Terbaru

[Spooktober] Malam Rahasia Part 2: Cerpen Misteri

[Spooktober] Malam Rahasia Part 2: Cerpen Misteri



Ini merupakan kelanjutan cerpen misteri: Malam Rahasia ya. Cerpen sebelumnya ada di sini. Selamat membaca~~

Hasil forensik menunjukkan bahwa semua berkas yang ditemukan oleh John hanya berisi sidik jarinya sendiri. Tidak ditemukan jejak-jejak orang lain, mereka juga menemukan sampel darah di kertas yang cocok dengan DNA John. Bahkan prangko dan cap lilin pada surat merupakan lambang keluarga John yang ditemukan dalam beberapa benda di rumah mereka.

Inilah yang membuat kepolisian mencurigai John sebagai pelaku sebenarnya dari penemuan tulang belulang. Kemungkinan John adalah dalang di balik adanya orang-orang hilang di kota ini. Tapi, mengapa John melaporkan dirinya sendiri? Itulah yang menjadi pertanyaan polisi dan detektif senior.

Setelah mendapatkan keterangan Luna di rumah sakit, polisi memutuskan untuk menggali lebih dalam ke masa lalu dan catatan medis John. Mereka menemukan bahwa John berada di bawah perawatan psikiater, dokter Caroline, selama beberapa tahun terakhir karena gangguan mental yang dideritanya. Ini menjadi salah satu titik terang dalam penyelidikan mereka, sembari menunggu John siuman.


***


Detektif senior menemui dokter Caroline dan memintanya bekerja sama untuk memahami lebih lanjut tentang kondisi John. Mereka mengadakan pertemuan di rumah sakit tempat John dirawat, sekaligus untuk memantau keadaan Luna yang masih belum mau menceritakan apa yang sudah dilakukan ayahnya malam itu.

Dokter Caroline, memberitahukan kepada detektif senior akan kemungkinan adanya kepribadian lain di dalam diri John. Dia berjanji akan berbicara dengan John, untuk mengidentifikasi apakah kepribadiannya yang lain mungkin terlibat dalam tindakan misterius. 

Kini, menunggu John siuman adalah satu-satunya cara yang bisa mereka lakukan.


Baca juga: [SPOOKTOBER] CERPEN MISTERI: PETUALANGAN DI KOTA MATI

Cerpen lainnya: [SPOOKTOBER] PULANG: CERPEN MISTERI HOROR


Tak butuh waktu lama untuk John akhirnya sadar, dia pun ditetapkan sebagai tersangka di bawah pengawasan dokter Caroline. John berlagak bodoh, tidak mengerti dengan situasi yang menimpanya.

Sedangkan Luna, dia pulang ke rumah untuk melakukan penyelidikan pribadi bersama polisi wanita yang menemani di rumah sakit. Dia teringat bahwa ayahnya pernah membahas tentang dokter Caroline, dia adalah psikiater yang menulis beberapa buku misteri.

Luna pun mulai menyelidiki karya-karya dokter Caroline yang tersimpan di rumahnya, termasuk buku cerpen misteri yang diberikannya kepada John. Dia ingin mencari tahu apakah ada petunjuk atau pesan tersembunyi dalam karya-karya tersebut yang dapat membantu mengungkap apa yang sebenarnya terjadi.

Luna sendiri masih belum mendengar kabar tentang masalah kepribadian ayahnya, tapi dia memang tahu sesuatu setelah kejadian malam itu. Sampai pada akhirnya segala kecurigaannya terjawab saat dia tidak sengaja menemukan catatan misterius yang ditulis oleh ibunya.

Catatan itu berisi perubahan sikap John di setiap malam, kemana dia pergi dan jam berapa dia pulang. Luna tidak terkejut, sebab kebrutalan ayahnya malam itu memang benar-benar seperti orang lain.


***


Beberapa hari lalu.

"Ayah?" Luna waspada dengan suara John yang berubah.

"Bukankah John terlalu memanjakanmu?"

"Hah?"

"Tunggu sebentar, aku harus menelepon seseorang."

Luna terdiam, melihat ayahnya tiba-tiba berjalan pincang. Ini pemandangan yang sama saat dia melihat ayah dan ibunya bertengkar usai mereka resmi berpisah. Cara jalan itu, bukanlah John.

John sibuk menelepon seseorang, dia marah dengan segala makian tentang organ dan tubuh. Itu membuat Luna merinding.

"Aku sudah lama tidak bekerja, sekarang sudah tinggal di tempat kerjaku. Bersama anak John, bagaimana bisa aku bekerja?"

"Kau siapa?" sela Luna.

"Tutup mulutmu, Nak!"

"Ayah!"

John melemparkan ponselnya dan menarik rambut Luna, membantingnya ke dinding hingga Luna kehilangan keseimbangan. Luna diseret menuju kamar, kemudian diikat di depan ranjangnya.

"Aku harus bekerja malam ini, John sudah terlalu lama mengurungku. Dia sudah menemukan rahasiaku, jadi kau harus tutup mulutmu jika tidak ingin ayahmu mati!"

"Ayah!"

"Aku bukan ayahmu lagi!" Sebuah tamparan melesat ke wajah Luna. Luna menangis dalam senyap. Melihat John pergi entah kemana.

Selama beberapa hari, dia tidak diberi makan. Hanya sesekali diberi minuman energi dan dipukuli, Luna tak tahu kapan ayahnya akan kembali.


***


Luna duduk dalam senyap di ruang kerja ayahnya, usai mengingat kembali apa yang terjadi di malam yang ingin dia simpan sebagai rahasia saja. Polisi wanita yang mengantarnya menatap Luna dengan buku di tangan.

"Apa kau menemukan sesuatu?"

"Ayahku sepertinya berubah jadi jahat dan dia tidak akan ingat itu," ucap Luna perlahan.

"Ini buku-buku yang kau ceritakan tadi kan? Buku buatan dokter itu?"

"Ya, aku harus bagaimana?"

"Apa kau sudah tahu kalau ayahmu berkepribadian ganda https://www.alodokter.com/kepribadian-ganda ?"

"Ya, sudah kuduga!" angguk Luna cepat.

"Jika yang muncul adalah kepribadian ayahmu kurasa dia harus direhabilitasi, tapi jika yang dominan adalah kepribadian lainnya. Aku rasa dia pantas di penjara."


Brukkk!

Sesuatu di dapur jatuh, polisi wanita bergegas memeriksa dan menemukan beberapa orang bertopeng sedang membongkar lemari dan ruang kecil di lantai lorong. Mereka seolah sedang mencari sesuatu. Dalam hitungan detik mereka menyerang dan kabur.

"Kau tidak apa-apa?" tanya Luna membantu polisi wanita yang tersungkur di lantai.

"Aku baik-baik saja. Siapa orang-orang itu?"

"Sepertinya orang yang ditelepon ayahku malam itu."

"Apa maksudmu?"

"Sebenarnya, malam itu dia membicarakan tentang bekerja, organ dan sebagainya."

"Astaga!" Polisi wanita menggeleng. Firasatnya tidak enak dan segera menelepon rekannya untuk memberitahukan apa yang terjadi.


***


Sementara itu, John diinterogasi kembali dengan wajah pucat. Kali ini dia didampingi dokter Caroline. Pemeriksaan tidak berjalan lancar karena John mendadak jadi emosional dan meminta obat penenang.

Dengan bantuan dokter Caroline, penyidik berhasil mengetahui bahwa semua cerita John selama ini adalah halusinasi dan semua hal yang disampaikan adalah versi nyata yang dibuatnya berdasarkan buku cerpen misteri pemberian dokter Caroline.

Perumahan tak pernah mati listrik, buku yang terbuka dan meninggalkan catatan kemungkinan ditulis oleh kepribadian John yang lain.

Buku-buku itu pun diberikan karena John tampak tertarik dengan sampul bukunya, ketika pertemuan terakhir mereka. Dokter Caroline pun memberikannya sebagai hadiah untuk putri John, Luna. 

Akan tetapi, buku itu malah memperparah keadaan John dan dokter Caroline mengakui kesalahannya itu.


***


Setelah pemeriksaan panjang selama berhari-hari, menunggu lengkapnya hasil pemeriksaan forensik yang membuat mereka menyatakan bahwa tidak ada bukti langsung bahwa John yang melakukan kejahatan pada tulang belulang di rumahnya. 

John kemudian hanya dituntut dengan pasal pengabaian jenazah dan kekerasan rumah tangga karena menganiaya putrinya sendiri. Berdasarkan pertimbangan kesehatan mentalnya, yang bahkan bisa lupa pada situasi tertentu.


***


Semusim telah berlalu.

John terdiam di balik kaca, dia akan memasuki persidangan berikutnya dan masih bersikap tidak tahu apa yang terjadi. Luna duduk tepat di seberang, menatap ayahnya dengan gelisah.

"Apa kau ayahku?" Luna meyakinkan, sebab beberapa kali berkunjung sikap John sering berubah-ubah.

"Ya, Luna. Ini aku."

"Kemana orang itu? Apa kau tahu dia sudah menyiksaku selama berhari-hari?" Luna memandang jauh ke mata John, mencoba mencari tahu siapa lelaki di seberang sana.

"Maafkan aku!" ucap John tertunduk.

"Kau melakukannya pada ibuku juga kan? Ibuku tidak bunuh diri kan?"

"Aku tidak tahu, Nak." Suara John bergetar, pundaknya naik turun.

"Kau bukan ayahku, ayahku tidak pernah memanggilku begitu."

John mengangkat kepala, raut wajahnya berubah, kemudian tersenyum mengolok-olok. "Kau tinggal bersamaku selama ini, kita hanya terpisah saat John lebih sering bersama ibumu. Kau adalah anakku juga, jadi kenapa aku bukan ayahmu?"

"Kembalikan ayahku!" Luna merengek.

"Oh, ayolah, kau bukan anak kecil. Mau kubisikkan sebuah rahasia?" John serius. "Aku tidak pernah membunuh orang, kau tidak perlu khawatir. Aku hanya mengambil organ dan menjualnya pada mereka."

"Mereka? Siapa?"

"Ah, aku bisa masuk penjara jika menceritakannnya." John menyentuh rambutnya.

"Kau sudah di dalam penjara!"

"Waktumu sudah selesai, ada pengunjung lain untukmu John," sela petugas rumah tahanan.

"Aku Mark, bukan John." John menyandarkan punggungnya, sembari menatap Luna dengan pandangan menghina.

"Mark? Namamu Mark?"

John tertawa, bersamaan dengan itu dokter Caroline datang dan meminta Luna untuk segera pergi. Dengan langkah kaki berat, Luna meninggalkan ayahnya bersama dengan dokter pribadinya itu.

"Mark, apa kabarmu?" tanya dokter Caroline langsung tahu siapa sosok di hadapannya.

"Caroline, seharusnya aku tidak jadi begini."

"Tetaplah seperti ini, aku akan membuat John tidak pernah keluar. Aku lebih butuh kau dibandingkan kepribadian lemahmu itu." 

"Hah, dia membuatku dalam masalah," gerutu John.

"Setelah ini berakhir, kau harus berhenti menemuiku."

John tersenyum. "Sewakan aku pengacara terbaik, yang terakhir kali sangat merepotkan. Aku melakukan semua ini untukmu. Ingat itu."

"Kau akan keluar dan berkumpul bersama putrimu, tenang saja. Lalu, tutup mulutmu rapat-rapat." Dokter Caroline hendak beranjak pergi.

"Kenapa kau memberikan buku itu kepada John?" cegat John.

"Karena aku sudah lama tidak melihatmu." Dokter Caroline tertawa sambil menutup mulut dengan tangan. "Aku tidak butuh John, Mark!"

"Wanita gila!" John, lebih tepatnya Mark tersenyum setuju.


***


Luna menunggu di depan mobil dokter Caroline, menyadari obrolannya dengan John cukup lama jika hanya hubungan antara pasien dan dokter saja.

Dokter Caroline mengajak Luna naik ke mobil bersamanya, Luna pun diantarkan pulang ke rumah nenek; ibu dari ibunya. Sudah beberapa minggu dia tinggal di rumah sang nenek.

"Aku tidak tahu apa yang membuat kau diam selama di mobil. Tapi, apapun itu. Teruslah seperti itu. Kau harus merahasiakan apapun yang kau tahu, seharusnya begitu." Dokter Caroline berdiri di depa mobilnya, usai menurunkan Luna.

"Kau tahu apa tentangku?"

"Kau seharusnya tetap tutup mulut atas keanehan yang kau temukan. Maka sekarang kau akan baik-baik saja bersama ayahmu. Tidak terpisah seperti ini." Luna diam saja, membiarkan wanita itu berlalu dengan mobil mewahnya.

Luna bergegas masuk ke dalam rumah, jantungnya berdegup kencang selama di mobil tadi. Rasanya hampir kena serangan jantung, Luna memeriksa tasnya dan mengeluarkan benda kecil seperti gantungan kunci yang mirip dengan milik dokter Caroline.

Beberapa waktu lalu, Luna memasang alat penyadap yang diberikan detektif senior dan menukarnya dengan gantungan kunci di tas dokter Caroline.

Dia segera memeriksa file rekaman dan menemukan beberapa obrolan dokter Caroline dengan beberapa orang misterius. 

Obrolan tentang ayahnya, yang mengidap skizofrenia https://www.alodokter.com/skizofrenia dan kepribadian ganda, serta gangguan kecemasannya https://www.alodokter.com/kenali-tiga-jenis-gangguan-kecemasan-dan-gejalanya yang menjadi sangat berbahaya. Semuanya terjadi, saat ibu Luna jatuh cinta pada lelaki lain.

Fakta gilanya, dari rekaman itu Luna mengetahui bahwa ibunya sejak awal menikahi Mark, bukanlah John. Tapi, pada akhirnya dia jatuh cinta pada John dan meminta dokter Caroline untuk menyingkirkan kepribadian lainnya. Menyingkirkan Mark.

Dokter Caroline hampir kehilangan pekerjaan karena Mark mendadak berhenti bekerja. Tidak jelas pekerjaan apa yang dimaksudkan, tapi Luna bisa menduga-duga pekerjaan apa itu.

"Jangan-jangan ayahku adalah Mark, alter ego ayah John. Sedangkan John adalah pemilik tubuh Mark, dan ibuku ketahuan jatuh cinta dengan kepribadian asli John? Apa itu memungkinkan?" ungkap Luna penuh kebingungan.

Luna segera mengirimkan file tersebut kepada detektif senior, meskipun mungkin tidak akan bisa digunakan di persidangan. Setidaknya detektif itu harus tahu siapa dalang di balik kelakuan ayahnya.

Luna kini tidak bisa kembali seperti semula, dia berbagi rahasia dengan orang-orang untuk coba menyelamatkan ayahnya dan untuk mengetahui fakta sesungguhnya di balik kematian sang ibu.

Semuanya mengerucut pada satu nama, dokter Caroline harus diperiksa. Begitu keyakinan Luna, detektif senior pun setuju. 


***


Setelah pengadilan.

John diikat di ruangan sepi, wajahnya pucat dengan lebam-lebam di berbagai sudut. John menangis karena ketika sadar, dirinya baru saja menyelesaikan persidangan yang tidak pernah dilewati selama ini. John menggila dan menyakiti dirinya sendiri, sembari mencari Luna sang putri.

John masih tidak bisa mengingat apa yang terjadi saat malam-malam Mark muncul menggantikan dirinya. John juga semakin membenci buku, karena hanya mengingat dirinya keluar dari kantor polisi usai melaporkan penemuan aneh di rumahnya dan semua gara-gara buku itu.

Semuanya terasa gamang bagi John, malam penuh rahasia tetap menjadi rahasia bagi John dengan statusnya sebagai pasien rumah sakit jiwa. Dokter Caroline menepati omongannya untuk membebaskan John dari penjara, tapi mengingkari janji menyatukan ayah dan anak itu.

Bukankah mesin yang tak berguna, sebaiknya dibuang?



TAMAT

Gorontalo, 9 September 2023

Komentar