Terbaru

[Spooktober] Air Terjun Keramas dan Tersesat: Cermin Horor

 [Spooktober] Air terjun Keramas dan Tersesat: Cermin Horor




1. Air Terjun Keramas 

Deni mendapat bagian mencari tempat liburan, sementara teman lainnya akan mengatur konsumsi dan transportasi.

Usai mencari info di mana-mana, Deni menemukan sebuah video tentang air terjun cantik yang belum banyak diketahui orang-orang.

"Air terjun keramas ya?" Deni mengulangi ucapan wanita dalam video singkat itu. Destinasi liburan pun sudah ditemukan.

Deni, Ucup dan Tono, hendak camping di sekitar air terjun. Perjalanan mereka bertiga menuju air terjun rekomendasi Deni sempat dipenuhi drama dan tantangan, mulai dari medan licin berbatu hingga suara-suara aneh di hutan.  

"Eh, Deni. Kamu yakin ini namanya air terjun keramas?" tanya Ucup sambil melirik hape yang menampilkan tangkapan layar maps.

"Kayaknya sih, aku dengar gitu pas di videonya. Tapi, ini alamatnya kan bener. Berarti ya emang di sini tuh air terjun keramas namanya," jawab Deni, meyakinkan.  

Sesampainya di air terjun, mereka menemukan tempat itu sepi dan tenang. Airnya jernih, dingin, dan memantulkan cahaya senja yang muncul di langit. Ketiganya memutuskan untuk segera mandi sambil tertawa-tawa seperti anak kecil. Tono bahkan membawa sampo sachet yang sudah dia siapkan.  

Saat mereka sedang asyik mencuci rambut di bawah air terjun, tiba-tiba saja terdengar suara aneh, suasana juga semakin dingin.

"Siapa yang berani... keramas ... di sini?"  

Mereka terdiam, wajah pun langsung pucat. Ternyata, suara itu datang dari sesosok pria yang berdiri di pinggiran sungai.

Tono menjawab sambil cengengesan. "Bang, kita cuma keramas kok, bukan merusak tempat ini. Samponya berbahan alami kok."

Sosok itu terkejut dan berteriak, "Keramas?"

"Iya, Bang" sahut Deni dan Ucup.

"Keluar kalian!!! Mana ada yang datang ke sini buat keramas?" katanya dengan nada bingung dan kesal. 

"Loh, namanya kan air terjun keramas?" tambah Deni menatap sosok yang agak aneh itu.

"Hah? Ini air terjun keramat. Ada penunggunya. Air terjun ini tidak punya nama." Sosok itu masuk ke air dan menyeret Deni keluar. Tono dan Ucup pun ikut keluar.

Sosok pria itu ternyata bernama Pak Agus, mengaku sebagai salah satu warga desa di sekitar air terjun keramat.

Mengetahui bahwa air terjun ini merupakan air terjun keramat. Tono dan Ucup mencerca Deni soal penemuan air terjun keramas. Deni pun memperlihatkan video soal air terjun kepada Tono dan Ucup.

"Deni, mending kamu ke THT. Ini jelas-jelas dibilangnya air terjun keramat. Kenapa jadi air terjun keramas?" Ucup mengembus napas kesal.

"Oh iya kah?" Deni melihat video sekali lagi dan menyadari bahwa yang disebut orang dalam video bukan air terjun keramas.

"Gimana sih, Den? Udah capek-capek ke sini, ternyata cuma salah dengar!” tambah Tono.

Ketika menyadari kesalahannya, Deni hendak meminta maaf kepada Pak Agus. Akan tetapi, Pak Agus hilang begitu saja. Lenyap, menyisakan dingin dan bulu kuduk yang mendadak merinding di tubuh ketiganya.

Seketika, ketiganya mempertanyakan apakah Pak Agus memang warga desa sekitar atau justru penunggu air terjun keramas, eh, keramat.


TAMAT 

Gorontalo, 16 Oktober 2024


***


Baca juga: [SPOOKTOBER] CERPEN MISTERI: BERSEPEDA DI MALAM HARI

Cermin lainnya: [SPOOKTOBER] SESAL TERPENDAM DAN KENANGAN MALAM ITU: CERMIN HOROR


***


2. TERSESAT

Mira baru saja turun dari mikrolet di perempatan kecil nan sepi. Mira sedih tidak berhasil membujuk sopir untuk menurunkannya di depan rumah, dengan alasan jalanan yang belum aspal dan dekat dengan kolam-kolam bekas galian tanah liat untuk batu bata.

Jam di tangannya menunjukkan pukul delapan malam, dengan mantap Mira berjalan menuju rumahnya yang berjarak sekitar dua kilometer, di mana jalan setapak itu tidak diterangi lampu apa pun. 

Padahal, sudah beberapa bulan tahun 2000 menyambut. Akan tetapi, masih belum ada hal-hal ajaib seperti dikabarkan radio atau televisi. Jalanan kampung seperti ini masih tetap didominasi kebun, sungai kecil dan pohon-pohon tinggi. 

Mira mendesah, mencoba menenangkan pikirannya. Ini bukan kali pertama berjalan kaki pulang malam, tapi kali ini kok rasanya beda—sunyi, terlalu sunyi.

Setelah berjalan beberapa menit, Mira merasa ada yang aneh. Jalan yang biasa terasa pendek sekarang seakan sangat panjang dan membuatnya tidak sampai-sampai juga. Dalam keheningan, ditemani sinar bulan, Mira menemukan sebuah pohon beringin besar di sisi jalan.

"Loh? Kok aku di sini?"

Padahal, setahunya pohon beringin ini ada di dekat rumah Pak Karta dan itu di ujung jalan sana, bukan sebelum rumahnya. Merasa bingung, Mira berhenti dan memeriksa sekeliling. 

Di tengah hening, suara langkah kecil terdengar di belakang. Langkah itu beriringan dengan suara kelapa jatuh dari dalam kebun kelapa. Mira menoleh cepat. Tidak ada siapa-siapa, hanya gelap dan bayangan pepohonan. 

Hatinya mulai dicekam rasa takut. Dengan tangan gemetar, Mira mempercepat langkahnya—hampir berlari. Tapi, langkah kaki di belakang masih terdengar. Mira menoleh sesekali, sampai melihat siluet seseorang di balik pohon besar, berdiri kaku dengan kepala miring ke samping.

Mira terhenti sambil mengeluh, "Aduh siapa itu? Kok jadi banyak pohon gini? Mana rumah-rumah lain?" 

"Kamu tersesat ...." Suara itu dingin dan pelan, tapi langsung menembus telinga Mira. "Kamu nggak akan pulang ...."

Mira terjatuh, lututnya menghantam tanah. Saat berusaha bangkit, tiba-tiba ada sosok makhluk yang sudah berdiri hanya beberapa langkah darinya, wajahnya gelap benar-benar tak nampak bahkan dengan bantuan sinar bulan.  

"Rumahmu ... ada di sini. Jangan pulang, temani saya dulu, di sini gelap," ucap sosok itu dengan suara tipis.

Mira tertegun, suaranya tidak asing. Tapi, terdengar menyeramkan. Mira segera menutupi telinga dan mata, berharap kalau semua ini tidak pernah terjadi.


***


Mira membuka matanya kembali, ternyata sinaran matahari sudah cukup tinggi. Mira mendapati dirinya duduk bersandar di bawah pohon beringin depan rumah Pak Karta. Mira benar-benar melewati rumahnya sampai ke ujung jalan setapak.

"Mira, kamu lagi ngapain di situ?" Bu Karta dan beberapa warga terkejut melihat Mira yang tiba-tiba bergerak dari balik pohon besar dan masih duduk di rerumputan dengan pakaian kotor.

Mira hanya diam, benar-benar kehabisan kata-kata, sembari mengingat apa yang terjadi semalam. Bu Karta pun menghampiri dan meminta Mira masuk ke rumahnya.

Usai menceritakan apa yang terjadi, Mira diantarkan pulang oleh anak Bu Karta. Sekaligus mendapatkan berita bahwa semalam Pak Karta sudah meninggal dunia. Sampai hari ini, Mira tidak pernah tahu alasannya tersesat di kampung sendiri?


TAMAT

Gorontalo, 17 Oktober 2024

Komentar