Review Catatan Pembunuhan sang Novelis (Malice) oleh Keigo Higashino Sensei
Review Catatan Pembunuhan sang Novelis (Malice) oleh Keigo Higashino Sensei
Masih basah dalam ingatan kabar duka berpulangnya Keigo Higashino Sensei pada Juli 2026. Secara kebetulan saat buka-buka iPusnas pada bulan Agustus, e-book Malice tersedia untuk dipinjam. Aku pun tanpa pikir panjang langsung pinjam, sebab sudah mengantre dari tahun lalu.
Ini merupakan buku kedua Higashino Sensei yang kubaca. Buku-bukunya sudah lama jadi waiting list-ku dan akhirnya kesampaian baca walau hanya dalam bentuk buku digital.
Hari ini, untuk mengenang beliau, aku akan mengulas buku ini walau agak ngaret dari waktu terakhir aku membacanya. Btw, buku ini aku baca dalam waktu kurang dari 8 jam, di hari pertama pinjam cuma mengintip sekitar lima halaman aja, barulah dua hari kemudian aku tandaskan buku ini hanya dari jam 7 sore sampai jam 11 malam.
Langsung saja masuk ke ulasannya ya~~
***
1. Identitas Buku
Judul: Akui, Malice, Catatan Pembunuhan sang Novelis
Pengarang: Keigo Higashino
Editor: Rara
Cover: Martin Dima
Alih bahasa: Faira Ammadea
Genre: Misteri, Fiksi Kriminal, Thriller
Halaman: 304 hlm
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
ISBN:
• 978-602-06-3932-1
• 978-602-06-3933-8 (PDF)
Edisi digital, 2020
***
2. Tentang Pengarang
Keigo Higashino (lahir 4 Februari 1958 di Osaka) merupakan salah satu maestro fiksi misteri, kejahatan, dan thriller paling berpengaruh asal Jepang. Lulusan teknik elektro dari Universitas Prefektur Osaka ini sempat bekerja sebagai insinyur di Nippon Denso (DENSO), sebelum akhirnya memutuskan menjadi penulis penuh waktu usai novel debutnya, Hōkago (After School), memenangkan Penghargaan Edogawa Rampo pada tahun 1985.
Dijuluki sebagai "James Patterson"-nya Jepang karena produktivitas dan popularitas bukunya, karya-karya Higashino seperti The Devotion of Suspect X, Naoko, dan Keajaiban Toko Kelontong Namiya telah diterjemahkan ke berbagai bahasa di dunia. Lebih dari 20 novelnya pun telah diadaptasi menjadi film dan serial televisi populer secara global.
Dunia sastra menghembuskan napas duka ketika Keigo Higashino dinyatakan tutup usia pada 23 Juli 2026 di Jepang. Kepergian sang novelis legendaris di usia 68 tahun ini meninggalkan warisan karya misteri yang akan terus dikenang oleh para pembaca di seluruh dunia.
***
3. Blurb
Novelis laris Hidaka Kunihiko ditemukan tewas di rumahnya pada malam sebelum ia meninggalkan Jepang untuk pindah ke Kanada. Tubuhnya ditemukan di ruang kerjanya yang terkunci di rumahnya yang juga terkunci oleh istri dan sahabatnya. Keduanya punya alibi kuat. Mungkin.
Detektif Kaga Kyoichiro yang menyelidiki kasus pembunuhan tersebut menemukan bahwa hubungan Hidaka dengan sang sahabat, Nonoguchi Osamu, tidak seperti yang diceritakan oleh Nonoguchi. Tapi pertanyaan yang paling mengusik Kaga bukanlah siapa atau bagaimana, melainkan kenapa. Dari situlah sang detektif dan sang pembunuh bertarung membeberkan kebenaran tentang masa lalu dan masa kini versi masing-masing. Dan jika Kaga gagal menguak motif sang pembunuh yang sebenarnya, kebenaran takkan terungkap seutuhnya.
Malice merupakan novel dari seri Detektif Kaga karya Keigo Higashino yang paling laris dan paling banyak dipuji.
Baca juga:
Review buku lainnya: MENGURAI BENANG MERAH DALAM KEAJAIBAN TOKO KELONTONG NAMIYA | REVIEW BUKU
4. Isi Resensi
Sebelum masuk ke isi resensi, mari kita break down dulu sinopsisnya Catatan Pembunuhan sang Novelis ini. Soal Kunihiko Hidaka, seorang novelis terkenal yang sedang berada di puncak kariernya. Dia sudah merencanakan kepindahan ke Vancouver bersama istrinya, dan malam itu seharusnya menjadi salah satu malam terakhirnya di Jepang.
Namun sebelum sempat meninggalkan negaranya, Hidaka malah ditemukan tewas di ruang kerjanya sendiri. Yang membuat kasus ini menarik adalah keadaan di TKP. Hidaka ditemukan di sebuah ruangan terkunci di dalam rumah yang juga terkunci. Nggak ada tanda pencuri yang masuk secara paksa, atau tanda ada orang asing yang terlihat keluar-masuk.
Nah, orang yang menemukan mayatnya adalah istrinya sendiri bersama sahabatnya, Osamu Nonoguchi. Nonoguchi ini bukan orang asing bagi Hidaka. Dia juga seorang penulis, meskipun kariernya nggak sesukses Hidaka. Keduanya bahkan sudah saling mengenal sejak lama. Bagi orang-orang di sekitar mereka berdua ini ya sahabatan.
Setidaknya, begitulah yang kelihatan dari permukaan.
Kasus tersebut kemudian ditangani oleh Detektif Kyoichiro Kaga. Ada satu kebetulan yang membuat penyelidikan ini jadi semakin menarik: Kaga ternyata pernah menjadi rekan kerja Nonoguchi waktu mereka sama-sama berprofesi sebagai guru.
Detektif Kaga nggak membutuhkan waktu lama untuk menemukan tersangka. Dan di sinilah Malice mulai menunjukkan permainan sebenarnya.
Karena sejak awal, kita sebenarnya sudah dikasih tahu siapa pembunuhnya. Cuma ya, aku dibikin berkali-kali menepis pikiran bahwa Nonoguchi adalah pelakunya. Aku sempat menuduh pemilik kucing, saudara perempuan si Fujio, bahkan istrinya Hidaka. Setiap kali di kepalaku menuduh Nonoguchi aku langsung tepis sendiri, dengan bilang, "Apa motifnya?"
Dan tanpa sadar malah membelanya walau dia sendiri yang mengaku, karena dikasih dua sudut pandang yang berasal dari Nonoguchi dan Detektif Kaga.
Nah, saat pertanyaan tentang siapa yang membunuh Hidaka, akhirnya terjawab. Sekarang yang harus dicari adalah motifnya.
Kenapa Nonoguchi membunuh seorang penulis terkenal yang selama ini disebut-sebut sebagai sahabatnya?
Apa karena dia iri terhadap kesuksesan Hidaka? Apakah karena hubungan pribadi? Apa karena ada sesuatu yang terjadi di masa lalu? Atau jangan-jangan hubungan antara Hidaka dan Nonoguchi memang nggak pernah sesederhana yang mereka tunjukkan kepada orang lain?
Detektif Kaga kemudian mulai menggali masa lalu mereka. Dia mencari orang-orang yang pernah mengenal keduanya, menelusuri hubungan mereka sejak masih menjadi guru, mengumpulkan keterangan dari berbagai pihak, dan mencoba menyusun kembali peristiwa yang mengarah kepada pembunuhan tersebut.
Masalahnya, setiap kali Detektif Kaga merasa sudah menemukan jawabannya, muncul sesuatu yang membuat semuanya kembali dipertanyakan. Seolah-olah ada seseorang yang sengaja menyusun sebuah cerita untuk Kaga, dan ya untuk aku yang lagi baca.
Biasanya nih, Pengembara, kalau kita membaca novel kriminal dengan pertanyaan, “Siapa pembunuhnya?” Malice justru membuat pertanyaan itu terasa hampir nggak penting. Setelah pembunuhnya langsung terungkap.
Higashino Sensei seperti mengambil misteri dari ujung yang berbeda. Selain pembunuhnya relatif cepat ketahuan. Cara pembunuhannya pun perlahan menjadi semakin jelas. Tapi waktu aku mikir, “Oke, berarti kasusnya udah selesai,” ternyata belum. Bab masih panjang ehehe.
Detektif Kaga nggak puas begitu saja hanya karena sudah mendapatkan tersangkanya. Ada sesuatu dalam kasus ini yang menurutnya terlalu gampang. Semua jawaban seolah tersedia di depan mata, tetapi justru karena semuanya terlalu mudah itulah detektif Kaga merasa ada yang nggak beres.
Dan aku suka sekali bagian ini. Kaga bukan detektif yang harus berlari mengejar pembunuh atau berhadapan dengan adegan aksi. Dia lebih banyak duduk, bertanya, mencatat, mengamati, lalu kembali mempertanyakan jawaban yang sebelumnya sudah dianggap selesai.
Pelan, tetapi mengganggu. Ada semacam permainan kucing dan tikus di sepanjang cerita. Hanya saja, kita nggak selalu tahu siapa yang sebenarnya menjadi kucing dan siapa yang menjadi tikus.
Salah satu hal yang menurutku menarik adalah cara Malice menggunakan dua sudut pandang.
Aku dikasih cerita versi dari Nonoguchi, kemudian berpindah kepada Kaga. Pergantian ini bukan sekadar variasi narasi. Keduanya kasih cara pandang yang berbeda terhadap kejadian yang sama. Nonoguchi menceritakan apa yang dia lihat dan alami. Sementara Kaga berusaha membongkar cerita tersebut melalui penyelidikan.
Masalahnya, semakin aku membaca, semakin aku sadar kalau cerita yang disampaikan seseorang belum tentu sama dengan kenyataan. Aku melihat seseorang berdasarkan bagaimana dia memperkenalkan dirinya. Pun melihat korban berdasarkan cerita orang lain tentang dirinya. Aku melihat sebuah hubungan berdasarkan pengakuan dua orang yang terlibat di dalamnya. Makanya aku kegocek dan malah membela Nonoguchi sampai fakta soal masa lalu zaman sekolah terbuka.
Higashino Sensei cukup pintar memainkan hal tersebut. Walau agak melelahkan karena investigasi ini terasa panjang. Beliau memberikan informasi kepada pembaca, tetapi pada saat yang sama membuat kita mempertanyakan bagaimana informasi itu disusun seharusnya.
Aku beberapa kali merasa sudah memahami arah ceritanya. Bahkan aku bisa menebak siapa tersangkanya, walau nyasar beberapa kali. Tapi menebak pelaku ternyata bukan berarti berhasil memecahkan misterinya. Sampai akhir, aku masih nggak bisa benar-benar mengerti mengapa pembunuhan itu terjadi.
Kalau aku tebak, ya sekadar mental pembully yang akan tetap jadi pembully.
Tapi kenapa? Ya, di buku ini ada kecemburuan, kebencian, bullying, hubungan masa lalu, kesuksesan seseorang, kegagalan orang lain, bahkan dunia kepenulisan yang ternyata nggak selalu seindah yang terlihat dari luar.
Terlebih, dua karakter penting dalam cerita ini adalah penulis. Ada pembicaraan mengenai menulis, menerbitkan buku, pembaca, kesuksesan seorang pengarang, sampai bagaimana sebuah karya bisa membentuk citra seseorang. Ini menarik banget bagiku yang juga menggeluti dunia menulis.
Bagian ini penting karena konflik dalam Malice nggak cuma berkaitan dengan tindakan kriminal, tetapi juga dengan bagaimana seseorang memandang keberhasilan orang lain. Kadang seseorang nggak benar-benar membenci kita karena sesuatu yang kita lakukan kepadanya. Bisa jadi dia membenci apa yang kita miliki atau apa yang berhasil kita capai.
Kalau mau mengupas lebih dalam, sepertinya akan jadi spoiler. Jadi, aku tahan-tahan deh, buat pembaca yang mau baca buku ini.
Setidaknya, tipis-tipis aku mau bilang kalau hubungan Hidaka dan Nonoguchi memang punya banyak lapisan yang nggak terlihat dari luar. Ada pengalaman ketika mereka masih menjadi guru, ada orang-orang dari masa sekolah, ada cerita tentang bullying, dan ada peristiwa yang perlahan membentuk hubungan keduanya.
Salah satu alasan aku menikmati novel ini adalah karena Higashino Sensei nggak memperlakukan pembaca seperti orang yang harus terus-terusan diberi kejutan. Beliau nggak perlu menutup setiap bab dengan kalimat dramatis. Tidak perlu darah berlebihan atau adegan sadis. Yang dilakukan adalah memberikan informasi secukupnya, lalu membiarkanku menyimpulkan sendiri.
***
5. Kelebihan Buku
1. Konsep misterinya berbeda
Malice nggak terlalu sibuk menyembunyikan pelaku. Justru sejak awal kita diarahkan untuk mencari motif. Maksudku kok bisa sih? Kok bisa?
2. Permainan perspektifnya menarik
Perpindahan antara sudut pandang Nonoguchi dan Kaga membuatku terus mempertanyakan versi mana yang sebenarnya bisa dipercaya. Terlebih ditambah kesaksian beberapa orang, bikin aku bingung versi Nonoguchi dan Hidaka mana yang benar?
3. Plot twist dibangun dari informasi yang sudah tersedia
Higashino Sensei tidak asal membalikkan cerita. Ada detail yang ditanam sebelumnya dan baru terasa penting setelah kita memahami konteksnya.
4. Detektif Kaga punya daya tarik tersendiri
Kaga nggak perlu menjadi detektif yang dramatis. Ketelitiannya justru menjadi senjata utama. Dia bukan tipe detektif yang digambarkan terlalu flamboyan. Nggak ada ciri fisik yang langsung bikin dia ikonik seperti beberapa detektif terkenal dalam literatur kriminal.
Kaga lebih sederhana, dia mengamati dan bertanya. Dia mencurigai hal-hal yang menurut orang lain nggak penting. Sebatas hadiah pemberian Nonoguchi yang tidak biasa pun nggak luput dari kecurigaannya.
5. Ada pembahasan tentang dunia kepenulisan
Karena tokoh utamanya adalah para penulis, Malice juga memberikan gambaran tentang kesuksesan, persaingan, karya, dan bagaimana seorang penulis dipandang oleh orang lain. Dan gaeees, jadi penulis itu beneran nggak mudah. Seberapa bagusnya tulisan kita, kalau tidak ada keberuntungan ya itu cuma bakal jadi coretan biasa tanpa makna dan cerita di masa depan.
6. Tidak bergantung pada gore
Kasusnya memang pembunuhan, tetapi kekuatan cerita berada pada psikologi dan penyelidikan, bukan pada adegan berdarah atau kekerasan yang berlebihan. Meskipun aku lebih suka kriminal yang intens banget kasusnya. Tapi ini bakal cocok buat yang takut adegan gore.
***
6. Kekurangan Buku
1. Pacing cukup lambat
Terutama waktu Kaga mulai menelusuri masa lalu dan mewawancarai banyak orang. Kalau kamu terbiasa dengan thriller yang penuh kejar-kejaran dan plot twist setiap beberapa halaman, Malice mungkin terasa terlalu tenang.
Kaga lebih sering melakukan wawancara, menyusun informasi, kembali ke masa lalu, lalu berbicara dengan orang yang pernah mengenal para tokohnya.
2. Beberapa karakter terasa kurang dalam
Hidaka sebagai korban seharusnya menjadi sosok yang menarik karena banyak hal dalam kasus ini berpusat di dia. Tetapi menurutku, aku nggak mendapatkan kesempatan yang cukup untuk benar-benar mengenalnya secara langsung.
Lalu, ada tokoh-tokoh yang sebenarnya punya potensi untuk dieksplorasi lebih jauh, tetapi cerita lebih memilih menjadikan mereka sebagai kepingan informasi dalam penyelidikan.
Buatku, bagian ini masih menarik karena setiap keterangan bisa saja menjadi potongan puzzle. Tapi aku tetap capek karena merasa bagian penyelidikannya terlalu panjang.
Rasanya kayak lagi menyusun puzzle yang kepingannya sengaja disebar ke banyak tempat dan sayangnya aku tipe orang yang kurang menikmati proses mencari kepingan itu satu per satu, terlebih kalau itu makan waktu ehehe. Pusing, beb~~
3. Tidak cocok untuk pembaca yang mencari thriller dar der dor
Kalau yang dicari adalah cerita penuh aksi dan ketegangan dari halaman pertama sampai terakhir, yang satu ini mungkin terasa terlalu tenang sih.
4. Penyelesaian emosionalnya bisa terasa kurang
Secara logika, teka-tekinya berhasil disusun. Namun dari sisi emosional, ada bagian yang mungkin membuatku berharap mendapatkan sedikit lebih banyak penjelasan.
Apa itu? Ya, motif.
***
7. Kesimpulan
Walau hampir gagal dan akhirnya bisa menebak siapa pembunuhnya. Tetapi aku nggak bisa menebak dengan mudah motif sebenarnya. Setiap kali merasa sudah memahami hubungan antara Hidaka dan Nonoguchi, selalu ada aja informasi lain yang bikin aku harus lihat lagi kejadian sebelumnya.
Itulah yang bikin novel ini tetap seru diikutin, efek hah? Heh? Kok? Itu berasa banget ehehe.
Buatku, Malice alias Catatan Pembunuhan Sang Novelis ini bukan novel kriminal yang paling menegangkan dari Keigo Higashino sih, atau mungkin karena aku belum baca yang lainnya juga. Hmm, entahlah. Saat menulis ini aku sedang mempersiapkan diri untuk membaca The Newcomer atau Pembunuhan di Nihonbashi.
Kalau bisa kasih rating poin, aku kasih 4.7 dari 5 hati untuk novel ini. Pengorbanan menunggu antrean dan membacanya kurang dari 8 jam benar-benar terbayar dengan cerita yang menarik, walau endingnya masih bikin aku kepikiran sampai sekarang.
Sekian ulasan hari ini, mohon maaf kalau ada salah-salah kata ya, terima kasih ~~









Komentar
Posting Komentar