Review Drakor If Wishes Could Kill (2026): Sudah Instal Girigo, Belum?
Review Drakor If Wishes Could Kill (2026): Sudah Instal Girigo, Belum?
Kalau ada aplikasi yang bisa mengabulkan apa pun yang kamu inginkan, apa kamu mau memakainya?
Pertanyaan sederhana itulah yang menjadi fondasi dari drama Netflix If Wishes Could Kill, drakor thriller supernatural yang memadukan misteri, horor, psikologi, dan kisah persahabatan remaja.
Dengan jumlah episode yang singkat, drama ini menghadirkan ketegangan tanpa henti. Hasilnya? Sebuah tontonan yang berhasil bikin aku maraton dalam semalam aja wkwkwk.
***
Info Drama
Judul: If Wishes Could Kill
Genre: Mystery, Horror, Youth, Supernatural
Jumlah Episode: 8
Sutradara: Park Youn Seo
Penulis Naskah: Park Joong Sub
Pemain: Jeon So Young, Kang Mi Na, Baek Sun Ho, Hyeon Woo Seok, Lee Hyo Je, Jeon So Nee, Roh Jae Won, Choi Joo Eun, Kim Si A
Tayang: 24 April 2026, Netflix
Durasi: 44 Menit
Rating Usia: 18+ (Mengandung konten kekerasan dan darah)
***
Sinopsis Drama Korea If Wishes Could Kill:
Sekelompok siswa SMA menemukan aplikasi misterius bernama Girigo yang diklaim mampu mengabulkan keinginan apa pun.
Awalnya terdengar seperti lelucon. Namun semuanya berubah ketika salah satu siswa, Choi Hyeong Wook, mencoba menggunakannya dan permintaannya benar-benar terkabul. Sayangnya, keajaiban itu datang dengan harga yang mengerikan. Setelah keinginannya terwujud, sebuah hitungan mundur muncul, dan ketika waktunya habis, kematian pun datang menjemput.
Sejak saat itu kelompok siswa ini mulai terjebak dalam permainan mematikan. Mereka harus mencari tahu asal-usul aplikasi tersebut sekaligus berusaha menghentikan kutukan yang terus memakan korban.
Semakin jauh mereka menggali, semakin banyak rahasia, pengkhianatan, dan luka masa lalu yang terungkap. Apa yang awalnya tampak seperti aplikasi terkutuk ternyata berhubungan dengan tragedi yang jauh lebih besar dan lebih kelam daripada yang mereka bayangkan.
***
Rating 9.4/10 buat drakor yang bikin aku begadang cuma buat selesaikan semua episodenya.
Selain karena genrenya yang aku suka, secara cerita aku juga suka banget. Cuma memang ada beberapa catatan yang jadi alasan kenapa drakor ini nggak dapat 10/10 dariku eheheh.
Baca juga: REVIEW DRAKOR POLICE UNIVERSITY (2021)
Review lainnya: ARCHIVES: THE NANYANG MYSTERY (2026): REVIEW DRACHIN MISTERI DI ERA REPUBLIK
Review Drama Korea If Wishes Could Kill:
1. Premis Sederhana yang Cukup Menarik
Hal pertama yang bikin If Wishes Could Kill menonjol adalah konsep dasarnya. Cuma sebuah aplikasi yang bisa mengabulkan semua keinginan dan tentu saja terdengar menggiurkan. Namun drama ini segera menambahkan elemen horor dan thriller untuk konsekuensinya yang bikin premis tersebut berubah menjadi mimpi buruk karena setiap keinginan yang terkabul akan dibayar dengan kematian.
Konsep ini sebenarnya bukan sesuatu yang sepenuhnya baru dalam genre horor supernatural. Namun eksekusinya cukup efektif karena menyentuh sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan modern yaitu ketergantungan manusia pada teknologi dan keinginan instan.
Drama ini secara nggak langsung mempertanyakan satu hal yang sama kepada semua karakternya. Iya, seberapa jauh seseorang bersedia membayar demi mendapatkan apa yang paling dia inginkan?
Intinya If Wishes Could Kill berhasil menciptakan atmosfer misterius yang membuatku penasaran. Drama ini juga tampil kuat dari sisi visual, akting, dan konsep horornya.
Sayangnya, memang ada karakter yang kurang tergali, beberapa keputusan yang agak nggak masuk akal, serta penjelasan mitologi yang terlalu berlebihan di paruh akhir bikin potensinya jadi agak mundur wkwkwk.
Meski begitu, bagiku drama thriller supernatural ini tetap layak untuk dicoba.
2. Genre Dark yang Bikin Betah
Sejak awal episode sudah dibikin kaget sama adegan horor dan jumpscare dari seseorang yang melukai dirinya sendiri sambil direkam. Detail ini harus ditonton, supaya kamu bisa paham pas penjelasan di dua episode terakhir drama ini.
Lalu, paling seru tuh saat para siswa mulai menyadari kalau aplikasi Girigo benar-benar berfungsi, bikin suasana berubah jadi sangat mencekam. Rasa takut nggak cuma datang dari ancaman kematian, tetapi juga dari ketidakpastian.
Pesan-pesan misterius, telepon yang nggak jelas asal-usulnya, serta manipulasi psikologis yang dilakukan kutukan bikin para para siswa-siswi ini mulai meragukan satu sama lain.
Hubungan pertemanan yang sebelumnya kelihatan baik-baik aja perlahan retak karena rasa curiga, kecemburuan, dan rahasia yang selama ini disimpan.
Horor yang dibangun di sini sebenarnya lebih berfokus pada tekanan psikologis dibandingkan sekadar jumpscare, meskipun ada jumpscare tapi bukan itu pemantik horornya.
Apalagi setiap episode selalu menyimpan informasi baru yang bikin penasaran meningkat. Siapa pencipta Girigo? Kenapa aplikasi itu ada? Bagaimana cara menghentikannya? Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi motor utama yang mendorong cerita bergerak maju. Dengan atmosfer "siapa korban berikutnya?" yang bikin dag-dig-dug.
3. Visual dan Akting yang Bagus
Sinematografi drama ini tampil sangat baik dengan penggunaan warna-warna redup sampai kuning kusam yang memperkuat nuansa muram cerita.
Atmosfer horornya dibangun lebih melalui suasana dibandingkan efek berlebihan. Bahkan ketika cerita mulai memasuki wilayah supranatural dan dunia arwah, visualnya tetap terasa menarik untuk diikuti.
Akting para pemain muda juga patut diapresiasi. Mereka berhasil menampilkan rasa takut, putus asa, dan tekanan emosional yang cukup meyakinkan. Chemistry antar karakter utama juga bagus.
Hubungan Se Ah dan Geon Woo juga jadi hal yang menarik, kayak sesuatu yang hangat di tengah situasi yang semakin gelap.
Oh ya, di satu sisi, drama ini berusaha menggambarkan bahwa nggak ada karakter yang sepenuhnya baik atau sepenuhnya jahat. Semua punya kelemahan, rahasia, dan alasan masing-masing atas tindakan mereka.
Namun di sisi lain, durasi yang singkat bikin banyak perkembangan karakter terasa terburu-buru. Untungnya akting semua pemain tuh on point banget, jadinya beneran bisa aku nikmati drama ini. Oh ya, bahkan Kim Si A aktingnya berkembang banget, si bocil di film Miss Baek ini bikin aku kaget karena udah gede dan memerankan anak SMA loh. Kang Mi Na juga mantap banget akting antagonisnya!!!
4. Semakin Dijelaskan, Semakin Kurang Tegang
Masalah mulai muncul di sekitar 3-4 episode menuju ending. Waktu cerita mulai mengungkap asal-usul kutukan dan Girigo, serta berbagai hubungan antar karakter masa lalu, misteri yang sebelumnya begitu menarik perlahan kehilangan sebagian kekuatannya.
Alih-alih membiarkan beberapa hal tetap ambigu dan menyeramkan, drama ini cenderung menjelaskan hampir semuanya.
Akibatnya, aku sempat ada sedikit rasa bosan dan rasa takut yang sebelumnya lahir dari ketidakpastian mulai tergantikan denhan paparan informasi yang cukup panjang.
Bukan berarti penjelasannya nggak perlu ya, beberapa latar belakang kutukan memang menarik dan penting. Cuma, terlalu dijabarin banget eheheh dan malah sibuk menjelaskan sehingga ketegangannya nggak lagi setajam di awal.
Bukan cuma itu, bahkan keputusan beberapa karakter agak membingungkan, terutama waktu mereka lebih fokus ke masalah pribadi dibandingkan ancaman supernatural yang ada di depan mata. Nggak usah sebutin lah ya siapa aja, nanti malah spoiler wkwkwk.
Selain itu, ada beberapa situasi yang kurang realistis. Padahal ada kematian yang terjadi di lingkungan sekolah eh malah kurang dapat respons yang sesuai dari pihak berwenang, sehingga dunia ceritanya jadi kurang meyakinkan. Bahkan setting tahun juga agak ambigu, pembuatan aplikasi Girigo sebenarnya di tahun berapa? Dan perbedaan ke tahun di mana murid masa kini menemukan Girigo itu berapa lama?
Buat Pengembara yang sangat pakai logika saat menonton, bagian ini mungkin bakalan mengganggu pengalaman menonton. Tapi, kalau kamu rea penggemar horor supernatural yang cuma butuh atmosfer dan misterinya, kekurangan ini nggak terlalu jadi masalah sih.
***
Kelebihan dan Kekurangan Drama Korea If Wishes Could Kill
- Kelebihan:
1. Premisnya unik dan menarik sejak episode pertama
2. Unsur misteri yang bikin penasaran
3. Atmosfer horor dan psikologisnya, dan adegan gore-nya aku suka
4. Sinematografi yang mendukung suasana cerita
5. Akting para pemain muda solid
6. Banyak plot twist yang nggak gampang ditebak.
- Kekurangan:
1. Pengembangan karakter kurang mendalam
2. Logika dunia cerita agak lemah
3. Terlalu banyak penjelasan di paruh akhir
***
Udah, segitu aja review drama korea If Wishes Could Kill 2026, drama horor yang wajib masuk list. Rasanya udah lama nggak dibikin teriak-teriak sama drakor horor wkwkwk.
Kalau kamu diberi kesempatan mengabulkan satu keinginan terbesar dalam hidupmu, apakah kamu masih berani pakai Girigo?
Terima kasih sudah mampir ya~~





Komentar
Posting Komentar