Terbaru

[Spooktober] Malam Rahasia Part 1: Cerpen Misteri

[Spooktober] Malam Rahasia Part 1: Cerpen Misteri




Cerpen misteri ini dimulai pada sebuah malam yang mendadak jadi gelap gulita. Tiba-tiba saja, seluruh kota kehilangan listrik. Rumah John pun tak luput dari pemadaman tersebut. 

Padahal dia tadi sedang asyik menonton tv sambil menunggu putrinya pulang dari les. John segera mengambil lilin dari laci, menyalakannya, dan berusaha mencari sumber masalah.

Saat dia keluar untuk memeriksa kotak listrik, dia kemudian menyadari sesuatu yang aneh. Perlahan listrik di rumah-rumah tetangganya menyala secara bergiliran. Lampu teras dan jalanan kembali menyala. 

Hanya rumahnya yang tak memiliki cahaya, rumah tetangga-tetangga sebelahnya kembali terang benderang. John pun merasa ada sesuatu yang tak beres. Rumah John memang adalah bangunan yang lebih tua dibandingkan rumah lainnya. Meskipun telah direnovasi, masih menyisakan ciri-ciri klasik, seperti pintu berukir gaya viktorian dan beberapa ruangan berlantai kayu. 

John kembali ke dalam rumah untuk menelepon petugas listrik perumahan tua ini, tapi dia terkejut melihat ada buku terbuka di meja ruang tamu, samar-samar terkena cahaya dari luar.

John mendekat, buku yang seharusnya ada di ruang kerja itu, kini ada di tempat yang tak seharusnya dengan sebuah catatan yang terbentuk dari beberapa potongan kalimat yang telah dicoret-coret pulpen di bagian bawah tulisannya.

"Rahasia kelam ada di bawah lantai," baca John dengan memiringkan kepala. "Apa-apaan ini?" sambungnya kesal.

John terdiam sejenak, tersadar saat tangannya terkena tetesan lilin yang digenggam sejak tadi. John mendadak penasaran. "Bawah lantai?" gumamnya mengingat sesuatu.

Beberapa hari lalu putrinya pernah bercerita tentang lantai berdecit di lorong menuju dapur. John menutup buku dan melihat sampul kulit berwarna kuning yang berjudul Kumpulan Cerpen Misteri: Rahasia Kelam Kota Ini. Buku ini diberikan seseorang, karena John tertarik dengan sampulnya.

Sambil membawa lilin, John menuju tempat yang diceritakan putrinya. Tanpa rasa takut coba membuka lantai rumahnya yang berdecit dan terbuat dari kayu. 

Di bawah lapisan lantai yang reyot, dia menemukan sesuatu yang tak terduga. Ada ruangan kecil berbentuk sebuah laci tua yang terkunci erat di bawah rumahnya. Seingat John, dia sudah tinggal di rumah ini hampir setahun bersama putrinya dan baru kali ini mengetahui hal misterius di rumah yang dibeli dari temannya. 


***


Setelah susah payah membuka laci tua, dia menemukan berkas-berkas tua dan beberapa surat, ada prangko dan lelehan lilin bercap pohon dengan banyak ranting.

Satu pucuk surat mengambil perhatiannya. Surat itu bertuliskan, "Ini adalah cerpen misteri terbesar yang pernah kualami. Di mana aku? Kenapa aku melakukannya? Apa aku sebaiknya mati saja? Dia tidak mengingatku!"

John terhenti membacanya, saat listrik tiba-tiba menyala dan bersamaan dengan itu bel rumahnya berbunyi. Dengan cepat, John membereskan kekacauan dan meletakkan surat-surat ke dalam kamarnya.

John bergegas membuka pintu, sang putri meloloskan tubuhnya begitu saja sambil menggerutu. "Kau letakkan saja papan pengumuman tak ada orang di rumah ini. Agar aku tidak perlu kembali ke sini."

"Bagaimana les sore tadi?"

"Membosankan! Apa kau harus mengunci pintu rumah?" Dia terdiam saat melihat lilin yang menyala di lorong. "Apa tadi ada pemadaman listrik? Kau baik-baik saja?" tanyanya mendadak khawatir.

"Aku tidak ingin kau bertanya dengan cara seperti itu!" John mendadak kesal.

"Ya, sebaiknya aku ikut ibu saja." Lanjutnya.

"Dan membiarkan kau tinggal bersama suami baru ibumu? Si brengsek itu? Aku tidak bisa!"

"Itu—"

"Masuk ke kamarmu! Aku tidak ingin berdebat!"

Remaja itu menghentakkan kaki menuju kamar, ada napas berat dengan putaran bola mata kesal yang ditunjukkan untuk John.

Tidak butuh waktu lama, listrik kembali padam. Disusul teriakan putrinya yang mengeluh. Tapi, anak remaja itu memilih tidak keluar kamar.

John masuk ke kamarnya, setelah mengambil lilin. Diletakkannya lilin beraroma vanila di meja dan John mulai memeriksa surat-surat itu satu per satu.

Dalam berkas surat itu, John menemukan kisah seram tentang sebuah rahasia kelam yang tersembunyi dalam rumah dan kota selama bertahun-tahun, dan bagaimana rahasia itu terhubung dengan seorang penulis misterius yang tinggal di rumah ini sebelumnya. 

Lilin yang menyala hingga habis, menerangi cerita misterius ini. Kemudian meninggalkan John dalam ketegangan dan kebingungan yang mendalam.

Tulisan siapa ini? Kenapa ada di bawah rumahku? Apa ini kejadian nyata? Atau hanya draft novel?

Apalagi, semakin dibaca surat-surat ini menyatakan hal yang aneh. Mulai membahas tentang mayat, anatomi manusia dan kematian. John merasa harus memeriksa sesuatu besok pagi.


***


Pagi ini, John berdiri di dapur rumahnya. Berdasarkan surat yang ditemukan semalam, ada sesuatu di tempat ini.

"Aku pergi!" ujar putrinya mengambil sepotong roti dan melirik heran pada John yang menatap sebuah dinding. "Aku pergi, Ayah!"

"Hmm, hati-hati!" jawab John cuek.

"Kau ini semakin menyebalkan!" serunya pergi begitu saja sambil membanting pintu rumah.

John mengetuk-ngetuk dinding dan menyadari bunyi yang dihasilkan di sisi barat dinding dapur agak berbeda. Dia menemukan kertas dinding yang mengelupas dan menyobeknya hingga terlihat dinding kayu berbentuk pintu di baliknya.

Dada John bergemuruh, dia takut untuk memeriksa apa isi di balik pintu itu. John segera menelepon polisi. Tidak butuh waktu lama, polisi pun segera datang. Mereka memeriksa tempat mencurigakan di rumah John, dan menemukan sebuah lemari berisi tulang belulang.


***


John segera ditahan oleh polisi di tempat, John berjuang dan bersusah payah untuk menjelaskan alasan dia menelepon polisi dan menjelaskan bahwa dia baru saja pindah ke rumah itu. Sebab polisi malah berbalik mencurigainya usai menemukan tulang belulang. John merasa semakin terjepit saat mereka memeriksa dokumen dan bukti yang dia temukan sebelumnya.

Namun, tiba-tiba, seorang detektif yang lebih tua dan berpengalaman melihat bukti-bukti tersebut dan mengeluarkan ekspresi terkejut.

"Jadi, kau menemukan benda ini di bawah rumahmu? Muncul begitu saja?"

"Sudah kujelaskan sebelumnya, ada buku di ruang tamu yang isinya dicoret dengan pulpen dan itu membentuk kalimat—"

"Rahasia kelam ada di bawah rumah?" potongnya.

"Di bawah lantai." John mengoreksi ucapan detektif.

"Ada apa detektif?" tanya seorang polisi mencoba menerka ekspresi wajah sang detektif.

"Kau ingat kasus orang hilang tiga tahun lalu?" Detektif bertanya sambil memperlihatkan petikan tentang tulisan yang membahas ciri-ciri orang hilang dalam surat.

"Tentang apa ini?" tanyanya usai membaca tulisan yang ditunjuk detektif senior.

"Aku memegang kasus itu tiga tahun lalu. Apa yang orang ini tuliskan dalam suratnya, aku mengingat satu orang yang mirip dengan penjelasan ini."

"Apa kau yakin tidak menulis ini?" Polisi menatap John curiga usai mendengar ucapan detektif senior.

"Oh, tentu saja tidak. Aku baru pindah ke sini." John mengelak, dia berkeringat dingin; merasa tertuduh.

Detektif senior itu menatap wajah John, kemudian mengatakan bahwa dia memiliki sejarah panjang dengan kasus ini, dan bukti-bukti yang ditemukan oleh John mungkin adalah kunci untuk mengungkap misteri orang-orang hilang. Mendengar pernyataan detektif, polisi tiba-tiba mengubah sikap mereka, dari yang awalnya mencurigai John kini malah bekerja sama dengannya.

Tidak butuh waktu lama, tim forensik datang memeriksa isi lemari dan laci bawah lantai rumah, serta seisi rumah John. John pun dibawa ke kantor polisi, bersama dengan detektif tersebut mencoba untuk mengungkap lebih banyak petunjuk.

Namun, tidak ada yang bisa ditemukan selain perasaan seolah mereka sedang membaca novel yang belum disunting dan membuat John seolah menjadi sinting.


***


Putri John datang ke kantor polisi, menjemput ayahnya dengan wajah khawatir.

"Kau baik-baik saja? Apa yang terjadi dengan rumah kita?" tanyanya begitu melihat John keluar dari ruangan interogasi.

"Hey, maafkan sebelumnya. Kau putrinya? Sudah berapa lama kau tinggal di rumah itu?" sela detektif mendekat.

"Ya, aku baru pindah ke sana, setelah mereka bercerai."

"Aku turut prihatin."

"Tiga bulan lalu," sambungnya membuat detektif terhenyak. 

"Kau lebih dulu tinggal di rumah itu, John?" tanya detektif melirik John.

"Ya, aku harus membeli rumah untuk memenangkan putriku di pengadilan," jawab John lemas berjalan pelan, tanpa semangat.

Putri John menggeleng mendengar jawaban John. Dia mendekati detektif.

"Begini, ayahku sedang sakit. Dia terkadang jadi menyebalkan. Psikiater bilang dia butuh istirahat," bisiknya.

"Apa maksudmu?"

"Ibuku sudah meninggal sebulan lalu dan dia selalu mengira bahwa aku akan pergi ke rumah ibuku."

"Apa ayahmu gila?" tanya melirik John yang sudah berjalan lebih dulu.

"Dia hanya stres, karena gagal rujuk dengan ibuku. Ah, aku rasa aku tidak perlu membahas ini. Jadi, apapun yang kalian temukan di rumah kami. Itu sama sekali tidak ada hubungan dengan ayahku," jelasnya.

"Ya, aku akan ceritakan padamu secara rinci apa yang kami tanyakan pada ayahmu."

"Untuk apa?"

"Membantu kami mengawasi ayahmu!"

"Ya, aku akan mengantarnya pulang dan akan kembali untuk mendengarkan penjelasanmu. Aku permisi, Pak." Putri John segera menyusul John.


***


John terdiam begitu sampai di rumah.

"Apa yang kau pikirkan? Apa sebelumnya ada pembunuh berantai di tempat ini?" tanya putri John tiba-tiba. Sebenarnya saat menunggu John, dirinya samar-samar mendengar apa yang ditemukan polisi di rumahnya.

"Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan."

"Sebelumnya, kau sering membicarakan cerpen-cerpen yang kau buat dan—"

"Luna, apa yang kau bicarakan dengan detektif itu?" tanya John dengan tatapan mata kosong.

"Keadaanmu. Kau pikir aku sedang membicarakan cerpen misteri yang selalu kau bicarakan itu?" Luna berdiri, suara ayahnya terdengar berbeda.

"Apa aku selalu membahasnya?"

"Ya, dan kali ini kau menelepon polisi atas halusinasimu itu. Aku yakin sekali."

"Tapi, itu bukan halusinasi. Ada tulang belulang di dapur rumah kita!" John meneriaki Luna, wajahnya memerah menahan kesal. Kontrol emosinya lepas kendali.

"Aku pergi dulu." Luna hendak berjalan ke kamarnya.

"Menemui ibumu? Kau mau bertemu dengan ibumu? Tinggal bersama suami barunya?" Lagi-lagi John berteriak.

"Hentikan! Ibuku sudah meninggal dan dia meninggal karenamu. Kau tidak ingat?" Luna membalas teriakan John.

"Luna!"

"Ya, kau tidak ingat karena kau sudah gila."

"Mariah sudah meninggal? Astaga, apa yang terjadi padaku?" John terduduk di kursi, napasnya tidak teratur.

"Kau baik-baik saja?" Luna mendadak luluh melihat sikap John. "Kita pergi ke doktermu, kita harus ke sana sekarang. Aku rasa keadaanmu semakin memburuk."

John menatap Luna dengan tatapan dingin. Luna melihat ekspresi ayahnya berubah.

"Ayah?"


***


Beberapa waktu sudah berlalu, beberapa hasil pemeriksaan forensik tentang surat dan tulang belulang di rumah John sudah keluar. 

Hasilnya benar-benar di luar prediksi. Polisi menunjukkan hasilnya kepada detektif senior. Malam itu juga, kepolisian setempat bergegas ke rumah John, detektif senior pun turut serta. Sebab, Luna; putri John yang membuat janji temu dengannya tidak kunjung datang padahal beberapa hari telah berlalu.

Mereka menemukan rumah John sepi dan gelap, sementara mereka mengepung rumah John dan beberapa menoba menerobos masuk lewat pintu depan dan dapur.

Detektif senior menanyakan keberadaan John kepada tetangganya. Banyak yang bilang bahwa sudah beberapa hari lampu di rumahnya tidak dinyalakan, beberapa ada yang melihat cahaya berpendar seperti lilin yang mengindikasikan ada orang di dalam rumah.

John memang benar baru pindah ke tempat ini, tapi dia sudah sering berkunjung karena rumah ini adalah rumah keluarganya. Diwariskan untuk John, tapi tak pernah ditinggali.


Deg.

Sebuah kebohongan John terkuak. Detektif senior semakin takut, dia khawatir putri John dalam masalah saat bersama ayahnya.

"Astaga!" seru seorang polisi membuat rekan-rekannya berhambur. Detektif senior ikut memeriksa dan melihat sesuatu di lemari yang mereka periksa beberapa hari lalu.

John sedang berdiri di dalam lemari dengan mata terpejam. Mereka segera mengevakuasi dan membawanya ke rumah sakit. Sementara itu, detektif senior menemukan Luna diikat di kamarnya dengan mulut yang disumpal kertas dan dalam keadaan pingsan.


Baca juga: [SPOOKTOBER] CERPEN HOROR SERU: LENTERA LANTAI 13

Cerpen lainnya: [SPOOKTOBER] TENGKORAK BERACUN: CERPEN HOROR NURWAHIDAH BI


Luna yang kini terbaring di ranjang rumah sakit pelan-pelan membuka matanya, nyawanya selamat. Seorang polisi wanita segera memanggil perawat untuk memeriksa keadaan Luna.

"Ayahku di mana?" Suaranya serak dengan mata yang lesu.

"Dia ada di ruangan sebelah."

"Kalian menangkapnya? Ayahku, dia—" Luna mulai sesak napas, dia kembali terbayang apa yang dilakukan John beberapa hari lalu.

"Ya, hasil forensik menunjukkan tidak ada sidik jari orang lain di kertas yang ayahmu laporkan selain milik ayahmu sendiri," ucap polisi wanita sembari mengusap punggung Luna dengan lembut.

"Bagaimana dengan tulang belulangnya?"

"Hanya dua DNA yang hasilnya sudah keluar, salah satu DNA cocok dengan identitas orang hilang di database kepolisian."

"Oh, begitu." Luna memeluk dirinya sendiri.

"Kau mau ceritakan apa yang terjadi?" 

"Telepon dokter Caroline, dia psikiater ayahku." Luna menangis, polisi perempuan itu menenangkan Luna dengan pelukan.


***


Bersambung

Komentar