Arman merasakan tubuhnya melemah, kegelapan perlahan menyelimuti dirinya.
Arman menatap ranjang dan melihat tubuhnya membeku dengan mulut menganga dan menyadari bahwa mimpi buruknya telah berakhir, dan kini gilirannya untuk menjadi bagian dari teror malam yang tak berkesudahan.
Di sekelilingnya, bayangan-bayangan bergerak mendekat, siap menyeret Arman lebih dalam ke dalam teror malam yang tak berujung.
***
TAMAT
Gorontalo, 20 Juni 2024

Komentar
Posting Komentar