[Spooktober] Mata Batin: Cerita Misteri Horor
[Spooktober] Mata Batin: Cerita Misteri Horor
Cerita misteri horor ini bermula pada tahun 2010, ketika jalanan di perumahanku yang baru saja diaspal masih begitu segar.
Setiap sore, banyak anak muda, termasuk aku, yang sering berkumpul di sana untuk bermain dan menghabiskan waktu bersama.
Pada suatu sore, tepat sebelum adzan maghrib berkumandang, kami semua mendadak merasakan ketegangan yang tak terduga. Tiba-tiba, gumpalan kabut melewati kami.
"Ah, mungkin ada yang bakar sampah!" sahut lelaki berbaju hitam.
Saat itulah aku dan teman-teman segera bersiap untuk pulang, karena suasananya benar-benar aneh. Langit semakin merah dan tak ada satu pun burung yang terbang pulang ke sarangnya.
Dari kejauhan, aku mendengar suara langkah kaki yang begitu kuat dan berat. Kupikir hanya aku yang mendengar suara itu, ternyata teman-temanku juga. Suara tersebut semakin mendekat, dan kami berpaling untuk melihat apa yang sedang mendekat.
Apa yang kami saksikan begitu menakutkan, sampai-sampai membuat napas tertahan sesaat.
Kami mendadak terdiam saat barisan pria dengan tubuh tegap, mengenakan seragam tentara jaman dulu, dengan wajah dipenuhi banyak darah. Mereka berjalan dengan penuh tekad dan kepastian, seolah berbaris dalam suatu misi. Mata mereka kosong, dan wajah mereka menghantuiku. Aku menundukkan wajah, takut dan terkejut oleh penampakan ini.
Beberapa temanku langsung memelukku, salah seorang berbisik. "Di mana kita?"
"Diam!" kataku menutup mata.
Mereka berteriak, dengan bahasa yang tidak kumengerti. Lalu, lenyap begitu saja. Kulihat ada satu orang diantara kami yang jatuh pingsan, satu lainnya kesurupan.
Akan tetapi, perasaan takutku segera tergantikan oleh rasa sedih. Kenapa arwah para kesatria itu tidak diizinkan pergi ke akhirat? Aku merasa simpati terhadap mereka, yang tampaknya terhukum untuk melindungi daerahku.
***
Setibanya di rumah, kuceritakan hal ini kepada ayah. Ayah marah besar, dia meyakini kejadian tadi terjadi karena diriku. Karena kekuatan mata batinku.
Ya, akhir-akhir ini rasanya aku semakin sering melihat dunia mereka. Aku tidak membela diri, karena aku juga curiga bahwa kejadian sore itu karena aku yang sudah seperti magnet.
Ayah memintaku tidak keluar rumah, memintaku membaca Alqur'an demi mencegah didatangi makhluk halus. Sejak kecil, aku sudah bisa melihat dunia mereka. Beberapa kali sempat berhasil ditutup mata batin ini oleh berbagai orang, tapi pada akhirnya aku tetap diteror dan mata batin ini terbuka begitu saja.
Aku meringkuk di kasur, masih merasa terganggu oleh pertemuan yang tak terduga dengan para arwah tentara itu. Aku segera menelepon Kak Mira dan menceritakan apa yang terjadi.
Usai berbincang dengan kakak. Aku mulai terlelap dalam tidur, tapi aku merasa ada sesuatu yang salah. Aku tak bisa bergerak dan berbicara, seperti terjebak dalam suatu kotak. Ketika mataku akhirnya terbuka, apa yang aku saksikan benar-benar membuatku hampir menangis.
Tepat di depan ranjang, berdiri salah satu dari para arwah tentara yang kulihat sore itu. Kali ini, wajahnya jelas, dengan mata merah, bibir yang robek, dan bau busuk yang menyengat. Aku merasa terperangkap dalam kehadirannya yang menyeramkan.
Aku mencoba mengerahkan segala kekuatan dalam diri dan mulai mengucapkan doa dalam hati. Aku berusaha untuk mengusir arwah ini, tapi dia tetap berdiri di sana.
Entah apa yang terjadi, dia menghilang begitu saja dengan suara serak yang menggema di telingaku. Lagi-lagi aku tidak paham bahasanya.
Malam itu berakhir dengan aku merasa terjebak dalam keadaan tidak berdaya. Aku merasa bahwa penampakan ini akan jadi hal yang tidak akan pernah terlupakan.
***
Beberapa bulan kemudian, sesuatu yang lebih aneh terjadi.
Ketika aku menemani Kak Mira yang baru saja melahirkan dan pulang ke rumahnya di desa terpencil, suasana di rumahnya dipenuhi ketegangan dan aura misterius. Aku dan ayah sudah membujuknya untuk tinggal di rumah kami saja. Tapi, dia menolak karena kakakku merasa nyaman tinggal di rumah ini.
Demi Kak Mira, ayah membiarkanku tinggal sementara waktu di rumah Kak Mira untuk membantunya merawat bayi dan keponakanku yang berusia 2 tahun.
Kak Mira juga dulunya punya indra keenam, tapi semenjak menikah dia mengaku tidak pernah lagi melihat mereka. Sehingga selama tinggal di rumah terpencil ini bersama suaminya yang punya beberapa kebun cengkeh dia merasa aman-aman saja.
Namun, kali ini, ada sesuatu yang berbeda, seperti ada mata-mata halus yang mengamatiku selama tinggal di sini.
Kebetulan yang mengesalkan adalah kakak iparku pergi melihat ibunya dan meninggalkan kami di rumah untuk empat hari lamanya.
Selama seminggu di sini, dengan adanya kakak iparku saja aku masih sering merasa tidak nyaman dengan suasana sekitar rumah. Mata batinku terasa sangat sensitif di tempat seperti ini.
Apalagi rumah ini jauh dari keramaian kota, dikelilingi oleh pepohonan besar yang menjulang tinggi. Di belakangnya ada kebun cokelat dengan pohon-pohon jati. Keheningan di sekitar kami membuat suasana semakin menyeramkan.
Aku bahkan tidak menyukai sore menjelang Maghrib di tempat ini, suara adzan terdengar terlalu sayup-sayup karena rumah ini jauh dari masjid.
Pernah sekali, aku merasa seolah ada yang mengintip dari balik dedaunan yang lebat ketika pergi mengangkat jemuran di belakang rumah, dan anehnya hal ini juga dirasakan oleh kakakku.
Kak Mira bahkan mengeluh, dia takut anak keduanya punya kekuatan seperti keluarga kami. Itulah sebabnya semenjak melahirkan bayi perempuannya, kejadian aneh sering membuat bulu kuduk berdiri.
Hari pertama ditinggal kakak iparku, kami berdua sering mendengar suara-suara aneh yang bersahutan. Kami merasa seolah-olah tidak sendirian, seperti ada kehadiran yang tak terlihat.
Baca juga: [SPOOKTOBER] SESAL TERPENDAM DAN KENANGAN MALAM ITU: CERMIN HOROR
Cerpen lainnya: [SPOOKTOBER] TEROR MALAM: CERPEN HOROR KAK BI
Malam semakin larut, nenekku tiba-tiba menelepon untuk memberi pesan dan mengingatkan agar Kak Mira selalu memakaikan penangkal yang diberikan nenek kepada Kak Mira waktu di rumah sakit.
Mendengar itu, kecemasan dalam diri kami berdua semakin mendalam. Tradisi turun-temurun ini sangat kuat dalam keluarga nenek; ibu dari almarhumah ibu kami, dan kami berdua pada akhirnya merasa butuh atas perlindungan itu.
Ketika suasana semakin hening dan gelap, bunyi-bunyi aneh yang sama seperti sebelumnya mulai terdengar lagi. Bunyinya terasa tak wajar, dan setiap suara yang datang membuat kami semakin takut.
Kakakku mulai mengambil penangkal yang disiapkan oleh nenek, dan dengan gemetar, dia mulai memakaikannya pada kedua anaknya. Aku tidak tahu kenapa dia gemetar? Wajahnya bahkan tampak tak rela saat memakaikan kalung yang katanya pemberian nenek.
Suasana semakin tegang dan kami tahu bahwa malam ini tidak akan berjalan seperti malam biasa.
Kami sengaja tidur di kamar yang sama. Aku tidur di lantai beralaskan kasur lantai, sementara Kak Mira dengan kedua anaknya di atas ranjang. Ketika malam semakin larut, aku semakin susah tidur. Dari luar banyak suara-suara aneh, seperti suara buah kelapa yang jatuh ke tanah.
"Mila!" Suara berbisik itu membuatku bangu. Aku menatap Kak Mira yang tertidur, kulihat keponakan bayiku bergerak-gerak. Matanya tertuju di sudut kamar. Aku menoleh dan mendadak kesal.
"Sialan!" gerutuku saat melihat makhluk berbaju putih dengan rambut tergerai ke setengah dinding, dengan banyak lendir kebiruan di sekitarnya.
Aku terduduk di ranjang dan Kak Mira terbangun. Aku segera mengucap doa-doa.
"Kamu lihat apa?" tanyanya seolah tidak melihat makhluk pengganggu di atas sana.
Aku tetap berdoa, sambil menunjuk bagian atas sudut kamar.
"Mereka ada di sini ya?" tanya Kak Mira bergegas memeluk bayinya dan mulai membaca ayat kursi. Aku yang sedari tadi hanya membaca doa-doa pendek, mendadak ikutan membaca ayat kursi.
Aku terus menutup mata, hingga aku mendengar suara dengkuran Kak Mira. Ketika kulihat, dia sudah tertidur pulas.
"Ah, enaknya yang sudah nggak bisa lihat mereka!" gerutuku mengintip ke bagian sudut kamar. Aman, sosok itu sudah menghilang.
***
Ketika pagi menyapa, bakda subuh Kak Mira sibuk menyiapkan beberapa tas dan diisi dengan pakaian anak-anaknya.
"Mau kemana, Kak?" tanyaku masuk ke kamarnya, usai menunaikan sholat subuh di kamarku.
"Ke rumah ayah, kamu juga siap-siap!" ucapnya panik.
"Kenapa?" Aku melirik penangkal yang diberikan nenek tergeletak begitu saja di lantai.
"Aku mau bawa anak-anak ke Kiyai Abdul. Kalau ikutin saran nenek, takutnya jadi kayak kamu."
"Aku kenapa?"
"Kamu nggak ingat kamu ngapain semalam?"
Aku menggeleng cepat, "Aku ngapain?"
"Kamu cekik leher Ari semalam!"
"Hah?" Aku terkejut, masa iya? Aku rasa aku tertidur setelah memastikan Kak Mira tertidur.
"Cepetan siap-siap!" perintahnya. Aku mengangguk dan segera melakukan apa yang diperintahkan Kak Mira.
***
Kami tiba di rumah ayah, ternyata Kak Mira sudah menelepon ayah lebih dulu. Begitu sampai, aku langsung dimarahi ayah. Aku bingung, apa salahku sampai harus dimarahi?
Menurut ayah, dari cerita Kak Mira aku masih memakai doa yang diajarkan nenek. Doa itu memang menangkal mereka, tapi dampaknya buruk ke sekitar.
Ah, ya. Aku memang terkadang sering memakai doa-doa yang diajarkan nenek. Tapi, semalam aku juga baca surat pendek bahkan belakangan ikut baca ayat kursi bersama Kak Mira.
"Kamu harus berhenti pakai doa yang diajarkan nenek kalau beneran mau terlepas dari gangguan mereka!"
"Tapi, ayah!"
"Kamu mau jadi seperti ibumu? Hari ini, kalian berempat harus bertemu Kiyai Abdul."
"Memangnya kenapa?"
"Ayah, bilang ke Mila lagi apa yang sebenarnya terjadi." Kak Mira menengahi.
"Soal mata batin kamu, itu bukan kemampuan tiba-tiba. Sewaktu kecil, nenekmu sering memandikanmu dengan ajian-ajian yang ayah tidak ketahui."
"Itulah sebabnya, ayah melarang kita ke rumah nenek setelah ibu meninggal. Itulah sebabnya aku sudah nggak lihat mereka lagi. Karena aku menjauhi nenek. Tapi, di rumah sakit...."
"Ayah seharusnya tahu kalau dia beri sesuatu ke kalian semua."
"Memangnya nenek kenapa?" tanyaku.
"Nenekmu dukun di kampungnya. Dia menyiapkan anak dan cucu perempuannya sebagai pengganti untuk pekerjaannya itu. Ayah juga baru tahu saat ibumu kesurupan sebelum dia meninggal."
"Astaga! Kok kalian baru cerita ini sekarang?" Aku berseru, jahat sekali mereka baru cerita hal ini.
"Itu karena kamu masih sering ketemu nenekmu, ayah sudah sering bilang, Mila. Berkali-kali, tapi kamu selalu lupa."
"Untuk itu, sekarang aku juga sudah bilang ke kamu kan soal hal ini, bukan cuma ayah yang cerita ini ke kamu. Jadi, kamu harus ingat, jangan pernah temui nenek lagi. Supaya kamu tidak dikuasai oleh makhluk-makhluk itu," jelas Kak Mira membuatku paham apa yang terjadi.
"Karena nenek ketemu kakak waktu di rumah sakit, kakak jadi bisa ngerasain mereka lagi?" Aku mendadak penasaran.
"Iya!" Kak Mira mengangguk sambil memegang kedua pundakku.
***
Kami segera bertemu Kiyai Abdul, kami diruqyah secara bergantian. Dengan harapan mata batinku tertutup kembali seperti punya Kak Mira.
Tapi, entahlah. Meskipun sekarang tidak pernah melihat mereka lagi. Aku masih sangat sensitif, aku bisa mengetahui keberadaan mereka berdasarkan aroma yang muncul, suara-suara aneh, bahkan bagian tubuh tertentu yang merinding menjadi pertanda makhluk apa yang sedang muncul.
Nenekku? Dia punya cucu-cucu lain, kurasa targetnya sudah berubah. Bukan lagi ke keluarga anak pertamanya; ibuku, dia sering menemui keluarga dari kedua anaknya yang lain. Kata ayahku, agendanya masih sama. Membuka mata batin keturunannya untuk dipersiapkan sebagai pengganti dirinya; menjadi dukun dan tetua yang dihormati di kampung.
TAMAT
Gorontalo, 22 Oktober 2023

Komentar
Posting Komentar