Fangirling Sewajarnya: Belajar Jadi Fans Waras dan Bahagia
Menjadi seorang K-popers selama bertahun-tahun bikin aku jadi belajar akan satu hal penting yaitu ngefans secukupnya saja. Nggak perlu sampai membela idol seolah membela keyakinan.
Dunia hiburan, termasuk K-pop dan K-drama (apalagi sekarang aku lagi suka drachin, jadi tulisan ini sebagai pengingat untukku lagi), pada dasarnya diciptakan untuk menghibur, menjadi tempat pelarian dari rutinitas dan kehidupan yang melelahkan. Kalau suatu hari kamu yang gabung suatu fandom justru merasa bergabung fandom malah lebih banyak bikin stres dan sedih dibanding dunia nyata, mungkin sudah saatnya belajar pelan-pelan melepaskan diri.
***
1. Ngefans Itu Boleh, Tapi Jangan Kehilangan Diri Sendiri
Kadang tanpa sadar, seseorang bisa terlalu larut dalam dunia hiburan sampai lupa batas antara kenyataan dan fantasi. Padahal, seperti yang banyak orang bilang, hiburan itu fungsinya hanya untuk menghibur, hobi pun gunanya menghibur dan memanfaatkan waktu senggang kan. Kita boleh menyukai lagu, drama, atau variety show, tanpa perlu menggantungkan hidup dan kebahagiaan pada orang-orang di balik layar itu.
Pelajaran buat aku juga, beberapa tahun belakangan ini banyak dikecewakan sama orang-orang yang aku idolakan (ini konteksnya K-Pop dan K-drama, makanya aku sekarang lebih nyaman nge-drachin dulu eheheh).
Dan memang benar, karena mereka itu manusia biasa, bisa salah, bisa berubah, bahkan bisa mengecewakan. Itu bukan akhir dunia kok, maju aja, banyak Abang, Oppa dan Gege lain di luar sana~~
2. Nikmati Karya, Bukan Kehidupan Pribadi Mereka
Berlaku juga untuk fangirling aktor atau aktris. Banyak fans sekarang mulai dewasa dan cukup mengikuti karya mereka, tanpa ikut campur kehidupan pribadi kecuali kalau benar-benar bermasalah. Kalau karyanya cocok dengan selera, nikmati. Kalau nggak cocok, ya udah deh di-skip saja. Nggak perlu memaksakan diri buat suka atau nggak suka pada sesuatu.
Fangirling itu seharusnya membuat bahagia. Tapi kadang ada saja yang terlalu serius, sampai rela berdebat atau saling serang di internet hanya demi membela idol. Padahal, mereka sendiri mungkin nggak tahu kita ini ada di dunia.
3. Setia Sewajarnya, Realistis Sepenuhnya
Jujur aja, bukan mau pick me, tapi waktu idol-ku (yang mulia kanjeng Cho Kyuhyun) wamil dulu atau ke depannya mungkin kesukaanku yang lain bakal hiatus, ya aku cari yang lain dong.
Dan itu bagiku bukan dosa. Hey, sayang, dunia hiburan luas banget. Kalau satu K-drama tamat, masih banyak drama lain menunggu. Kalau satu grup bubar, masih ada lagu-lagu baru yang bisa dinikmati. Setia itu bagus, tapi kalau sudah bikin capek dan bikin kita kehilangan kebahagiaan, untuk apa? Itu bukan suami atau istrimu.
Sama seperti kehidupan nyata, rasa suka pada idol pun bisa berubah. Kalau mereka bermasalah, ya tinggalkan aja. Ganti bias baru. Nggak perlu membela mati-matian hanya karena sudah lama mengikuti mereka. Dukungan yang sehat itu sewajarnya saja, jangan fanatik. (Ini kata manusia yang udah jadi kpopers sejak 2008 ya, sayang)
4. Menikmati, Bukan Mengagungkan
Mau itu, K-pop, C-pop, I-Pop atau dunia perdramaan sekalipun itu, seharusnya bisa bikin senang, bukan bikin hidup jadi terasa berat.
Kalau suatu hari idol berbuat hal yang nggak sesuai dengan citra yang biasa kita lihat, ya wajar. Mereka itu manusia loh, bukan karakter sempurna, meskipun mereka terkesan seperti merek dagang dan produk bentukan agensi, ya tetap aja mereka manusia biasa. Dengan berpikir realistis dan menjaga jarak emosional kayak gini, aku yakin kita masih bisa tetap menikmati karya mereka tanpa merasa tersakiti.
Aku jadi kpopers sejak 2008, meskipun sudah sejak 2023 tanpa fandom dan mengurangi asupan K-Pop, saranku adalah hindari fanwar, jangan membandingkan idol yang satu dengan yang lain, dan kalau nggak suka sesuatu ya skip aja...
Bagiku, dunia fandom akan jauh lebih damai kalau semua orang punya mindset kayak gini ini.
5. Fangirling dengan Cara yang Lebih Dewasa
Gaeees, bisa dibilang aku tuh udah berhenti jadi K-popers semenjak NU’EST bubar. Sekarang cuma dengar lagu-lagu aja, semua grup atau solo, tapi nggak ngikutin fandom manapun, walau sekarang udah jadi selir para cogan China sekalipun.
Pun nantinya, kalau ada idol yang bermasalah, ya sekali lagi pindah aja ke idol lain. Simple, eheheh.
Begitulah realitasnya. Kita tumbuh, cara kita menikmati sesuatu juga berubah dan nggak semua harus dipertahankan. Kadang, yang perlu kita jaga hanyalah batas antara menyukai dan menggantungkan diri.
***
Well, menjadi fans itu menyenangkan kok, selama nggak menguasai hidup kita.
Menjadi penggemar K-pop, drama, drachin, atau selebritas manapun seharusnya membuat kita lebih bahagia, bukan lebih lelah atau jauh dari dunia nyata. Kalau fandom sudah membuatmu stres, itu tanda untuk istirahat sebentar atau bahkan keluar sepenuhnya.
Karena sekali lagi aku tekankan, pada akhirnya idol itu cuma manusia biasa. Mereka bisa salah, bisa lelah juga, bisa jatuh, dan bisa hilang arah. Tapi hidup kita kan harus terus berjalan. Jadi nikmatilah karya mereka selama masih bisa, dukung sewajarnya, dan jangan biarkan dunia hiburan mengambil kendali atas emosi, dan kehidupanmu. Mari menjadi fans waras dan bahagia~~
Terima kasih sudah membaca tulisan ini, maaf kalau ada salah-salah kata.
Salam sayang dari aku, yang sekarang sudah menjadi selir Cheng Lei dan Liu Yuning.
Komentar
Posting Komentar