[Spooktober] Tengkorak Beracun: Cerpen Horor Nurwahidah Bi
Cerpen horor terbaru: Tengkorak Beracun
[Cerpen Horor] Saat itu, katanya hujan deras membasahi tanah kuburan tua di pemakaman depan rumah Pak Aji. Angin malam berbisik dengan suara seram melalui pepohonan, dan langit gelap tanpa bintang ditutupi awan tebal. Di tengah keheningan yang menakutkan, sebuah kisah mengerikan akan terungkap.
Aku ceritakan sedikit kisah tentang kekuatan supranatural Pak Aji. Di rumah tuanya yang terpencil, hiduplah seorang pria tua bernama Pak Aji. Dia adalah seorang pemahat berbakat dan terkenal dengan ukiran tengkoraknya yang misterius.
Tengkorak itu, yang merupakan inti dari cerpen horor terbaru yang akan aku ceritakan. Diukir dengan detail yang mengagumkan, dan dikatakan memiliki kekuatan magis yang tak tertandingi.
Orang-orang desa seringkali meminta bantuan Pak Aji ketika mereka menghadapi masalah yang tidak dapat dipecahkan. Meskipun orang-orang tahu akan keahliannya, mereka juga merasa takut akan kekuatan magis yang dimilikinya.
Menurut kabar burung, semakin banyak tengkorak yang diukir Pak Aji, semakin banyak kekuatan yang terkandung dalam benda-benda yang berukirkan tengkorak bernama tengkorak beracun.
***
Pada suatu malam, ketika hujan yang mulanya turun dengan lebat, perlahan berubah menjadi gerimis kecil, seorang pemuda bernama Rafi datang ke rumah Pak Aji.
Rafi meminta bantuan, sebab kakak perempuannya dirasuki makhluk jahat dan meminta untuk diselamatkan.
Pak Aji langsung setuju untuk membantu Rafi, Pak Aji segera mengambil tas kecil dan tongkat yang ada ukiran tengkorak beracunnya. Mereka pun pergi ke rumah Rafi.
Di sana, mereka menemukan kakak perempuan Rafi, Aisha, yang terbaring di tempat tidur, matanya putih sebab bola matanya naik ke bagian atas mata dengan napas terengah-engah. Katanya tubuh itu tampak ringkih, dan dia mengeluarkan suara menakutkan yang tidak bisa dijelaskan.
Pak Aji mengambil tongkat tengkorak beracunnya dan mulai menyanyikan mantra kuno. Cahaya biru misterius mengelilingi ujung tongkat yang diukir berbentuk tengkorak saat dia memandangi Aisha dengan seksama.
Tiba-tiba, tubuh Aisha mengejang, dan sosok hitam yang mengerikan muncul dari dalam dirinya. Bergerak ke samping Aisha dengan cepat.
"Sialan, ini bisa membunuh kita semua!" teriak Pak Aji sambil melanjutkan senandung mantra.
"Ambilkan botol yang saya bawa!" serunya pada Rafi. Dia mencoba memerangi kekuatan jahat yang muncul dari Aisha.
Rafi mengeluarkan botol kayu yang berisi cairan aneh. Pak Aji segera meminumnya. Tapi, semakin dia berusaha, semakin kuat kekuatan jahat di hadapannya.
Rafi berusaha membantu, dengan menahan tubuh Aisha yang semakin bergerak acak dengan mata terbuka. Tapi, dia malah terjatuh dan melihat tongkat tengkorak beracun itu jatuh dari tangan Pak Aji. Pak Aji menyerah, muntah darah sedikit tak apa-apa. Nyawanya lebih penting.
"Kamu yang terlalu berkuasa, kuserahkan tengkorak beracun kepadamu!"
Kepala tongkat berbentuk tengkorak itu hancur menjadi potongan-potongan kecil, melepaskan energi gelap yang menyerap semuanya.
Cerpen lainnya: [SPOOKTOBER] CERPEN MISTERI THRILLER: RUANGAN MISTERIUS
Mungkin Anda sukai: Mitos-Mitos di Gorontalo Part 1 [Spooktober]
[Cerpen Horor] Aisha terdiam seketika, dengan napas tertahan dia melihat adik dan orang yang sedang mengobatinya. Diambilnya potongan kayu tengkorak beracun dan mengunyahnya dengan santai.
Aisha berdiri, menatap kesal ke arah Pak Aji. Sosok hitam di sisinya perlahan masuk kembali ke tubuh ringkih itu. Mereka telah bersatu, menciptakan entitas yang lebih kuat dan lebih jahat.
Aisha kemudian berjalan, menyambar tas Pak Aji dan membawanya pergi meninggalkan rumah. Tidak peduli gerimis, tanah berlumpur, dia terus berjalan tanpa alas kaki menuju kesadaran yang entah kapan akan didapatkannya kembali.
***
"Tamat!" Aku segera menutup buku kumpulan cerpen horor terbaru buatan teman lama.
"Terus Aisha gimana keadaannya, Bu?" tanya Arumi, gadis kecil bertopi kupluk pink dengan pakaian pasien rumah sakit berwarna sama denganku; biru muda.
"Hmm, karena ini cuma fiksi. Seharusnya dia baik-baik saja." Aku tersenyum.
"Tapi, kabarnya .... Hingga sekarang, di malam hujan yang gelap dan mencekam desa itu akan memasang tengkorak beracun buatan Pak Aji untuk mencegah makhluk jahat kembali ke desa mereka."
"Kok ibu tahu?" sela Bagus, anak lelaki berkepala plontos itu menatapku dengan serius.
"Hanya, berbagi cerita. Ibu nggak tahu kok!" Aku menggeleng dan meletakkan buku itu di meja.
Kutatap langit sore yang semakin menggambarkan guratan kegelisahan.
"Aisha, adikmu ingin bertemu?" panggil seseorang dari belakang. Aku menoleh dan tersenyum sambil menggenggam cincin tengkorak beracun.
Sebuah pertemuan akhirnya terjadi, setelah sekian tahun aku pergi untuk menyembuhkan diri. Rafi berhasil menemukanku juga.
***
TAMAT
Gorontalo, 5 Oktober 2023

Komentar
Posting Komentar